Terjemah Kitab Al Hikam Ibn Athaillah (Lengkap 264 Maqalah)
Sekelumit Pengantar
Kitab Hikam merupakan salah satu kitab yang banyak dikaji di pesantren, termasuk pesantren almamater tempat saya mengaji. Saya pernah ngaji matan Hikam kepada Gus Rumaizijat mulai tahun 2014 juga kepada Gus Baha di tahun 2010. Bahkan pernah ikut ijazahan kitab Hikam tersebut. Adapun syarah yang dipakai adalah karya al-Abbadi.
![]() |
| Pantai Parang tritis 2021 (Dok. Pribadi) |
Terjemahan yang saya susun sudah lama dengan mencicil ini merupakan hasil dari proses pembacaan tersebut. Saya kira, daripada terjemahan ini hanya ada di laptop, lebih baik saya publikasikan dengan harapan bisa memberikan pemahaman sederhana tentang kitab ini.
Menurut hitungan saya, kalimat-kalimat Syaikh Ibn Athaillah ini ada 264. Saya agak kesusahan dalam menyalin dari versi word ke blog, jadi mungkin, atau malah dipastikan ada kesalahan-kesalahan. Jadi, jika menemukan keselahan tersebut silakan bisa dikoreksi di kolom komentar.
Catatan sederhana tentang Hikam
Selain menyalin sedikit demi sedikit terjemahan Hikam ini, saya juga sudah menulis beberapa catatan dari maqalah-maqalah tersebut yang saya tulis sejak tahun 2015 ketika ngaji dengan Gus Baha juga Gus Rum namun itu terhenti hingga tahun 2020. Setelah tahun tersebut saya belum pernah menulis lagi soal Hikam.
Menulis ulasan tentang Hikam, bukan syarah sebenarnya, saya merasa lebih tidak terbebani jika menyebutnya sebagai catatan pribadi saja. Catatan-catatan di bawah memang sengaja tidak saya perbarui sebab saya kira itu bisa menjadi tanda cara berpikir dari tahun ke tahun.
- Hakikat Keberadaan Allah Ini adalah catatan yang saya tulis 19 Oktober 1019
- Hidup untuk siapa? saya tulis pada 23 Oktober 2015
- Curhat di tempat yang Benar saya tulis pada 27 Oktober 2015
- Berprasangka baik kepada Allah yang saya tulis pada 31 Oktober 2025
- Allah tidak pernah lepas dari kita yang saya tulis pada 20 November 2015
- Mufon itu harus yang lebih baik, jangan muter-muter. Saya tulis pada 15 Desember 2025
- Memilih teman menurut ibn Athaillah saya tulis pada 24 Januari 2016
- Jangan narsis dengan ibadah yang kita lakukan. Saya tulis pada 18 Agustus 2017
- Dari mana munculnya riya? saya tulis pada 1 September 2017
- Diberi atau tidak diberi adalah sama; wujud dari kasih sayang-Nya. Saya tulis pada 4 Januari 2020
Jika saya menulis catatan tentang Hikam lagi, akan saya sunting halaman ini. Saya tidak berharap atau bercita-cita merampungkan semua catatan hingga 262 catatan, jadi jalani saja.
Terjemah Kitab Hikam
- مِنْ عَلامَةِ الاعْتِمادِ عَلى العَمَلِ، نُقْصانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجودِ الزَّللِ. Di antara tanda bahwa seseorang bersandar pada amal perbuatannya sendiri adalah berkurangnya rasa harap (raja') kepada rahmat Allah ketika ia tergelincir dalam dosa atau kesalahan.
- إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اِلله إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الَأسْبابَ مَعَ إقامَةِ اِلله إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ. Keinginanmu untuk fokus beribadah saja (tajrid) padahal Allah sedang menempatkanmu pada jalur mencari nafkah (asbab) adalah bentuk syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk mencari nafkah (asbab) padahal Allah telah memposisikanmu dalam kondisi fokus beribadah (tajrid) merupakan penurunan dari cita-cita spiritual yang luhur.
- سَوَابِقُ الهِمَمِ لا تَخْرِقُ أَسْوارَ الَأقْدارِ Kekuatan tekad dan cita-cita yang tinggi sebesar apapun, tidak akan pernah mampu menembus benteng takdir Allah.
- أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبيرِ. فَما قامَ بِهِ غَيرُكَ عَنْكَ لا تَقُمْ بهِ لِنَفْسِكَ Istirahatkanlah dirimu dari ikut campur mengatur urusan dunia (secara berlebihan). Apa yang sudah dijamin dan diurus oleh Allah untukmu, tidak perlu engkau sibukkan pikiranmu untuk mengurusnya kembali.
- اجْتِهادُكَ فيما ضُمِنَ لَكَ وَتَقصيرُكَ فيما طُلِبَ مِنْكَ دَليلٌ عَلى انْطِماسِ البَصيرَةِ مِنْكَ. Kesungguhanmu dalam mengejar urusan yang sebenarnya sudah dijamin untukmu (seperti rezeki), dibarengi kelalaianmu dalam menunaikan apa yang dituntut darimu (seperti ibadah), adalah bukti nyata atas butanya mata batinmu.
- لا يَكُنْ تأَخُّرُ أَمَدِ العَطاءِ مَعَ الإلْحاحِ في الدُّعاءِ مُوْجِباً لِيأْسِكَ. فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الِإجابةَ فيما يَخْتارُهُ لَكَ لا فيما تَخْتارُهُ لِنَفْسِكَ. وَفي الوَقْتِ الَّذي يُريدُ لا فِي الوَقْتِ الَّذي تُريدُ Jangan sampai tertundanya pengabulan doa—padahal engkau telah memohon dengan sangat—membuatmu berputus asa. Allah telah menjamin akan mengabulkan doamu sesuai dengan apa yang terbaik menurut pilihan-Nya untukmu, bukan menurut keinginanmu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau tentukan.
- لا يُشَكّكَنَّكَ في الوَعْدِ عَدَمُ وُقوعِ المَوْعودِ، وإنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ؛ لِئَلّا يَكونَ ذلِكَ قَدْحاً في بَصيرَتِكَ وإخْماداً لِنُوْرِ سَريرَتِكَ Jangan sampai belum terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah membuatmu ragu terhadap janji-Nya, meskipun waktu pencapaiannya telah ditentukan. Sikap ragu ini hanya akan menciderai mata batinmu dan memadamkan cahaya di dalam hatimu.
- إذا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلا تُبْالِ مَعَها إنْ قَلَّ عَمَلُكَ. فإِنّهُ ما فَتَحَها لَكَ إلا وَهُوَ يُريدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِليْكَ؛ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ والَأعْمالَ أَنْتَ مُهديها إلَيهِ. وَأَينَ ما تُهْديهَ إلَيهَ مِمَّا هُوُ مُوِرُدهُ عَلَيْكَ Jika Allah membukakan bagimu suatu jalan untuk makrifat (mengenal-Nya), maka jangan pedulikan sedikitnya amalmu. Allah tidak membukakan jalan itu melainkan karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau tahu bahwa makrifat adalah anugerah pemberian-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah persembahanmu kepada-Nya? Sungguh jauh berbeda antara apa yang engkau persembahkan kepada-Nya dengan apa yang Dia anugerahkan kepadamu.
- تَنَوَّعَتْ أَجْناسُ الَأعْمالِ لَتَنَوُّعِ وارِداتِ الَأحْوالِ. Jenis dan ragam amal perbuatan itu menjadi bermacam-macam karena dipengaruhi oleh beragamnya kondisi spiritual (ahwal) yang hadir di dalam hati.
- الَأعْمالُ صُوَرٌ قَائَمةٌ، وَأَرْواحُها وُجودُ سِرِّ الِإخْلاصِ فِيها. Amal perbuatan itu ibarat kerangka atau bentuk lahiriah yang mati, sedangkan ruh yang menghidupkannya adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.
- ادْفِنْ وُجودَكَ في أَرْضَ الخُمولِ ، فَما نَبَتَ مِمّا لَمََْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ. Kuburlah popularitas dirimu di dalam bumi ketidakterkenalan (khumul). Sebab, benih tanaman yang tumbuh tanpa ditanam ke dalam tanah terlebih dahulu, buahnya tidak akan pernah matang dengan sempurna.
- ما نَفَعَ القَلْبَ شَئٌ مِثْلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بِها مَيْدانَ فِكْرَةٍ. Tidak ada yang memberikan manfaat besar bagi kesehatan hati melebihi tindakan menyendiri (uzlah) yang membawa hati tersebut masuk ke dalam medan perenungan (fikrah).
- كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الَأكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِى مِرْآَتِهِ ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اِلله وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ ؟ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اِلله وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلَاتِهِ ؟أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الَأسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ Bagaimana mungkin hati bisa bersinar jika bayang-bayang duniawi masih melekat pada cerminnya? Bagaimana mungkin hati bisa berjalan menuju Allah jika ia masih terbelenggu oleh syahwatnya? Bagaimana mungkin seseorang berharap masuk ke hadirat Allah yang suci jika ia belum bersuci dari janabah kelalaiannya? Dan bagaimana mungkin ia berharap memahami rahasia-rahasia spiritual yang mendalam jika ia belum bertobat dari kesalahan-kesalahannya?
- الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الْحَقِّ فِيهِ ، فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُودُ الَأنْوَارِ ، وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الَآثَارِ. Alam semesta ini sejatinya gelap gulita. Ia menjadi terang benderang hanya karena adanya manifestasi (zhuhur) Allah di dalamnya. Barangsiapa yang melihat alam semesta namun tidak menyaksikan kehadiran Allah di dalam, di dekat, sebelum, atau sesudah alam tersebut, maka ia telah kehilangan cahaya, dan matahari makrifatnya telah terhalang oleh awan kebendaan.
- مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ. Di antara bukti yang menunjukkan kemahakuasaan Allah (Qahar) adalah Dia mampu menghalangimu untuk melihat-Nya melalui tirai makhluk, padahal di sisi Allah, makhluk itu sendiri sejatinya tidak memiliki wujud hakiki.
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الظّاهِرُ قَبْلَ وُجودِ كُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيءٍ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الواحِدُ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ شَيءٌ! كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيءٍ! وكَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَلولاهُ ما كانَ وُجودِ كُلِّ شَيءٍ! يا عَجَباً كَيْفَ يَظْهَرُ الوُجودُ في العَدَمِ! أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ القِدَمِ! Bagaimana mungkin Allah bisa terhalang oleh sesuatu, padahal Dialah yang menampakkan segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal keberadaan-Nya tampak jelas pada segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal tanda-tanda kekuasaan-Nya ada di dalam segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dialah yang mengenalkan diri-Nya kepada segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dia telah ada sebelum segala sesuatu itu tercipta! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal kejelasan wujud-Nya melebihi segala sesuatu! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dia Maha Esa dan tidak ada sesuatu pun yang menyertai-Nya! Bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada apa pun juga! Dan bagaimana mungkin Dia terhalang, padahal jika bukan karena kemurahan-Nya, niscaya segala sesuatu tidak akan pernah ada! Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin wujud yang hakiki (Allah) bisa tertutupi oleh sesuatu yang semu (makhluk)! Atau bagaimana mungkin makhluk yang baru diciptakan dan fana ini bisa bersanding untuk menutupi Dzat Yang Maha Kekal!
- ما تَرَكَ مِنَ الجَهْلِ شَيْئاً مَنْ أَرادَ أَنْ يَحْدُثَ في الوَقْتِ غَيْرُ ما أَظْهَرَهُ اُلله فيِهِ. Sungguh sangat bodoh orang yang menghendaki terjadinya sesuatu pada suatu waktu, padahal Allah sedang menetapkannya dalam kondisi yang berbeda. (Orang yang tidak rida pada takdir saat ini adalah orang yang tidak paham pengaturan Allah).
- إِاحالَتُكَ الَأعْمالَ عَلَى وٌجودِ الفَراغِ مِنْ رُعُوناتِ النَفْسِ. Menunda-nunda amal saleh hanya karena menunggu waktu luang adalah tanda dari kebodohan dan kelemahan jiwa.
- لا تَطْلُبْ مِنْهُ أَن يُخْرِجَكَ مِنْ حالةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فيما سِواها. فَلَوْ أَرادَ لاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْراجٍ. Janganlah engkau mendesak Allah agar memindahkanmu dari suatu kondisi (misalnya dari kemiskinan atau kesibukan dunia) ke kondisi lain (seperti kekayaan atau waktu luang untuk ibadah). Jika Allah menghendaki engkau beribadah secara maksimal, Dia pasti akan memudahkanmu melakukannya tanpa harus mengubah posisimu saat ini.
- ما أَرادَتْ هِمَّةُ سالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ ما كُشِفَ لَها إلا وَنادَتْهُ هَواتِفُ الحَقيقةِ: الَّذي تَطْلُبُ أَمامَكَ. وَلا تَبَرَّجَتْ ظَواهِرُ المُكَوَّناتِ إلا وَنادَتْهُ حَقائِقُها: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ. Setiap kali seorang penempuh jalan spiritual (salik) tergoda untuk berhenti karena merasa puas dengan keindahan spiritual yang baru disingkapkan kepadanya, suara kebenaran batin segera mengingatkannya: "Tujuan sejatimu (Allah) masih jauh di depan, teruslah melangkah!" Dan tidaklah keindahan duniawi menampakkan pesonanya, melainkan hakikat terdalam dari dunia itu berbisik: "Kami ini hanyalah ujian bagimu, maka janganlah kamu terlena dan menjadi kufur."
- طَـلَـبُكَ مِنْهُ اتِّهامٌ لَـهُ. وَطَـلَـبُـكَ لَـهُ غَـيْبَةٌ مِـنْـك عَـنْهُ وَطَـلَـبُـكَ لِغَـيْرِهِ لِـقِـلَّـةِ حَـيائِـكَ مِنْهُ وَطَـلَـبُـكَ مِنْ غَـيْرِهِ لِـوُجـودِ بُـعْـدِكَ عَـنْهُ. Permintaanmu kepada Allah agar Dia memenuhi kebutuhanmu (dengan rasa cemas) seolah menuduh-Nya tidak perhatian kepadamu. Pencarianmu untuk menemukan-Nya menunjukkan bahwa engkau sedang merasa jauh dan gaib dari-Nya. Keinginanmu kepada selain-Nya mencerminkan tipisnya rasa malumu kepada-Nya. Sedangkan permohonanmu kepada makhluk mencerminkan betapa jauhnya hatimu dari kehadiran-Nya.
- مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيهِ إِلَّا وَلهُ قَدَرٌ فِيكَ يُمْضِيهِ. Tidak ada satu hembusan napas pun yang engkau keluarkan, melainkan di dalamnya terdapat takdir Allah yang sedang berjalan dan harus terjadi pada dirimu.
- لا تَتَرَقَّبْ فَرَاغَ الَأغْيَارِ فَإِإِنَّ ذَلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجُودِ المُراقَبَةِ لَهُ فِيمَا هُوَ مُقِيمُكَ فِيهِ. Janganlah engkau menunggu hilangnya kesibukan duniawi baru mau beribadah, karena sikap seperti itu akan memutuskanmu dari rasa selalu diawasi oleh Allah (muraqabah) dalam kondisi apa pun yang sedang Dia tetapkan untukmu saat ini.
- لا تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الَأكْدَارِ، مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارَ، فَإِإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلا مَا هُوَ مُسْتَحَقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا. Janganlah merasa heran atas terjadinya berbagai kesulitan dan ujian selama engkau masih hidup di dunia ini. Sebab, dunia ini memang diciptakan dan disifatkan sebagai tempat penderitaan serta ujian bagi manusia.
- ماَ تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ وَلَا تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ. Tidak akan pernah gagal suatu urusan yang engkau usahakan dengan bersandar pada pertolongan Tuhanmu, dan tidak akan pernah mudah suatu urusan yang engkau usahakan dengan mengandalkan kekuatan dirimu sendiri.
- مِنْ عَلاماتِ النُّجْاحِ في النِّهاياتِ، الرُّجوعُ إلى اِلله في البِداياتِ. Salah satu tanda keberhasilan seseorang di masa akhir perjuangannya adalah ketika ia selalu bersandar dan kembali kepada Allah sejak awal langkahnya.
- مَنْ أَشْرَقَتْ بِدايَتُهُ أَشْرَقَتْ نِهايَتُهُ. Barangsiapa yang mengawali langkahnya dengan cahaya keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah, niscaya akhir perjalanannya pun akan dipenuhi dengan cahaya keberhasilan dan kemuliaan.
- مَا اسْتُودِعَ في غَيْبِ السَّرائِرِ ظَهَرَ في شَهادةِ الظَّواهِرِ. Apa saja yang tersembunyi di dalam lubuk hati dan rahasia batin, pasti dampaknya akan terlihat jelas pada sikap dan perilaku lahiriah seseorang.
- شَتَّانَ بَينَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيِهِ. المُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لَأهْلِهِ، فأَثْبَتَ الَأمْرَ مِنْ وُجودِ أَصْلِهِ. وَالاسْتِدْلالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الوُصولِ إليَهِ. وَإإِلّا فَمَتى غابَ حَتّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ؟! وَمَتى بَعُدَ حَتّى تَكونَ الآثارُ هِيَ الَّتي تُوْصِلُ إلَيْهِ؟ Sungguh jauh berbeda antara orang yang menjadikan Allah sebagai dalil untuk melihat makhluk, dengan orang yang menjadikan makhluk sebagai dalil untuk mencari Allah. Orang yang menjadikan Allah sebagai dalil (yang mengenal Allah secara langsung) menyadari kebenaran pada tempatnya, sehingga ia melihat segala urusan bermula dari Dzat-Nya. Sedangkan orang yang mencari Allah lewat perantara makhluk menunjukkan bahwa ia belum sampai kepada-Nya. Lagipula, kapankah Allah pernah gaib atau bersembunyi sehingga membutuhkan dalil untuk membuktikan keberadaan-Nya?! Dan kapankah Dia pernah menjauh sehingga ciptaan-Nya yang harus menuntun kita kepada-Nya?!
- لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ: الواصِلونَ إلَيْهِ. مَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ: السّائِرونَ إلَيْهِ. "Hendaklah orang yang mempunyai kelapangan memberi nafkah dari kelapangannya"—mereka adalah orang-orang yang telah sampai kepada Allah (Ar-Washilun) yang dipenuhi cahaya makrifat. "Dan orang yang disempitkan rezekinya"—mereka adalah para penempuh jalan spiritual (As-Sairun) yang masih harus berjuang keras di tengah keterbatasan rohaninya.
- اهْتَدَى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بَأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ ، وَالْوَاصِلُونَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ ، فَالَأوَّلُونَ لِلَأنْوَارِ ، وَهَؤُلَاءِ الَأنْوَارُ لَهُمْ ؛ لَأنَّهُمْ لِله لَا لِشَىْءٍ دُونَهُ قُلِ اُلله ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ. Para penempuh jalan menuju Allah mendapat petunjuk melalui cahaya ibadah dan kesungguhan (tawajjuh). Sedangkan orang-orang yang telah sampai mendapatkan cahaya perjumpaan langsung dengan-Nya (muwajahah). Kelompok pertama berjalan mengejar cahaya, sedangkan kelompok kedua, cahayalah yang melayani mereka. Hal itu karena mereka hidup murni hanya untuk Allah, bukan demi sesuatu yang lain. "Katakanlah: 'Allah-lah (yang menurunkannya)', kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya."
- تَشَوُّفُكَ إلى ما بَطَنَ فيكَ مِنَ العُيوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إلى ما حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الغُيوبِ. Keinginanmu untuk melihat dan memperbaiki aib-aib yang tersembunyi di dalam dirimu jauh lebih baik dan lebih mulia daripada ambisimu untuk menyingkap hal-hal gaib yang tersembunyi darimu.
- الْحَقُ لَيْسَ بِمَحْجُوبٍ، وَإِنَّمَا الْمَحْجُوْبُ أَنْتَ عَنِ الْنَّظَرِ إِلَيْهِ، إِذْ لَوْ حَجَبَهُ شَيْءٌ – لَسَتَرَهُ ماحَجَبَهُ، وَلَوْ كَانَ لَهُ سَاتِرٌ – لَكَانَ لِوُجُوْدِهِ حَاصِرٌ، وَكُلُ حَاصِرٍ لِشَيْءٍ – فَهُوَ لَهُ قَاهِرٌ وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ. Allah tidak pernah tertutupi oleh apa pun, melainkan engkaulah yang terhalang dari melihat-Nya. Sebab, andai ada sesuatu yang bisa menutupi-Nya, tentu sesuatu itu mengurung wujud-Nya. Dan apa saja yang mengurung sesuatu, berarti ia berkuasa atasnya. Padahal Dialah Yang Maha Kuasa dan mengalahkan segala hamba-Nya.
- اخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الْحَقِّ مُجِيبًا وَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيبًا. Bersihkanlah dirimu dari sifat-sifat kemanusiaan yang bertentangan dengan hakikat penghambaanmu (seperti sombong, dengki, dan tamak), agar engkau dapat menyambut seruan Allah dengan tulus dan menjadi dekat di sisi-Nya.
- أصْلُ كُلَّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرَّضَا عَنِ النَّفْس، وأصْلُ كُلَّ طَاعِةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرَّضَا مِنْكَ عَنْها. ولأنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لا يَرْضَى عَن نفسِه خيرٌ لكَ مِن أنْ تَصْحَبَ عَالِماً يرضى عَنْ نَفْسِه. فَأَيُّ عِلْمٍ لَعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ؟! وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ؟!. Sumber dari segala maksiat, kelalaian, dan hawa nafsu adalah kepuasan terhadap diri sendiri (merasa sudah baik). Sebaliknya, pangkal dari segala ketaatan, kesadaran spiritual, dan kesucian jiwa adalah ketidakpuasan terhadap diri sendiri (selalu introspeksi). Sungguh, berteman dengan orang bodoh yang selalu mengoreksi dirinya jauh lebih baik bagimu daripada berteman dengan orang berilmu yang selalu membanggakan dirinya. Sebab, ilmu apa yang tersisa pada orang alim yang ujub terhadap dirinya sendiri? Dan kebodohan apa yang membahayakan dari orang bodoh yang selalu menyadari kekurangannya?
- شُعَاعُ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ ، وَعَيْنُ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُودِهِ ، وَحَقُّ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُودَهُ ، لَا عَدَمَكَ وَلَا وُجُودَكَ. Sinar mata batin (syu'a'ul bashirah) membuatmu menyadari betapa dekatnya Allah kepadamu. Mata batin yang utuh (ainul bashirah) membuatmu menyadari bahwa dirimu seolah tidak ada di hadapan kebesaran wujud-Nya. Sedangkan hakikat mata batin yang sejati (haqqul bashirah) membuatmu hanya melihat wujud Allah semata, tanpa lagi memedulikan ketiadaan ataupun keberadaan dirimu.
- كَانَ اللَُّهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ. Sejak awal mula, Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun yang menyertai-Nya. Dan sekarang, Dia tetap sama seperti sedia kala (Maha Suci dari perubahan akibat ruang, waktu, dan makhluk).
- لا تَتَعَدَّ نية هِمَّتُكَ إلى غَيْرِه، فالكريم لا تَتَخطاَّهُ الآمال. Jangan biarkan fokus tekad dan harapanmu berpaling kepada selain Allah, sebab Dzat Yang Maha Pemurah tidak akan pernah mengecewakan siapapun yang menaruh harapan kepada-Nya.
- لا تَرْفَعَنَّ إلى غَيْرِهِ حاجَةً هُوَ مُوْرِدُها عَلَيْكَ. فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرُهُ ما كانَ هُوَ لَهُ واضِعاً مَنْ لا يَسْتَطيعُ أَنْ يَرْفَعَ حاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطيعُ أنْ يَكونَ لَها عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا Jangan pernah mengadukan suatu beban kebutuhan kepada selain Allah, padahal Dialah yang mendatangkan ujian itu kepadamu. Bagaimana mungkin makhluk bisa menghilangkan beban yang sengaja Allah takdirkan untukmu? Lagipula, bagaimana mungkin seseorang yang tidak mampu menolong dirinya sendiri bisa diandalkan untuk menolong orang lain?
- إنْ لم تحسِّنْ ظنَّكَ بهِ لأجلِ وَصْفِهِ، فحَسِّنْ ظنَّكَ بهِ لأجْلِ معاملتِهِ مَعَكَ، فهَلْ عوَّكَ إلَّا حَسَنًا؟ وهَلْ أسدى إليْكَ إلّا مِننًا؟. Jika kamu belum bisa berprasangka baik kepada Allah karena mengenal sifat-sat keagungan-Nya, maka berprasangka baiklah karena kebaikan-Nya yang nyata dalam hidupmu. Bukankah selama ini Dia hanya membiasakanmu menerima hal-hal yang baik? Dan bukankah tidak ada yang Dia curahkan kepadamu selain anugerah dan nikmat?

Post a Comment