Memahami Karakteristik Rasm Usmani

Table of Contents

Dalam diskursus studi Al-Quran, mayoritas ulama qira’at berpendapat bahwa Rasm Usmani merupakan satu bentuk tulisan (ortografi) yang mukjizat karena dirancang secara genius agar bisa mengakomodir berbagai macam variasi bacaan dalam qiraat tujuh (Qiraat Sab’ah). Struktur teksnya yang fleksibel namun terjaga menjadi bukti autentisitas transmisi wahyu hingga hari ini.

Meskipun bersumber dari satu induk, sejarah mencatat terdapat variasi kecil (ikhtilaf) anatomi ortografi antara mushaf regional satu dengan yang lain. Perbedaan ini tentu lahir berdasarkan kesepakatan dan penyesuaian otoritatif. Mengingat pada tulisan sebelum ini, saya menjelaskan terdapat tim yang dibentuk oleh Usman untuk merampungkan proyek penulisan mushaf Al-Quran—yang digawangi oleh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ashi, dan Abdurrahman bin Al-Harits—sebelum akhirnya didistribusikan ke berbagai pusat peradaban Islam.

3 Syarat Mutlak Penerimaan Qiraat Al-Quran

Di dalam ilmu Qira’at, para ulama merumuskan rukun qiraat (tiga syarat utama) agar suatu bacaan dapat dinilai sah dan diterima sebagai Al-Quran:

  1. Mutawatir: Jalur periwayatannya harus sahih dan bersambung secara meyakinkan sampai kepada Rasulullah Swt.
  2. Sesuai dengan logat orang Arab: Harus selaras dengan tata bahasa Arab (gramatika) yang fasih, utamanya logat suku Quraisy.
  3. Kesesuaian Rasm: Harus sesuai dengan rasm mushaf Usmani, baik secara tekstual (tahqiqan) maupun perkiraan (taqdiran).

Apabila ada jalur qiraat yang pincang dan tidak memenuhi ketiga parameter di atas, maka bacaan tersebut dihukumi sebagai syadz (cacat/menyimpang). Implikasinya, status qiraat tersebut menjadi mardud (ditolak) dan tidak boleh dibaca dalam ibadah shalat.

Bagaimana Satu Tulisan Mengakomodir Banyak Bacaan?

Pertanyaan besar yang sering muncul di kalangan akademisi awam adalah: Bagaimana mungkin satu bentuk tulisan kuno bisa melahirkan variasi bacaan yang beragam tanpa merusak teks?

Pondasi utamanya terletak pada fakta sejarah bahwa kodifikasi Al-Quran pada zaman Rasulullah hingga Khalifah Usman bin Affan dirancang tanpa menggunakan tanda baca (syakal/harakat) dan titik (nuktah). Langkah ini sengaja diambil sebagai strategi besar (blueprint) untuk memayungi dialek-dialek Arab yang sah.

Sebagai contoh teoretis, mari kita bedah kata lafaz ىعقلون. Tanpa adanya titik dan harakat, kata ini secara visual bersifat universal. Ia bisa dibaca يَعْقِلُوْنَ (ya’qiluun), تَعْقِلُوْنَ (ta’qilun), atau bahkan يُعَقِّلُوْنَ (yu’aqqilun). Karakteristik fleksibilitas ortografi inilah yang menjadi ruang bagi keberagaman qiraat yang valid secara sanad.

BACA JUGA: Review Kitab Haqqut Tilawah: Panduan Ilmu Tajwid Perbandingan Qiraat

Perlu dipahami pula bahwa tidak semua ayat di dalam Al-Quran dibaca dengan tujuh cara oleh para Imam Qiraat. Untuk memetakan bagaimana Rasm Usmani mengakomodir variasi bacaan tersebut, Dr. Sya’ban Muhammad Ismail membaginya ke dalam tiga formula teknis berikut:

Formula 1: Satu Kata Memiliki Dua Riwayat Bacaan, Ditulis Salah Satu Saja

Metode pertama adalah menuliskan kata dengan satu karakter huruf tertentu, namun riwayat qiraat lain membacanya dengan huruf yang berbeda berdasarkan asal-usul kata. Contoh klasik terdapat pada kata-kata berikut:

صِرَاط / يَبْصُط / المُصَيْطِرُوْن

Di dalam Rasm Usmani, ketiga lafaz di atas ditulis menggunakan huruf Shad (ص). Mengikuti rasm tersebut, mayoritas imam membaca dengan bunyi Shad. Namun, sebagian imam qiraat tetap membacanya dengan huruf Sin (س) demi mengukuhkan asal kata aslinya (ashlul kalimah). Pada standardisasi Mushaf cetakan modern modern, fenomena ini ditandai dengan peletakan huruf Sin kecil di atas atau di bawah huruf Shad.

Contoh lain yang sangat kentara ada pada Surat Al-Baqarah ayat 219:

".... قُلْ فِيْهِمَا إِثْمٌ كَبِيْرٌ ...."

Pada kata kabiirun (كَبِيْرٌ), terdapat imam qiraat yang membacanya katsiirun (كَثِيْرٌ). Mengapa keduanya sah? Karena dalam ortografi mushaf pertama yang tanpa titik, bentuk gigi huruf Ba' (ب) dan huruf Tsa' (ث) adalah sama persis. Perubahan bunyi baru terjadi berabad-abad kemudian setelah ilmu *Dhabth* (pemberian titik dan harakat) diterapkan secara resmi.

Formula 2: Satu Kata Dibaca Dua Cara, Ditulis dalam Satu Bentuk Perkiraan (Taqdiran)

Kaidah kedua menggunakan pendekatan eliminasi huruf tertentu yang keberadaannya bisa diperkirakan lewat tanda khusus. Contoh paling umum adalah pembuangan huruf Alif (hadzfu al-alif) pada struktur kalimat *Jama' Muannats Salim*, seperti kata:

مسلمت / مؤمنت / البينت

Ulama rasm sepakat menghapus penulisan huruf Alif fisik pada kata tersebut, sehingga tertulis *Muslimat*, *Mukminat*, dan *Al-Bayyinat* tanpa alif panjang. Sebagai gantinya, pakar dhabth memberikan tanda alif kecil (alif khanfariyyah) di atas huruf hidup untuk menuntun pembaca.

Namun, jika satu kata memuat dua alif sekaligus seperti lafaz الصَّالِحَات atau السَّمَاوَات, para ulama rasm berbeda madzhab: mayoritas ulama (Madzhab Abu Amr Ad-Dani dan Sulaiman bin Najah) memilih menghapus kedua alif tersebut, sementara sebagian kecil hanya membuang alif yang kedua.

Formula 3: Terjadi Penambahan atau Pengurangan Huruf Antar-Mushaf Regional

Pada tingkat yang lebih kompleks, ada kata yang tidak bisa dikompromikan dalam satu bentuk ejaan. Karena robot cetak belum ada pada abad ke-1 Hijriah, Khalifah Usman sengaja menyebarkan variasi penulisan ini secara terpisah ke mushaf-mushaf wilayah (mushaf amshor).

Perhatikan perbandingan kasus riil berikut:

  • Surat Al-Baqarah Ayat 132: Imam Ashim membaca وَوَصَّى (tanpa alif di depan), sesuai dengan rasm mushaf penduduk Kufah dan Basrah. Sedangkan Imam Nafi' dan Ibnu Amir membaca وَأَوْصَّى (memakai alif) karena begitulah yang tertulis di mushaf wilayah Madinah dan Syam.
  • Surat Ali Imran Ayat 133: Penduduk Madinah dan Syam membaca langsung سَارِعُوْا (tanpa huruf *Wawu* di awal ayat), sedangkan mushaf Kufah menuliskan lafaz وَسَارِعُوْا dengan tambahan huruf *Wawu*.
  • Surat Al-Maidah Ayat 54: Lafaz مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ dibaca oleh Imam Ashim dengan satu huruf *Dal* bertasydid. Namun, Imam Nafi' dan Ibnu Amir membacanya dengan mengurai asal hurufnya (fakkul idgham) menjadi dua huruf dal: يَرْتَدِدْ. Ini karena Mushaf Madinah dan Syam sengaja ditulis menggunakan dua huruf *Dal* fisik.

Saran Gus Baha Mengenai Studi Rasm Usmani

Perbedaan rasm antar-mushaf regional seperti wilayah Syam, Kufah, Makkah, dan Madinah ini sering kali memicu perdebatan spekulatif di kalangan pengkaji baru. Saya pribadi pernah menanyakan keresahan keilmuan ini langsung kepada Gus Baha. Jawaban beliau sangat renyah dan menenangkan batin:

"Tidak usah berpikiran spekulatif yang aneh-aneh tentang kemungkinan distorsi penulisan mushaf di berbagai daerah masa lalu. Kita ini tugasnya cukup mempelajari dan merawat saja ilmu rasm tersebut, dengan merujuk pada referensi riwayat mushaf yang sudah beredar resmi sekarang."

Untuk mempermudah hafalan umat, Gus Baha sendiri telah menyusun sebuah kitab ringkasan rasm yang sangat bernyawa dan menjadi pegangan wajib saya, yaitu Kitab Hifdzuna Lihadzal Mushaf.

BACA JUGA: Mengenal Standar Penulisan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Indonesia

Kesimpulan

Keunikan Rasm Usmani adalah mukjizat sastra dan hukum tertinggi yang menjaga Al-Quran dari intervensi manusia. Melalui ketiadaan titik dan harakat di masa awal, ia justru berhasil mengunci keaslian ragam qiraat mutawatir agar tidak melenceng dari sanad jalur nabi.

Referensi Utama Audit Konten:
Dr. Sya’ban Muhammad Ismail, Rasmul Mushaf wa Dhabtuhu baina at-tauqif wal istilahati al-haditsah, hlm. 21-34.

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment