Hakekat Keberadaan Allah (Aforisme Hikam nomor 36)


كان الله ولا شئ معه وهو الان على ما عليه كان

Keberadaan Allah, tidak ada suatu apapun yang bersama dengan Allah sejak dahulu, begitu pula dengan sekarang.


Kata “sekarang” (al-an), sarat akan menunjukkan perihal tentang waktu. Waktu, sebuah konsepsi manusia untuk menunjukkan tentang seberapa lama/sebentar dan kapan. Memang agak membingunkan sekaligus membosankan mendefinisikan tentang waktu secara rinci yang meliputi segala aspek pengertian, bahkan al-‘Abbadi sendiri pun mendefinisakan waktu adalah sebuah halusinasi (wahmiyyah). Namun terlepas dari itu, konsep waktu.

Selain waktu, yang membatasi manusia adalah konsep tentang dimensi ruang. Benar kata Kant, bahwa tidak ada realitas yang terlepas dari konsep ruang dan waktu. Inilah yang disebut oleh Kant sebagai realitas fenomena, kebalikan dari realitas noumena.


Keberadaan Allah memang Entah, lepas dari konsep ruang dan waktu, bahkan Allah sendiri pun tidak muncul dengan waktu. Sehingga pertanyaan yang muncul adalah, lebih dahulu mana antara Allah dan waktu itu sendiri?. Secara teologis-dogmatis, Allah tidak didefinisikan dengan kata “muncul” sebab kata muncul menunjukkan adanya permulaan yang berawal dari tidak muncul menjadi muncul. Allah tahu-tahu pokoknya ada. Oleh sebab itulah Allah mempunyai sifat Qadim yang artinya maha dahulu, ya dahulunya dahulu.


Jadi segala hal yang wujud di dunia ini, dahulunya tidak pernah ada, mulai dari alam semesta beserta isi-isinya sampai adanya manusia dengan segala ekosistemnya. Tidak pernah ada. Sehingga, keberadaan Alam semesta beserta isinya itu hanya disebabkan oleh kekuasaan Allah untuk menciptakan sekaligus menetapkannya, oleh sebab itu segala hal yang terwujud tidaklah pernah abadi dan suatu saat pasti akan hancur. Lalu kenapa surga di dalam al-Qur’an digambarkan sebagai sesuatu yang kekal?, bahkan manusia nanti akan kekal di dalamnya?. Ya jawabannya adalah karena surga telah dikekalkan oleh Allah dengan Maha Kuasa-Nya. Hal ini tidak menunjukkan adanya kontradiksi antara Allah dan surga tentang kekekalan-Nya, sebab tanpa kekuasaan Allah, surga tidak pernah bisa menjaga kekekalan dirinya sendiri.


Jika demikian, karena Allah maha dahulu dan tidak ada sesuatu apapun yang ada di sisi-Nya, maka pada saat inipun Allah sebagaimana awalnya, yakni tidak pernah ada suatu apapun yang menemani-Nya. Lalu bagaimana dengan adanya malaikat yang konon diberikan tugas-tugas oleh Allah?. Keberadaan malaikat hanyalah menunjukkan betapa agungnya Allah, kan tidak lucu bila ada manusia yang berdoa ingin rejeki banyak lalu Allah tiba-tiba turun sendiri memberikan itu kepada manusia?. Bukankah seorang presiden seperti Jokowi tidak mungkin memadamkan kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera saat ini, melainkan ada tim sendiri yang bertugas, tentu dengan perintah dari seorang presiden. Seperti itulah logika sederhananya.


Pembahasan di atas terkesan teologis, ya?. Memang, Dogmatis-deskriptif-perspektif-dialogis.


Aforisme Ibn ‘Athaillah di atas, jika dilihat dengan kaca mata tasawuf dan tradisi kesufian mempunyai peranan yang sangat mendasar dan penting untuk diperhatikan.


Pertama, kesadaran bahwa yang benar-benar ada (haqqul wujud) hanyalah Allah, sesuatu yang selain Allah tidak lain adalah fatamorgana, kamuflase yang kapan saja akan hancur berkeping-keping, bahkan hilang begitu saja. Dengan kata lain, segala hal yang ada di dunia ini tidak mempunyai arti apa-apa jika tanpa kekuasaan dzat dan ke-esa-an Allah.


Kedua, dengan kesadaran seperti demikian. Sedikit banyak akan mempengaruhi cara berpikir seseorang untuk tidak terperdaya oleh keberadaan dunia yang fatamorgana tersebut. Bisa dimungkinkan, bahkan dipastikan ketika seseorang menganggap lebih/paling penting segala hal yang bersifat duniawi, maka ketauhidannya masih perlu dipertanyakan kembali. (saya masih dalam keadaan seperti demikian.) oleh sebab itulah, terkadang kita menuhankan jabatan, usaha, uang, gelar kesarjanaan, bahkan doa sekalipun, sebab kita terlampau sering menganggap bahwa kesuksesan adalah buah dari doa-doa yang sering kita panjatkan.


Kita terlampau sering pula menuhankan teori sebab-akibat yang terkadang meniadakan peranan Allah dalam bertindak, seperti makan berakibat kenyang, haus berakibat segar, dan banyak uang menimbulkan kebahagiaan, padahal banyak yang banyak uang tapi justru malah menjadikan pikirannya fokus pada uang yang ia miliki dan menyebabkan ia stress. Dan ternyata Allah menciptakan banyak jalan untuk mencapai kebahagiaan. Bukankah pada saat kita masih kecil bermain dengan teman-teman sebaya selalu merasa senang tanpa banyak uang?.
 
Saya sendiri, ya saya pun sering kali lupa telah menuhankan kepentingan dan serta pengetahuan, sehingga saya tertipu oleh realitas fenomena yang fatamorgana penuh dengan kamuflase. Ini menunjukkan bahwa ketauhidan saya masih dalam taraf LABIL.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hakekat Keberadaan Allah (Aforisme Hikam nomor 36)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.