Puasa Media Sosial

Table of Contents

Jalan Ngrukem 2025 (dok. Pribadi)
Menjelang bulan puasa tahun 2026 ini, saya memutuskan untuk uninstall aplikasi media sosial; facebook dan Instagram. Twitter (sekarang X) sudah lama saya uninstall, sedangkan TikTok, saya memang tidak memiliki akun di sana. Threads pernah daftar dan posting tapi tidak lama setelah itu saya uninstall juga. Saya hanya menggunakan WhatsApp (sekarang sudah termasuk kategori media sosial) dan Youtube.

Jika Anda mengira agar saya fokus ibadah di bulan puasa, sungguh itu praduga yang baik, tapi sesungguhnya bukan itu.

Keputusan saya untuk meng-uninstall karena sudah capek dengan berita-berita buruk yang dikirimkan oleh negara hingga saya tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang framing, apalagi banyak sekali buzzer yang memang “dipakai” untuk tujuan tertentu. Melihat perkembangan negara melalui media sosial membuat saya frustrasi karena tidak bisa melakukan apa-apa selain mengumpat. Ini alasan yang pertama.

Kedua adalah karena sistem algoritma yang tidak lagi mengedepankan pertemanan dan akun-akun yang kita ikuti, tetapi karena viral dan kecenderungan pengguna. Berulang kali saya harus mengetik nama akun di pencarian untuk membaca konten-kontennya, padahal akun yang saya cari itu aktif update. Pernah sekali saya melihat konten mancing, setelah itu beranda saya dipenuhi oleh konten-konten serupa. Hal itu yang membuat saya jengkel.

Ketiga, sosial media menjadi pasar iklan. Media sosial telah mengubah sistem periklanan terutama menggunakan data demografi dan basis kecenderungan pengguna. Oleh karena itu, banyak akun berlomba-lomba viral untuk bisa menampilkan iklan di tiap postingannya, atau berharap ada brand yang bersedia menggunakan jasa endorsment. Jadi, diam-diam tiap gerak-gerik kita di media sosial dibaca dan direkam oleh sistem untuk digunakan sebagai penentuan target iklan.

Saya mengerti bahwa itu semua adalah bagian dari konsekuensi sebagai pengguna, lagi pula media sosial memang memerlukan sumber daya yang luar biasa banyak. Saya tidak menganggap itu keliru apalagi sampai menghakimi sebagai kapitalis. Dunia memang sudah bekerja seperti ini. Cerita saya ini juga tidak bermaksud untuk merendahkan pengguna media sosial.

Dari ketiga hal itu, saya memutuskan untuk berhenti bermedia sosial karena tidak ada motivasi apa-apa selain menjadi pengguna. Murni menjadi pengguna itu melelahkan bagi saya, sebab menggulir layar memang menjadi dopamin instan di setiap waktu luang. Sedangkan saya tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari itu. Kecuali, kalau saya memang ada motivasi untuk menjadi konten kreator, itu soal lain.

Apa manfaatnya?

Saya mendapatkan banyak manfaat setelah puasa media sosial selama beberapa bulan ini. Setidaknya ada tiga hal yang akan saya sampaikan di sini.

  1. Menurunkan waktu paparan layar (screen time), biasanya setiap pekan ada laporan waktu screen time selama satu minggu yang berkisar 5–6 perhari. Setelah puasa media sosial bisa turun 3–4 jam saja. Ini waktu yang sehat bagi saya.
  2. Meningkatkan fokus, ketika sedang mengerjakan tugas di sela-sela istirahat misalnya, biasanya membuka media sosial yang berakhir pada waktu yang kebablasen. Sehingga pekerjaan jadi tertunda lebih lama.
  3. Menjaga mood lebih mudah. Paparan berita di media sosial yang membuat saya frustrasi menjadi berkurang. Saya amati jika saya stres lalu membuka media sosial, justru akan memicu stres yang lebih banyak.

Tiga hal di atas memang saling berkaitan, artinya manfaat pertama akan menimbulkan manfaat yang lainnya. Intinya adalah pada penggunaan layar yang sesuai dengan kebutuhan. Saya cukup sulit untuk fokus jika sudah terpapar konten yang acak, jadi saya lebih memilih Youtube apabila ingin mencari tahu atau ingin mendengarkan penjelasan yang lebih dalam. Saya memahami bahwa Youtube juga demikian algoritmanya, tapi paling tidak saya masih bisa mengontrol konten yang saya nikmati di Youtube. Berbeda dengan Meta yang, sejujurnya saya tidak bisa mengontrolnya secara sadar.

Setelah beberapa bulan ini, saya jadi mempertimbangkan juga untuk sekalian menghapus akun di media sosial, terutama facebook dan Instagram.

Jurnal harian
Selasa kemarin saya pulang dari klinik pukul 21.00 WIB. Genap 22 jam kami di klinik untuk persalinan. Saya jengkel karena proses pembayaran transfernya pending, saya sampai komplain via email ke pihak bank. Untungnya mbak-mbak admin di klinik berbaik hati. Saya boleh pulang meskipun pembayarannya belum selesai. Sampai di rumah tidak banyak yang saya lakukan, hanya beres-beres rumah yang ternyata ditinggal 22 jam saja sudah terlihat amburadul.
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment