Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Nasib Blog Kecil Ketika Artikelnya Dicuri oleh Website Besar

plagiasi
qowim.net

Nasib blog kecil ketika artikelnya dicuri oleh website besar. Kali ini saya mau curhat soal pencurian artikel, plagiat yang tidak bertanggung jawab. 

Begini ceritanya,

Tahun 2020 artikel saya tentang Gus Baha selalu nangkring di nomor 1 mesin pencari Google. Hal yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan oleh saya sendiri. 

Sebabnya sederhana, sejak saya ikut ngaji Gus Baha di Bedukan tahun 2009, saya rajin nulis catatan untuk dokumentasi pribadi saja. 

Ya, selayaknya seorang santri kalau ngaji, pastinya bawa catatan, lalu mencatat hal-hal yang penting pada materi ngaji. Sebagian saya simpan, sebagian lagi saya lengkapi untuk saya jadikan sebagai tulisan di blog ini. Waktu itu alamat blog ini masih qowim.blogspot.com

Tahun 2014 saya mulai nulis tentang Gus Baha, terutama pemikiran dan pemahaman-pemahaman saya ketika ngaji. Ada 3 artikel yang selalu nangkring di urutan pertama Google pada saat itu. 

  1. Pandangan Gus Baha tentang Kesalahan Manusia
  2. Tauhid Versi Gus Baha; Penjelasan tentang Hadis Man Qala Lailaha illallah
  3. Cara Gus Baha Mendidik Anak

Dari 3 artikel di atas, artikel yang ketiga, yang paling banyak dicopas di banyak website, beberapa mencantumkan nama penulis, tapi kebanyakan tidak. Tidak ada penulis, tidak ada sumber tautannya. Ya, seolah mereka itu yang mempublish pertama kali. 

Jika masih mencantumkan nama penulis, meskipun tidak ada tautan yang merujuk ke blog ini, saya masih biasa-biasa saja. Tapi, kalau tanpa mencantumkan kredit, dan ternyata dikomersialkan. Wah, sebagai manusia biasa, saya kok... hmmm

Sebagai penulis, pastinya gusar. "Lah, kan bermanfaat untuk banyak orang? biar yang baca lebih banyak?" 

Oke, iya betul. Tapi ini bukan persoalan bermanfaat atau tidak bermanfaat. Tapi ini soal etika. Apalagi ada unsur komersialisasi di sana. 

Tambah gethem-gethem

Akibatnya apa? 

Website pencuri artikel itu lah yang trending artikelnya, dan blog saya tenggelam. Saya sering kali tidak habis pikir, memang sesulit apa sih minta izin atau mencantumkan kreditnya? 

Tanpa konfirmasi penerbitan, tanpa izin, udah gitu copas tanpa menyertakan sumber dan  penulisnya. 

Ini salah satu web yang semena-mena ngopibareng.id sepertinya sih dari surabaya. Follower di facebook sudah ratusan ribu, di media sosial lain pengikutnya sudah banyak.

contoh plagiarisme ngopibareng.id

Hanya mengubah judulnya saja, selain itu copas semua sama persis. Tindakan seperti ini secara moral sungguh tidak punya etika. 

Seharusnya, sebagai media yang besar, seharusnya profesional, apalagi berdiri mulai tahun 2016

Seharusnya, redaktur itu yang rajin cek dan ricek, rajin baca, rajin cari informasi dan permintaan izin kepada yang bersangkutan jika ada artikel yang ingin dimuat. 

Website ngopibareng.id ini kan terlampau enak sekali, redaksi cuma comot sana-sini artikel yang bagus dan viral di internet dan media sosial, copas, ganti judul dan publish. 

Sambil mereka menikmati pundi-pundi adsense dari Google. 

Saya sudah mengirim surat elektroni kepada redaksi, tapi belum ada jawaban sama sekali. ya begitulah.

Solusi praktis yang saya ambil adalah membuat blog ini agar tidak bisa diseleksi lalu dicopy. Meskipun ini juga masih bisa diakali, tapi ya minimal membuat para copaser itu punya usaha lebih keras lah untuk mendapatkan artikel, tidak semudah copas saja. 

Jika membutuhkan tutorial menghindari postingan tidak bisa dicopas bisa membaca artikel berjudul Cara Agar Artikel di Blog Tidak Bisa Dicopy-paste.

Buat para pembaca yang berhasil tersesat di sini, semoga bisa diambil hikmahnya saja. Kalau menerbitkan tulisan orang lain, ya harus mencantumkan nama penulisnya. Lebih baik lagi izin dengan penulisnya. 

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen swasta yang suka ngeblog

Post a Comment for "Nasib Blog Kecil Ketika Artikelnya Dicuri oleh Website Besar"