3 Pengertian Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah

Daftar Isi

Al-Qur'an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di dua tempat yang penuh keberkahan, yakni kota Makkah dan kota Madinah. Kota Makkah menjadi lokasi pertama penurunan wahyu, sedangkan kota Madinah menjadi kota kedua. Pengelompokan ini pada dasarnya bertujuan untuk mempermudah para pengkaji dalam memetakan serta memahami historiografi ayat-ayat di dalam Al-Qur'an.

Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah Al-Qur'an
Ilustrasi Pembacaan Mushaf Al-Qur'an - qowim.net

Di kalangan para ulama tafsir, perdebatan mengenai kriteria Makkiyyah dan Madaniyyah memiliki cakupan ilmu yang sangat luas. Sebagai contoh, Ibnu an-Nuqaib dalam pendahuluan kitab tafsirnya menyebutkan bahwa tempat turunnya Al-Qur'an secara rinci terbagi menjadi empat kategori: Makkah, Madinah, sebagian di Makkah dan sebagian di Madinah, serta ayat yang turun di luar kedua kota tersebut.

Meski terdapat diskursus yang sangat mendalam mengenai seluk-beluk geografis penurunannya, pendapat yang paling populer dan paling sering digunakan untuk mempermudah kajian dasar Ulumul Qur'an merujuk pada tiga sudut pandang utama. Lalu, apa sejatinya yang dimaksud dengan ayat Makkiyyah dan ayat Madaniyyah tersebut?

1. Ditinjau dari Waktu Turunnya Ayat (Aspek Historis)

Pendapat pertama dan merupakan pandangan yang paling mashur di kalangan mufasir menyatakan bahwa ayat Makkiyyah adalah seluruh wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad SAW sebelum beliau melakukan hijrah ke Madinah. Sementara itu, ayat Madaniyyah adalah seluruh wahyu yang diturunkan setelah peristiwa hijrah.

Patokan utama dari pengertian ini berfokus pada elemen waktu, bukan lokasi fisik tempat ayat tersebut turun. Sebagai contoh, peristiwa Fathul Makkah (penaklukan kota Makkah) terjadi setelah Nabi SAW bermukim di Madinah. Apabila ada wahyu yang turun pada saat peristiwa tersebut berlangsung di Makkah, maka ayat tersebut tetap dikategorikan sebagai ayat Madaniyyah karena diturunkan pada era pasca-hijrah.

2. Ditinjau dari Tempat Turunnya Ayat (Aspek Geografis)

Pendapat kedua bertumpu pada aspek tempat atau geografis penurunan wahyu secara harfiah. Dalam sudut pandang ini, setiap ayat yang diturunkan di dalam batas wilayah kota Makkah dan sekitarnya (seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah) dikategorikan sebagai ayat Makkiyyah.

Sebaliknya, ayat yang diturunkan di dalam batas wilayah kota Madinah dan sekitarnya (seperti Uhud dan Quba) disebut sebagai ayat Madaniyyah. Berdasarkan teori ini, ayat yang turun di kota Makkah pada saat Fathul Makkah tetap dinamakan ayat Makkiyyah tanpa memedulikan apakah peristiwa tersebut terjadi sebelum atau sesudah hijrah.

3. Ditinjau dari Aspek Subjek Audiens (Mukhatab)

Pendapat ketiga mendasarkan kategorisasi Makkiyyah dan Madaniyyah dari sasaran atau sapaan subjek audiens (mukhatab) yang dituju oleh ayat tersebut. Jika redaksi ayat ditujukan khusus kepada masyarakat Makkah (yang kala itu mayoritas belum beriman), maka ayat tersebut dinamakan Makkiyyah. Ciri khasnya umumnya ditandai dengan sapaan "Ya ayyuhan-nas" (Wahai manusia).

Sebaliknya, jika ayat ditujukan kepada masyarakat Madinah yang telah beriman, maka dinamakan ayat Madaniyyah dengan ciri khas sapaan "Ya ayyuhalladhina amanu" (Wahai orang-orang yang beriman). Salah satu sahabat yang cenderung memegang pemahaman analitis terhadap latar belakang audiens ini adalah Ibnu Mas'ud RA.

Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, tidak ada satu pun surah dari kitab Allah yang diturunkan melainkan aku tahu di mana ia diturunkan, dan tidak ada satu ayat pun yang diturunkan melainkan aku tahu dalam hal apa ia diturunkan. HR. Bukhari no. 5022

Ketiga sudut pandang di atas tidak hadir untuk saling dipertentangkan, melainkan berfungsi sebagai khazanah multiperspektif dalam memahami tekstualitas dan kontekstualitas ajaran Islam secara utuh.

Kesimpulan

Keragaman definisi antara kronologi waktu, kondisi geografis, dan profil audiens membuktikan bahwa Al-Qur'an kaya akan dimensi sejarah dan hermeneutika. Memahami klasifikasi Makkiyyah dan Madaniyyah secara komprehensif membantu kita menggali makna hukum serta hikmah dakwah secara lebih tepat.

Bagi Anda yang sedang menyusun draf karya ilmiah atau artikel riset keagamaan dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai struktur kuantitatif Al-Qur'an, Anda dapat membaca kajian saya tentang cara menulis daftar pustaka jurnal online agar setiap rujukan ilmiah yang Anda gunakan tersusun dengan rapi dan akurat.

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Posting Komentar