Cara Gus Baha Mendidik Anak

Harta benda dan anak adalah (mengandung) fitnah. Begitu kata Alquran.

Secara sederhana, fitnah di sini mempunyai arti cobaan dan ujian. Orang yang mempunyai harta cenderung sulit stabil dalam hal ibadah, begitu pula orang yang mempunyai anak.

Ketika belum punya anak ia sangat gemar sedekah, lalu ketika punya anak, merasa eman-eman dengan sedekah, sebab ia merasa harus memenuhi kebutuhan anak.

Begitu kira-kira.

Berbicara soal anak, saya teringat ketika ngaji dengan Gus Baha di Bedukan Wonokromo. Kira-kira di tahun 2017. Gus Baha punya cara pandang tentang anak yang tidak lazim bagi kebanyakan orang.

"Ojo wani-wani karo anak, ndak kuwalat." - Jangan berani sama anak, nanti kalian bisa celaka. Kata Gus Baha.

Biasanya kita mendengar "jangan berani sama orang tua, nanti celaka" Gus Baha membalik kalimat tersebut, bahwa jangan sekali-kali berani sama anak.

Ada tiga poin yang saya garis bawahi pada pengajian tersebut.

Pertama, tidak ada alasan satupun yang bisa memutuskan tali orang tua dan anak. Anak selamanya adalah anak

Gus Baha menjelaskan bahwa anak, mempunyai ikatan yang tidak akan putus. Berbeda dengan istri, ketika cerai maka hak dan kewajiban yang pernah melekat akan gugur seketika.

Ikatan yang tak akan putus tersebut, meskipun jika anak mempunyai kelakuan yang nakal, mbedugal dan ndableg, mereka akan tetap menjadi anak, bahkan jika anak dan orang tua saling berjanji tidak mau mengakui hubungan mereka, maka tetap saja secara syariat mereka tetap mempunyai hubungan, jika salah satu di antara mereka yang meninggal dunia, maka warisan tetap berlaku. Jika perempuan, maka walinya tetap saja adalah ayahnya.

Begitulah anak. Statusnya akan selalu melekat tanpa sekat, tanpa syarat. Sebab ikatan yang tidak akan pernah putus inilah Gus Baha mewanti-wanti agar jangan sampai hubungan keduanya jadi tidak relevan, utamanya secara emosional.

Kedua, anak adalah penerus Kalimat Tauhid

Gus Baha, memberikan poin penting tentang kalimat tauhid. Baginya, kalimat tauhid adalah kalimat kebenaran yang universal dan absolut. Sehingga jika kalimat tersebut diucapkan oleh orang gila sekalipun, kalimat tersebut akan selalu benar.

Kebenaran kalimat tauhid tidak bisa dimonopoli oleh siapapun. Meskipun diucapkan oleh seorang pendosa sekalipun kalimat tauhid tidak menjadi hina, begitu pula jika diucapkan oleh orang saleh sekalipun kalimat tersebut juga tidak akan bertambah mulia.

Siapapun orang yang mengucapkan kalimat tauhid akan menjadi mulia, siapapun orangnya. Sebab itulah Gus Baha menghormati anaknya, sebab anaknyalah yang kelak akan meneruskan kalimat tauhid tersebut.

Sebab inilah, Gus Baha mengaku tidak pernah memukul anaknya, "Bagaimana bisa mukul ketika saya selalu ingat bahwa ia adalah umatnya Nabi Muhammad yang kelak akan menjadi penerus agama Islam." begitu kira-kira kata Gus Baha.

Ketiga, jangan sampai anak merasa kecewa dengan Bapaknya

Kekecewaan anak terhadap orang tua, agaknya sebanding dengan kekecewaan orang tua terhadap anak. Sebagai orang tua kita merasa yang paling berhak atas masa depan anak kita. Sebagai anak, kita justru yang paling berhak kelak mau menjadi apa. Wajar, sebab zaman yang dialami oleh orang tua dan anak sama sekali berbeda.

Gus Baha selalu mewanti-wanti bagaimana anaknya harus bangga kepada bapaknya, ini bukan persoalan sombong-sombongan, tapi ini mendidik kepada anak agar ia tidak kecewa kepada orang tuanya dengan membanding-bandingkan orang tuanya dengan orang tua temannya.

Gus Baha mempunyai pola hidup yang sederhana, beliau punya televisi hanya karena, jangan sampai anaknya pergi dari rumah hanya ingin menonton televisi di tetangga.

Bagi saya ini persoalan yang sulit. Bagaimana agar anak bisa bangga mempunyai orang tua seperti kita.

Gus Baha, ketika memberikan uang saku untuk sekolah kepada anaknya yang masih sekolah setingkat SD: Mas Hasan selalu lebih dari teman-temannya. Kata istrinya apakah itu tidak boros jika anak seusia itu dengan uang 5.000 sedangkan teman-temannya hanya diberi uang saku 2.000? Jawab Gus Baha;
Boros karena pola pikir kita yang pendek
Gus Baha ingin mengajarkan kepada anaknnya untuk selalu jajan kepada penjual-penjual jajanan di sekolah, persoalan tidak sehat dan atau tidak enak lalu dibuang silahkan, buang saja.

Persoalan dibuang berarti itu adalah rejekinya hewan-hewan seperti semut, cacing dan lain-lain. Gus Baha ingin mengajarkan bahwa kita harus mempunyai kontribusi kepada orang yang mencari nafkah dengan cara yang halal; berjualan jajanan di sekolah-sekolah.

Tidak ada yang mubazir, bagi Gus Baha. Cara pandang seperti ini tentunya tidak lazim, dan tergantung pada niatnya.

Meskipun tidak lazim, minimal bisa memberikan kita pemahaman yang lain, bahwa mendidik anak adalah pilihan orang tua. Nasehat Gus Baha kepada para orang tua adalah jangan mengira bahwa anak nakal itu tidak ada hubungannya dengan orang tua, sangat berhubungan. Jika kalian ingin melihat dirimu, maka lihatlah anakmu.

Cerminan seperti ini sering mengingatkan saya kepada teman-teman saya yang merasa menyesal hingga menangis setelah memarahi anaknya.

Jika kita marah-marah bahkan memukul anak kita, pada hakikatnya kita sedang memarahi diri sendiri dan memukul diri kita sendiri. Kita sedang menyakiti diri kita sendiri.
Terbit pertama di sabak.or.id dan situs lainnya yang tidak tidak pernah mencantumkan kredit dan sumbernya. Hehehe

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cara Gus Baha Mendidik Anak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.