Terjemah Kitab Al Hikam Ibn Athaillah (Lengkap 264 Maqalah)

Daftar Isi

Sekelumit Pengantar

Kitab Hikam merupakan salah satu kitab yang banyak dikaji di pesantren, termasuk pesantren almamater tempat saya mengaji. Saya pernah ngaji matan Hikam kepada Gus Rumaizijat mulai tahun 2014 juga kepada Gus Baha di tahun 2010. Bahkan pernah ikut ijazahan kitab Hikam tersebut ketika khataman ngaji Ihya oleh almaghfurlah KH. Ashim Nawawi. Adapun syarah yang dipakai adalah karya al-Abbadi.

Pantai Parang tritis 2021 (Dok. Pribadi)

Terjemahan yang saya susun sudah lama dengan mencicil ini merupakan hasil dari proses pembacaan tersebut. Saya kira, daripada terjemahan ini hanya ada di laptop, lebih baik saya publikasikan dengan harapan bisa memberikan pemahaman sederhana tentang kitab ini.

Menurut hitungan saya, kalimat-kalimat Syaikh Ibn Athaillah ini ada 264. Saya agak kesusahan dalam menyalin dari versi word ke blog, jadi mungkin, atau malah dipastikan ada kesalahan-kesalahan. Jadi, jika menemukan keselahan tersebut silakan bisa dikoreksi di kolom komentar.

Catatan sederhana tentang Hikam

Selain menyalin sedikit demi sedikit terjemahan Hikam ini, saya juga sudah menulis beberapa catatan dari maqalah-maqalah tersebut yang saya tulis sejak tahun 2015 ketika ngaji dengan Gus Baha juga Gus Rum namun itu terhenti hingga tahun 2020. Setelah tahun tersebut saya belum pernah menulis lagi soal Hikam.

Menulis ulasan tentang Hikam, bukan syarah sebenarnya, saya merasa lebih tidak terbebani jika menyebutnya sebagai catatan pribadi saja. Catatan-catatan di bawah memang sengaja tidak saya perbarui sebab saya kira itu bisa menjadi tanda cara berpikir dari tahun ke tahun.

  1. Hakikat Keberadaan Allah Ini adalah catatan yang saya tulis 19 Oktober 1019
  2. Hidup untuk siapa? saya tulis pada 23 Oktober 2015
  3. Curhat di tempat yang Benar saya tulis pada 27 Oktober 2015
  4. Berprasangka baik kepada Allah yang saya tulis pada 31 Oktober 2025
  5. Allah tidak pernah lepas dari kita yang saya tulis pada 20 November 2015
  6. Mufon itu harus yang lebih baik, jangan muter-muter. Saya tulis pada 15 Desember 2025
  7. Memilih teman menurut ibn Athaillah saya tulis pada 24 Januari 2016
  8. Jangan narsis dengan ibadah yang kita lakukan. Saya tulis pada 18 Agustus 2017
  9. Dari mana munculnya riya? saya tulis pada 1 September 2017
  10. Diberi atau tidak diberi adalah sama; wujud dari kasih sayang-Nya. Saya tulis pada 4 Januari 2020

Jika saya menulis catatan tentang Hikam lagi, akan saya sunting halaman ini. Saya tidak berharap atau bercita-cita merampungkan semua catatan hingga 262 catatan, jadi jalani saja.

Terjemah Kitab Hikam

Sebenarnya saya ingin sekali bisa membuat kategori dari 264 maqalah ini, namun sepertinya semua kalimat-kalimat syaikh Ibn Athaillah terlampau acak, jadi lumayan kesusahan dan membutuhkan pemetaan yang lebih matang. Berikut ini adalah matan dan terjemah dari Hikam Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari.

  1. مِنْ عَلامَةِ الاعْتِمادِ عَلى العَمَلِ، نُقْصانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجودِ الزَّللِ. Di antara tanda bahwa seseorang bersandar pada amal perbuatannya sendiri adalah berkurangnya rasa harap (raja') kepada rahmat Allah ketika ia tergelincir dalam dosa atau kesalahan.
  2. إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اِلله إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الَأسْبابَ مَعَ إقامَةِ اِلله إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ. Keinginanmu untuk fokus beribadah saja (tajrid) padahal Allah sedang menempatkanmu pada jalur mencari nafkah (asbab) adalah bentuk syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk mencari nafkah (asbab) padahal Allah telah memposisikanmu dalam kondisi fokus beribadah (tajrid) merupakan penurunan dari cita-cita spiritual yang luhur.
  3. سَوَابِقُ الهِمَمِ لا تَخْرِقُ أَسْوارَ الَأقْدارِ Kekuatan tekad dan cita-cita yang tinggi sebesar apapun, tidak akan pernah mampu menembus benteng takdir Allah.
  4. أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبيرِ. فَما قامَ بِهِ غَيرُكَ عَنْكَ لا تَقُمْ بهِ لِنَفْسِكَ Istirahatkanlah dirimu dari ikut campur mengatur urusan dunia (secara berlebihan). Apa yang sudah dijamin dan diurus oleh Allah untukmu, tidak perlu engkau sibukkan pikiranmu untuk mengurusnya kembali.
  5. اجْتِهادُكَ فيما ضُمِنَ لَكَ وَتَقصيرُكَ فيما طُلِبَ مِنْكَ دَليلٌ عَلى انْطِماسِ البَصيرَةِ مِنْكَ. Kesungguhanmu dalam mengejar urusan yang sebenarnya sudah dijamin untukmu (seperti rezeki), dibarengi kelalaianmu dalam menunaikan apa yang dituntut darimu (seperti ibadah), adalah bukti nyata atas butanya mata batinmu.
  6. لا يَكُنْ تأَخُّرُ أَمَدِ العَطاءِ مَعَ الإلْحاحِ في الدُّعاءِ مُوْجِباً لِيأْسِكَ. فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الِإجابةَ فيما يَخْتارُهُ لَكَ لا فيما تَخْتارُهُ لِنَفْسِكَ. وَفي الوَقْتِ الَّذي يُريدُ لا فِي الوَقْتِ الَّذي تُريدُ Jangan sampai tertundanya pengabulan doa—padahal engkau telah memohon dengan sangat—membuatmu berputus asa. Allah telah menjamin akan mengabulkan doamu sesuai dengan apa yang terbaik menurut pilihan-Nya untukmu, bukan menurut keinginanmu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau tentukan.
  7. لا يُشَكّكَنَّكَ في الوَعْدِ عَدَمُ وُقوعِ المَوْعودِ، وإنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ؛ لِئَلّا يَكونَ ذلِكَ قَدْحاً في بَصيرَتِكَ وإخْماداً لِنُوْرِ سَريرَتِكَ Jangan sampai belum terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah membuatmu ragu terhadap janji-Nya, meskipun waktu pencapaiannya telah ditentukan. Sikap ragu ini hanya akan menciderai mata batinmu dan memadamkan cahaya di dalam hatimu.
  8. إذا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلا تُبْالِ مَعَها إنْ قَلَّ عَمَلُكَ. فإِنّهُ ما فَتَحَها لَكَ إلا وَهُوَ يُريدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِليْكَ؛ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ والَأعْمالَ أَنْتَ مُهديها إلَيهِ. وَأَينَ ما تُهْديهَ إلَيهَ مِمَّا هُوُ مُوِرُدهُ عَلَيْكَ Jika Allah membukakan bagimu suatu jalan untuk makrifat (mengenal-Nya), maka jangan pedulikan sedikitnya amalmu. Allah tidak membukakan jalan itu melainkan karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau tahu bahwa makrifat adalah anugerah pemberian-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah persembahanmu kepada-Nya? Sungguh jauh berbeda antara apa yang engkau persembahkan kepada-Nya dengan apa yang Dia anugerahkan kepadamu.
  9. تَنَوَّعَتْ أَجْناسُ الَأعْمالِ لَتَنَوُّعِ وارِداتِ الَأحْوالِ. Jenis dan ragam amal perbuatan itu menjadi bermacam-macam karena dipengaruhi oleh beragamnya kondisi spiritual (ahwal) yang hadir di dalam hati.
  10. الَأعْمالُ صُوَرٌ قَائَمةٌ، وَأَرْواحُها وُجودُ سِرِّ الِإخْلاصِ فِيها. Amal perbuatan itu ibarat kerangka atau bentuk lahiriah yang mati, sedangkan ruh yang menghidupkannya adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.
  11. ادْفِنْ وُجودَكَ في أَرْضَ الخُمولِ ، فَما نَبَتَ مِمّا لَمََْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ. Kuburlah popularitas dirimu di dalam bumi ketidakterkenalan (khumul). Sebab, benih tanaman yang tumbuh tanpa ditanam ke dalam tanah terlebih dahulu, buahnya tidak akan pernah matang dengan sempurna.
  12. ما نَفَعَ القَلْبَ شَئٌ مِثْلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بِها مَيْدانَ فِكْرَةٍ. Tidak ada yang memberikan manfaat besar bagi kesehatan hati melebihi tindakan menyendiri (uzlah) yang membawa hati tersebut masuk ke dalam medan perenungan (fikrah).
  13. كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الَأكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِى مِرْآَتِهِ ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اِلله وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ ؟ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اِلله وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلَاتِهِ ؟أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الَأسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ Bagaimana mungkin hati bisa bersinar jika bayang-bayang duniawi masih melekat pada cerminnya? Bagaimana mungkin hati bisa berjalan menuju Allah jika ia masih terbelenggu oleh syahwatnya? Bagaimana mungkin seseorang berharap masuk ke hadirat Allah yang suci jika ia belum bersuci dari janabah kelalaiannya? Dan bagaimana mungkin ia berharap memahami rahasia-rahasia spiritual yang mendalam jika ia belum bertobat dari kesalahan-kesalahannya?
  14. الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الْحَقِّ فِيهِ ، فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُودُ الَأنْوَارِ ، وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الَآثَارِ. Alam semesta ini sejatinya gelap gulita. Ia menjadi terang benderang hanya karena adanya manifestasi (zhuhur) Allah di dalamnya. Barangsiapa yang melihat alam semesta namun tidak menyaksikan kehadiran Allah di dalam, di dekat, sebelum, atau sesudah alam tersebut, maka ia telah kehilangan cahaya, dan matahari makrifatnya telah terhalang oleh awan kebendaan.
  15. مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ. Di antara bukti yang menunjukkan kemahakuasaan Allah (Qahar) adalah Dia mampu menghalangimu untuk melihat-Nya melalui tirai makhluk, padahal di sisi Allah, makhluk itu sendiri sejatinya tidak memiliki wujud hakiki.
  16. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الظّاهِرُ قَبْلَ وُجودِ كُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الواحِدُ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ شَيءٌ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيءٍ! وكَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَلولاهُ ما كانَ وُجودِ كُلِّ شَيءٍ! يا عَجَباً كَيْفَ يَظْهَرُ الوُجودُ في العَدَمِ! أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ القِدَمِ! Bagaimana mungkin Allah bisa terhalang oleh sesuatu, padahal Dialah yang menampakkan segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal keberadaan-Nya tampak jelas pada segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal tanda-tanda kekuasaan-Nya ada di dalam segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dialah yang mengenalkan diri-Nya kepada segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dia telah ada sebelum segala sesuatu itu tercipta! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal kejelasan wujud-Nya melebihi segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dia Maha Esa dan tidak ada sesuatu pun yang menyertai-Nya! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada apa pun juga! Dan bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal jika bukan karena kemurahan-Nya, niscaya segala sesuatu tidak akan pernah ada! Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin wujud yang hakiki (Allah) bisa tertutupi oleh sesuatu yang semu (makhluk)! Atau bagaimana mungkin makhluk yang baru diciptakan dan fana ini bisa bersanding untuk menutupi Dzat Yang Maha Kekal!
  17. ما تَرَكَ مِنَ الجَهْلِ شَيْئاً مَنْ أَرادَ أَنْ يَحْدُثَ في الوَقْتِ غَيْرُ ما أَظْهَرَهُ اُلله فيِهِ. Sungguh sangat bodoh orang yang menghendaki terjadinya sesuatu pada suatu waktu, padahal Allah sedang menetapkannya dalam kondisi yang berbeda. (Orang yang tidak rida pada takdir saat ini adalah orang yang tidak paham pengaturan Allah).
  18. إِاحالَتُكَ الَأعْمالَ عَلَى وٌجودِ الفَراغِ مِنْ رُعُوناتِ النَفْسِ. Menunda-nunda amal saleh hanya karena menunggu waktu luang adalah tanda dari kebodohan dan kelemahan jiwa.
  19. لا تَطْلُبْ مِنْهُ أَن يُخْرِجَكَ مِنْ حالةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فيما سِواها. فَلَوْ أَرادَ لاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْراجٍ. Janganlah engkau mendesak Allah agar memindahkanmu dari suatu kondisi (misalnya dari kemiskinan atau kesibukan dunia) ke kondisi lain (seperti kekayaan atau waktu luang untuk ibadah). Jika Allah menghendaki engkau beribadah secara maksimal, Dia pasti akan memudahkanmu melakukannya tanpa harus mengubah posisimu saat ini.
  20. ما أَرادَتْ هِمَّةُ سالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ ما كُشِفَ لَها إلا وَنادَتْهُ هَواتِفُ الحَقيقةِ: الَّذي تَطْلُبُ أَمامَكَ. وَلا تَبَرَّجَتْ ظَواهِرُ المُكَوَّناتِ إلا وَنادَتْهُ حَقائِقُها: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ. Setiap kali seorang penempuh jalan spiritual (salik) tergoda untuk berhenti karena merasa puas dengan keindahan spiritual yang baru disingkapkan kepadanya, suara kebenaran batin segera mengingatkannya: "Tujuan sejatimu (Allah) masih jauh di depan, teruslah melangkah!" Dan tidaklah keindahan duniawi menampakkan pesonanya, melainkan hakikat terdalam dari dunia itu berbisik: "Kami ini hanyalah ujian bagimu, maka janganlah kamu terlena dan menjadi kufur."
  21. طَـلَـبُكَ مِنْهُ اتِّهامٌ لَـهُ. وَطَـلَـبُـكَ لَـهُ غَـيْبَةٌ مِـنْـك عَـنْهُ وَطَـلَـبُـكَ لِغَـيْرِهِ لِـقِـلَّـةِ حَـيائِـكَ مِنْهُ وَطَـلَـبُـكَ مِنْ غَـيْرِهِ لِـوُجـودِ بُـعْـدِكَ عَـنْهُ. Permintaanmu kepada Allah agar Dia memenuhi kebutuhanmu (dengan rasa cemas) seolah menuduh-Nya tidak perhatian kepadamu. Pencarianmu untuk menemukan-Nya menunjukkan bahwa engkau sedang merasa jauh dan gaib dari-Nya. Keinginanmu kepada selain-Nya mencerminkan tipisnya rasa malumu kepada-Nya. Sedangkan permohonanmu kepada makhluk mencerminkan betapa jauhnya hatimu dari kehadiran-Nya.
  22. مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيهِ إِلَّا وَلهُ قَدَرٌ فِيكَ يُمْضِيهِ. Tidak ada satu hembusan napas pun yang engkau keluarkan, melainkan di dalamnya terdapat takdir Allah yang sedang berjalan dan harus terjadi pada dirimu.
  23. لا تَتَرَقَّبْ فَرَاغَ الَأغْيَارِ فَإِإِنَّ ذَلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجُودِ المُراقَبَةِ لَهُ فِيمَا هُوَ مُقِيمُكَ فِيهِ. Janganlah engkau menunggu hilangnya kesibukan duniawi baru mau beribadah, karena sikap seperti itu akan memutuskanmu dari rasa selalu diawasi oleh Allah (muraqabah) dalam kondisi apa pun yang sedang Dia tetapkan untukmu saat ini.
  24. لا تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الَأكْدَارِ، مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارَ، فَإِإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلا مَا هُوَ مُسْتَحَقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا. Janganlah merasa heran atas terjadinya berbagai kesulitan dan ujian selama engkau masih hidup di dunia ini. Sebab, dunia ini memang diciptakan dan disifatkan sebagai tempat penderitaan serta ujian bagi manusia.
  25. ماَ تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ وَلَا تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ. Tidak akan pernah gagal suatu urusan yang engkau usahakan dengan bersandar pada pertolongan Tuhanmu, dan tidak akan pernah mudah suatu urusan yang engkau usahakan dengan mengandalkan kekuatan dirimu sendiri.
  26. مِنْ عَلاماتِ النُّجْاحِ في النِّهاياتِ، الرُّجوعُ إلى اِلله في البِداياتِ. Salah satu tanda keberhasilan seseorang di masa akhir perjuangannya adalah ketika ia selalu bersandar dan kembali kepada Allah sejak awal langkahnya.
  27. مَنْ أَشْرَقَتْ بِدايَتُهُ أَشْرَقَتْ نِهايَتُهُ. Barangsiapa yang mengawali langkahnya dengan cahaya keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah, niscaya akhir perjalanannya pun akan dipenuhi dengan cahaya keberhasilan dan kemuliaan.
  28. مَا اسْتُودِعَ في غَيْبِ السَّرائِرِ ظَهَرَ في شَهادةِ الظَّواهِرِ. Apa saja yang tersembunyi di dalam lubuk hati dan rahasia batin, pasti dampaknya akan terlihat jelas pada sikap dan perilaku lahiriah seseorang.
  29. شَتَّانَ بَينَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيِهِ. المُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لَأهْلِهِ، فأَثْبَتَ الَأمْرَ مِنْ وُجودِ أَصْلِهِ. وَالاسْتِدْلالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الوُصولِ إليَهِ. وَإإِلّا فَمَتى غابَ حَتّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ؟! وَمَتى بَعُدَ حَتّى تَكونَ الآثارُ هِيَ الَّتي تُوْصِلُ إلَيْهِ؟ Sungguh jauh berbeda antara orang yang menjadikan Allah sebagai dalil untuk melihat makhluk, dengan orang yang menjadikan makhluk sebagai dalil untuk mencari Allah. Orang yang menjadikan Allah sebagai dalil (yang mengenal Allah secara langsung) menyadari kebenaran pada tempatnya, sehingga ia melihat segala urusan bermula dari Dzat-Nya. Sedangkan orang yang mencari Allah lewat perantara makhluk menunjukkan bahwa ia belum sampai kepada-Nya. Lagipula, kapankah Allah pernah gaib atau bersembunyi sehingga membutuhkan dalil untuk membuktikan keberadaan-Nya?! Dan kapankah Dia pernah menjauh sehingga ciptaan-Nya yang harus menuntun kita kepada-Nya?!
  30. لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ: الواصِلونَ إلَيْهِ. مَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ: السّائِرونَ إلَيْهِ. "Hendaklah orang yang mempunyai kelapangan memberi nafkah dari kelapangannya"—mereka adalah orang-orang yang telah sampai kepada Allah (Ar-Washilun) yang dipenuhi cahaya makrifat. "Dan orang yang disempitkan rezekinya"—mereka adalah para penempuh jalan spiritual (As-Sairun) yang masih harus berjuang keras di tengah keterbatasan rohaninya.
  31. اهْتَدَى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بَأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ ، وَالْوَاصِلُونَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ ، فَالَأوَّلُونَ لِلَأنْوَارِ ، وَهَؤُلَاءِ الَأنْوَارُ لَهُمْ ؛ لَأنَّهُمْ لِله لَا لِشَىْءٍ دُونَهُ قُلِ اُلله ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ. Para penempuh jalan menuju Allah mendapat petunjuk melalui cahaya ibadah dan kesungguhan (tawajjuh). Sedangkan orang-orang yang telah sampai mendapatkan cahaya perjumpaan langsung dengan-Nya (muwajahah). Kelompok pertama berjalan mengejar cahaya, sedangkan kelompok kedua, cahayalah yang melayani mereka. Hal itu karena mereka hidup murni hanya untuk Allah, bukan demi sesuatu yang lain. "Katakanlah: 'Allah-lah (yang menurunkannya)', kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya."
  32. تَشَوُّفُكَ إلى ما بَطَنَ فيكَ مِنَ العُيوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إلى ما حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الغُيوبِ. Keinginanmu untuk melihat dan memperbaiki aib-aib yang tersembunyi di dalam dirimu jauh lebih baik dan lebih mulia daripada ambisimu untuk menyingkap hal-hal gaib yang tersembunyi darimu.
  33. الْحَقُ لَيْسَ بِمَحْجُوبٍ، وَإِنَّمَا الْمَحْجُوْبُ أَنْتَ عَنِ الْنَّظَرِ إِلَيْهِ، إِذْ لَوْ حَجَبَهُ شَيْءٌ – لَسَتَرَهُ ماحَجَبَهُ، وَلَوْ كَانَ لَهُ سَاتِرٌ – لَكَانَ لِوُجُوْدِهِ حَاصِرٌ، وَكُلُ حَاصِرٍ لِشَيْءٍ – فَهُوَ لَهُ قَاهِرٌ وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ. Allah tidak pernah tertutupi oleh apa pun, melainkan engkaulah yang terhalang dari melihat-Nya. Sebab, andai ada sesuatu yang bisa menutupi-Nya, tentu sesuatu itu mengurung wujud-Nya. Dan apa saja yang mengurung sesuatu, berarti ia berkuasa atasnya. Padahal Dialah Yang Maha Kuasa dan mengalahkan segala hamba-Nya.
  34. اخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الْحَقِّ مُجِيبًا وَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيبًا. Bersihkanlah dirimu dari sifat-sifat kemanusiaan yang bertentangan dengan hakikat penghambaanmu (seperti sombong, dengki, dan tamak), agar engkau dapat menyambut seruan Allah dengan tulus dan menjadi dekat di sisi-Nya.
  35. أصْلُ كُلَّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرَّضَا عَنِ النَّفْس، وأصْلُ كُلَّ طَاعِةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرَّضَا مِنْكَ عَنْها. ولأنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لا يَرْضَى عَن نفسِه خيرٌ لكَ مِن أنْ تَصْحَبَ عَالِماً يرضى عَنْ نَفْسِه. فَأَيُّ عِلْمٍ لَعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ؟! وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ؟!. Sumber dari segala maksiat, kelalaian, dan hawa nafsu adalah kepuasan terhadap diri sendiri (merasa sudah baik). Sebaliknya, pangkal dari segala ketaatan, kesadaran spiritual, dan kesucian jiwa adalah ketidakpuasan terhadap diri sendiri (selalu introspeksi). Sungguh, berteman dengan orang bodoh yang selalu mengoreksi dirinya jauh lebih baik bagimu daripada berteman dengan orang berilmu yang selalu membanggakan dirinya. Sebab, ilmu apa yang tersisa pada orang alim yang ujub terhadap dirinya sendiri? Dan kebodohan apa yang membahayakan dari orang bodoh yang selalu menyadari kekurangannya?
  36. شُعَاعُ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ ، وَعَيْنُ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُودِهِ ، وَحَقُّ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُودَهُ ، لَا عَدَمَكَ وَلَا وُجُودَكَ. Sinar mata batin (syu'a'ul bashirah) membuatmu menyadari betapa dekatnya Allah kepadamu. Mata batin yang utuh (ainul bashirah) membuatmu menyadari bahwa dirimu seolah tidak ada di hadapan kebesaran wujud-Nya. Sedangkan hakikat mata batin yang sejati (haqqul bashirah) membuatmu hanya melihat wujud Allah semata, tanpa lagi memedulikan ketiadaan ataupun keberadaan dirimu.
  37. كَانَ اللَُّهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ. Sejak awal mula, Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun yang menyertai-Nya. Dan sekarang, Dia tetap sama seperti sedia kala (Maha Suci dari perubahan akibat ruang, waktu, dan makhluk).
  38. لا تَتَعَدَّ نية هِمَّتُكَ إلى غَيْرِه، فالكريم لا تَتَخطاَّهُ الآمال. Jangan biarkan fokus tekad dan harapanmu berpaling kepada selain Allah, sebab Dzat Yang Maha Pemurah tidak akan pernah mengecewakan siapapun yang menaruh harapan kepada-Nya.
  39. لا تَرْفَعَنَّ إلى غَيْرِهِ حاجَةً هُوَ مُوْرِدُها عَلَيْكَ. فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرُهُ ما كانَ هُوَ لَهُ واضِعاً مَنْ لا يَسْتَطيعُ أَنْ يَرْفَعَ حاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطيعُ أنْ يَكونَ لَها عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا Jangan pernah mengadukan suatu beban kebutuhan kepada selain Allah, padahal Dialah yang mendatangkan ujian itu kepadamu. Bagaimana mungkin makhluk bisa menghilangkan beban yang sengaja Allah takdirkan untukmu? Lagipula, bagaimana mungkin seseorang yang tidak mampu menolong dirinya sendiri bisa diandalkan untuk menolong orang lain?
  40. إنْ لم تحسِّنْ ظنَّكَ بهِ لأجلِ وَصْفِهِ، فحَسِّنْ ظنَّكَ بهِ لأجْلِ معاملتِهِ مَعَكَ، فهَلْ عوَّكَ إلَّا حَسَنًا؟ وهَلْ أسدى إليْكَ إلّا مِننًا؟. Jika kamu belum bisa berprasangka baik kepada Allah karena mengenal sifat-sat keagungan-Nya, maka berprasangka baiklah karena kebaikan-Nya yang nyata dalam hidupmu. Bukankah selama ini Dia hanya membiasakanmu menerima hal-hal yang baik? Dan bukankah tidak ada yang Dia curahkan kepadamu selain anugerah dan nikmat?
  41. العَجَبُ كُلُّ العَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّنْ لا انْفِكاكَ لَهُ عَنْهُ، وَيَطْلُبُ ما لا بَقاءَ لَهُ مَعَهُ فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الَأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُور. Sungguh sangat mengherankan melihat orang yang sibuk lari dari Allah—padahal dia tidak akan pernah bisa lepas dari-Nya—sementara dia justru mati-matian mengejar dunia yang pasti akan meninggalkannya. Sungguh, sebenarnya bukan mata kepala yang buta, melainkan hati di dalam dada yang telah kehilangan penglihatan spiritualnya.
  42. لا تَرْخَلْ مِنْ كَوْنٍ إلى كَوْنٍ فَتَكونَ كَحِمارِ الرَّحى; يَسيرُ وَالمَكانُ الَّذي ارْتَحَلَ إلَيْهِ هُوَ الَّذي ارْتَحَلَ عَنْهُ. وَلكِنِ ارْحَلْ مِنْ الَأكْوان إلى المُكَوِّنِ، وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى. Janganlah hijrahmu hanya sekadar berpindah dari satu urusan duniawi ke urusan duniawi lainnya, karena kamu akan terjebak seperti keledai pemutar gilingan; terus berjalan memutar tanpa berpindah tempat dari titik awal. Akan tetapi, berhijrahlah dari segala ciptaan menuju Sang Pencipta, sebab hanya kepada Tuhanmulah segala tujuan akhir bermuara.
  43. لا تَصْحَبْ مَنْ لا يُنْهِضُكَ حالُهُ وَلا يَدُلُّكَ عَلَى اِلله مَقالُهُ. Jangan berteman akrab dengan seseorang yang perilakunya tidak memotivasi spiritualmu untuk bangkit, dan ucapan-ucapannya tidak menuntunmu untuk semakin dekat kepada Allah.
  44. رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيئًا فَأَرَاكَ الِإحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ مَنْ هوَ أَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ. Bisa jadi kamu sebenarnya adalah orang yang banyak berbuat buruk (dalam beribadah), tetapi kamu merasa sudah berbuat baik hanya karena kamu membandingkan dirimu dan berteman dengan orang yang kondisi spiritualnya lebih buruk darimu.
  45. مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ ، وَلَا كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ. Tidak ada amal yang dinilai sedikit jika lahir dari hati yang bersih dan tidak terikat dunia (zuhud). Sebaliknya, tidak ada amal yang dinilai banyak jika lahir dari hati yang penuh ambisi dan ketamakan terhadap dunia (raghib).
  46. حُسْنُ الَأعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الَأحْوَالِ، وَحُسْنُ الَأحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِى مَقَامَاتِ الِإنْزَالِ. Indahnya amal perbuatan yang tampak adalah buah dari indahnya kondisi hati (ihwal). Sedangkan keindahan kondisi hati itu diperoleh dari sejauh mana seseorang menghayati dan menetap dalam kedudukan spiritual (maqamat) yang dianugerahkan Allah.
  47. لا تَتْرُكِ الذِّكْر...ِ فَعَسى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ غَفْلةٍ إلى ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ، وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ غَيْبَةٍ عَمّا سِوَى Mَذْكورِ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اَّللَِّ بِعَزِيزٍ. Jangan pernah menghentikan zikir hanya karena hatimu belum khusyuk. Sebab, bisa jadi Allah menaikkan derajatmu dari zikir yang lalai (hanya di lisan) menuju zikir yang disertai kesadaran hati. Lalu dari zikir yang sadar menuju zikir yang hadir (merasakan kedekatan-Nya). Dan dari zikir yang hadir menuju zikir yang larut hingga melupakan segala sesuatu selain Allah yang dizikirkan. Dan hal yang demikian itu sama sekali tidak sulit bagi Allah.
  48. مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتُ الْقَلْبِ عَدَمَ الْحُزْنِ عَلَىَ مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافِقَاتِ، وَتَرْكُ الْنَّدَمِ عَلَىَ مَافَعَلَهُ مِنْ وُجُوْدِ الْزَلّاتِ. Di antara tanda-tanda matinya hati nurani seseorang adalah hilangnya rasa sedih saat kehilangan kesempatan berbuat taat, serta absennya rasa penyesalan ketika tergelincir melakukan kemaksiatan atau dosa.
  49. لا يَعْظُمِ الذَنْبُ عِنْدَكَ عَظَمَةً تَصُdُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بالِله تَعالى، فإنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ في جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبَهُ. Janganlah kamu menganggap dosamu begitu besar hingga membuatmu berputus asa dari prasangka baik dan ampunan Allah. Karena barangsiapa yang benar-benar mengenal Tuhannya, ia pasti sadar bahwa sebesar apa pun dosanya, jauh lebih kecil dan tenggelam di dalam luasnya samudra kemurahan-Nya.
  50. لَا صَغِيرَةً إذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ ، وَلَا كَبِيرَةً إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ. Tidak ada dosa yang dinilai kecil jika Allah menyikapimu dengan keadilan-Nya (tanpa ampunan). Sebaliknya, tidak ada dosa yang dinilai besar jika Allah menyambutmu dengan karunia serta rahmat-Nya.
  51. لا عَمَلَ أَرْجى لِلْقُلوبِ مِنْ عَمَلٍ يَغيبُ عَنْكَ شُهودُهُ ويُحْتَقَرُ عِنْدَك وُجودُهُ. Tidak ada amal yang lebih membawa secercah harapan bagi keselamatan hati melainkan amal yang kamu lupakan (tidak kamu pamerkan/banggakan) dan kamu anggap remeh nilainya karena merasa masih jauh dari kesempurnaan.
  52. إِإِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا. Sesungguhnya Allah menurunkan limpahan cahaya spiritual (warid) ke dalam hatimu tidak lain agar kamu tergugah untuk datang, mendekat, dan berserah diri kepada-Nya.
  53. أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيَتَسَلَّمَكَ مِنْ يَدِ الَأغْيَارِ ، وَلِيُحَرِّرَكَ مِنْ رِقِّ الَآثَارِ. Allah mengaruniakan cahaya Ilahi tersebut untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman ketergantungan pada makhluk (aghyar), serta membebaskan jiwamu dari perbudakan pesona duniawi yang semu.
  54. أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيُخْرِجَكَ مِنْ سِجْنِ وُجُودِكَ إِلَى فَضَاءِ شُهُودِكَ. Dia menurunkan karunia spiritual itu untuk mengeluarkanmu dari penjara ego dan kedirianmu yang sempit, menuju luasnya cakrawala penyaksian akan keagungan-Nya.
  55. الأنْوارُ مَطايا القُلوبِ وَالَأسْرارِ. Cahaya-cahaya ketuhanan adalah kendaraan bagi hati dan nurani terdalam untuk menempuh perjalanan ruhani mendekat kepada-Nya.
  56. النُّورُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ ، فَإِإِذَا أَرَادَ اُلله أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ أَمَدَّهُ بِجُنُودِ الَأنْوَارِ ، وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلَمِ وَالَأغْيَارِ. Cahaya kebaikan adalah bala tentara bagi hati, sebagaimana kegelapan adalah bala tentara bagi hawa nafsu. Jika Allah menghendaki kemenangan bagi hamba-Nya, Dia akan memperkuat hatinya dengan pasukan cahaya spiritual dan memutus segala pasokan kegelapan serta keterikatan pada selain-Nya.
  57. النُّورُ لَهُ الْكَشْف...ِ ، وَالْبَصِيرَةُ لَهَا الْحُكْمُ ، وَالْقَلْبُ لَهُ الِإقْبَالُ وَالِإدْبَارُ. Cahaya Ilahi berfungsi untuk menyingkap tirai kebenaran, mata batin (bashirah) berfungsi untuk menimbang dan mengambil keputusan, sedangkan hati bertindak mengeksekusinya; apakah ia akan maju menerima atau berbalik menolak.
  58. لا تُفْرِحْكَ الطَّاعَةُ; لأنَّها بَرَزَتْ مِنْكَ، وَافْرَحْ بِهَا لأنَّها بَرَزَتْ مِنَ الله إليكَ قُلْ بِفَضْلِ اَّللَِّ وَبِرَحْمَتِهِ فَبَِٰذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هو خير مما يجمعون. Janganlah kamu merasa bangga atas amal ketaatanmu hanya karena merasa itu adalah hasil usahamu sendiri. Tetapi bergembiralah atas ketaatan itu karena sadar bahwa ia adalah murni taufik dan hidayah yang Allah alirkan kepadamu. Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."
  59. قَطَعَ السَّائِرِينَ لَهُ وَالْوَاصِلِينَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُودِ أَحْوَالِهِمْ ، أَمَّا السَّائِرُونَ فَلَأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوا الصِّدْقَ مَعَ اِلله فِيهَا ، وَأَمَّا الْوَاصِلُونَ فَلَأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهَا. Allah memalingkan para pencari-Nya (salikin) dan orang-orang yang telah sampai kepada-Nya (washilin) dari melihat kehebatan amal serta kondisi spiritual mereka. Bagi para pencari, mereka dipalingkan karena sadar amalnya belum sepenuhnya tulus dan murni di hadapan Allah. Sedangkan bagi mereka yang telah sampai, mereka dipalingkan karena keindahan Allah telah menenggelamkan mereka, hingga tak lagi menyisakan ruang untuk melihat amal diri sendiri.
  60. ما بَسَقَتْ أَغْصanُ ذُلٍّ إلّا عَلى بَذْرِ طَمَعٍ Tidaklah tumbuh ranting-ranting kehinaan (pada diri seseorang) melainkan karena ia menanam benih ketamakan dan ambisi di dalam hatinya.
  61. مَا قَادَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الْوَهْمِ. Tidak ada sesuatu yang begitu kuat menyetir dan menyesatkan jalan hidupmu melebih jeratan ilusi serta angan-angan kosongmu sendiri.
  62. أنْتَ حُرٌّ مِمَّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أنْتَ لَهُ طَامِعٌ. Kamu akan menjadi manusia merdeka dari segala hal yang sudah kamu relakan dan lepaskan harapannya. Sebaliknya, kamu akan menjadi budak dari apa saja yang masih kamu kejar dengan ketamakan.
  63. مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلى اِلله بِمُلاطَفاتِ الإحْسانِ قِيدَ إلَيْهِ بِسَلاسِلِ الامْتِخانِ. Barangsiapa yang tidak mau mendekat kepada Allah lewat kelembutan nikmat dan kebaikan yang diberikan-Nya, maka dia akan digiring untuk kembali kepada-Nya dengan cara paksa melalui belenggu ujian dan cobaan hidup.
  64. مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوالِها، وَمَنْ شَكَرَها فَقَدْ قَيَّدَها بِعِقالِها. "Barangsiapa yang tidak mensyukurinya, maka ia telah bersiap-siap kehilangan nikmat tersebut. Dan barangsiapa yang mensyukurinya, maka ia telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat."
  65. خَفْ مِنْ وُجُودِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجاً لَكَ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ. "Takutlah akan adanya kebaikan Allah kepadamu yang disertai dengan terus-menerus terjadinya keburukan sikapmu kepada-Nya, jangan-jangan hal itu merupakan istidraj bagimu, sebagaimana firman-Nya: 'Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.'"
  66. مِنْ جَهْلِ الْمُرِيدِ أَنْ يُسِىءَ الَْأدَبَ فَتُؤَخَّرُ الْعُقُوْبةُ عَنْهُ، فَيَقُوْلُ: لَوْ كَانَ هَذَا سُوَءُ أَدَبٍ لَقَطَعَ ، وَأَوْجَبَ الِإبْعَادَ ، فَقَدْ يَقْطَعَ المَدَدَ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَشْعُرُ ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِإِلَّا مَنْعَ ، وَقَدْ يُقَامُ مَقامَ البُعدَِْ وَهُوَ لَا يَدْرِي ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا أَنْ يُخَلِّيَكَ وَمَا تُرِيدُ. "Di antara kebodohan seorang murid adalah ketika ia berbuat tidak sopan (buruk adab), lalu hukumannya ditangguhkan, kemudian ia berkata: 'Seandainya ini adalah buruk adab, niscaya Allah telah memutus karunia-Nya dan menjauhkan diriku.' Padahal, terkadang Allah telah memutus bantuan karunia itu darinya tanpa ia sadari—sekalipun bentuknya hanya berupa terhalangnya tambahan nikmat. Dan terkadang ia diposisikan di tempat yang jauh dari Allah tanpa ia ketahui—sekalipun bentuknya hanya berupa Allah membiarkan dirinya menuruti apa saja yang ia inginkan."
  67. إِإِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اُلله تَعَالَى بِوُجُودِ الَأوْرَادِ ، وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الِإمْدَادِ فَلَا تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلَاهُ ؛ لَأنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ ، وَلَا بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ ، فَلَوْلَا وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ. "Jika engkau melihat seorang hamba yang ditempatkan oleh Allah Ta'ala dalam ketekunan mengamalkan wirid-wirid dan Dia melestarikannya dalam waktu yang lama beserta curahan bantuan-Nya, maka jangan sekali-kali engkau meremehkan apa yang telah dianugerahkan oleh Tuannya kepadanya; hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda para arifin (ahli makrifat) atau keindahan para pencinta pada dirinya. Sebab, kalaulah tidak ada warid, niscaya tidak akan ada wird."
  68. قَوْمٌ أَقَامَهُمْ الْحَقُّ لِخِدْمَتِهِ ، وَقَوْمٌ اخْتَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ، كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا. "Ada sekelompok kaum yang ditempatkan oleh Dzat Yang Mahabenar untuk berkhidmat kepada-Nya, dan ada sekelompok kaum yang dikhususkan-Nya untuk mencintai-Nya. 'Kepada masing-masing golongan itu—baik golongan ini maupun golongan itu—Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.'"
  69. قَلَّمَا تَكُونُ الْوَارِدَاتُ الِإلَهِيَّةُ إِإِلَّا بَغْتَةً ، لِئَلَّا يَدَّعِيَهَا الْعِبَادُ بِوُجُودِ الاسْتِعْدَادِ. "Jarang sekali karunia-karunia Ilahi (waridat) datang melainkan secara tiba-tiba; hal itu agar para hamba tidak mengklaim atau merasa bahwa karunia itu datang karena adanya kesiapan mereka sendiri."
  70. مَنْ رَأَيْتَهُ مُجِيبًا عَنْ كُلِّ مَا سُئِلَ ، وَمُعَبِّرًا عَنْ كُلِّ مَا شَهِدَ ، وَذَاكِرًا كُلَّ مَا عَلِمَ ، فَاسْتَدِلَّ بِذَلِكَ عَلَى وُجُودِ جَهْلِهِ. "Barangsiapa yang engkau lihat selalu menjawab setiap apa yang ditanyakan, mengungkapkan setiap apa yang disaksikan, dan menceritakan setiap apa yang diketahuinya, maka jadikanlah hal itu sebagai dalil atas kebodohannya."
  71. إِنَّمَا جَعَلَ الدَّارَ الَآخِرَةَ مَحَلًّا لِجَزَاءِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ ؛ لَأنَّ هَذِهِ الدَّارَ لَا تَسَعُ مَا يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ ، وَلَأنَّهُ أَجَلَّ أَقْدَارَهُمْ عَنْ أَنْ يُجَازِيَهُمْ فِى دَارٍ لَا بَقَاءَ لَهَا. "Sesungguhnya Allah menjadikan negeri akhirat sebagai tempat pembalasan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman; karena negeri dunia ini tidak akan luas untuk menampung apa yang ingin Dia berikan kepada mereka, dan karena Allah mengagungkan kedudukan mereka untuk diberi balasan di negeri yang tidak memiliki keabadian."
  72. مَنْ وَجَدَ ثَمْرَةَ عَمَلِهِ عَاِجلًا فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ القَبُولِ آجِلًا. Barangsiapa yang menemukan buah dari amalnya disegerakan di dunia (berupa ketenangan hati dan kemudahan beribadah), maka hal itu menjadi dalil atas diterimanya amal tersebut di akhirat kelak."
  73. إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِى مَاذَا يُقِيمُكَ. Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah di dalam hal apa Dia menempatkanmu.
  74. مَتَى رَزَقَك الطَّاعةَ والغِنَى بِهِ عَنْهاَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَد أَسْبَغَ علَيكَ نِعَمَهُ ظاهِرةً وباطِنةً. "Ketika Allah menganugerahimu ketaatan dan memberikanmu rasa cukup bersama-Nya sehingga engkau tidak bergantung pada ketaatan itu, maka ketahuilah bahwa Dia telah menyempunakan nikmat-Nya kepadamu, baik lahir maupun batin."
  75. خَيْرُ مَاتَطْلُبُهُ مِنْهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ. "Sebaik-baik perkara yang engkau minta kepada-Nya adalah sesuatu yang Dia tuntut darimu."
  76. الحُزْنُ عَلى فُقْدانِ الطّاعةِ مَعَ عَدَمِ النُّهوضِ إلَيْها مِنْ عَلاماتِ الاغْتِرارِ. "Rasa sedih atas hilangnya ketaatan, namun tidak disertai dengan bangkit untuk mengamalkannya, merupakan salah satu tanda dari teperdaya."
  77. مَا الْعَارِفُ مَنْ إِإِذَا أَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ أَقْرَبَ إِلَيْهِ مِنْ إِإِشَارَتِهِ ، بِلِ الْعَارِفُ مَنْ لَاإِشَارَةَ لَهُ لِفَنَائِهِ فِي وُجُودِهِ وَانْطِوَائِهِ فِي شُهُودِهِ Bukanlah seorang arif yang ketika berisyarat menemukan bahwa Allah Yang Mahabenar lebih dekat kepadanya daripada isyaratnya. Tetapi, arif yang sejati adalah ia yang tidak lagi memiliki isyarat karena telah fana dalam wujud-Nya dan terlipat di dalam penyaksian-Nya.
  78. الرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ، وَإِلَّا فَهُوَ أُمْنِيةٌ. Harapan yang sesungguhnya adalah apa yang dibarengi dengan amal perbuatan. Jika tidak dibarengi dengan amal, maka itu hanyalah sekadar lamunan belaka.
  79. مَطْلَبُ العَارِفين مِنَ اِلله الصِّدْقُ فِي العُبُوديَّة ، والقِيَامُ بِحُقُوقِ الرُّبُوبَّية. Tuntutan para arifin kepada Allah adalah ketulusan dalam menghambakan diri, dan menunaikan hak-hak ketuhanan.
  80. بَسَطَكَ كيْ لا يُبْقِيَكَ مَعَ القَبْضِ وَقَبَضَكَ كَيْ لا يَتْرُكَكَ مَعَ البَسْطِ وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لا تَكُونَ لَشَيءٍ دُونَهُ. Allah melapangkan hatimu agar tidak membiarkanmu terjebak dalam kesempitan, dan Dia menyempitkan hatimu agar tidak meninggalkanmu terbuai dalam kelapangan, serta Dia mengeluarkanmu dari kedua kondisi tersebut agar engkau tidak menjadi milik bagi sesuatu apa pun selain diri-Nya.
  81. الْعَارِفُونَ إِذَا بُسِطُوا أَخْوَفُ مِنْهُمْ إِذَا قُبِضُوا ، وَلَا يَقِفُ عَلَى حُدُودِ الَأدَبِ فِى الْبَسْطِ إِلَّا قَلِيلٌ. "Para arifin ketika dilapangkan hatinya merasa lebih takut daripada saat disempitkan hatinya. Dan tidak ada yang mampu menjaga batas-batas kesopanan saat dalam kondisi lapang kecuali sedikit orang saja.
  82. الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُودِ الْفَرَحِ ، وَالْقَبْضُ لَا حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيهِ. "Kondisi lapang membuat nafsu mengambil bagiannya melalui adanya rasa gembira, sedangkan kondisi sempit tidak memberi bagian sedikit pun bagi nafsu."
  83. رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَ رُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاَكَ. "Terkadang Allah memberimu namun sebenarnya Dia sedang menahanmu. Dan terkadang Dia menahanmu namun sebenarnya Dia sedang memberimu."
  84. مَتَى فَتَحَ لَكَ بابَ الفَهْمِ في الَمْنعِ، عَادَ الَمْنعُ عَينَ العَطَاء. "Kapan saja Allah membukakan bagimu pintu pemahaman di balik penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan tersebut menjadi esensi dari pemberian itu sendiri."
  85. الَأكْوَانُ ظَاهِرًهَا غِرَّةٌ وَبَاطِنُهَا عِبْرَةٌ ، فَالنَّفْسُ تَنْظُرُ إِلَى ظَاهِرِ غِرَّتِهَا ، وَالقَلْبُ يَنْظُرُ إِلَى بَاطِنِ عِبْرَتِهَا. "Alam semesta ini bagian lahiriahnya adalah tipuan yang memperdaya, sedangkan bagian batiniahnya adalah pelajaran. Maka, nafsu hanya memandang kepada lahiriah tipuannya, sementara hati memandang kepada batiniah pelajarannya."
  86. إذَا أَرَدْتَ أَنْ يَكُونَ لَكَ عِزٌّ لَا يَفْنَى، فَلَا تَسْتَعِزَّنّ بِعِزٍ يَفْنَى. "Jika engkau menginginkan kemuliaan yang tidak akan pernah fana (abadi), maka jangan sekali-kali engkau mencari kemuliaan dari sesuatu yang bakal fana."
  87. الطَّيُّ الحَقيقيُ أَنْ تَطْويَ مَسافَةَ الدُّنْيا عَنكَ حَتى تَرى الآخِرَةَ أَقْرَبَ إِليْكَ مِنْك. "Melipat jarak yang sejati adalah engkau melipat jarak dunia dari dirimu, hingga engkau melihat bahwa akhirat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri."
  88. الْعَطَاءُ مِنَ الْخَلْقِ حِرْمَانٌ ، وَالْمَنْعُ مِنَ اِلله إِإِحْسَانٌ. "Pemberian dari makhluk pada hakikatnya adalah penahanan, sedangkan penahanan dari Allah pada hakikatnya adalah sebuah kebaikan dan karunia."
  89. جَلَّ رَبُّنَا أَنْ يُعَامِلَهُ الْعَبْدُ نَقْدًا فَيُجَازِيهِ نَسِيئَةً. "Maha Agung Tuhan kita, tidak mungkin seorang hamba beramal kepada-Nya secara tunai (di dunia), lalu Dia membalasnya secara tempo (hanya di akhirat tanpa ada manisnya iman di dunia)."
  90. كَفَى مِنْ جَزَائِهِ إِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ أَنْ رَضِيَكَ لَهَا أَهْلًا. "Cukuplah sebagai balasan dari Allah kepadamu atas ketaatan yang engkau lakukan, yaitu ketika Dia rida memilih dan menjadikanmu pantas sebagai orang yang menunaikan ketaatan tersebut."
  91. كَفَى الْعَامِلِينَ جَزَاءً مَا هُوَ فَاتِحُهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فِى طَاعَتِهِ ، وَمَا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْهِمْ مِنْ وُجُودِ مُؤانَسَتِهِ. "Cukuplah sebagai balasan bagi orang-orang yang beramal, berupa apa yang Allah bkakan di dalam hati mereka saat taat kepada-Nya, serta apa yang Dia curahkan kepada mereka berupa rasa intim dan nyaman bersama-Nya."
  92. مَنْ عَبَدَهُ لِشَىْءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ ، أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُودَ الْعُقُوبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ. "Barangsiapa yang menyembah Allah karena sesuatu yang ia harapkan dari-Nya, atau demi menolak datangnya siksaan melalui ketaatannya, maka ia belum menunaikan hak dari sifat-sifat Allah yang wajib disembah."
  93. مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ ، فَهُوَ فِى كُلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ. "Ketika Allah memberimu, Dia sedang memperlihatkan kepadamu akan kebaikan-Nya. Dan ketika Dia menahan pemberian-Nya kepadamu, Dia sedang memperlihatkan kepadamu akan kekuasaan-Nya. Maka Allah dalam kedua kondisi tersebut sebenarnya sedang mengenalkan diri-Nya kepadamu, dan hadir dengan kelembutan-Nya atas dirimu."
  94. إنَّما يُؤلِمُكَ المَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اِلله فيهِ. "Sesungguhnya rasa sakit akibat penolakan itu hanyalah karena engkau belum memahami hikmah Allah di dalam penolakan tersebut."
  95. رُبَّما فَتَحَ بابَ الطّاعَةِ وَما فَتَحَ لَكَ بابَ القَبولِ، وَرُبَّما قَضى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكانَ سَبَبَاً في الوُصولِ. Terkadang Allah membukakan bagimu pintu ketaatan namun Dia tidak membukakan pintu penerimaan. Dan terkadang Dia menetapkan dosa atas dirimu, namun dosa itu justru menjadi sebab tersampaikannya dirimu kepada-Nya.
  96. مَعْصِيَةٌ أَورَثَتْ ذُلًا وافْتِقاراً خَيرٌ مِنْ طاعَةٍ أوْرَثَتْ عِزّاً وَاسْتِكْباراً. "Maksiat yang melahirkan rasa hina dan sangat butuh kepada Allah itu lebih baik, daripada ketaatan yang melahirkan rasa mulia dan kesombongan."
  97. نِعْمَتانِ ما خَرَجَ مَوْجودٌ عَنْهُما ، وَلا بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُما : نِعْمَةُ الإيجادِ ، وَنِعْمَةُ الِإمْدادِ. "Ada dua nikmat yang tidak ada satu pun makhluk keluar darinya, dan setiap yang diciptakan pasti membutuhkannya: yaitu nikmat penciptaan dan nikmat kelangsungan fasilitas hidup."
  98. أَنْعَمَ عَلَيْكَ أوَّلًا بِالإيجَادِ ، وَثَانِيَا بِتَوَالِي الِْإمْدَادِ. "Allah memberikan nikmat kepadamu yang pertama kali berupa penciptaan dirimu, dan yang kedua berupa curahan pertolongan serta rezeki-Nya yang datang terus-menerus."
  99. فَاقَتُك لَكَ ذَاتِيَّةٌ ، وَوُرُودُ الَأسْبَابِ مُذَكِّرَةٌ لَكَ بِمَا خَفِيَ عَلَيكَ مِنْهَا والفَاقَةُ الذَّاتِيَّةُ لا تَرْفعُهَا العَوَارِض... Kefakiranmu adalah sifat yang melekat pada zatmu sendiri. Sedangkan datangnya sebab-sebab hanyalah untuk mengingatkanmu akan apa yang tersembunyi dari sifat fakirmu itu. Dan kefakiran yang bersifat zat itu tidak akan pernah bisa dihilangkan oleh hal-hal yang datang dari luar.
  100. خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فِيهِ وُجُودَ فَاقَتِكَ ، وَتُرَدُّ فِيهِ إِإِلَى وُجُودِ ذِلَّتِكَ. "Sebaik-baik waktumu adalah waktu di mana engkau menyaksikan adanya kefakiranmu yang mutlak, dan engkau dikembalikan pada kesadaran akan hinanya dirimu di hadapan Allah."
  101. مَتى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرideُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بابَ الُأنْسِ بهِ. "Kapan saja Allah membuatmu merasa asing dari makhluk-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia sebenarnya sedang ingin membukakan bagimu pintu kenyamanan dan keintiman bersama-Nya."
  102. متى أطْلَقَ لسانَكَ بالطَّلبِ؛ فاعْلَمْ أنَّه يُريدُ أنْ يُعطيَكَ. "Apabila Allah telah menggerakkan lidahmu untuk meminta (berdoa), maka ketahuilah bahwa Dia sebenarnya sedang ingin memberi kepadamu."
  103. العَارِفُ لا يَزُولُ اضْطِرَارُهُ وَلَا يَكُونُ مَعَ غَيْرِ اّللَِّ قَرَارُهُ. "Seorang arif (yang mengenal Allah) tidak akan pernah hilang rasa butuhnya yang mendesak kepada Allah, dan hatinya tidak akan pernah merasa tenang bersandar kepada selain Allah."
  104. أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوَارِ آَثَارِهِ ، وَأَنَارَ السَّرَائِرَ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ؛ لَِأجْلِ ذَلِكَ أفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ ، وَلَمْ تَأْفَلْ أَنْوَارُ القُلُوبِ وَالسَّرَائِرِ ؛ وَلِذَلِكَ قِيلَ : إِإِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ باللَّيْلِ وَشَمسُ القُلُوبِ لَيْسَتْ تَغِيبُ. Allah menerangi alam lahiriah dengan cahaya makhluk ciptaan-Nya (atsar), dan Dia menerangi alam batiniah dengan cahaya sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, cahaya lahiriah bisa terbenam/sirna, sedangkan cahaya hati dan batin tidak akan pernah sirna. Itulah mengapa dikatakan: 'Sesungguhnya matahari di siang hari akan terbenam pada malam hari, sedangkan matahari hati tidak akan pernah terbenam'
  105. ليُخَفِّفْ أَلمَ البَلاءِ عَلَيْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحانَهُ هُوَ المُبْلي لَكَ. فَالَّذي واجَهَتْكَ مِنْهُ الأقْدارُ هُوَ الَّذي عَوَّدَكَ حُسْنَ الاخْتِيارِ. "Hendaknya pengetahuanmu bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang mendatangkan ujian kepadamu dapat meringankan rasa sakit atas ujian tersebut. Sebab, Dzat yang menghadapkan takdir-takdir itu kepadamu adalah Dzat yang selalu membiasakanmu menerima pilihan terbaik-Nya."
  106. مَنْ ظَنَّ انْفِكاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذلِكَ لِقُصورِ نَظَرِهِ. "Barangsiapa yang menyangka bahwa kelembutan Allah (luthf) terpisah dari takdir-Nya, maka hal itu disebabkan oleh pendeknya pandangan (batin) orang tersebut."
Jika Anda menemukan kesalahan, baik harakat, arti maupun tulisannya, saya mohon berkenan untuk memberikan koreksi di kolom komentar. Saya akan sangat senang jika ada yang memberikan koreksi tersebut.

Posting Komentar