Jaman atau Zaman? Mana yang Benar Menurut KBBI?

Table of Contents

Pernahkah Anda merasa bingung saat hendak menulis kata "jaman" atau "zaman"? Saya sering sekali mendapati tulisan mahasiswa ketika ngoreksi makalah maupun skripsi, sering menemukan kata jaman atau zaman lalu ketika saya tanya "Yang benar zaman atau jama?" Mereka sering kali kebingungan.

perabotan terkena lahar merapi - qowim.net
perabotan Mbah Maridjan (dok. pribadi)

Mungkin karena sering mendengar keduanya diucapkan dalam percakapan sehari-hari, kita jadi merasa keduanya sama saja. Padahal, jika kita berbicara soal penulisan formal atau artikel ilmiah, tentu kita ingin menggunakan kata yang paling tepat.

Lantas, bagaimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)?

Jaman atau Zaman?

Jika kita merujuk pada KBBI, bentuk yang baku adalah zaman. Jadi, jika Anda sedang menulis artikel yang menuntut formalitas, skripsi, atau laporan resmi, pilihlah zaman.

Kenapa "jaman" dianggap tidak baku? Secara sederhana, kata "jaman" sering kali muncul karena pengaruh dialek atau cara pengucapan masyarakat di daerah tertentu yang kemudian terbawa ke dalam bahasa lisan, lalu tanpa sadar tertulis dalam teks. 

jaman atau zaman
Tangkapan layar KBBI 12/07/2026
Di KBBI tertulis bahwa kata zaman berarti janga waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu; masa; seperti contoh kalimat zaman kekuasaan Nazi di Jerman.

Mirip dengan kasus memengaruhi atau mempengaruhi yang sempat saya bahas sebelumnya, atau memperbarui atau memperbaharui yang juga sering membuat kita ragu.

Dalam bahasa kita, penyerapan kata sering kali mengalami penyesuaian. Kata zaman sendiri merupakan serapan yang sudah diakui. Jadi, untuk konteks yang menuntut ketepatan kaidah, gunakanlah zaman.

Apakah Kata Tidak Baku Harus Dihindari?

Pertanyaan selanjutnya yang sering muncul: "Apakah kata tidak baku tidak boleh digunakan sama sekali?"

Tentu tidak demikian. Seperti yang sering saya sampaikan, bahasa Indonesia itu dinamis. Kita harus melihat konteksnya.

Jika konteksnya formal/akademik: Gunakan kata baku (zaman, memengaruhi, memperbarui). Ini penting untuk menunjukkan kredibilitas dan mengikuti aturan ejaan yang berlaku. Meskipun berbahasa itu harus dengan gembira, tapi kaidah dalam berbahasa harus tetap dilakukan.

Jika konteksnya informal/sehari-hari: Menggunakan kata tidak baku sebenarnya sah-sah saja, selama tidak menghilangkan makna dan membuat komunikasi terhambat. Jika Anda sedang menulis cerpen atau status media sosial yang santai, "jaman" mungkin terasa lebih luwes di telinga.

Namun, sebagai penulis atau blogger yang ingin menjaga kualitas tulisan, mengetahui mana yang baku akan membuat kita lebih bijak dalam menempatkan kata.

Kesimpulan

Jadi, tidak perlu dibuat pusing. Untuk tulisan yang ingin terlihat rapi dan sesuai kaidah PUEBI, gunakanlah zaman. Sama halnya dengan memprioritaskan kata memengaruhi (karena ada peleburan huruf p) dan memperbarui (karena kata dasarnya "baru", bukan "baharu").

Sama seperti belajar hal-hal teknis di blog—seperti cara optimasi SEO atau cara maintenance OJS—berbahasa pun perlu ketelitian. Makin sering kita praktikkan dalam tulisan, lama-lama akan terbiasa dan menjadi refleks yang otomatis.

Kalau Anda, masih sering keliru menuliskan kata-kata ini juga? Mari berbagi di kolom komentar, siapa tahu ada kata lain yang menurut Anda juga sering bikin salah kaprah!

Sabtu kemarin, lumayan pagi untuk memulai kerja. Pukul 07.30 sudah sampai di Surya Jaya untuk membuat laporan mingguan. Kinerja cukup bagus dilihat dari penjualan yang meningkat dari minggu lalu. Setelah itu saya dan keluarga kecuali Yahya pergi ke pesantren Fadlillah Sedayu yang diasuh oleh Gus Rumaizijat. Kami menghadiri acara halaqah Syaikh Yasir dari Hadramaut. Saya membawa Yusuf dan Yasa kepada beliau untuk diberkahi.
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment