Terjemahan Lengkap Matan Al-Baiquniyyah, Profil Penulis & Daftar Kitab Syarahnya

Table of Contents

Di tulisan sebelumnya saya menceritakan tentang Nazam Baiquni yang berjudul Mengapa kitab hadis yang sederhana bisa menjadi penolong (saya)? Pada tulisan itu saya menceritakan bahwa ilmu mustalah hadis yang pertama saya pelajari adalah menggunakan nazam baiquni ini, kendati hanya 34 bait, rasanya sudah cukup sebagai pemantik dan pemahaman tentang ilmu hadis.

Oleh karena itu sebagai wujud tanggung jawab moral, saya menerjemahkan secara sederhana tentang nazaman ini. Harapannya sih bisa menjadi rujukan dasar di dunia internet. Ya, semoga saja.

Profil Ringkas Penulis Nazam Baiquni

Banyak sekali sumber yang bisa dibaca tentang profil penulis nazam Baiquni ini, saya ambil dari Markassunnah yang ditulis oleh Maulana Eda.

  • Nama Pengarang: Terjadi perbedaan pendapat. Mayoritas (seperti al-Ujhuriy dan al-Kattaniy) menyebut Umar bin Muhammad bin Futuh al-Baiquniy, sementara sebagian lain (seperti al-Zirikliy dan Umar Kahhalah) menyebut Thaha bin Muhammad bin Futuh al-Baiquniy.
  • Asal dan Mazhab: Beliau merupakan ahli hadis abad ke-11 H yang bermazhab Syafii. Nisbah "al-Baiquniy" merujuk pada daerah Baiqun di Azerbaijan, namun beliau diperkirakan hidup dan tinggal di Damaskus.
  • Masa Hidup: Tahun kelahirannya tidak diketahui pasti. Terkait tahun wafatnya, al-Zirikliy menyebutkan sekitar tahun 1080 H, sedangkan Umar Ridha Kahhalah mencatat bahwa ia masih hidup sebelum tahun 1080 H.

Matan Baiquni dan Terjemahannya

  1. أَبْدَأُ بِالحَمْدِ مُصَلِّيًا عَلَى # مُحَمَّدٍ خَيْرِ نَبِيٍّ أُرْسِلَا Saya memulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad, sebaik-baik nabi yang diutus.
  2. وَ ذِي مِنَ اقْسَامِ الحَدِيثِ عِدَّه # وَكُلُّ وَاحِدٍ أَتَى وَحَدَه Dan ini adalah pembagian ilmu hadis yang cukup banyak, dan setiap bagiannya datang dengan definisinya sendiri.
  3. أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُوَ مَا اتَّصَلْ # إِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذَّ أَوْ يُعَلْ Bagian pertama adalah hadis Shahih, yaitu hadis yang bersambung sanadnya, tidak syadz (janggal), dan tidak mu'allal (memiliki 'illat atau cacat tersembunyi).
  4. يَرْوِيهِ عَدْلٌ ضَابِطَ عَنْ مِثْلِهِ # مُعْتَمَدُ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِهِ Diriwayatkan oleh perawi yang 'adl (adil/jujur) dan dhabith (kuat hafalannya) dari orang yang semisal dengannya, yang dapat dipercaya dalam kekuatan hafalan dan periwayatannya.
  5. وَالحَسَنُ المَعْرُوفُ طُرْقًا وَغَدَتْ # رِجَالُهُ لَا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ Dan hadis Hasan adalah yang jalan periwayatannya diketahui, namun perawi-perawinya tidak setenar perawi hadis Shahih.
  6. وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الْحُسْنِ قَصُرْ # فَهْوَ الضَّعِيفُ وَهُوَ أَقْسَامًا كُثُرْ Dan setiap hadis yang derajatnya di bawah derajat Hasan, maka ia adalah Dha'if (lemah), dan ia memiliki pembagian yang banyak.
  7. وَمَا أُضِيفَ لِلنَّبِيِّ المَرْفُوعُ # وَمَا لِتَابِعِ هُوَ المَقْطُوعُ Hadis yang disandarkan kepada Nabi disebut Marfu', dan yang disandarkan kepada Tabi'in disebut Maqthu'.
  8. وَالمُسْنَدُ المُتَّصِلُ الإِسْنَادِ مِنْ # رَاوِيهِ حَتَّى الْمُصْطَفَى وَلَمْ يَبِنْ Hadis Musnad adalah yang sanadnya bersambung dari perawinya sampai kepada Nabi SAW tanpa ada perawi yang terputus.
  9. وَمَا بِسَمْعِ كُلِّ رَاوٍ يَتَّصِلْ # إِسْنَادُهُ لِلْمُصْطَفَى فَالْمُتَّصِلْ Dan apa yang bersambung sanadnya melalui pendengaran setiap perawi sampai kepada Nabi SAW, maka itu disebut Muttashil.
  10. مُسَلْسَلُ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى # مِثْلُ أَمَا وَاللَّهِ أَنْبَانِي الفَتَى Katakanlah Musalsal untuk hadis yang datang dengan sifat tertentu, seperti ucapan: "Demi Allah, si Fulan telah mengabarkan kepadaku."
  11. كَذَاكَ قَدْ حَدَّثَنِيهِ قَائِمًا # أَوْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَنِي تَبَسَّمَا Begitu pula seperti periwayatan yang disertai: "Ia menceritakan kepadaku sambil berdiri," atau "Setelah ia menceritakan kepadaku, ia tersenyum."
  12. عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثَهُ # مَشْهُورُ مَرْوِي فَوْقَ مَا ثَلَاثَهُ Aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua atau tiga perawi. Masyhur adalah hadis yang diriwayatkan lebih dari tiga perawi.
  13. مُعَنْعَنْ كَعَنْ سَعِيدٍ عَنْ كَرَمْ # وَمُبْهَمُ مَا فِيهِ رَاوِ لَمْ يُسَمْ Mu'an'an adalah seperti periwayatan "dari Sa'id, dari Karam". Dan Mubham adalah hadis yang di dalamnya terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya.
  14. وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلَا # وَضِدُّهُ ذَاكَ الَّذِي قَدْ نَزَلَا Setiap hadis yang sedikit jumlah perawinya maka ia 'Ali (tinggi derajatnya). Dan lawan dari itu adalah yang Nazala.
  15. وَمَا أَضَفْتَهُ إِلَى الأَصْحَابِ مِنْ # قَوْلٍ وَفِعْلٍ فَهْوَ مَوْقُوفٌ زُكِنْ Sesuatu yang engkau sandarkan kepada para sahabat, baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka itu dikenal dengan Mauquf.
  16. وَمُرْسَلٌ مِنْهُ الصَّحَابِيُّ سَقَط # وَقُلْ غَرِيبٌ مَا رَوَى رَاوِ فَقَدْ Mursal adalah hadis yang sahabatnya terputus. Dan katakanlah Gharib untuk hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu perawi saja.
  17. وَكُلُّ مَا لَمْ يَتَّصِلْ بِحَالِ # إِسْنَادُهُ مُنْقَطِعُ الأَوْصَالِ Dan setiap hadis yang sanadnya tidak bersambung sama sekali, maka ia adalah Munqathi'.
  18. وَالمُعْضَلُ السَّاقِطُ مِنْهُ اثْنَانِ # وَمَا أَتَى مُدَلَّا نَوْعَانِ Mu'dhal adalah yang gugur dua perawi atau lebih darinya. Dan hadis yang datang secara Mudallas itu ada dua jenis.
  19. الأَوَّلُ الإِسْقَاطُ لِلشَّيْخِ وَأَنْ # يَنْقُلَ عَمَّنْ فَوْقَهُ بَعَنْ وَأَنْ Jenis pertama adalah menggugurkan guru (syaikh) dan meriwayatkan dari orang di atasnya dengan lafaz "an" atau "anna".
  20. وَالثَّانِي لَا يُسْقِطُهُ لَكِنْ يَصِفْ # أَوْصَافَهُ بِمَا لَا يَنْعَرِفْ Dan jenis kedua adalah tidak menggugurkannya, akan tetapi ia menyifati gurunya dengan sifat yang tidak dikenal.
  21. وَمَا يُخَالِفُ ثِقَةً فِيهِ المَلَا # فَالشَّاذُ وَالمَقْلُوبُ قِسْمَانِ تَلَا Hadis yang perawinya menyelisihi perawi Tsiqah dalam periwayatannya, maka ia adalah Syadz. Dan Maqlub terbagi menjadi dua bagian selanjutnya.
  22. إِبْدَالُ رَاوِ مَا بِرَاوِ قِسْمُ # وَقَلْبُ إِسْنَادٍ لِمَتْنِ قِسْمُ Pertama menukar nama seorang perawi dengan perawi lain. Kedua menukar sanad untuk matan yang lain.
  23. وَالفَرْدُ مَا قَيَّدْتَهُ بِثِقَةِ # أَوْ جَمْعِ اوْ قَصْرٍ عَلَى رِوَايَةِ Fard adalah apa yang engkau batasi dengan keadaan perawi yang Tsiqah, atau jumlah sekelompok orang, atau membatasinya pada satu riwayat saja.
  24. وَمَا بِعِلَّةٍ غُمُوضٍ أَوْ خَفَا # مُعَلَّلٌ عِنْدَهُمْ قَدْ عُرِفَا Hadis yang mengandung 'Illat yang samar atau tersembunyi, maka menurut para ulama ia dikenal dengan Mu'allal.
  25. وَذُو اخْتِلَافِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنِ # مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ الفَنِّ Hadis yang sanad atau matannya berselisih, disebut Mudhtharib menurut para ahli di bidang ini.
  26. وَالمُدْرَجَاتُ فِي الحَدِثِ مَا أَتَتْ # مِنْ بَعْضٍ أَلْفَاظِ الرُّوَاةِ اتَّصَلَتْ Mudrajat dalam hadis adalah tambahan yang datang dari sebagian lafaz para perawi yang bersambung dengan matan hadis.
  27. وَمَا رَوَى كُلُّ قَرِينٍ عَنْ أَخِهْ # مُدَبَّجٌ فَاعْرِفْهُ حَقًّا وَانْتَخِهْ Hadis yang diriwayatkan oleh setiap Qarin dari saudaranya, maka ia Mudabbaj, ketahuilah hal ini dengan benar dan telitilah.
  28. مُتَّفِقُ لَفْظًا وَخَطَّا مُتَّفِقْ # وَضِدُّهُ فِيمَا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقُ Muttafiq adalah yang sepakat lafaz dan tulisannya. Lawannya dari apa yang telah kami sebutkan adalah Muftariq
  29. مُؤْتَلِفٌ مُتَّفِقُ الخَطَّ فَقَط # وَضِدُّهُ مُخْتَلِفٌ فَاخْشَ الغَلَط Mu'talif adalah yang sepakat tulisannya saja. Lawannya adalah Mukhtalif, maka waspadalah terhadap kesalahan.
  30. وَ المُنْكَرُ الفَرْدُ بِهِ رَاوِ غَدًا # تَعْدِيلُهُ لَا يَحْمِلُ التَّفَرُّدَا Munkar adalah hadis Fard yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang ta'dil-nya tidak cukup kuat untuk menyendiri dalam riwayat.
  31. مَتْرُوكُهُ مَا وَاحِدٌ بِهِ انْفَرَدْ # وَأَجْمَعُوا لِضَعْفِهِ فَهُوَ يُرَدْ Matruk adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu perawi saja, sementara para ulama telah sepakat akan kelemahannya, maka ia ditolak.
  32. وَالكَذِبُ المُخْتَلَقُ المَصْنُوعُ # عَلَى النَّبِيِّ فَذَلِكَ المَوْضُوعُ Dan dusta yang dibuat-buat dan direkayasa atas nama Nabi SAW, maka itu disebut Maudhu'.
  33. وَقَدْ أَتَتْ كَالجَوْهَرِ المَكْنُون # سَمَّيْتُهَا مَنْضُومَةَ البَيْقُونِي Dan telah datang nazam ini seperti permata yang tersimpan, saya menamakannya Manzhumah al-Baiquniyyah.
  34. فَوْقَ الثَّلَاثِينَ بِأَرْبَعٍ أَتَتْ # أَبْيَاتُهَا ثُمَّ بِخَيْرٍ خُتِمَتْ Bait-baitnya berjumlah tiga puluh empat bait, kemudian ditutup dengan kebaikan.
Jika Anda menemukan kesalahan baik dari arti, tulisan maupun harakat, silakan cantumkan di kolom komentar.

Syarah dari Nazam Baiquni

Meskipun tipis dan hanya 34 bait saja. Namun yang mensyarahi banyak sekali. Saya menemukan penulis yang memberikan daftar syarah dari nazam ini berjumlah 78 syarah. Ini membuat saya kagum sebenarnya, karya setipis itu tapi berkahnya luar biasa hingga banyak orang yang ingin memberikan syarah, 

Berikut ini adalah kitab-kitab kumpulan syarah nazam Baiquni yang dikumpulkan oleh Blogger Malaysia bernama Muhammad Zulhusni.

  1. Aham al-Masail al-Jaliyyah Fi Syarh al-Baiquniyyah, sebuah karya dari Abu Abdul Rahman al-Falazuni yang dipublikasikan secara daring.
  2. Ahsan al-Hadith, disusun oleh Syeikh Abdul Rahman al-Mahlawi yang memuat ringkasan sekaligus penjelasan dari bait Al-Baiquniyyah.
  3. Al-‘Urjun Fi Syarh al-Baiqun, buah pena Siddiq Hasan Khan (wafat 1307 H) yang termuat dalam pengantar kitab Tuhfah al-Ahwazi oleh al-Mubarakfuri.
  4. Al-Amali al-Fajriyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, ulasan dari Hamzah bin Fayi’ al-Fathi yang tersedia secara daring.
  5. Al-Amali al-Makkiyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, dokumentasi dari kajian lisan Sulaiman bin Nasir al-Ulwan yang disebarluaskan lewat internet.
  6. Al-As’ilah al-Saniyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, penjelasan interaktif berbasis tanya jawab oleh Ummu al-Laith yang dapat diakses di internet.
  7. Al-Bahjah al-Wadhiyyah Syarh Matan al-Baiquniyyah, karya klasik Mahmud Nasyabah (wafat 1308 H) yang dicetak pada tahun 1328 H.
  8. Al-Bakurah al-Janiyyah Min Qithaf Matan al-Baiquniyyah, karangan Syeikh Muhammad Amin bin Abdullah al-Athyubi (wafat 1441 H), diterbitkan oleh Mathabi’ al-Safa di Makkah.
  9. Al-Basth al-Mustadir Fi Syarh al-Baiquniyyah, uraian dari Abdul Karim al-Khudair yang diterbitkan pertama kali oleh Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah tahun 2011.
  10. Al-Durar al-Bahiyyah Fi Syarah Manzumah al-Baiquniyyah, karya tokoh besar Badruddin al-Hasani (wafat 1354 H), diterbitkan oleh Dar al-Basha’ir, Kairo tahun 2016.
  11. Al-Durar al-Naqiyyah Fi Syarah al-Manzumah al-Baiquniyyah, penjelasan oleh Turki bin Misfir bin Hadi al-‘Abdini yang beredar secara daring.
  12. Al-Durr al-Jani Dari Manzumah al-Baiquni, ulasan ringkas oleh Abu ‘Adi Zakir Mahasini yang disebarkan lewat internet.
  13. Al-I’tiradh al-Fadhiyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, karya Dhiya’ Muhammad Mahmud Jasim al-Mashhadani yang dipublikasikan secara digital.
  14. Al-Jawahir Al-Sulaimaniyyah Syarh Al-Manzumah Al-Baiquniyyah, karangan Abu al-Hasan Mustafa bin Isma’il al-Sulaimani al-Ma’rabi, dicetak oleh Dar al-Kayan, Riyadh tahun 2005.
  15. Al-Ghurar al-Bahiyyah Syarh al-Baiquniyyah, karya Muhammad bin Ahmad Amwah yang diterbitkan di Yaman oleh Dar Abu Hanifah tahun 2017.
  16. Al-Kawakib al-Durriyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, ulasan yang disusun oleh Sulaiman bin Khalid al-Harbi.
  17. Al-Kawakib al-Nuraniyyah ‘ala al-Baiquniyyah, ulasan bermutu dari ulama bermazhab Syafi'i, Abdullah bin Ali bin Abdul Rahman al-Azbaki al-Misri (wafat 1234 H).
  18. Al-Luma’ al-Bahiyyah Bi Syarh al-Baiquniyyah, tulisan Abu Muhammad al-Alfi yang dapat ditemukan di internet.
  19. Al-Minan al-‘Aliyyah Fi Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, penjelasan dari Abu al-Hasan Ali bin Mukhtar al-Ramli yang dibagikan secara bebas di internet.
  20. Al-Minhah al-Rabbaniyyah Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, karangan Muhammad bin Muhammad Siraj bin Muhammad Sa’id al-Jabarti al-Aani, dipublikasikan oleh Dar al-Masyari’, Beirut tahun 2014.
  21. Al-Nafahat al-Madaniyyah Syarah al-Manzumah al-Baiquniyyah, ulasan Hisyam al-Kamil yang dicetak oleh Dar al-Manar, Kairo tahun 2015.
  22. Al-Nafhah al-Juniyyah 'ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, disusun oleh Ya’qub bin Mathar bin Daghis al-Mursyidi al-‘Atibi, diterbitkan oleh Dar al-Asbah tahun 2019.
  23. Al-Nafhah al-Zakiyyah Fi Syarh Manzumah al-Baiquniyyah, ditulis pada tahun 1424 H oleh Muhammad bin Ahmad Amwah dan beredar secara daring.
  24. Al-Nukhbah al-Nabhaniyyah Bi Syarah al-Manzumah al-Baiquniyyah, karya ulama bermazhab Maliki, Muhammad bin Khalifah al-Nabhani (wafat 1369 H), dicetak di Mesir oleh Mathba’ah al-Taqaddum tahun 1345 M.
  25. Al-Qala’id al-Anbariyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, karya Uthman bin al-Makki al-Tauzi al-Zabidi (wafat pasca 1330 H), ditahqiq oleh Ali bin Hasan al-Halabi dan dicetak Dar Ibn ‘Affan tahun 1997.
  26. Al-Qatharat al-Sakhiyyah Fi Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, anotasi karangan Abu al-Qasim al-Maqdisi yang didistribusikan lewat internet.
  27. Al-Sahl al-Musahhal Fi Mustholah al-Hadith ‘ala al-Baiquniyyah, panduan ringkas oleh Syeikh Saifurrahman Ahmad, diterbitkan di India oleh Dar al-Da’wah pada cetakan ketiga tahun 1980.
  28. Al-Samsuniyyah Fi Syarh al-Baiquniyyah, ulasan dari Abu ‘Abdillah Laith al-Hayali yang tersebar luas di dunia maya.
  29. Al-Syarah al-Muyassar Lil Manzumah al-Baiquniyyah, sebuah penjelasan ringkas dan praktis tanpa nama penulis yang beredar di internet.
  30. Al-Ta’liqat al-Athariyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, catatan penting oleh Syeikh Ali bin Hasan al-Halabi, diterbitkan oleh Dar Ibnu al-Jauzi, Arab Saudi pada 1428 H.
  31. Al-Ta’liqat al-Radhiyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, anotasi ilmiah dari Abdullah bin Abdul Rahim al-Bukhari yang diterbitkan Dar al-Istiqamah di Mesir tahun 2008.
  32. Al-Ta’rifat al-Nadiyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, penjelasan istilah dari Hamid Soleh al-Mirri yang tersedia secara daring.
  33. Al-Ta'liq al-Mukhtasar 'ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, ulasan padat oleh Bundar bin Nafi' al-'Abdali yang disebarluaskan secara daring.
  34. Al-Ta'liqat al-'Umriyyah 'Ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, disusun oleh Umar Balkahalah dan diterbitkan di Aljazair oleh Dar Thalithalah pada 2012.
  35. Al-Taqalid al-Dasuqiyyah al-Bayumiyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, karya Bayumi bin Farraj bin Mustafa al-Sayuthi (wafat 1293 H) yang dikumpulkan muridnya, Muhammad al-Maraghi. Manuskrip aslinya tersimpan di Dar al-Kutub al-Misriyyah.
  36. Al-Taqrirat al-Saniyyah Fi Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, penjelasan populer karya Hasan bin Muhammad al-Masyath (wafat 1399 H), dicetak di Jeddah tahun 1392 H dan memiliki beberapa edisi cetak.
  37. Al-Taudhihat al-Basithah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, ulasan ringkas setebal 50 halaman oleh Sa’ad bin Umar al-Futi al-Tijani, diterbitkan oleh Dar al-Tijani di Tunisia pada 1400 H.
  38. Al-Thamarat al-Janiyyah Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, buah karya Abdullah bin Abdul Rahman al-Jibrin, dicetak di Riyadh oleh Dar al-Asimah pada 1417 H.
  39. Al-Tuhfah al-Aiquniyyah Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, buah pikiran Ahmad Walad al-Kuri al-Syanqithi yang dapat diunduh di internet.
  40. Al-Tuhfah al-Wafiyyah Bi Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, karangan Usamah Ibrahim Muhammad Muhammad, diterbitkan oleh Maktabah al-Iman di Mesir tahun 2016.
  41. Al-Tuhfah al-Zainiyyah Fi Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, penjelasan klasik dari ulama bermazhab Syafi'i, Zain bin Ahmad al-Marshafi al-Azhari (wafat 1300 H).
  42. Al-Zahrah al-Samiyyah, ulasan berharga yang ditulis oleh Syeikh Khalid al-Jazmati (wafat setelah tahun 1315 H).
  43. Athib al-Manh Fi Syarah Manzumah al-Baiquniyyah Fi al-Mustholah, ulasan metodologi hadis oleh Majdi ‘Arafat al-Misri yang mencapai cetakan kedua pada 1426 H.
  44. Bulugh al-Umniyyah Fi Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, penjelasan yang disusun oleh ulama asal Indonesia, Luqman al-Hakim al-Indonesi al-Azhari, terbitan Dar al-Basha’ir Mesir tahun 2017.
  45. Fath al-Qadir al-Mughith Fi Syarh Manzumah al-Baiquni, ulasan lawas dari Syeikh Abdul Qadir bin Jalaluddin al-Mahalli yang hidup pada pertengahan abad ke-11 Hijriah (sekitar 1065 H).
  46. Hashiyyah ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, catatan pinggir karangan Mustafa bin Ali al-Baltani (hidup sekitar 1249 H) yang manuskripnya tersimpan di Kuwait.
  47. Hawasy ‘ala al-Manzumah al-Baiquniyyah, kumpulan catatan kaki oleh Abdul Rahman bin Sulaiman al-Ahdal (wafat 1250 H), naskah fisiknya berada di Universitas Muhammad bin Sa’ud.
  48. Imta’ al-Asma’ Bi Syarh Ma Nazama al-Baiquni Min al-Anwa’, penjelasan komprehensif oleh Abu Abdillah Muhammad ‘Isa Haj yang diselesaikan pada tahun 1414 H.
  49. Kasyf al-Zunun wa al-Dur al-Masun Bi Syarh Matan al-Baiqun, anotasi ulasan yang ditulis oleh Mustafa bin Mula Muhammad al-Kurdi.
  50. Lathaif Manh al-Mughith Fi Mutholah al-Baiquni Fi al-Hadith, karya dari ulama abad ke-13 H, Muhammad Uthman bin Muhammad al-Makki al-Mirghani (wafat 1268 H).
  51. Maniyyah al-Ruh Syarh al-Baiquniyyah Li Ibn Futuh, karya dari Ali Muhammad Salman Muhaimid Aali Askar al-‘Abidi yang dapat diakses secara digital.
  52. Mukhtasar Syarh Manzumah al-Baiquniyyah, rangkuman ulasan oleh Muhammad Hasan Nuruddin Isma’il yang dipublikasikan via daring.
  53. Shaql al-Afham al-Jaliyyah Bi Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, disusun oleh Mustafa bin Muhammad bin Salaman, dipublikasikan oleh lembaga kebudayaan Mesir pada cetakan pertama tahun 1412 H.
  54. Sofwah al-Mulah Bi Syarh Manzumah al-Baiquni Fi Fann al-Mustholah, buah pena Ibnu al-Mayyit atau Muhammad al-Budairi al-Dimyathi (wafat 1149 H), diterbitkan oleh Dar al-Nawadir tahun 2007.
  55. Syarah karya Abu al-Harith Muhammad bin Ibrahim al-Kharraj al-Salafi al-Jazairi yang disebarluaskan di internet.
  56. Syarah keilmuan hadis karangan Hasan bin Ghali al-Azhari al-Maliki al-Jadawi al-Misri (wafat 1202 H).
  57. Syarah atas kitab Al-Baiquniyyah yang ditulis oleh ulama bernama Abdul Ghani bin Muhammad al-Burhani (wafat 1151 H).
  58. Syarah dari ahli fikih Syafi'i terkemuka, Syeikh Muhammad Jad al-Maula atau dikenal juga dengan nama Syeikh Muhammad Ma’dan (wafat 1228 H).
  59. Syarah al-Manzumah al-Baiquniyyah Fi Mustholah al-Hadith, buku setebal 218 halaman karangan Abdullah Sirajuddin (wafat 1422 H) yang selesai ditulis pada 1372 H dan diterbitkan Dar al-Falah.
  60. Syarah al-Manzumah al-Baiquniyyah, ulasan setebal 88 halaman oleh ulama terkemuka Muhammad Soleh al-Uthaimin, diterbitkan Maktabah al-Rusyd di Riyadh pada 1415 H.
  61. Syarah dari Mahir Yasin al-Fahl yang diadopsi menjadi kurikulum wajib sekolah agama di Irak sejak tahun 1996.
  62. Syarah tulisan Ali Umar al-Zaila'i yang dihimpun oleh muridnya, Abdul Rahman Thabit, dan disebarkan secara digital.
  63. Syarah karangan Abdullah al-Talidi yang bentuk manuskripnya dicatat oleh Hussein al-Asybuki dalam biografi sang penulis.
  64. Syarah yang disusun oleh ulama bernama Syeikh Ahmad al-Tirmanini.
  65. Syarah buah pikiran dari Ali bin Muhammad bin Amir al-Nijari (wafat 1351 H).
  66. Syarah kontemporer karangan mantan mufti Mesir, Hasanain Muhammad Makhluf (wafat 1410 H).
  67. Syarah otoritatif karya Muhammad bin Abdul Baqi al-Zurqani (wafat 1122 H), yang kemudian diberi catatan tambahan (hashiyyah) oleh Athiyyah al-Ajhuri (wafat 1190 H).
  68. Syarah klasik yang digubah oleh Muhammad Zaitunah al-Tunisi (wafat 1138 H).
  69. Syarah ringkas dari Soleh al-Asmari yang dokumen elektroniknya tersebar di internet.
  70. Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah Fi Mustholah Ahl al-Hadith Wa al-Athar..., ulasan metodologi hadis berbasis perbandingan ulama klasik dan kontemporer karya Sulthan bin Fahd al-Jurdan yang beredar daring.
  71. Syarh Al-Manzumah Al-Baiquniyyah, ulasan dari Thariq 'Awadhallah yang diterbitkan oleh Dar al-Mughni pada tahun 2009.
  72. Syarh al-Manzumah al-Baiquniyyah, buku penjelasan karya Yusuf bin Judah Yasin al-Dawudi, terbitan Dar al-Andalus tahun 2015.
  73. Syarah kritis atas nazam Al-Baiquniyyah oleh Abdul Aziz al-Tharifi yang teksnya beredar luas di internet.
  74. Talqih al-Fikar Bi Syarh Manzumah al-Athar, ulasan bermazhab Hanafi dari Ahmad bin Muhammad al-Husaini al-Hamawi (wafat 1098 H), diterbitkan oleh Dar al-Minhaj, Jeddah tahun 2009 H.
  75. Tanwir al-Af’idah al-Zakiyyah, ulasan berskala besar karya Ali bin Hasan al-Halabi yang kedalamannya melebihi kitab al-Ta’liqat al-Athariyyah miliknya sendiri.
  76. Thiraz al-Baiquniyyah, karya unik Mahmud Ahmad Umar al-Nasywi al-Azhari yang menyisipkan 7 bait tambahan sebelum diulas ringkas. Diterbitkan Dar Ibn ‘Affan tahun 1997 dan ditahqiq Ali al-Halabi.
  77. Tuhfah al-Ahbab Lil Mustarsyidin Min al-Thullab, buku panduan bagi pelajar hadis karya Daud al-Tikriti yang hidup pada kisaran tahun 1316 Hijrah.

Karya sebanyak itu hanya dalam bahasa Arab, belum lagi yang berbahasa lain seperti Indonesia, Malyasia dan mungkin bahasa Inggris. Saya kira ini definisi berkah yang sebenarnya. Meskipun penulisnya simpang siur siapa sebenarnya, namun keberkahan dan jariyah kebaikannya ini menjadi pahala yang terus mengalir.

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment