Upaya Menjaga Mushaf Kitab Karya Gus Baha "Hifdzuna Li Hadza al-Mushaf"

Daftar Isi

Review Kitab Hifdzhuna Lihadzal Mushaf Karya Gus Baha: Menjaga Otentisitas Al-Qur'an Lewat Rasm Usmani

Membicarakan KH. Ahmad Baha'uddin Nur Salim atau yang akrab kita sapa Gus Baha, ingatan kita pasti langsung tertuju pada pengajian tafsir yang lugas, mendalam, dan terkadang diselingi humor segar khas santri. Namun, di luar ceramah virtualnya yang berseliweran di media sosial, beliau adalah seorang pakar rasm yang sangat diakui otoritas keilmuannya.

Salah satu masterpice tulisan beliau yang merekam kuat kecerdasan itu adalah sebuah kitab bertema Rasm Usmani. Saya beruntung mendapatkan kitab fisik ini secara langsung ketika ikut mengaji bersama beliau di Bedukan, Wonokromo, Bantul, belasan tahun silam. Seingat saya, waktu itu beliau baru saja pulang dari tanah suci dan membagikan beberapa kitab ini kepada para jemaah. Harganya saat itu sangat murah, cukup menebusnya dengan 20.000 rupiah saja. Harga yang sangat bersahabat bagi kantong santri.

Biasanya, ngaji sore di Bedukan mengkaji Kitab Hikam. Namun, khusus pada momentum tersebut, Gus Baha mengajak jemaah untuk beralih mengupas tuntas isi kitab karyanya ini. Sebuah kitab berharga yang setahu saya hingga tahun 2026 ini memang sengaja tidak dirilis dalam format PDF oleh penerbitnya demi menjaga hak cipta dan otentisitas literatur fisik.

Identitas Buku Fisik:
Judul: حفظنا لهذا المصحف (Hifdzhuna Lihadzal Mushaf)
Penulis: Ahmad Bahauddin bin Nur Salim
Penerbit: UII-Press, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 96 halaman
حفظنا لهذا المصحف لبهاء الدين بن نور سالم

Memahami Karakteristik Rasm Usmani Melalui Kitab Ringkasan

Buku tentang penjelasan rasm usmani ini dilengkapi contoh dan ulasan detail yang disadur dari kitab induk al-Muqni’ karya Abu ‘Amr Usman bin Sa’id ad-Dani (w. 444 H). Ini adalah sebuah kitab ringkasan yang merekam kuat kecakapan metodologi ilmiah karya Gus Baha.

Buku tipis yang ditulis oleh KH. Ahmad Baha’uddin bin Nur Salim dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi untuk mengetahui bagaimana memahami karakteristik penulisan al-Qur’an di dalam mushaf rasm usmani. Dan aspek kelangkaan literatur inilah yang mendasari alasan saya menulis resensi ini kembali, semoga bisa memberikan manfaat segar bagi para pembaca blog.

Realitas hari ini bisa kita cross-check bersama di lapangan, bahwa banyak sekali para penghafal al-Qur’an namun tidak memiliki kemampuan yang mendalam di dalam gramatika bahasa Arab. Sebaliknya, banyak pula akademisi yang mempunyai pemahaman gramatika bahasa Arab yang luar biasa, namun belum diberikan keutamaan untuk hafal al-Qur’an.

Belum lagi jika kita melihat para mahasiswa yang mengambil studi al-Qur’an dan Hadits, baik dari strata satu, magister, bahkan doktoral. Tidak semua dari mereka hafal al-Qur’an, begitu pula dengan sebagian pengajar di lembaga formal. Hal ini menunjukkan bahwa figur yang mempunyai “dua pedang” sekaligus (baca: hafal kalamullah sekaligus menguasai mutlak ilmu gramatika Arab) jumlahnya sangat sedikit di era modern.

Gus Baha adalah salah satu dari sedikit ulama yang kokoh menggenggam kedua pedang tersebut. Di dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa sebenarnya rasm usmani merupakan warisan sakral para sahabat yang harus dijaga. Cara menjaganya tidak hanya dengan menghafalkan teks lisan, tetapi juga diamati dengan teliti bagaimana tata cara penulisan anatomi hurufnya di lembaran mushaf.

Sebab, mushaf usmani ini sama sekali tidak ditulis dengan metode imla’ konvensional yang kaidahnya seragam. Hal inilah yang mendasari argumen kuat Gus Baha bahwa bahasa agama itu berpijak pada riwayat (sama'i), tidak semata-mata tunduk pada kaidah logika buatan manusia (kiyasi). Oleh karenanya, banyak sekali struktur penulisan atau lafadz-lafadz yang secara kaidah i'lal dianggap benar, namun ketika tidak sesuai dengan riwayat bahasa Arab secara sama'i, maka bentuk tersebut tidak bisa dianalogikan atau dikiyaskan.

Ragam Contoh Perbedaan Qiraat dalam Penulisan Mushaf

Misalnya di dalam penulisan lafadz مالك (huruf mim ditulis panjang dengan alif di antara mim dan lam) – ini menurut qira’at ‘Ashim riwayat dari Hafs – penulisan seperti ini benar secara ucapan sehari-hari. Namun, ternyata penulisan struktural seperti itu tidak dipakai di dalam rasm usmani asli. Di dalam rasm usmani, kata tersebut ditulis ringkas menjadi ملك (mimnya dibaca pendek tanpa alif, guna mengakomodir jalannya qiraat milik Imam Qalun).

Begitu pula dalam kasus penulisan lafadz سُكارى yang umumnya ditulis mengikuti wazan فُعالى. Di dalam rasm usmani, kata tersebut ditulis unik menjadi سَكْرى. Mengapa dipertahankan? Karena teks tersebut sengaja didesain untuk mengakomodir qiraat milik Imam Hamzah dan Imam Kisa'i yang membacanya dengan mengikuti wazan فَعْلى.

Dari kedua contoh di atas mengenai perbedaan qiraat dan tata penulisan rasm usmani, kita bisa menarik sebuah kesimpulan penting bahwa ilmu sejarah ini sangat urgen untuk diketahui oleh segenap pecinta al-Qur’an. Faktanya, mushaf cetakan lama di Indonesia banyak yang cenderung menggunakan pendekatan rasm imla' (mushaf standar lokal) daripada standar rasm usmani murni Timur Tengah.

Meskipun pendekatan cetakan lokal tersebut tidak dilarang dan tetap sah digunakan untuk mengaji, mempelajari esensi rasm usmani akan menghindarkan kita dari rasa bingung atau gampang menyalahkan bacaan orang lain ketika mendapati perbedaan penulisan yang asing saat membaca mushaf terbitan negara lain.

Keistimewaan Struktur Tabel Komparatif Gus Baha

Salah satu keistimewaan mutlak dari kitab karya Gus Baha ini yakni dilengkapi dengan tabel-tabel komparatif yang menjelaskan perbandingan tulisan asli rasm usmani dan gaya penulisan kontemporer (imla'). Pendekatan visual ini sangat membantu, sehingga pembaca tidak perlu menghabiskan waktu lama membaca detail ulasan teori yang rumit. Cukup dengan memperhatikan tabel saja, pembaca bisa langsung mengidentifikasi perbedaan anatomi huruf yang ada di dalam beberapa versi mushaf secara instan.

Langkah taktis yang dilakukan Gus Baha melalui penerbitan kitab ini merupakan bagian nyata dari khidmah beliau untuk menjaga kesucian al-Qur’an dari dua sisi secara seimbang: penjagaan dada lewat hafalan, dan penjagaan tulisan lewat rasm. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu melimpahkan kesehatan, rahmat, serta berkah umur panjang kepada guru kita semua, Gus Baha.

Mengingat kitab karya Gus Baha ini tidak dicetak dalam bentuk file PDF digital, Anda bisa melengkapi sanad keilmuan lisan beliau secara gratis. Silakan unduh dan dengarkan koleksi rekaman ngaji Gus Baha bisa di sini untuk memperluas khazanah keilmuan kita. Atau Anda juga bisa mengunduh kitab tentang rasm yaitu al-muyassar fi ilmir rasm karya Ghanim Qadduri.

5 komentar

romadhanilham.blogspot.com
20 Maret 2022 pukul 18.56 Hapus
Membeli kotab ini dimana ya
Anonim
Anonim
30 April 2022 pukul 23.48 Hapus
Maaf kitab ini tidak diperjualbelikan, dulu saya dapat ketika ngaji di Bantul ketika Gus Baha pulang dari Haji.
NaZulfa
29 Juli 2025 pukul 11.10 Hapus
Sayang sekali tidak diperjualbelikan. Padahal pengen banget baca kitabnya :(
NaZulfa
29 Juli 2025 pukul 11.11 Hapus
pengen beli kitabnya
Qowim Musthofa
16 Agustus 2025 pukul 20.01 Hapus
Tidak diperjualbelikan. Itu kitab ijazahan ketika ngaji di Bantul