Batasan Birrul Walidain Menghadapi Toxic Parents: Apakah Ada Orang Tua Durhaka?
![]() |
| Bermain bola (dok. Pribadi 2025) |
Setiap hari Senin malam saya dapat jadwal ngaji bersama santri tingkat tsanawiyah di komplek Nurul Huda Pondok Pesantren An Nur. Tahun ini saya membaca Lubabul Hadis karya Imam Suyuthi
Sejujurnya membaca kumpulan hadis tersebut membuat saya merasa lelah sebab banyak sekali hadis yang daif, bahkan maudlu'. Tapi, karena itu saya jadi belajar. Apalagi dua tahun yang lalu saya menggunakan kitab tersebut untuk mata kuliah Praktik Syarah Hadis.
Tapi tak apalah, ini sekaligus saya juga sambil belajar sabar mendeteksi hadis.
Bab yang saya baca tentang keutamaan birrul walidain, ini tema yang sangat cocok dengan audiens bahwa sebagai anak harus berbuat baik kepada orang tua. Namun, ketika baca-baca saya jadi bertanya, "apa sih tolok ukur orang tua yang wajib dihormati dan diperlalukan baik oleh anak?"
Hal ini disebabkan karena ada berita-berita tentang sikap buruk orang tua dengan istilah toxic parents, eksploitasi ekonomi terhadap anak, hingga kekerasan fisik dan mental yang dilakukan orang tua. Orang tua juga manusia, dan memiliki potensi salah keliru.
Terdapat 10 hadis di dalam bab tersebut, namun saya hanya mencari 4 hadis saja karena keterbatasan waktu. Berikut ini adalah hasil pencarian di Maktabah Syamilah versi online.
| No | Potongan Teks Hadis (Tanpa Syakal) | Status / Komentar Ulama | Sumber (Maktabah Syamilah) |
|---|---|---|---|
| 1 | رضا الرب في رضا الوالد، وسخط الله في سخط الوالد | Mauquf (Merupakan perkataan sahabat Abdullah bin Umar, bukan sabda langsung dari Nabi SAW) | Al-Mustadrak - Al-Hakim |
| 2 | بروا آباءكم تبركم أبناؤكم وعفوا تعف nساؤكم | Kadzib (Sanadnya dinilai dusta/palsu) | Tanzihus Syariah - Al-Kinani |
| 3 | إذا كنت في الصلاة فدعاك أبوك فأجبه وإن dعتك أمك فأجبها | Dhaif (Dihukumi lemah oleh Imam Ahmad) | Al-Ilal - Ibnu Abi Hatim |
| 4 | من آذى والديه أو آذى أحدهما يدخل النار | Munkar (Hadis lemah yang menyelisihi riwayat dari jalur periwayatan `Aidz) | Al-Kamil fi Dhu'afair Rijal - Ibn Adi |
Beberapa kali, tidak hanya empat hadis di atas, kumpulan hadis oleh Imam Suyuti ini memang cenderung banyak yang bermasalah. Saya menaruh curiga, apakah itu benar-benar dikumpulkan oleh Imam Suyuti, atau namanya hanya dinisbatkan untuk karya ini. Mengingat memang banyak sekali karya-karya terdahulu yang asal menisbatkan nama orang lain.
Jadi, bagi saya melihat fakta status hadis di atas, kita sadar bahwa membangun sebuah konsep hukum kehidupan yang masif tidak bisa bersandar pada teks-teks yang secara periwayatan bermasalah, rapuh, atau bahkan palsu.
Batasan Ketaatan dan Makna yang Bergeser
Seckara prinsip dasar syariat, tidak ada ketaatan mutlak kepada makhluk jika hal itu mengarah pada kemaksiatan atau kezaliman. Al-Qur'an Surah Luqman ayat 15 menegaskan bahwa bahkan ketika orang tua memaksa anak untuk melakukan dosa terbesar (syirik), anak wajib menolak perintah tersebut, meskipun tetap diperintahkan menemani mereka di dunia dengan cara yang baik (ma'ruf).
Jika dalam urusan akidah saja anak dilarang patuh, maka dalam urusan sosial-ekonomi—seperti orang tua yang memeras anak, melakukan kekerasan, atau merusak masa depannya—anak memiliki hak syar'i untuk melindungi dirinya. Kita harus paham bahwa pemberian atau penolakan takdir dari Allah pun sejatinya adalah wujud kasih sayang-Nya, begitu pula batasan hubungan manusia yang adil.
Dalam kondisi ekstrem, misalnya hubungan sudah sangat rusak atau manipulatif, batasan birrul walidain mengalami pergeseran: dari yang semula "menuruti" menjadi sekadar "tidak menyakiti balik" (kafful adza) dan menjaga lisan dari kata-kata kasar. Menjaga kesehatan mental dan keselamatan diri sendiri adalah bagian dari kewajiban menjaga jiwa (hifzun nafs) dalam Islam.
Saya kira ini lebih adil, jika di dalam rumah tidak bisa menjadi pelindung antarpenghuninya, paling tidak, bisa berhenti saling menyakiti. Lantas, apakah ada orang tua yang durhaka kepada anak?
Konsep Uququl Abna’: Orang Tua yang Durhaka Kepada Anak
Selama ini narasi keagamaan kita timpang karena hanya menggaungkan istilah anak durhaka (uququl walidain). Padahal, Islam seimbang. Ada sebuah konsep yang disebut uququl abna’ atau orang tua yang durhaka kepada anaknya.
Kisah monumental ini tercatat dalam sejarah saat seorang ayah mengadukan anaknya yang tidak berbakti kepada Khalifah Umar bin Khattab. Setelah Umar mendengarkan kesaksian kedua belah pihak, diketahui bahwa sang ayah tidak pernah memberi nama yang baik, tidak mengajarkan Al-Qur'an, dan menelantarkan hak-hak dasar si anak sejak kecil.
Mendengar hal itu, Umar bin Khattab justru menegur keras sang ayah dengan berkata: "Kamu telah mendurhakai anakmu sebelum dia mendurhakaimu. Kamu telah berbuat buruk kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu." (Kamaluddin al-Mursi)
Meskipun riwayat di atas adalah atsar sahabat, bukan hadis Nabi Muhammad, paling tidak kita jadi mengerti bahwa hubungan orang tua dan anak dalam Islam adalah hubungan timbal balik yang berasaskan keadilan, bukan penindasan satu arah. Orang tua tidak bisa menuntut hak penghormatan jika mereka sendiri menolak menunaikan kewajiban kasih sayang.
Penutup
Mengkritisi teks dan penerapan birrul walidain bukanlah gerakan untuk mengajak anak menjadi pembangkang atau tidak tahu sopan santun. Ini adalah upaya ilmiah untuk mengembalikan esensi agama pada tempatnya: sebagai pembawa keadilan dan pelindung bagi pihak yang lemah. Agama tidak pernah dirancang untuk menjadi alat legalisasi kezaliman di dalam rumah tangga. Oleh sebab itu, kita semestinya mendidik generasi sekarang dengan pemahaman Islam yang utuh, adil, dan memanusiakan manusia.
Ahad kemarin, rasanya cukup melelahkan namun menyenangkan. Ketika punya anak lebih dari satu, menurut informasi yang saya dengar, harus memiliki waktu khusus untuk masing-masing anak. Fungsinya agar mereka merasa orang tuanya tidak pilih kasih. Alhamdulillah hari ini bisa menemani Yahya nonton film di bioskop untuk pertama kalinya bagi dia, makan sushi untuk pertama kalinya juga. Setelah itu kami beli sepatu karena hadiah ranking pertamanya. Banyak yang pada liburan, kami memilih liburan seperti ini.

Post a Comment