3 Kebutuhan Dasar Manusia secara Psikologis

Table of Contents

Przybylski, di dalam artikelnya yang berjudul Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out (2013) menyimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis bisa tidak terpenuhi ketika seseorang berlebihan dalam menggunakan media sosial, sehingga hal itu bisa mengakibatkan seseorang merasa cemas, juga kesepian. 

tanah kosong
Tanah kosong

Mungkin, kita bisa berdebat soal kata berlebihan itu berapa jam, namun secara pribadi berlebihan itu tidak hanya persoalan waktu yang dihabiskan untuk bermedia sosial, tetapi seberapa besar kita terpengaruh hingga merasa terganggu. 

Saya tidak sedang dan tidak akan membahas soal media sosial dan durasi konsumsinya, melainkan ada hal baru yang saya temukan di artikel tersebut yaitu tentang 3 kebutuhan dasar manusia secara psikologis. 

Sebab, biasanya kita hanya peduli dengan kebutuhan fisik seperti sandang, papan dan pangan, namun lupa apa yang dibutuhkan oleh jiwa, apakah kita sudah memenuhi kebutuhan dasar itu? 

3 Kebutuhan Dasar Manusia secara Psikologis

Saya coba untuk merangkum sekaligus memberikan catatan kecil sesuai dengan perspektif saya. 

Otonomi

Manusia membutuhkan kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri atau inisiatif pribadi. Terkadang kita merasa tidak punya pilihan sehingga memilih sesuatu karena terpaksa. Keterpaksaan seperti itu jika berlangsung secara masif, kita akan merasa tidak punya kendali atas diri sendiri. 

Ketika kita merasa tidak memiliki otonomi diri, dengan kata lain menjadi bos atas diri sendiri. Secara tidak langsung kita sedang mengabaikan kebutuhan dasar kita sebagai manusia. 

Saya kira, ini berkaitan erat dengan merasa memiliki tanggung jawab. Secara tidak sadar ketika kita tidak memiliki tanggung jawab, perilaku kita bisa tanpa kontrol, namun ketika ada tanggung jawab yang melekat di dalam diri kita, otomatis tingkah laku kita akan lebih terarah. Paling tidak selalu mepertimbangkan apa konsekuensinya dan apakah kita bisa bertanggung jawab? 

Kompetensi

Kedua adalah kompetensi, yang merupakan kapasitas untuk bertindak secara efektif di lingkungan sekitar. Menurut saya, kita bisa mengambil peran di semua ranah yang kita ambil. 

Misal ketika saya menjadi dosen pengampu mata kuliah Studi Syarah Hadis, saya harus meyakinkan diri atau paling tidak belajar agar bisa mengejar kompetensi itu sebaik-baiknya. Pada saat akhir perkuliahan dan melihat hasil evaluasi mahasiswa yang ternyata skor saya kurang dari 3 poin, bisa dipastikan saya akan merasa tidak memiliki kompetensi itu. 

Sehingga mengakibatkan pikiran dan perasaan saya bisa tertekan. 

Keterikatan

Manusia butuh perasaan dekat atau merasa terhubung dengan orang lain. Kita butuh terkoneksi dengan orang lain sebab sudah banyak sekali yang memberikan penjelasan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Bahkan kita adalah satu-satunya spesies di muka bumi ini yang bisa bersosial dan bekerja sama sampai tak terhingga jumlahnya.

Namun bukan itu poinnya. 

Keterikatan di sini, dalam pandangan saya adalah ketika kita merasa dekat dan terhubung dengan orang lain. Tentu ini sirkelnya tidak banyak, tapi penting untuk dimiliki oleh manusia. Kita memiliki tempat untuk nyampah tanpa takut dihakimi dan disalahkan. Ini semakin susah kita temukan. 

Memang kita butuh tempat dan seseorang untuk bisa menerima kita apa adanya. Itu, sih intinya.

Dari tiga hal tersebut (biar tulisan ini juga masih mengutip Przybylski dan kawan-kawanya), ketika tiga hal di atas tidak terpenuhi, biasanya pelarian manusia yang paling cepat adalah melalui media sosial, bisa jadi mencari-cari tiga hal tersebut yang tidak dialami di dunia nyata.

Mungkin ada benarnya ketika saya melakukan puasa media sosial sejak beberapa bulan yang lalu.

Krisi identitas

Mengetahui 3 kebutuhan dasar tersebut, bagi saya yang tidak menekuni tentang ilmu psikologi menjadi lebih mengerti bahwa ketika tiga hal tersebut tidak terpenuhi, seseorang akan mengalami semacam tekanan diri hingga krisis identitas. 

Krisis identitas ini seperti kebingungan dalam mendefinisikan diri sekaligus kebingungan dalam menjalani hidup sehingga memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti; kenapa saya hidup?

Pertanyaan itu mungkin tampak sederhana, namun bagi orang yang benar-benar mengalaminya, jawabannya tidak sesederhana seperti "hidup untuk menyembah Allah subhanahu wa ta'ala" 

Meskipun itu bukan jawaban keliru, namun bagi orang yang mengalami pengalaman pertanyaan seperti itu, merasa dikecilkan masalahnya. Sebab, sebelum mendapatkan jawabannya, kita harus mengerti apakah kebutuhan dasar secara psikologis itu sudah terpenehi atau belum. 

Dan, saya jadi ingat kalimat guru saya bahwa makanan (kebutuhan dasar) ruh atau spiritual kita adalah dengan ilmu. Oleh sebab itu ada ungkapan jika dalam waktu 40 hari kita tidak belajar dan mencari ilmu, hati kita bisa makin keras. 

Bisa jadi, ruh atau spiritual itulah yang disebut dengan kebutuhan dasar manusia secara psikologis.

Jurnal harian
Kemarin adalah Jumat yang lumayan padat. Seharian di Surya Jaya untuk evaluasi bisnis mingguan. Disusul kuliah di kelas Studi Syarah Hadis. Sekelas hanya 6 orang, beberapa izin karena ada acara yang berkaitan dengan pondok pesantren. Masih tersisa dua mahasiswa (mahasiswa program studi ilmu hadis memang sedikit peminatnya) lalu saya ajak mereka kuliah di warung kopi saja. Selama ngajar lebih dari 10 tahun, ini kali pertama saya ngajak kuliah di warung kopi.
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment