Bukan Sekadar Copy-Paste, Begini Teknik Praktis Sitasi dan Parafrasa

Table of Contents

Banyak dari kita, (sepertinya memang banyak, ya kan?) yang terjebak dalam miskonsepsi bahwa menulis artikel ilmiah adalah aktivitas "menempel potongan paragraf" (patchwork), lalu meletakkan nama penulis asli di ujungnya agar aman dari plagiarisme. Padahal, sitasi yang baik adalah sebuah dialog intelektual. Dalam sebuah karya ilmiah atau artikel akademis, suara Anda sebagai penulis harus tetap menjadi pemandu utama jalannya argumen.

Berikut adalah panduan dan penjelasan konseptual mengenai cara menulis sitasi, perbedaan mendasar antara menyalin dan mensitasi, serta teknik praktis agar kita mampu menenun gagasan orang lain ke dalam tulisan secara elegan.

Penting untuk Blogger & Akademisi: Mengutip data atau opini orang lain tanpa teknik parafrasa yang benar dapat memicu indikasi plagiarisme, baik di mata kampus (similarity check) maupun di mata algoritma mesin pencari Google (sebagai duplicate content).

1. Menulis Karya Ilmiah adalah "Bertamu" dan "Berdiskusi"

Untuk mempermudah pemahaman, mari kita menggunakan analogi sebuah diskusi di ruang tamu:

  • Menyalin (Copy-Paste): Ibarat mengundang seorang ahli ke rumah, lalu kita diam saja dan membiarkan tamu tersebut berbicara sendiri selama satu jam tanpa ditanggapi. Pembaca akan kehilangan suara kita sebagai tuan rumah.
  • Mensitasi (Dialog Akademik): Ibarat kita bertindak sebagai tuan rumah yang aktif. Kita mengundang gagasan seorang tokoh, memperkenalkan mereka, merangkum poin pentingnya, dan menghubungkannya langsung dengan topik yang sedang dibahas.

Melalui gamabaran tersebut, kita jadi lebih bisa membayangkan ketika sedang menulis sejatinya kita sedang berdiskusi dengan banyak pihak.

Selain itu, secara konseptual, fungsi sitasi bukan sekadar syarat aman agar lolos dari jerat plagiarisme, melainkan memiliki tiga fungsi utama:

  1. Membangun Kredibilitas: Menunjukkan bahwa argumen penulis ditopang oleh fondasi akademis yang kuat dan bereputasi, atau setidaknya sudah ada yang pernah membahas.
  2. Peta Diskusi (Roadmap): Membantu pembaca melihat di mana posisi pemikiran penulis di antara pemikiran tokoh-tokoh terdahulu.
  3. Etika Akademik: Bentuk apresiasi nyata atas hak kekayaan intelektual orang lain. Saya sering mengungkapkan ini sebagai bentuk tawaduk kita terhadap orang lain.

Ketawadukan itu tidak hanya pada aspek praktis tingkah lalu dan ucapan, tetapi juga di dalam tulisan kita. Jika kita bisa menceritakan pendapat-pendapat orang lain, setidaknya kita rendah hati bahwa tema yang sedang kita tulis merupakan hal yang sudah dibahas di era sebelum kita.

2. Cara Menghindari Plagiarisme dengan Parafrasa dan Sintesis

Agar tulisan mengalir dinamis, hindari penggunaan Sitasi Langsung (mengutip kata demi kata secara utuh) secara berlebihan. Sekali lagi, secara berlebihan (bukan berarti tidak boleh). Sitasi langsung sebaiknya hanya digunakan untuk definisi yang sangat sakral, teks hadis, atau ayat Al-Qur'an. Selebihnya, gunakan teknik Sitasi Tidak Langsung melalui dua metode berikut:

A. Teknik Parafrasa

Cara melakukan parafrasa adalah dengan membaca satu paragraf dari buku rujukan, menangkap konsep utamanya, menutup buku tersebut, lalu menuliskan kembali konsep itu menggunakan gaya bahasa dan struktur kalimat sendiri tanpa mengubah esensi idenya.

B. Teknik Sintesis

Sintesis dilakukan dengan melatih kemampuan mengelompokkan beberapa penulis yang memiliki pandangan serupa atau bertolak belakang, lalu merangkumnya dalam satu kalimat atau satu paragraf yang terintegrasi.

3. Teknik Menuliskan Sitasi: Menggunakan Reporting Verbs

Agar sitasi tidak monoton, bekali diri dengan variasi frasa atribusi dan kata kerja pelapor (reporting verbs). Jangan biarkan tulisan Anda selalu menggunakan kata "Menurut..." di awal paragraf.

A. Menggunakan Kata Kerja Pelapor (Reporting Verbs)

Kata kerja pelapor menunjukkan bagaimana sikap Anda terhadap sumber yang dikutip.

  • Untuk Menyampaikan Teori/Pendapat Dasar: "Rahman (1982) menegaskan bahwa teks hadis tidak dapat dipahami secara harfiah tanpa melibatkan konteks sosial saat hadis tersebut disabdakan." Atau "Al-Qaradawi (1990) menguraikan lima prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam berinteraksi dengan Sunnah."
  • Untuk Menunjukkan Hasil Analisis/Temuan: "Dalam studinya mengenai hadis-hadis misoginis, Suryadi (2015) menemukan adanya bias patriarki dalam transmisi pemahaman teks di tingkat lokal."
  • Untuk Mendukung Argumen Penulis: "Argumen mengenai pentingnya asbabul wurud ini juga diamini oleh Syuhudi Ismail (1994) yang menyatakan..."

B. Menggunakan Bingkai Konseptual (Conceptual Framing)

Teknik ini menempatkan konsep atau teori di depan, baru kemudian menyebutkan tokohnya. Ini membuktikan bahwa Anda memahami esensi teorinya, bukan sekadar menempel nama.

  • Frasa "Dalam konsep yang dijelaskan oleh...": "Dalam konsep double movement yang dijelaskan oleh Fazlur Rahman (1982), penafsiran hadis harus bergerak dua arah: dari masa kini ke masa lalu untuk memahami makna historis, lalu kembali ke masa kini untuk merumuskan hukum yang kontekstual."
  • Frasa "Melalui kacamata..." / "Dalam perspektif...": "Jika dianalisis melalui kacamata metodologi hermeneutika yang ditawarkan oleh Hasan Hanafi, teks hadis tentang kepemimpinan perempuan tidak lagi dipandang sebagai teologi statis, melainkan sebagai respons sosial-historis..."
  • Frasa "Bertolak dari argumen...": "Bertolak dari asumsi bahwa hadis memiliki dimensi sosiologis (Ali, 2020), maka kontekstualisasi hadis-hadis lingkungan hidup mendesak untuk dirumuskan kembali."

4. Contoh Perbandingan Kualitas Sitasi

Berikut adalah perbandingan kontras antara gaya penulisan pemula dengan gaya penulisan akademis yang sudah mengimplementasikan teknik parafrasa:

Gaya Penulis Pemula (Sekadar Copas):
"Kontekstualisasi adalah upaya memahami hadis sesuai zaman. Menurut Syuhudi Ismail (1994: 87) 'hadis kontekstual adalah hadis yang memiliki latar belakang sejarah atau sosiologis saat diucapkan oleh Nabi.' Oleh karena itu, kita harus kontekstualisasi hadis."

Catatan Galat: Tulisan terasa kaku, terlalu banyak kutipan langsung yang tidak diolah, dan penulis tidak memberikan analisisnya sendiri.
Gaya Akademis/Konseptual (Hasil Parafrasa & Sintesis):
"Upaya mendialogkan hadis dengan realitas modern menuntut adanya pergeseran dari pembacaan tekstual menuju kontekstual. Syuhudi Ismail (1994) menawarkan tesis bahwa pemahaman hadis harus berpijak pada rekonstruksi historis-sosiologis saat teks tersebut lahir. Senada dengan gagasan tersebut, Yusuf al-Qaradawi (1990) juga menekankan bahwa memahami motif atau latar belakang kultural (asbabul wurud) merupakan syarat mutlak agar interpretasi hadis tidak keluar dari koridor tujuan syariat (maqasid al-shari'ah)."

Kesimpulan

Dengan menguasai aspek konseptual ini, kita memahami bahwa mensitasi adalah seni meramu pemikiran orang lain untuk memperkuat argumen kita sendiri, bukan sekadar menumpuk kutipan di atas kertas. Setelah fondasi cara parafrasa ini bisa dipahami secara konseptual, selanjutnya adalah mempelajari sitasi menggunakan aplikasi referensi seperti Mendeley atau Zotero.

Jurnal Harian
Rabu kemarin, saya tidak ada jam mengajar. Tapi disibukkan dengan pekerjaan di Yayasan, mulai dari balas surat, rekap keuangan hingga menyiapkan perencanaan sistem pembayaran satu pintu di Yayasan. Siangnya saya bertemu teman lama, dia ke rumah. Di sela-sela itu saya ada jadwal bertemu dengan Ketua Yayasan dan bendahara untuk memastikan alokasi anggaran ke lembaga. Pekerjaan memang tak ada habisnya, untungnya ketika malam masih bisa menemani anak di rumah.
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment