Hisab al-Jummal: Tradisi Kuno Angka Arab, Nilai Huruf dan Sisi Historisnya
Masih lekat dalam ingatan, istilah hitungan jumal pertama kali saya mendengar saat masih duduk di bangku MAK Al Mahad An Nur. Di sela-sela rutinitas pesantren waktu itu, ada teman saya yang sedang asyik menghitung-hitung nama lalu saya ikutan nimbrung. Walau teknis rincinya sudah agak memudar dari memori, momen tersebut menjadi perkenalan pertama saya dengan sebuah tradisi literasi klasik yang ternyata memang kuno.
![]() |
| Foto oleh Ashutosh Oza di Unsplash |
Bagi yang mungkin belum familiar, tradisi ini dinamakan Hisab al-Jummal (حِسَابُ الْجُمَّلِ). Secara sederhana, ini adalah sebuah teknik untuk menyatakan angka-angka dengan menggunakan simbol huruf abjad Arab.
Mengenal Konsep Dasar dan Nilai Huruf Hijaiyah
Kunci utama dari ilmu ini adalah memahami bahwa setiap huruf hijaiyah—atau kombinasi huruf-hurufnya—memiliki nilai numerik bawaan. Berikut adalah rincian standar nilai huruf dalam tradisi Hisab al-Jummal:
| Huruf | Nilai | Huruf | Nilai | Huruf | Nilai |
|---|---|---|---|---|---|
| Alif (أ) | 1 | Ya (ي) | 10 | Qaf (ق) | 100 |
| Ba (ب) | 2 | Kaf (ك) | 20 | Ra (ر) | 200 |
| Jim (ج) | 3 | Lam (ل) | 30 | Syin (ش) | 300 |
| Dal (د) | 4 | Mim (م) | 40 | Ta (ت) | 400 |
| Ha (ه) | 5 | Nun (ن) | 50 | Tsa (ث) | 500 |
| Wawu (و) | 6 | Sin (س) | 60 | Kha (خ) | 600 |
| Zay (ز) | 7 | 'Ain (ع) | 70 | Dzal (ذ) | 700 |
| Ha (ح) | 8 | Fa (ف) | 80 | Dhad (ض) | 800 |
| Tha (ط) | 9 | Shad (ص) | 90 | Zha (ظ) | 900 |
| - | - | - | - | Ghain (غ) | 1000 |
Untuk melihat bagaimana teknik ini diaplikasikan oleh para ulama klasik, mari kita tengok syair dari pakar tajwid terkemuka, Ibnu al-Jazari, dalam kitab al-Muqaddimah al-Jazariyyah halaman 23:
Jika kita bedah menggunakan konsepsi Hisab al-Jummal, Ibnu al-Jazari menyandikan jumlah bait manzhumah-nya dengan kombinasi huruf. Nilai Qaf adalah 100, dan Zay adalah 7. Maka, total bait tersebut menunjuk pada angka 107 bait. Sebuah penyampaian yang sangat puitis sekaligus matematis.
Hitungan semacam ini seperti versi romawi dengan V, X, M dan seterusnya.
Urutan Abjadiyyah vs Hijaiyah
Satu hal yang cukup menarik, susunan huruf dalam hitungan jumal ini tidak menggunakan urutan reguler yang biasa kita eja sejak kecil (Alif, Ba, Ta, Tsa...). Tradisi ini merujuk pada urutan alfabetik bahasa Semit kuno yang dikenal dengan sebutan al-huruf al-abjadiyyah (الحُرُوْفُ الأَبْجَدِيَّةُ). Di dunia akademis dan ilmiah, urutan ini lazim dipakai untuk penomoran halaman pendahuluan sebelum menggunakan angka biasa, persis seperti fungsi angka Romawi di buku-buku modern.
Sedangkan urutan reguler yang jamak kita kenal sekarang dinamakan al-huruf al-hijaiyyah (الحُرُوْفُ الهِجَائِيَّةُ). Urutan ini merupakan hasil sistematisasi oleh Nasr bin 'Ashim al-Laitsi (wafat 90 H) yang didasarkan pada kemiripan bentuk tulisan hurufnya.
Untuk menghafalkan susunan Abjadiyyah ini sebenarnya cukup mudah. Salah satu metode pelafalan yang dipopulerkan oleh Syaikh Aiman Rusydi Suwaid dirangkai dalam kalimat berbunyi:
أَبْجَدْ هَوَّزْ حُطِّيْ كَلَمُنْ سَعْفَصْ قَرَشَتْ ثَخَذٌ ضَظَغُAntara Tradisi Ilmiah dan Penyimpangan
Secara historis, para ulama menggunakan teknik Hisab al-Jummal untuk berbagai keperluan produktif. Mulai dari menyatakan jumlah bait puisi, menyandikan penulisan tanggal manuskrip Arab, hingga mencatat penanggalan dan tahun wafat seorang tokoh. Tokoh astronomi seperti al-Biruni pun banyak menggunakannya dalam penulisan angka di ranah perdagangan dan ilmu falak, seperti dalam kitab al-Qanun al-Mas'udi.
Jauh sebelum Islam datang, tradisi ini sudah dikenal luas sejak zaman jahiliah, serta peradaban India dan Yahudi. Itulah mengapa, ketika Al-Qur'an turun membawa fawatihus suwar (huruf-huruf pembuka surat) seperti Alif Lam Mim atau Kaf Ha Ya 'Ain Shad, masyarakat Arab waktu itu tidak berani mengejeknya karena khawatir kumpulan huruf tersebut mengandung rahasia besar.
Bahkan ada riwayat dari Abu al-'Aliyah yang menyebutkan bahwa sebagian kelompok Yahudi mencoba menghubungkan pembuka surat tersebut dengan Hisab al-Jummal untuk mengukur masa depan dan umur umat Islam. Pembahasan huruf pembuka surat ini juga memiliki kaitan erat dengan ulasan saya mengenai nama-nama lain Al-Qur'an dan keagungan kandungannya.
Namun, layaknya sebuah alat, ada sebagian pihak yang menyeret konsepsi Hisab al-Jummal ini ke ranah klenik, sihir, atau meramal teka-teki hal gaib. Padahal Islam mengajarkan kita untuk selalu bersikap rasional dan berbaik sangka pada takdir, sebagaimana prinsip spiritual dalam ulasan tiga alasan kenapa kita harus berprasangka baik kepada Allah.
Hukum Penggunaan Hisab al-Jummal
Para ulama menarik dua garis tegas terkait hukum penggunaan Hisab al-Jummal:
- Mubah (Boleh): Jika digunakan untuk sarana pencatatan ilmiah, seperti menghitung jumlah bait puisi, menyandikan tanggal penulisan manuskrip, atau mencatat tahun wafat seorang tokoh.
- Haram & Batil: Jika diseret ke ranah praktik perdukunan, ramalan nasib, atau klaim mengetahui hal gaib tanpa dasar wahyu.
Dalam ngaji keilmasyarakatan, menyikapi tradisi unik seperti ini membutuhkan kearifan agar tidak mudah menghakimi sesama, sebagaimana dawuh yang pernah saya ulas pada catatan pandangan Gus Baha tentang kesalahan manusia.
Kesimpulan
Hisab al-Jummal adalah bukti kekayaan tradisi literasi peradaban Islam dan Semit kuno. Mengakrabi ilmu ini memperluas wawasan kita saat membaca manuskrip klasik dan karya-karya kiai terdahulu. Semoga catatan kecil dari memori masa madrasah di MAK Al Mahad An Nur Bantul ini bisa menyegarkan kembali ingatan akan luasnya khazanah keilmuan (pra)Islam.

Posting Komentar