Memperbarui atau Memperbaharui? Lagi-lagi tentang Bahasa Indonesia

Daftar Isi

Pernahkah Anda sedang asyik menulis draf artikel, menyusun dokumen dinas, atau membuat takarir (caption) di media sosial, lalu mendadak ragu pada satu kata: mana yang benar, memperbarui atau memperbaharui? Kebingungan semacam ini sangat wajar dan sering kali menghentikan aliran kreativitas para penulis, baik pemula maupun profesional.

Persoalan penulisan kata baku ini sebenarnya berada dalam satu koridor kebingungan yang sama dengan pembahasan kata mempengaruhi atau memengaruhi yang sudah pernah saya bedah secara tuntas di blog ini. Keduanya menjadi bias karena kebiasaan lisan kita yang sering kali melenceng dari kaidah tertulis. Ada pula kebingungan antara zaman dan jaman.

Sebagai pengguna bahasa, kita dituntut untuk jeli. Mengapa dua kata yang mirip ini bisa lahir dan sama-sama populer? Mana yang harus kita pilih agar tulisan kita terlihat profesional dan kredibel di mata pembaca maupun mesin pencari? Mari kita bedah secara mendalam dari sudut pandang linguistik dan aturan resmi kebahasaan kita.

Memperbarui atau Memperbaharui? Ini Jawaban Resminya

Berdasarkan rujukan tertinggi bahasa Indonesia, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) serta pedoman ejaan resmi (EYD/PUEBI), kata yang benar dan baku adalah memperbarui. Bentuk kata memperbaharui adalah bentuk tidak baku dan dikategorikan sebagai penulisan yang keliru.

Meskipun secara tulisan statusnya sudah jelas, dalam praktik kehidupan sehari-hari kita justru lebih sering mendengarkan kata memperbaharui (menggunakan huruf 'h'). Fenomena ini jamak dijumpai dalam pidato formal, ceramah keagamaan, hingga siaran berita di televisi. Mengapa bisa terjadi kontradiksi antara apa yang dianggap benar oleh kamus dengan apa yang sering diucapkan oleh masyarakat? Jawabannya terletak pada sejarah panjang penyerapan kata tersebut.

Bedah Morfologi dan Etimologi Kata "Baru"

Untuk memahami mengapa sebuah kata dinyatakan baku, kita harus menguliti kata tersebut hingga ke akar paling dasar melalui ilmu morfologi (pembentukan kata).

Kata memperbarui lahir dari proses pengimbuhan yang bertahap dalam bahasa Indonesia modern. Mari kita perhatikan skema pembentukannya berikut ini:

Komponen Kebahasaan Bentuk Kata Keterangan / Makna
Kata Dasar baru Belum lama ada, gres, modern, atau belum pernah digunakan.
Imbuhan (Afiks) memper- + -i Menyatakan tindakan kausatif (membuat atau menyebabkan jadi).
Kata Baku Akhir memperbarui Proses menjadikan sesuatu yang lama/rusak menjadi baru kembali.

Sesuai dengan hukum pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, ketika awalan memper- bertemu dengan kata dasar yang diawali huruf konsonan selain b, p, m, w (yang luluh), ia akan langsung melekat tanpa mengubah konsonan pertama kata dasar tersebut. Karena kata dasarnya adalah baru, maka penggabungannya menghasilkan kata memperbarui.

Contoh Penggunaan Kata "Memperbarui" dalam Kalimat Resmi:
  • Setiap perusahaan teknologi wajib memperbarui kebijakan privasi data pengguna mereka secara berkala.
  • Saya perlu memperbarui paspor di kantor imigrasi sebelum menjadwalkan perjalanan ke luar negeri bulan depan.
  • Algoritma Google yang terus dinamis memaksa para blogger untuk selalu memperbarui konten lama mereka.
Rekomendasi Kamus Bahasa Indonesia

Kamus Bahasa Indonesia ORIGINAL

Mengapa Kata "Memperbaharui" Bisa Muncul dan Sering Digunakan?

Jika kata dasarnya adalah "baru", dari mana datangnya sisipan huruf 'h' pada kata memperbaharui? Ini adalah pertanyaan menarik yang membawa kita pada sejarah bahasa.

Dalam bahasa Melayu klasik—yang merupakan akar dari bahasa Indonesia—serta dipengaruhi oleh serapan istilah bahasa Arab purba, kata baku yang digunakan dahulu adalah "baharu". Konsep etimologis kuno ini sempat terekam kuat dalam ingatan kolektif penutur bahasa kita lintas generasi.

Namun, seiring dengan dilakukannya standardisasi dan modernisasi bahasa Indonesia oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata "baharu" resmi dinyatakan usang dan dilebur sepenuhnya menjadi kata "baru". Ketika kata dasarnya berubah menjadi "baru", otomatis semua kata turunannya harus menyesuaikan diri. Sayangnya, memori linguistik masyarakat sering kali tertinggal di belakang aturan hukum bahasa yang baru. Akibatnya, sisipan huruf 'h' itu tetap terbawa secara lisan hingga hari ini.

Secara kaidah morfologi masa kini, menuliskan memperbaharui dianggap salah karena kita mencoba mengimbuhkan kata dasar yang sudah tidak diakui lagi (baharu) dalam sistem ejaan modern.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku bagi Pemilik Blog (Blogger)

Bagi seorang pemilik situs web atau blogger, ketepatan memilih kata baku bukan sekadar urusan nilai rapor bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ini memiliki korelasi langsung terhadap performa blog Anda di mesin pencari serta tingkat kepercayaan audiens.

  • Sudut Pandang SEO (Search Engine Optimization): Meskipun mesin pencari seperti Google kini makin cerdas melalui teknologi NLP (Natural Language Processing) yang bisa memahami sinonim atau kesalahan ketik (typo), kueri penelusuran yang diketikkan oleh audiens teredukasi (seperti akademisi, mahasiswa, profesional) tetap menggunakan kata baku. Menulis dengan kata baku yang tepat memastikan artikel Anda menjaring audiens berkualitas tinggi.
  • Membangun Otoritas (Authority & Trust): Sebuah blog yang bersih dari salah ketik dan kesalahan kata baku akan memancarkan kesan bahwa pengelolanya adalah seorang ahli yang risetnya mendalam. Ini krusial untuk membangun pembaca setia yang rela mendaftarkan email mereka di kolom newsletter blog Anda.

Kesimpulan

Dilema antara memperbarui atau memperbaharui kini sudah terjawab secara ilmiah dan legalitas bahasa. Mulai hari ini, mari singkirkan huruf 'h' yang tidak perlu tersebut dari draf tulisan Anda. Biasakan menggunakan kata memperbarui demi menjaga kerapian, profesionalitas, dan kualitas literasi digital yang kita bangun bersama.

Posting Komentar