Anak Ketiga

Table of Contents

Tepat di hari pancasila, 1 Juni lahir anak saya yang ketiga. Laki-laki, lagi. Hari Senin, 1 Juni 2026 pukul 22.10 WIB. Sejujurnya, ini adalah anak yang tidak diharapkan namun disengaja. Orang sering bilang namanya kebobolan. Tapi saya tetap bersyukur sebab jika sudah terjadi, itulah yang menjadi takdir. 

Dan kita tahu bahwa takdir akan selalu baik jika kita berhasil melihat dari sudut pandang yang tepat. 

Pertanyaannya, apakah kita bisa melihat dari sudut pandang yang tepat? Jawabannya tentu tidak bisa instan, melainkan dengan proses yang panjang dan penuh dengan teka-teki. Tulisan ini tidak akan bahas yang berat-berat seperti itu. Saya hanya ingin bercerita saja dengan menulis, sebab anak pertama dan kedua sudah saya tulis semua, tinggal anak yang insyaallah terakhir ini, yang belum.

Ilyasa Muhammad Ahsan

Kehamilan

Sejak istri ketahuan hamil, tidak hanya dia yang cemas, melainkan saya juga. Apalagi kalau bukan soal anak kedua (Yusuf) baru menginjak usia dua tahun. Selain itu juga karena tentu lebih sibuk dan repot. Bayi memang lucu, ngerawatnya yang nggak lucu. Begitu kata orang. Kecemasan dan kekhawatiran itu mengakibatkan kami yang bingung harus bagaimana.

Meski demikian, kami tetap patuh dengan pemeriksaan rutin, paling tidak melakukan ANC (Antenatal Care) di puskesmas terdekat. Anak ketiga ini memang paling jarang kontrol kehamilan, berbeda ketika hamil Yahya dan Yusuf. Istri sampai komentar "Mas, kasihan ini kok jarang kontrol kehamilan" 

Kami rajin kontrol kehamilan hanya di satu atau dua bulan terakhir sebelum kelahiran. Terakhir kontrol kehamilan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul pada hari Selasa 26 Mei 2026 ketika usia kehamilan sudah 39 minggu. Kami hanya ingin memastikan bahwa calon bayi sudah masuk ke area panggul.

Pada sesi itu Bu Dokter Alfaina memastikan kalau bisa lahir secara normal meskipun tali pusarnya melintir satu kali. Kami berdua lega. 

Hari-hari kami lalui dengan kecemasan yang tersembunyi, duh.. punya dua anak yang jaraknya terlalu dekat. Sebab itulah mulai bulan Mei lalu, kami memutuskan untuk "menyekolahkan" Yusuf di Kelompok Belajar terdekat dari rumah kami. 

Memilih tempat melahirkan

Dari dulu, saya memiliki prinsip bahwa untuk proses melahirkan saya serahkan sepenuhnya kepada istri mana tempat yang paling nyaman. Hal itu karena ada pengalaman trauma melahirkan yang menyakitkan ketika melahirkan anak yang pertama di rumah sakit. 

Hal itu yang kemudian ia tidak mau lagi melahirkan di rumah sakit. Anak kedua kami lahir di klinik dan ia merasa cocok dengan metodenya yaitu gentle birth. Sayang sekali klinik yang dulu itu sudah tutup dan pindah yang dulu di Bantul, kini buka di Gunung Kidul. 

Alhasil, kami mencari tempat yang lebih dekat tapi metode penanganannya sama atau mirip. Sepupu kami membagikan pengalaman melahirkan yang kedua dengan normal padahal sebelumnya operasi sesar. Dari cerita itu, istri saya jadi lebih yakin untuk melahirkan di sana, yaitu klinik D'Maryam yang lokasinya di dekat alun-alun kidul Yogyakarta. 

Kami berangkat ke sana untuk mencari informasi sekaligus periksa kehamilan. Istri bertambah yakin untuk melahirkan di sana karena metode yang dipakai adalah sama dengan di klinik sebelumnya. 

Tanpa banyak pertimbangan, saya berusaha untuk selalu setuju. Ya, bukan apa-apa, dia sudah hamil 9 bulan nggembol bayi ngalor-ngidul, masa iya saya atur-atur tempat lahirnya? 

Proses melahirkan

1 Juni 2025 pagi, ia mulai merasakan kontraksi palsu. Padahal siangnya ia sudah janji dengan saudaranya untuk pergi melihat pameran buku. Saya berkomentar tidak apa-apa malah sekaligus sambil jalan-jalan biar menjadi stimulasi. Alhasil, ia tetap pergi dan saya pun pergi ke kampus untuk mengajar. 

Pulang dari kampus pukul 16.00 kontraksi yang dirasakan makin intens dan teratur. "Ayo siap-siap. Salat terus berangkat," ajak saya. Yahya dan Yusuf saya tinggalkan di rumah bersama buliknya. Di sepanjang perjalanan saya melihat wajahnya tampak menahan sakit ketika kontraksi. Setelah 20 menit di perjalanan, sampai di klinik diperiksa bahwa sudah bukaan 2 (total bukaan lengkapnya 10). 

Saya menemaninya di ruang bersalin. Ia diterapi oleh dua bidan, mulai dari dipijat hingga dibekam. Setelah selesai treatmentnya, istri saya diminta untuk ke kamar saja. Di dalam kamar saya menemaninya hingga pukul 20.00, tiap ia kontraksi saya mengelus punggung sambil memberikan intruksi untuk mengatur napas. 

Saya minum nabiz (minuman rendaman kurma) dan madu yang tersisa di gelas. "Enak juga," batinku. Lalu tiba-tiba bidan datang untuk mengecek pembukaan. Setelah diperiksa ternyata sudah bukaan 6. 

"Ayo pindah ke ruang bersalin saja sambil siap-siap," katanya dengan sigap. Kami menurut saja. 

Di sana ada dua bidan yang bersiap, sayangnya saya hanya ingat satu nama yaitu Mbak April. Dia begitu telaten dan ramah dalam memberikan layanan kepada istri. 

Waktu di jam tangan saya menunjukkan lewat pukul 21.00. Yang tadinya istri masih bisa kuat menahan untuk tidak mengejan, ia mulai kuwalahan untuk tidak mengejan. Tiap kontraksi saya masih memberikan aba-aba untuk mengatur napas, tidak hanya memberikan aba-aba, saya juga ikut meneriakkan "Huu huu haaaaa... hu hu haaaaaa..." 

Tak lama kemudian muncul Bu Yuli, beliau yang menjadi semacam ketua bidan kayaknya di klinik ini. Ia bersiap sambil mengenakan apron (apa celemek ya?) semacam itulah dan memberikan motivasi kepada istri untuk tetap tenang dan fokus. 

Saya ingat amalan dari guru saya KH. Muslim Nawawi agar membacakan surah al-Insyiqaq agar lahirnya lancar dan cepat. Entah sudah berapa kali saya membaca surah itu sambil masih ikut bersorak huhu haaa huhu haaaa.

Di akhir-akhir istri saya mengejan, Bu Yulia masih sempat untuk memberikan intruksi agar dadu menempel dada dan pantat tidak boleh diangkat lalu lahirlah bayi mungil kecil itu. Tangisannya tidak keras, suaranya serak karena mungkin sempat ngokop ketuban. Kami bersorai mengucapkan alhamdulillah. "Jos, ibu hebat," kata saya sambil melihat istri. 

"Alhamdulillah ya ini tanpa jahitan," komentar Bu Yulia setelah bayi kecil itu diletakkan di atas dada ibunya. Wajahnya terlihat lega, saya ikut senang. 

"Berapa lama, Bu?" Tanya istri tentang IMD (Iniasiasi menyusu dini). Mbaknya jawab 2 jam. Saya tinggal sebentar untuk salat isya di musala. 

Bapaknya para nabi

Anak ketiga ini diberi nama Ilyasa Muhammad Ahsan. Ilyasa adalah pemberian dari ibunya, Muhammad adalah nama yang harus ada di semua anak kami, kalau tidak Muhammad ya Ahmad. Sedangkan Ahsan dari salah satu guru yang kami harapkan keberkahannya. 

Setelah nama itu saya bagikan ke teman-teman, saya dijuluki sebagai bapaknya para nabi, sebab anak pertama namanya Yahya, kedua bernama Yusuf sedangkan "terakhir" bernama Ilyasa. 

Jurnal harian
Selasa kemarin ada rapat yang dimulai pukul 15.30 hingga 17.00 lebih. Rapat itu tentang persiapan UAS semester genap sekaligus pengesahan kalender akademik tahun akademik 2026/2027. Beberapa teman dan saya sendiri merasa kemrungsung karena rapatnya terlalu sore, padahal yang dibahas adalah termasuk hal berat terutama tentang kalender akademik. Beruntungnya sampai rumah sudah beres semua pekerjaan di rumah, mulai dari anak-anak sudah pada mandi hingga sudah tersedia makan sore. Memang, terkadang hal-hal yang kita khawatirkan itu belum tentu terjadi, jadi berpikir positif memang tidak ada ruginya.
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment