Ads 720 x 90

Sekilas Tentang Profil Gus Mohammad Rumaizijat (Gus Rum)

Gus Rum, begitu orang-orang memanggilnya. Beliau adalah anak dari seorang tokoh masyarakat desa Balung, yakni Bapak Mohammad Sholeh dan Ibu Siti Aisyah di kawasan Kencong, Jember Jawa Timur.

Gus Rum lahir pada 3 November 1982 di Jember. 

Pendidikan: 
  1. MIMA Nurul Islam Balung Kulon, Balung Jember
  2. Mts dan MA di YASPI Abdul Wachid Hasyim Balung Jember 
  3. S1 di STAIFAS Jember jurusan PAI 
Selama menempuh pendidikan MA dan kuliah, beliau menetap di Pondok Pesantren As Sunniyyah Kencong, Jember pada tahun 1998-2006 di bawah asuhan KH. Ahmad Sadid Jauhari. Pada masa inilah, Gus Rum ditinggal wafat oleh Abahnya, segala kebutuhan Gus Rum pada saat itu ditanggung penuh oleh KH. Ahmad Sadid Jauhari, sebab Abahnya Gus Rum memang mempunyai kedekatan dengan gurunya tersebut.

Pada tahun 2006 beliau pindah ke Pondok Pesantren Ali Ba'alawi yang diasuh oleh KH. Sholahudin Munsif dari Sedan Sarang, beliau adalah menantu dari KH. Ahmad Sadid Jauhari. Pada saat itu, KH. Sholahudin Munsif baru datang dari Makkah, beliau belajar di sana belasan tahun dengan Sayyid Maliki Al Hasani (rahimahullah ta'ala).

Gus Rum sering mengatakan, bahwa gurunya adalah salah satu murid kesayangan Sayyid Maliki pada saat itu.

Selama di pesantren Ali Ba'alawi, beliau dipercaya menjadi lurah dan disayangi oleh gurunya yakni KH. Sholahudin Munsif. Selama tujuh tahun beliau mengikuti kajian-kajian KH. Sholahudin Munsif atau akrab dipanggih Abah Sholah. 

Beliau sering menceritakan tentang Abah Solah di sela-sela ngaji, kata beliau, Abah Solah adalah guru yang paling berpengaruh dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya. Tak heran, bila Gus Rum sering menceritakan keutamaan-keutamaan gurunya tersebut.
Gus Rum Ngaji Kitab Hadis Riyadhus Shalihin di Masjid Agung Bantul Setipa Jumat Malam pukul 20.00 - selesai
Pada tahun 2013, beliau menikah dengan putri KH. Yasin Nawawi Bantul, yakni Ning Qaniatul Hasanah. Setelah menikah beliau seketika dipasrahi untuk mengajar para santri di pesantren An Nur Ngrukem Pendowoharjo Sewon Bantul komplek Nurul Huda.

Di awal-awal tahun 2013 masih sedikit santrinya, sekitar 30 an saja. Mula-mula beliau mengkaji kitab Tajul 'Arus karya Syaikh Ibnu Athaillah As Sakandari, lalu Tafsir Jalalain, Al Hikam dan lain-lain. Beliau sangat senang mengaji, membacakan kitab di hadapan para santri. 

Kegiatannya sehari-hari, lebih banyak dihabiskan mengaji dan muthala'ah dengan para santri, hal ini lah yang membuat banyak sekali orang-orang merasa kagum kepada beliau.

Kira-kira pada tahun 2016-2017 beliau mulai berdakwah di luar pesantren, hal ini karena sudah ada perintah dari gurunya yakni Abah Solah. Kata beliau, ketika pulang ke Jember dan sowan kepada gurunya, Abah Solah dawuh agar memberikan waktu untuk berdakwah di luar pesantren, bahkan disuruh untuk membuat pengumuman, woro-woro dalam Bahasa Jawa. 

Kini, beliau sudah mempunyai banyak rutinan di beberapa tempat di kawasan Bantul dan sekitarnya, ada yang mingguan dan selapanan.

Banyak sekali kitab-kitab yang dikaji di Komplek Nurul Huda. Dalam waktu satu hari mulai pagi hingga malam, lebih kurang 10 kajian yang dibuka oleh beliau. Waktu yang dimilikinya memang seolah-olah hanya untuk santri.

Kasih sayang beliau sangat luar biasa, dengan sifat lembut dan mudah tersenyum dengan siapa saja, membuatnya disegani dan dihormati, terutama bagi santri. Beliau masih sering ngoprak-ngoprak ke kamar santri untuk membangunkan shalat jamaah, bahkan mencari-cari santri jika ada yang tidak ada di pondok.

Pada saat tulisan ini dibuat, belasan kajian kitab yang sudah dibuat oleh beliau, di antaranya adalah

  1. Kitab Tafsir Jalalain
  2. Kitab Sahih Bukhari 
  3. Kitab Sunan Abu Daud 
  4. Kitab Hikam
  5. Kitab Abwabul Faraj
  6. Kitab Kifayatul Akhyar
  7. Kitab Simthul Iqyan
  8. Kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik 
  9. Kitab Ihya Ulumudin 
  10. Kitab Arbain Fi Ushuliddin
  11. Kitab Riyadhus Shalihin
  12. Dll
Belum lagi kajian-kajian kitab yang dilakukan di luar pondok pesantren, kitab kecil-kecil yang dikaji ketika liburan pesantren, dan kajian-kajian kitab lain ketika ada beberapa santri yang ingin ngaji secara khusus.

Model Pembelajaran Gus Rum

Sebagai seorang guru, Gus Rum selalu memberikan saran kepada murid-muridnya agar selalu ikut ngaji, sebab itulah thariqah seorang santri, yakni mengaji. Tidak ada tawar-menawar dalam hal ini. Pokoke sing penting ngaji. Begitu dawuh beliau. 

Model pengajian yang digelar mayoritas adalah bandongan, Gus Rum yang membaca kitab dan menjelaskannya, para santri yang memberikan makna dan mencatatnya. Tidak ada sistem kelas, semua santri pokoknya ngaji, entah itu masih kecil dan besar. Pokoknya ikut ngaji.

Meskipun ada beberapa kelas yang memang dibedakan, biasanya santri pelajar dan mahasiswa. 

Penjelasan yang digelar sering kali baru, kitab-kitab referensi dan cerita-ceritanya juga baru. Inilah salah satu kecerdasan dan keutamaan beliau, yakni mampu menarik perhatian santri terhadap kajian-kajian kitab yang lain. Agar para santri semangat untuk belajar mengkaji kitab-kitab yang lain.

Pada tahun 2020 ini, beliau sudah dianugerahi 3 anak. 1 putri dan 2 putra.
  1. Fatimah
  2. Muhammad Al Ghazali
  3. Muhammad Al Amir
Sekarang istri beliau sudah hamil lagi, semoga diberikan keselamatan dan kelancaran dalam proses melahirkan anak keempatnya. Amin...
Qowim Musthofa
penjual buku

Related Posts

Post a Comment

Mau Berlangganan?