Pandangan Gus Baha Tentang Kesalahan Manusia




Hari Minggu sore hari, bertepatan dengan penanggalan masehi 22 November 2015 seperti biasanya, di akhir minggu tiap bulan, Gus Baha, seorang Kyai yang masih nge-Gus –dan memang akrab disapa Gus– berdarah Narukan, Sedan, Rembang Jawa Tengah menggelar pengajian rutinan di Bedukan Kanggotan Wonokromo Bantul.

Pengajian rutinan khusus minggu sore tidak ada acuan kitab apa yang dipelajari, melainkan Gus Baha sendiri yang memilih tema-tema pengajian dengan menggandakan satu halaman dari kitab yang hendak dibahas dan dibagi kepada para jamaah, terkadang diambil dari Bukhori, Muslim, Ihya, Ibn Majah, I’anah, at-Ithaf, Ihya’, hilyatul auliya’, tafsir, dan kitab-kitab yang saya sendiri tidak tahu. 

Namun di sore itu, Gus Baha mengambil pembahasan dari Kitab Hilyatul auliya karya Abu Nu’aim al-Asbahani (saya punya tapi versi pdf nya. Hahaha.

Jika ada yang mau silahkan download di sini), salah satu kitab yang sering dikutip oleh Imam al-Ghazali di kitab Ihya’ ulumuddin-nya, itu kata Gus Baha.

Saya tidak akan cerita banyak soal sosok Gus Baha beserta pengajian rutinan tersebut, mungkin di lain kesempatan saya akan menuliskannya.

O iya, setahun yang lalu saya pernah menulis di blog ini juga, dan agak nyenggol-nyenggol sedikit tentang Gus Baha, lebih tepatnya resensi buku (kalau bahasa pesantren disebut kitab karena berbahasa Arab, menurut saya sih sama aja lah namanya, buku atau kitab.) tentang kitab karya Gus Baha yang membahas soal karakteristik penulisan al-Qur’an Rasm Usmani dan kaidah penulisan Arab di era sekarang.

Dalam terminologi Agama Islam, manusia hanya ada dua jenis, yakni Muslim dan non-Muslim, atau menurut tetangga-tetangga sebelah menyebut non-Muslim adalah kafir, sesat, neraka. Haduh… saya merinding. 

Ya wajar saja sebenarnya, ini juga digunakan dalam terminologi agama-agama lain, klaim-klaim kebenaran pun akan bermunculan dengan argumentasi yang sarat akan apologetik.

Agama apapun pasti menganggap dan memang harus yakin akan kebenaran agamanya masing-masing, kalau tidak ya bagaimana bisa menjalani sesuai dengan agama yang dipeluk kalau tidak yakin bisa menjadi jalan keselamatan. 

Begitu pula dengan Islam, saya sebagai muslim juga pasti yakin akan kebenaran agama saya, tapi karena kita adalah komunitas individu yang terdiri dari pemeluk agama yang berbeda-beda, maka harus ada intersubjektifitas pemaknaan soal agama. Pembahasan ini akan panjang jika tidak dihentikan sampai di sini. Oke cukup.

Ngaji minggu sore tersebut secara garis besar, temanya adalah tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Gus Baha menggunakan plot dari cerita Abu Bakar dan Umar, ketika itu Abu Bakar sedang dalam keadaan sakit dan diambang kematian, ia berwasiat kepada Umar begini:

***
“Hai Umar, ketahuilah bahwa bagi Allah, terdapat amalan yang dilakukan oleh hamba di siang hari tidak diterima apabila dilakukan di waktu malam, begitu pula ada sebuah amalan yang khusus dilakukan di waktu malam yang tidak diterima ketika dilakukan di siang hari. Allah juga tidak menerima ibadah sunnah kecuali dengan menjalankan kewajiban… saat di surga, Allah akan menceritakan kebaikan-kebaikan para penghuni surga, dan menceritakan kesalahan-kesalahan mereka, tapi Allah mengampuninya, maka pada saat aku menceritakan tentang mereka aku berkata ‘Sesungguhnya aku takut jika tidak bertemu dengan mereka’. Allah juga menceritakan perbuatan-perbuatan dosa para penghuni neraka dan Allah menolak segala amal baik yang pernah mereka lakukan, maka ketika aku menceritakan tentang mereka aku berkata ‘Sesungguhnya aku tidak berkeinginan berada bersama mereka.’ … jika engkau menjaga wasiatku ini maka jangan sampai engkau menyukai sesuatu selain kematian, padahal kematian pasti akan mendatangimu. Dan jika engkau menyia-nyiakan wasiatku ini, maka jangan sampai engkau membenci kematian, sedangkan kau tidak bisa menghindarinya.” 
***

Terkait dengan teks di atas, yang ingin ditekankan oleh Gus Baha di pertemuan tersebut adalah, bahwa sebagai seorang manusia, pasti mempunyai kesalahan. Penduduk surga pun mempunyai kesalahan, sama dengan penghuni neraka. Perbedaannya terletak pada pengampunan Allah. 

Menurut Gus Baha, sahabat yang mempunyai kemampuan membaca tanda-tanda (baca: peka) terhadap sandi-sandi yang diberikan oleh al-Qur’an maupun rasulullah adalah Abu Bakar. Ia menceritakan salah satunya bahwa suatu hari Nabi dan para sahabat sedang duduk-duduk di masjid, nabi berkata 

“Jika disuruh memilih, seorang hamba memilih hidup bersama Allah di sisi-Nya atau hidup di dunia dengan seisinya?.” Serentak sahabat menjawab

 “Hidup bersama Allah di sisi-Nya.” Satu-satunya sahabat yang menangis adalah Abu Bakar. Para sahabat janggal dengan hal tersebut, lalu bertanya “Abu Bakar, kenapa engkau menangis? Padahal kami senang dengan hal tersebut dengan hidup bersama Allah di sisi-Nya.” 

Ia menjawab “Kalian tidak tahu, sebentar lagi Rasulullah akan meninggalkan kita dan hidup bersama Allah di sisi-Nya.” Seketika para sahabat yang lain menangis. 

Benar, setelah sekitar 16 hari Rasulullah wafat.

Inilah karakteristik pengajian Gus Baha yang kaya akan cerita-cerita yang mungkin tidak lazim didengarkan oleh orang-orang awam, seperti saya tentunya. 

Meskipun, jika yang sering ikut pengajian dan mendengarkan rekaman-rekamannya akan mengetahui, cerita-cerita dari Gus Baha sering diulang-ulang di beberapa pengajian.

Berkaitan dengan riwayat di atas, menurut Gus Baha semua orang, selagi ia masih disebut manusia, bahkan nabi sekalipun rentan akan salah. Tentu ada perbedaan kesalahan manusia biasa dengan kesalahan nabi. Kesalahan Nabi semata-mata untuk pembelajaran, sebagaimana cerita nabi Adam yang secara jelas disebut al-Qur’an wa ‘asha adamu rabbahu fa ghawa. 

Begitu pula dengan nabi Muhammad yang acuh terhadap orang buta yang ingin bertemu dengan Nabi saat itu, lalu ditegur dengan ‘abasa wa tawalla ‘an ja ahu al-a’ma.

Kesalahan-kesalahan nabi seperti demikian adalah mutlak dikehendaki oleh Allah sekaligus pasti dimaafkan oleh Allah, karena menunjukkan bahwa Nabi adalah manusia yang juga mempunyai sisi-sisi kemanusiaan. Bagi kalangan orang yang berafilisiasi madzhab sunni, pasti akan menakwilkan kesalahan-kesalahan nabi tersebut dengan sedemikian rupa agar tidak disebut sebagai kesalahan.

Sedangkan kesalahan manusia biasa, seperti kita misalnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, di antaranya adalah benar-benar sengaja melakukan kesalahan, kalah oleh hawa nafsu, dan yang terakhir adalah benar-benar lupa, khilaf.

Terkait dengan hal di atas, Gus Baha, bagi saya mempunyai logika yang sangat membantu untuk memahami bagaimana kesalahan itu dilakukan dan seberapa besar kemungkinan orang melakukan kesalahan.

“Kesalahan orang-orang shaleh masih di dalam ruang lingkup melakukan perintah.” Kata gus Baha. 

“sebaik-baik apapun kita melakukan perintah, pasti ada ketidaktepatan dalam melakukan perintah itu, seperti seorang anak yang tinggal satu rumah dengan orang tua, walau bagaimanapun seorang anak yang shaleh ingin bertempat tinggal bersama orang tua tujuannya adalah khidmat kepada orang tua. Tinggal serumah dengan orang tua pasti ada cekcok dan pertengkaran kecil karena kemauan orang tua dan anak tetap mempunyai keberbedaan, di sinilah letak kesalahan itu.” 

Gus baha sebenarnya sedang menceritakan dirinya sendiri yang hidup satu rumah bersama Ibu, Istri dan anak-anaknya.

Dalam teori sosial menurut Habermas (halahh…) ini disebut sebagai ilmu kemanusiaan (humaniora) yang mempertimbangkan aspek inter-subjektifitas agar tercipta suasana yang saling mengerti dan menepis ego seminimal mungkin untuk menciptakan keharmonisan. 

Dalam konteks ini, Gus Baha harus mengalah jika tindakannya terhadap ibunya ada kesalahan-kesalahan kecil. Nah, di sinilah Gus Baha hendak menjelaskan bahwa sesalah-salahnya orang shaleh itu masih dalam ruang lingkup melakukan perintah, yakni berbuat baik kepada orang tua.

Logikanya, saudara-saudara Gus Baha yang tidak tinggal bersama ibunya pasti tidak akan pernah melakukan kesalahan, sebab mereka tidak tinggal bersama ibunya. Logis sekali. Bagaimana bisa salah jika tidak melakukan perintah?

Sebagaimana seorang mujtahid salah berfatwa masih mendapat pahala satu, sedangkan orang yang bukan mujtahid pasti tidak akan pernah salah. Lah salah apa wong dia tidak pernah melakukan ijtihad?.

Logika semacam inilah yang menurut Gus Baha nanti di akhirat akan diampuni oleh Allah, bahwa kesalahan seorang hamba adalah wajar dan manusiawi, biasa namun jangan dibiasakan. Kesalahan orang shaleh masih ada di ruang lingkup melakukan perintah Allah. 

Kuncinya harus shaleh dulu, kata Gus Baha. Dari pada salah tapi tidak shaleh? Itu lebih parah. Kelakarnya. 

Kesalahan ini dalam istilah Gus Baha yaitu min da’irati al-amri. Inilah yang kelak diampuni oleh Allah di akhirat sana, sebagaimana yang tertulis di dalam al-Qur’an surat al-Ahqaf: 16.

Menurut pribadi saya, hal yang paling penting untuk digarisbawahi terkait pandangan Gus Baha soal kesalahan manusia adalah, kita jangan sekali-kali putus asa dengan rahmat Allah, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Abu Bakar kepada Umar, ini juga dilarang oleh Allah di dalam QS. yusuf: 87. 

Berprasangka baik akan menimbulkan rasa yang akan mempengaruhi perilaku kita sehari-hari bahwa sebesar apapun dosa dan kesalahan kita, rahmat Allah selalu lebih besar dari itu semua.

Meski demikian, kita tidak boleh seenak udele dewe dengan melakukan dosa-dosa dengan mengatakan “ah, nanti setelah ini tobat.” Ini mengingatkan saya bahwa Ibn ‘Athaillah pernah mengatakan di dalam Hikamnya bahwa, 
Sebesar apapun kesalahan manusia jika berhadap-hadapan dengan rahmat Allah akan menjadi kecil (diampuni), sedangkan dosa kecil jika berhadap-hadapan dengan keadilan Allah akan menjadi hal yang besar.”
Saya tidak akan menganalisis Gus Baha lebih lanjut lagi, sebab apa?

Jika mengikuti pengajian maupun yang mendengar rekaman, Gus Baha paling benci dengan analisis yang seperti demikian, Gus Baha sukanya riwayat tanpa analisis. 

Meskipun pengajian yang disampaikan pun sebenarnya sarat akan analisis yang bersifat spekulatif. Inilah yang menurut saya kesalahan –jika bisa disebut sebagai kesalahan– Gus Baha, tapi balik lagiii.

Bahwa kesalahan Gus Baha ini masih dalam ruang lingkup ngaji, jadi kesalahannya sangat wajar, begitu pula saya, kesalahan saya walau bagaimanapun masih dalam ruang lingkup memahami.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.