Pandangan Gus Baha tentang Kesalahan Manusia dan Rahmat Allah
Pada sebuah sore di hari Minggu, bertepatan dengan 22 November 2015, seperti biasanya di akhir minggu tiap bulan, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)—seorang kyai berdarah Narukan, Sedan, Rembang, Jawa Tengah—menggelar pengajian rutinan di Bedukan, Kanggotan, Wonokromo, Bantul, Yogyakarta.
Pengajian rutinan khusus Minggu sore tersebut tidak memiliki acuan satu kitab tetap. Gus Baha sendiri yang memilih tema pengajian dengan menggandakan satu halaman dari kitab yang hendak dibahas, lalu membagikannya kepada para jamaah. Kitab yang diambil sangat beragam, mulai dari Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Ihya Ulumuddin, Sunan Ibnu Majah, I'anatu ath-Thalibin, At-Ithaf, Hilyatul Auliya, hingga berbagai kitab tafsir.
|
| Dokumentasi Suasana Ngaji Gus Baha di Bedukan Bantul - qowim.net |
Pada sore itu, Gus Baha mengambil pembahasan dari Kitab Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim al-Asbahani. Kitab ini merupakan salah satu rujukan utama yang paling sering dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin.
Wasiat Abu Bakar as-Siddiq kepada Umar bin Khattab
Pokok pembahasan ngaji Minggu sore tersebut berfokus pada hakikat kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Gus Baha mengutip riwayat dialog saat Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq RA sedang dalam keadaan sakit jelang wafatnya, di mana beliau memberikan wasiat penting kepada Sayyidina Umar bin Khattab RA:
"Wahai Umar, ketahuilah bahwa bagi Allah terdapat amalan yang dilakukan hamba di siang hari yang tidak diterima apabila dilakukan di waktu malam. Begitu pula terdapat amalan khusus malam hari yang tidak diterima jika dilakukan di siang hari. Allah tidak menerima ibadah sunnah sebelum ibadah wajib ditunaikan..."
"Kelak di surga, Allah akan menceritakan kebaikan para penghuni surga beserta kesalahan-kesalahan mereka yang telah diampuni-Nya. Maka ketika aku mendengarnya, aku berkata: 'Sesungguhnya aku takut jika tidak bisa bersama mereka.' Allah juga menceritakan dosa para penghuni neraka dan menolak amal baik mereka, maka aku berkata: 'Sesungguhnya aku tidak ingin berada bersama mereka.'"
"Jika engkau menjaga wasiatku ini, janganlah engkau menyukai sesuatu melebihi kematian yang pasti mendatangimu. Namun jika engkau menyia-nyiakannya, jangan sampai engkau membenci kematian, padahal engkau tidak akan sanggup menghindarinya."
Dari teks riwayat di atas, Gus Baha menekankan bahwa sebagai manusia biasa, kita tidak akan pernah luput dari salah. Penghuni surga pun memiliki catatan kesalahan, tetapi kesalahan tersebut mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Kepekaan Keimanan Sahabat Abu Bakar RA
Menurut Gus Baha, sahabat yang memiliki kepekaan luar biasa dalam membaca isyarat Al-Qur'an dan Rasulullah SAW adalah Abu Bakar RA. Beliau menceritakan suatu hari ketika Nabi SAW dan para sahabat sedang duduk di masjid, Nabi bersabda:
"Jika seorang hamba disuruh memilih antara hidup bersama Allah di sisi-Nya atau memilih dunia beserta isinya, manakah yang dipilih?"
Para sahabat serentak menjawab, "Tentu memilih hidup bersama Allah di sisi-Nya." Namun, satu-satunya sahabat yang meneteskan air mata adalah Abu Bakar RA. Ketika sahabat lain heran dan bertanya alasan beliau menangis, Abu Bakar menjawab: "Kalian tidak tahu, itu isyarat bahwa sebentar lagi Rasulullah SAW akan meninggalkan kita untuk kembali ke hadirat Allah." Benar saja, sekitar 16 hari setelah peristiwa tersebut, Rasulullah SAW wafat.
Perbedaan Kesalahan Para Nabi dan Manusia Biasa
Gus Baha menjelaskan bahwa selama seseorang berstatus sebagai manusia, ia rentan melakukan kesalahan. Namun, ada perbedaan mendasar antara kekhilafan para Nabi dan kesalahan manusia biasa:
1. Kesalahan Para Nabi: Berfungsi sebagai wahana pembelajaran (ta'lim) bagi umatnya dan mutlak diampuni oleh Allah. Contohnya adalah kisah Nabi Adam AS yang diabadikan dalam Al-Qur'an, atau teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW saat mengabaikan Ibnu Ummi Maktum melalui Surah Abasa. Teguran ini menunjukkan sisi kemanusiaan para utusan Allah.
2. Kesalahan Manusia Biasa: Dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu kesengajaan, kekalahan melawan hawa nafsu, serta sifat lupa atau khilaf murni.
Logika Kesalahan Orang Saleh: Min Da'irati al-Amri
Gus Baha memberikan sudut pandang yang sangat mencerahkan mengenai bagaimana memandang kekhilafan orang-orang yang beriman:
"Kesalahan orang-orang saleh itu sejatinya masih berada di dalam ruang lingkup menjalankan perintah Allah (min da'irati al-amri)."
Sebagai ilustrasi, seorang anak saleh yang memilih tinggal serumah bersama orang tuanya bertujuan untuk berkhidmat. Dalam dinamika harian, kadang terjadi gesekan atau ketidakcocokan kecil. Gesekan inilah letak kesalahannya. Namun, kesalahan itu lahir karena si anak berusaha menjalankan perintah berbakti kepada orang tua.
Bandingkan dengan anak yang sama sekali tidak mau mengurus orang tuanya. Ia tidak pernah cemas membuat kesalahan terhadap orang tuanya, bukan karena ia lebih baik, melainkan karena ia tidak pernah mengambil tanggung jawab untuk berkhidmat.
Begitu pula dalam ijtihad: seorang mujtahid yang keliru dalam berfatwa tetap mendapat satu pahala, sedangkan orang yang tidak pernah berijtihad tidak akan pernah salah dalam ijtihad karena memang tidak pernah melakukannya.
Menjaga Prasangka Baik (Husnuzan) kepada Allah SWT
Pesan kunci dari dawuh Gus Baha adalah larangan keras untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT. Penjelasan ini selaras dengan ulasan saya mengenai tiga alasan kenapa kita harus berprasangka baik kepada Allah. Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan seorang hamba, rahmat dan kasih sayang Allah selalu jauh lebih luas.
Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam:
"Sebesar apa pun kesalahan manusia jika berhadapan dengan rahmat Allah akan menjadi kecil (diampuni), sedangkan dosa kecil jika berhadapan dengan keadilan Allah akan menjadi hal yang sangat besar."
Kesimpulan
Memahami hakikat diri sebagai hamba membuat kita tidak gampang menghakimi orang lain. Kesalahan adalah sifat manusiawi, namun keberanian untuk terus membenahi diri dan senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT adalah pintu utama menuju keselamatan batin. Dalam kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baku sesuai KBBI, pemilihan kata yang tepat seperti kata memengaruhi juga turut membentuk kejelasan pemikiran yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Bagi Anda yang ingin mendengarkan kajian keislaman lainnya, Anda dapat mengunduh secara gratis melalui halaman kumpulan rekaman ngaji lawas Gus Baha yang telah disiapkan di blog ini.