Madzhab Kritisisme Emmanuel Kant

Madzhab Kritisisme Emmanuel Kant
  1. Pendahuluan
Setelah dua madzhab terpenting yakni rasionalisme (Rene Descartes) dan empirisisme (Bacon) sudah didiskusikan pada sesi diskusi sebelumnya, di satu sisi, rasionalisme mendewakan akal sebagai sumber pengetahuan, di sisi yang lain empirisisme membuktikan akal yang tidak berdaya di depan pengalaman. Pertentangan dari dua aliran tersebut sangat mempengaruhi pemikiran pada saat itu.
Dengan itulah, memaksa saya –sebagai pemakalah selanjutnya– untuk membaca dan menulis catatan tentang teori filsafat Emmanuel Kant tentang epistemologi yang merupakan sintesis dari dua teori sebelumnya, dan tidak bisa dielak memang, bahwa pertarungan sengit atas kedua aliran di atas merupakan sebuah keniscayaan.
            Di tengah-tengah pertarungan antara ideologi rasionalisme dan empirisisme, Kant hadir sebagai wasith yang menggabungkan kedua aliran tersebut. Inilah yang kemudian disebut sebagai zaman kritisisme, sebuah teori pengetahuan yang ingin mendamaikan antara akal dan pengalaman.
            Pada kesempatan ini, penulis akan memposisikan diri sebagai pembaca yang ingin mengetahui konsep-konsep Emmanuel Kant tentang epistemologi ilmunya, proses perolehan pengetahuan, dan mencari tahu relevansi atas pemikirannya dengan ilmu-ilmu keislaman.
  1. Sekilas tentang Emmanuel Kant
Kant lahir di kota kecil bernama Kőnigsberg (sekarang disebut Kaliningrad, Rusia), Prussia Timur, Jerman, pada tanggal 22 April 1724. Keluarganya sangat religius, tetapi Kant tidak pernah menjadi pejabat di sebuah gereja.[1]
Proses Pendidikan yang dilalui Kant tidak pernah keluar dari tanah airnya. Bisa dikatakan, ia merupakan produk dalam negeri yang mampu mendunia. Di Collegium Fridericianum, sekolah yang berlandaskan semangat Peitisme, Kant memulai pendidikan formalnya pada usia delapan tahun. Di sekolah tersebut ia dididik dengan disiplin sekolah yang keras. Sebagai seorang anak, Kant diajar untuk menghormati pekerjaan dan kewajibannya, suatu sikap yang kelak amat dijunjung tinggi sepanjang hidupnya. Di sekolah ini pula Kant mendalami bahasa latin, bahasa yang sering dipakai oleh kalangan terpelajar dan para ilmuwan saat itu untuk mengungkapkan pemikiran mereka.[2]
Pada tahun 1740, di mana ia telah berumur 16 tahun, Kant belajar di Universitas Kőnigsberg. Di Universitas itulah ia berkenalan baik dengan Maartin Knutzen (1713-1751), dosen yang mempunyai pengaruh besar terhadap Kant. Knutzen adalah seorang murid dari Christian von Wolff (1679-1754), dan seorang profesor logika dan metafisika.[3] Sepeninggal ayahnya yang tanpa mewariskan harta banyak, selama 9 tahun (1746-1755) ia bekerja sebagai tutor pribadi kaum bangsawan di kota  Königsberg. Pada tahun 1755, di universitas tempat ia belajar, Kant memperoleh gelar Doktor dengan disertasi berjudul: Meditationum Quarundum de Igne Succinta Delineatino (Penggambaran Singkat dari Sejumlah Pemikiran Mengenai Api), sebuah karya yang juga di bidang ilmu alam. Pada tahun dan di tempat itu pula ia diangkat menjadi dosen. Lima belas tahun kemudian (1770) ia dipromosikan menjadi Profesor pada bidang logika dan metafisika.[4]
Sejak mengajar di Universitas  Kőnigsberg, kehidupan Kant tidak pernah lepas dari mengajar, membaca, dan menulis. Buah penanya pun sangat beragam, tidak hanya dalam disiplin filsafat. Namun demikian, karya-karya pentingnya tentang filsafat di antaranya adalah sebagai berikut; Kritik der Reinen Vernunft (The Critique of Pure Reason, 1781), Prolegomena zu Einer Jeden Künftigen Metaphysik (Prolegomena to Any Future Metaphysics, 1783), Idee zu einer allgemeinen Geschichte (Idea for a Universal History, 1784), Grundlegung der Metaphysik der Sitten (Fundamental Priciples of the Metaphysics of the Moral, 1785), Metaphysische Anfangsgründe der Naturwissenschaft (Metaphysical Fondation of Natural Science, 1786), Kritik der Praktischen Vernunft (Critique of Practical Reason, 1787), Kritik der Urteilskraft (Critique of Judgment, 1790), Die Religion Innerhalb der Grenzen der Bloßen Vernunft (Religion within the Limits of Reason Alone, 1793), Zum Ewigen Frieden (Perpetual Peace, 1795), Die Metaphysik der Sitten (Metaphysics of Etics, 1797), dan Anthropologie in Pragmatischer Hinsicht Abgefasst (Antropology from a Pragmatic Point of View, 1798). Ragam karya tersebut tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Umumnya, meski Bertnand Russell tidak menyepakatinya, ia dianggap sebagai pemikir terbesar di antara filusuf modern.[5] Pada tahun 1804, Kant meninggal dunia di daerah kelahirannya.
  1. Metamorfosa Pemikiran Kant
Menurut Joko Siswanto, sebagaimana yang dikutip oleh Alim Roswantoro, pemikiran Kant terbagi menjadi empat periode.[6] Pertama, ketika ia masih berada di bawah bayang-bayang Leibniz-Wolf sampai tahun 1760. Periode pertama biasa disebut dengan periode rasionalistik. 
Kedua, berlangsung antara tahun 1760 sampai tahun 1770, yang ditandai dengan semangat skeptisisme, yang dikenal dengan periode empiristik, karena dominasi pemikiran empirisme Hume. Karya yang muncul adalah Dream of Spirit Seer.
Ketiga, dimulai dari tahun 1770, yang dikenal dengan periode kritis. Karya yang muncul di antaranya adalah Kritik der reinen Vernutft (the Critique of Pure Reason) pada tahun 1781, yang kemudian direvisi pada tahun 1787: Prolegomena to Any Future Metaphysics (1785):  Metaphysiical Foundation of Rational Science (1786) : Critique of Practical Reason (1788),  dan Critique of Judgment (1790).
Keempat, berlangsung antara tahun 1790 sampai akhir hayatnya, 1804. Pada periode ini, perhatian Kant lebih pada persoalan-persoalan agama dan sosial. Karya yang terpenting adalah Religion Within the Boundaries of Pure Reason (1793); Religion Within Limits of Pure Reason (1794); dan sekumpulan essai yang berjudul Eternal Peace (1795).
Dari empat periode tersebut dapat dipahami bahwa Gottfried Leibniz (1646-1716) dan David Hume (1711-1776) adalah di antara banyak filsuf yang mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Kant, terutama dalam konstruksi epistemologinya. Pendidikan filsafat Kant terutama adalah Leibnizian. Pandangan awal Leibniz berputar di sekitar pandangan bahwa pengalaman dan realitas itu sesuai dengan prinsip yang fundamental, dengan asumsi demikian maka pikiran manusia dapat mengetahui dengan pasti struktur dasar semua realitas.[7] Kant tidak menginggalkan warisan Leibniz sepenuhnya.
 Namun, kedatangan Hume mengacaukan pandangan Leibniz tersebut. Menurut Hume, intelektual manusia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menunjukkan bahwa semua prinsip-prinsip dasarnya memiliki landasan yang memadai. Kapasitas rasional kita membantu untuk maju secara praktis, tetapi finalitas, keabsahan, dan kesempurnaan pengetahuan melepaskan diri dari kemampuan tersebut.[8]
Dari ketidaksesuaian dasar di antara filsafat Leibniz dan Hume tentang keabsahan pengetahuan, apakah diperoleh secara rasio atau empirik, bisa dipastikan atau tidak. Maka Kant datang dengan pandangan baru yang sangat kuat pengaruhnya bagi generasi selanjutnya. Ia menganggap Hume terlalu merendahkan filsafat Leibniz, namun dengan begitu bukan berarti ia menerima semua kesimpulan Hume. Meminjam istilah Alim, Kant merupakan kritikus sekaligus pemandu dua aliran yang menghegemoni dalam belantara filsafat. Dus, dalam uraian-uraian selanjutnya tidak akan lepas dari pengaruh konsep-konsep yang ditelurkan oleh Leibniz dan Hume.
  1. Kritisisme Emmanuel Kant
Setelah mengetahui peran dan penilaian Kant terhadap aliran rasionalisme dan empirisisme, maka tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa Kant telah menciptakan madzhab baru dalam filsafat, yakni madzhab kritisisme. Ketelitian Kant di dalam mengkritisi dua aliran sebelumnya membuktikan bahwa Kant telah mengubah wajah  paradigma filsafat secara radikal.
Ia memulainya dengan memusatkan atas manusia sebagai subjek berpikir. Implikasinya, ia tidak mengawali penilaian atas benda-benda sebagai objek, melainkan mengawalinya dengan investigasi atas struktur-struktur subjek yang memungkinkan untuk menilai benda-benda sebagai objeknya. Sebab, diakui atau pun tidak, pengetahuan lahir karena adanya aktifitas indra dan akal untuk menilai gejala-gejala yang disebabkan pertemuan dengan objek.
            Dengan demikian, penting sekiranya untuk mendiskusikan teori pengetahuan Kant, metode perolehannya, sekaligus proses verifikasi pengetahuan.
1.      Teori Kant tentang pengetahuan.
Menurut Kant, sebagaimana dikutip Nuchelsmans, pengetahuan merupakan hasil akhir dari adanya kerjasama dua komponen, yaitu di satu pihak berupa bahan-bahan yang bersifat pengalaman inderawi (baca: sensibility), dan di lain pihak cara mengolah kesan-kesan yang bersangkutan  sedemikian rupa (baca: understanding) sehingga terdapat suatu hubungan antara sebab dan akibatnya.[9]
      Persepsi merupakan pengetahuan awal yang diperoleh indera (sensibility), baik itu diperoleh dalam dunia faktual, maupun hanya sebatas fantasi atau angan-angan yang secara sadar tidak pernah dialami oleh subjek. Term persepsi di sini tidak ada proses pemaknaan suatu objek, jadi sebuah objek berdiri sendiri tanpa intervensi subjek. Ringkasnya, saat kita membuka mata, telinga, dan menggunakan indera kita, maka di situlah letak dimulainya pengetahuan.
      Sedangkan pemahaman (understanding) merupakan awal dari sebuah pengertian, karena konseptualisasi secara tentatif dan hipotesis menggolongkan dan menghubungkan apa yang dialami secara inderawi sebagai sesuatu dengan sebutan tertentu, dengan bahasa lain konsepsi adalah murni dan tidak empiris yang dihasilkan dengan pemikiran dan pemahaman.[10] Dus, konsepsi perlu diverifikasi atau diuji kebenarannya. Selanjutnya, jika tersedia bukti atau alasan yang memadai untuk menjamin penegasan bahwa memang demikian, maka proses mengetahui mencapai tujuan akhirnya, yakni membuat klaim kebenaran (truth claim). Dalam pengertian ini, klaim kebenaran disebut dengan judgment. Singkatnya, konseptualisasi dilakukan dalam rangka membuat suatu penilaian (judgment).
Menurut Kant, beberapa penilaian (judgment) setidaknya ada tiga kategori. Yakni analitik a priori, sintetik a posteriori, dan sintetik a priori.[11] Selanjutnya kita teliti tentang kedua kategori yang ditelurkan oleh Kant tersebut. Pertama, penilaian analitik a priori artinya sebuah penilaian yang bersifat universal, pasti, dan kebenarannya tidak bergantung pada pembuktian empiris, karena predikat telah terkandung setidak-tidaknya di dalam subjek penilaian.[12] Misalnya di dalam klaim bahwa semua segitiga memiliki tiga sudut. Penilaian semacam ini tidak lagi membutuhkan pembuktian empirik dengan menghadirkan sebuah segitiga untuk membuktikan kebenarannya memiliki tiga sudut.
Kedua, sintetik a posteriori, yang artinya subjek tidak memiliki predikat, dan status kebenaran itu bergantung pada pembuktian empirik. Misalnya ungkapan “banyak mawar berwarna merah.”[13] Ungkapan demikian tidak bersifat universal, tidak pula berdasarkan makna yang dilihat dari batasan-batasannya. Secara faktual, banyak juga mawar yang berwarna putih, misalnya. Artinya ungkapan tersebut tetap mempunyai kontradiksi dengan ungkapan fakta yang lain. Oleh karena itu, secara kuantitas, inilah yang disebut sebagai penilaian partikular.[14]
Ketigapenilaian sintetik a priori, yakni predikat penilaian tidak terkandung di dalam subjeknya, namun kebenaran itu bersifat pasti, universal, dan tidak bergantung pada pembuktian empiris.[15] Misalnya segala kejadian mempunyai sebabnya. Putusan model demikian berlaku umum dan mutlak (a priori) dan bersifat sintetis a posteriori, karena dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “sebab”. Maka dalam putusan ini, baik akal maupun pengalaman inderawi dibutuhkan serentak. Menurut Kant, sebagaimana dilansir Muslih, jenis putusan ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru.[16]
Singkatnya, hukum kausalitas sebagai contoh penilaian sintetik a priori merupakan suatu prinsip regulatif sebagai peraturan universal bagi seluruh penyelidikan rasional. Semua prinsip jenis ini adalah a priori sekaligus sintetis. Dengan demikian prinsip-prinsip itu jelas universal dan niscaya. Dus, validitasnya tidak bergantung pada konfirmasi pengalaman. Sebaliknya, validitasnya sudah diandaikan oleh semua keputusan yang hendak memberi kita pengalaman tentang sebuah fenomena.[17]
Walhasil, persoalan fundamental filsafat kritik Kant adalah, “Bagaimana putusan-putusan sintetis a priori dimungkinkan?. Selanjutnya akan kita diskusikan bagaimana upaya metodologis Kant untuk bisa memperoleh pengetahuan sintetik a priori.
2.      Metodologi dan Proses Verifikasi Pengetahuan Kant
Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bahwa pengetahuan sintetik a priori merupakan sebuah keniscayaan. Maka Kant membuat semacam pembedaan-pembedaan dan faktor-faktor yang harus dipahami untuk merealisasikan pengetahuan sintetik a priori, yaitu dengan membedakan antara realitas fenomenal dan realitas noumenal.
Realitas fenomenal adalah realitas seperti yang tampak pada kita, sedangkan realitas noumenal adalah realitas yang terlepas dari bentuk dan susunan (order) yang kita perkenalkan.[18]
Pembagian realitas seperti demikian menunjukkan bahwa, pengetahuan manusia yang memiliki dasar cukup akan dibatasi pada wilayah fenomena sekaligus syarat-syarat yang harus diperlukan untuk menjelaskan pengalaman kita di dalamnya. Sesuatu yang riil dan independen, yang muncul pada pikiran, tidak akan pernah menciptakan sebuah dunia dari dirinya sendiri, melainkan hanya menyusun dan membentuk apa yang kita temui pada realitas fenomenal, dengan maksud untuk membentuk sebuah dunia pengalaman.[19]
Untuk membedakan pengetahuan lewat realitas noumenal dan fenomenal, Kant memberikan penjelasan yang ketat. Pertama-tama adalah realitas fenomenal, pada dasarnya semua bentuk persepsi kehidupan manusia selalu terbatasi oleh ruang dan waktu, tidak ada objek yang bisa kita tangkap tanpa adanya konsep ruang dan waktu, sebab memang tidak ada objek –secara kasat mata– yang terlepas dari ruang dan waktu itu sendiri. Lebih dari itu, semua persepsi kita –entah itu berasal dari perasaan, pengandaian, dan pikiran kita sendiri– akan selalu mengikuti satu sama lain secara temporal.[20] Jadi, ruang dan waktu bukan semata-mata konsep yang kita temukan secara empirik, melainkan sudah membentuk dan mengkonstitusikan segala sesuatu yang muncul dari pengalaman perseptual kita.
Kant mengatakan, sebagaimana dikutip oleh John K. Roth “Meskipun semua pengetahuan kita dimulai dari pengalaman, tidaklah berarti bahwa semua pengetahuan muncul dari pengalaman.”[21] Dimulai artinya proses sensibilitas inderawi, sedangkan muncul artinya proses pemahaman. Dengan demikian menjadi kesimpulan bahwa meskipun pengetahuan memiliki akarnya pada pengalaman perseptual, namun pengetahuan juga memerlukan aplikasi pemahaman atau akal manusia ke dalam isi inderawi. Kesimpulannya, pengalaman dan pemahaman kita tentang sesuatu akan tertabatasi pada realitas secara fenomenal.
Bagaimana tentang realitas noumena?. Sebagaimana sudah kita senggol di atas bahwa noumena merupakan realitas yang di luar bentuk dan susunan dari yang kita alami secara empirik. jadi, wilayah ini adalah transendental bagi pengetahuan manusia. Menurut Alim ketika memahami Kant, pengetahuan noumena tidaklah mugkin, karena noumena adalah objek di luar fenomenal yang terlepas dari ruang dan waktu.[22] Ia juga menyimpulkan bahwa konsep noumena dipakai oleh Kant semata-mata sebagai “lampu merah” peringatan ketidakmungkinan untuk mengetahuinya, namun penjelasan konsep noumena ini juga tidak bisa dihindarkan sebagai suatu penggunaan transendental yang berarti bahwa walaupun kita tidak bisa menjangkaunya, namun noumena sendiri menjadi dasar bagi semua pengalaman yang mungkin.[23]
Selanjutnya, realitas noumena ini pun dibagi menjadi dua, yakni noumena positif dan noumena negatif. Misalnya ketika berbicara masalah “keadilan”, maka keyakinan yang pasti akan adanya keadilan secara sempurna dalam dunia fenomenal adalah omong kosong (ketidakmungkinan ini adalah noumena positif), namun karakter-karakter keadilan yang menggejala dan yang bisa ditangkap oleh ruang dan waktu, inilah yang disebut noumena negatif.[24]  
E.     Relevansi Epistemologi Kant dengan Keilmuan Islam.
Setelah penjelasan secara global dan singkat di atas, maka perlu untuk menarik relevansinya pada keilmuan-keilmuan Islam. Penulis tidak akan panjang-lebar untuk menjelaskan secara detail, sebab keterbatasan-keterbatasan subjektif yang melekat dan tidak bisa sepenuhnya penulis singkirkan. Pada sub-bab ini pada intinya melihat sesuatu dengan memakai kaca mata Kant secara universal, partikular, atau singular.
1.      Tafsir Tematik sebagai Solusi Mengetahui Nilai Universal teks.
Sebagaimana telah kita ketahui tentang isu-isu global di dunia, sebagai contoh sebut saja tema tentang gender. Sudah tidak asing lagi ayat-ayat al-Qur’an dan teks hadits yang seolah “terkesan” bias gender. Secara partikular, memang “iya” bahwa beberapa ayat al-Qur’an secara dhahir teks mendiskreditkan perempuan, seperti bisa dipoligami (QS. An-Nisa’ : 3), mendapatkan warisan yang tidak sama (QS. An-Nisa’ : 11, 176).
Pemaknaan al-Qur’an secara parsial, akan mengakibatkan justifikasi-justifikasi yang bias gender, untuk melegitimasi superioritas laki-laki di dalam menghegemoni perempuan sebagai objek. Nah, justifikasi tersebut tidak lebih bersifat partikular. Oleh sebab itu, penafsiran tematik di sini sangat berguna untuk mengetahui bagaimana konsep al-Qur’an secara universal melihat hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan menginventarisir ayat-ayat yang berbicara lelaki dan perempuan. Atau paling tidak secara kuantitas, berapa bandingannya teks ayat yang berbicara soal kesetaraan laki-laki dan perempuan, dari pada yang tidak.[25]
Hal ini paling tidak menjadi kerangka dasar bagi peneliti al-Qur’an bahwa konsep-konsep teks yang berangkat dari realitas (baca: induktif), dan konsep atau tindakan yang berasal dari ide Tuhan (baca: deduktif) merupakan saling melengkapi dan tidak bisa dipahami secara parsial. Atau meminjam istilah Amin Abdullah, nilai-nilai teks dipahami secara normative dan historis.   
2.      Memahami Islam lewat Paradigma Noumena dan Fenomena[26]
Berbicara Islam dengan kerangka berfikir Kantian, paling tidak perlu menggaris bawahi dua realitas Islam, yakni  Islam noumena  dan  Islam fenomenaNoumena dalam kerangka Kantian bukan merupakan objek pengetahuan dalam pengalaman mungkin kita, tetapi ia menjadi dasar bagi semua pengalaman kita. Oleh karena itu, kata Alim, Islam noumena tidak akan pernah bisa menjadi objek pengetahuan, tetapi bukannya ia tanpa makna karena bagaimanapun ia menjadi dasar bagi semua pengalaman keislaman. Dalam kerangka Kantian, pengetahuan yang mungkin adalah di wilayah fenomena, di dalam pengalaman kita yang mungkin itu sendiri. Karenanya, Islam fenomena menjadi satu-satunya objek yang mungkin bagi pengetahuan.
Doktrin keislaman murni dalam teks suci barangkali menjadi kategori-kategori dasar yang memungkinkan seseorang dapat mengetahui serta membangun pengetahuan tentang keislaman. Akan tetapi, konsep keislaman murni itu juga memiliki meliu-meliu induktifnya yaitu kehidupan fenomenal yang menyertai kelahirannya. Karenanya, pengetahuan keislaman yang mungkin adalah jauh dijangkau dan disintesiskannya data-data dan informasi-informasi keislaman seseorang dalam dunia fenomenal keislaman. Hakikat akal menjadi batas bagi kemungkinan pengetahuan Islam seseorang. Dengan kata lain, tidak mungkin bisa mengetahui Islam in it self, karena pengetahuan keislaman seseorang selalu sebatas data-data dan informasi-informasi yang dia miliki tentang Islam.
Dalam realitas kehidupan beragama, umat Islam—bahkan semua agama—cenderung mempetakan diri mereka ke dalam aliran-aliran keislaman, yang kadang sangat ekstrim. Aliran-aliran ekstrim ini acap kali menganggap bahwa pengetahuan keislaman di luar kelompoknya is non-sense —bahkan sesat dan lebih kejam lagi murtad— sehingga yang terjadi seringkali adalah pemaksaan dogma-dogma kelompok. Jika dilihat dari kerangka teoritik Kantian, hal ini terjadi karena mereka mengklaim mengetahui Islam in it self, padahal pemahaman kelompok terkait hanyalah sebatas kemampuannya mensintesiskan data-data keislaman yang bisa ditangkap dan diolah. Aliran keislaman ekstrim tersebut tidak akan mungkin muncul, apabila disadari bahwa selamanya seseorang tidak akan pernah bisa mengetahui Islam noumena atau Islam in it self, dan yang bisa kita ketahui hanyalah Islam fenomena. Kedewasaan pengetahuan keislaman seseorang sudah barang tentu tergantung pada banyak dan luasnya fenomena keislaman yang bisa ia jangkau.
F.     Kesimpulan dan Penutup
Dari penjelasan yang singkat dan global di atas, menurut penulis ada beberapa kesimpulan yang menjadi kewajiban untuk ditulis di sini. Pertama, di dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan keabsahannya, tidak ada pemisahan antara proses mengindera (sensibility) dan memahami (understanding). Sebab tanpa indera, seseorang tak bisa memahami sesuatu, sebaliknya tanpa pemahaman seseorang akan menerima begitu saja tentang apa yang ia indera.
Kedua, di dalam diri subjek –termasuk indera dan akal– selalu terkondisikan oleh ruang dan waktu, begitu pula objek yang diindera oleh subjek pastilah sesuatu yang terkondisikan oleh ruang dan waktu. Nah, lewat pemahaman Kant yang demikian memberikan kita pembedaan “mana yang bisa dipikirkan, mana yang tidak bisa dipikirkan.” Singkatnya, sesuatu yang tidak terkondisikan oleh ruang dan waktu, tidak bisa untuk dijadikan sebagai pengetahuan. Di sinilah porsi keimanan tentang sesuatu yang transendent mempunyai ruang tersendiri –yang lagi-lagi subjektif.
Ketiga, melalui pemahaman tentang objek yang terkondisikan (fenomenal), dan objek yang tak terkondisikan (noumena), mengingatkan kembali atas konsep-konsep di dalam teks Islam –yang mungkin dipahami secara parsial oleh “sebagian” orang. Oleh sebab itu, pemahaman yang demikian diperlukan untuk mendapatkan konsep-konsep universal yang mengakomodir kepentingan semua pihak, tidak partikular yang hanya mementingkan salah satu kelompok atau menyerang salah satu kelompok.
Wallahu a’lam bi as-Shawab...
Daftar Pustaka

Alim Roswantoro, “Logika Transendental Kant dan Implikasinya Bagi Kemungkinan Pengetahuan Islam” dalam Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, Vol. 38, No. 2, Tahun 2000.
G. Nuchelsmans, “Filsafat Pengetahuan, dalam Berfikir Secara Kefilsafatan, Editor dan Alih Bahasa: Sujono Sumargono, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1984.
Henry D. Aiken, Abad Ideologi: Kant, Fichte, Hegel, Schopenhauer, Comte, Mill, Marx, Mach, Nietzsche, Kiergaard, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009
Maftukhin, “Etika Imperatif-Kategoris Kant”, dalam Filsafat Barat: Dari Logika Baru Rene Descartes Hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2007.
Muslih, Mohamad, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Belukar, 2008
Roth, John K., Persoalan-persoalan Filsafat Agama, terj. Ali Noer Zaman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Russel, Bertand, Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko dkk., Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.


[1] John K. Roth, Persoalan-persoalan Filsafat Agama, terj. Ali Noer Zaman, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 229
[2] Mohamad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar, 2008), hlm. 69.
[3] Ibid, 70.
[4] Maftukhin, “Etika Imperatif-Kategoris Kant”, dalam Filsafat Barat: Dari Logika Baru Rene Descartes Hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2007), hlm. 67.
[5] Bertand Russel, Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko dkk., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 920
[6] Alim Roswantoro, “Logika Transendental Kant dan Implikasinya Bagi Kemungkinan Pengetahuan Islam” dalam Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, Vol. 38, No. 2, Tahun 2000, hlm. 395
[7] John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 230-231.
[8] John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 232
[9] G. Nuchelsmans, “Filsafat Pengetahuan, dalam Berfikir Secara Kefilsafatan, Editor dan Alih Bahasa: Sujono Sumargono (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1984), hlm. 109-110.
[10] Alim Roswantoro, “Logika Transendental…, hlm. 397
[11] Dalam hal ini karena Kant tidak merasa terpuaskan dengan gairah penjelasan Hume yang berpendapat bahwa kategori penilaian hanya ada dua. Yakni analitik a priori dan sintetik a posteriori.. Penjelasan lebih lanjut, Lihat: John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 231
[12] John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 233
[13]John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 234
[14] Penilaian demikian, menurut Kant setidaknya ada empat golongan. Pertama, Quantity yang mengandung kebenaran universal, partikular, singular. Kedua, Quality yang mengandung kebenaran affirmative, negative, dan infinite. Ketiga, Relation yang mengandung kebenaran secara categorical, hypothetical, dan disjunctive. Keempat, modality yang mengandung kebenaran probematical, assertoric, dan appodctical. Untuk contoh-contoh yang lebih memadai, lihat: Alim Roswantoro, “Logika Transendental…, hlm. 398-400: Justus Hartnck, Kant’s Theory of Knowledge, trans. M. Holmer Hartshorne, (New York: an Orginal Harbinger Book, inc., 1967), p. 33-34.
[15]John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 234
[16]Mohamad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian....., hlm. 74
[17]Henry D. Aiken, Abad Ideologi: Kant, Fichte, Hegel, Schopenhauer, Comte, Mill, Marx, Mach, Nietzsche, Kiergaard, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm. 37-38
[18] John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 236.
[19] John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 236-237
[20] John K. Roth, Persoalan-Persoalan...., hlm. 237
[21] Ibid. Di sini harus dibedakan antara kata “dimulai” dan “muncul”. Dimulai berarti apa yang telah menjadi pengetahuan selalu diawali dengan pengalaman, namun kemunculannya tidak bergantung pada pengalaman. Misalnya, seseorang sudah tahu akan bentuk, istilah, dan persepsi tentang “batu”, namun tanpa pemahaman, analisis dan peran akal secara maksimal, seseorang tidak akan pernah tahu bahwa batu bisa dijadikan sebagai bahan bangunan rumah, dipahat menjadi patung, hiasan, dsb. Ide akan fungsi “batu” tidak bergantung pada pengalaman, namun lebih pada pemahaman (understanding).
[22] Alim Roswantoro, “Logika Transendental…, hlm. 406
[23] Lihat catatan kaki nomor 41: Alim Roswantoro, “Logika Transendental…, hlm. 406
[24] Alim Roswantoro, “Logika Transendental…, hlm. 407
[25] Untuk sekedar memberi contoh ayat yang berbicara soal kesetaraan lelaki dan perempuan: QS. An-Nisa’ : 124, an-Nahl: 97,  Al-Ahzab: 35, al-Hujurat: 13. Beberapa ayat tersebut telah memposisikan laki-laki dan perempuan setara di dalam kesempatan untuk bisa mendekatkan diri dengan Allah.
[26] Penjelasan ini dirangkum dari pendapat Alim Roswantoro dalam; Alim Roswantoro, “Logika Transendental…, hlm. 412-413

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Madzhab Kritisisme Emmanuel Kant"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.