Penyebutan Jumlah Anak dalam Tradisi Jawa
Gara-gara punya tiga anak laki-laki semua, saya jadi kepikiran tentang penyebutan jumlah anak dalam istilah Bahasa Jawa. Hal ini mungkin karena ingatan ketika masih sekolah dulu, bahasa jawa menjadi muatan lokal yang di dalamnya ada materi tentang penyebutan jumlah anak dalam bahasa jawa.
Saya hanya ingat kalau lima anak laki-laki semua namanya pandhawa, anak laki-laki satu disebut ontang-anting, kalau kembar laki-laki dan perempuan disebut dhampit. Selain itu saya lupa. Lalu saya penasaran, eh kalau anak tiga laki-laki semua namanya apa ya?
![]() |
| Yahya membantu masak cumi-cumi (April 2025) |
Setelah beberapa menit baca-baca sumber di internet, saya rangkumkan lagi saja di sini.
Satu anak
Kalau dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya dengan anak tunggal atau anak semata wayang, namun dalam bahasa Jawa disebut ontang-anting jika anak laki-laki, sedangkan untuk anak perempuan tunggal disebut unting-unting.
Dua anak
Untuk istilah dua anak ini ada empat istilah dalam bahasa Jawa karena ada kombinasinya, misalnya kalau dua anak laki-laki semua disebut uger-uger lawang, jika dua anak perempuan disebut kembang sepasang. Kalau laki-laki lalu disusul perempuan namanya kendana-kendini, sedangkan kalau anak perempuan dulu dan disusul anak laki-laki istilahnya kendini-kendana.
Tiga anak
Ini yang sesuai dengan konteks saya, jika anak tiga laki-laki semua namanya cukil dulit, sedangkan kalau perempuan semua namanya gotong mayit. Terus terang istilah gotong mayit (jenazah) ini sangat mengerikan kedengarannya.
Nah, kalau ada kombinasinya jadi berbeda istilahnya. Misalnya untuk anak perempuan di tengah namanya sendhang kapit pancuran (telaga yang diapit dua air mancur), sedangkan kalau anak laki-laki berada di tengah disebut pancuran kapit sendhang (air mancur yang diapit oleh dua telaga).
Sepertinya filosofinya ini sangat sexist, ya?
Sampai di sini saya belum menemukan istilah untuk kasus misalnya anak pertama adalah laki-laki sedangkan dua anak terakhir adalah perempuan. Atau sebaliknya anak pertama adalah perempuan sedangkan dua terakhir adalah laki-laki dan kombinasi-kombinasi lainnya.
Empat anak
Untuk empat orang anak ini, dalam tradisi jawa menyebut saka panggung untuk menyebut anak laki-laki empat, sedangkan untuk empat anak perempuan disebut sarimpi. Saya jadi bertanya-tanya orang jawa kok nganggur banget sampai memberi nama-nama spesifik, ya?
Tapi, kalau ada kombinasi seperti tiga anak tadi, saya tidak menemukan sumbernya. Atau kayaknya saya males nyari aja.
Lima anak
Nah, kalau ini sih familiar sekali kayaknya karena untuk lima anak laki-laki namanya pandhawa sedangkan lima anak perempuan disebut pancagati. Berbeda dengan empat anak, kombinasi untuk lima anak ini saya menemukan istilahnya. Jika ada satu anak perempuan dan empat lainnya adalah laki-laki namanya padhangan. Sebaliknya, jika satu anak laki-laki dan empat di antaranya adalah perempuan disebut dengan ipil-ipil.
Untungnya bukan upil-upil, ya, kan?
Dah lah. Lima saja. Yang penting sudah tercapai tujuannya yaitu untuk konteks saya tiga anak laki-laki semua disebut dengan cukil dulit. Karena saya penasaran kenapa disebut dengan istilah itu, saya juga cari-cari informasinya.
Cukit Dulit
Saya cukup kaget ketika membaca satu sumber di kamusjawa.net menyebutkan bahwa arti cukit dulit adalah penjahat. Waw. Penjahat. Tidak puas dengan satu sumber, lalu saya coba cari di KBJI (Kamus Bahasa Jawa Indonesia) membuat padanan arkais yaitu Penjual terasi dan pilihan arti kedua adalah orang hina, kacung.
Wah, kok malah artinya jadi begini, ya?
Akhirnya saya menemukan artikel ilmiah yang membahas soal tradisi ruwatan yang berjudul Mitologi Jawa dan Religi Islam dalam Ritual Ruwatan Pernikahan oleh Masyarakat Desa Jombok Ngoro Jombang Jawa Timur ditulis oleh Ahmad Musonnif tahun 2024. Di dalam artikel tersebut, orang jawa memang suka membuat tradisi ruwatan untuk semua jenis penyebutan anak. Sebab setiap kelahiran anak memiliki potensi "keburukan" masing-masing jadi butuh untuk ditirakati/diruwat.
Jadi lima kategori penyebutan jumlah anak dalam tradisi jawa di atas semuanya butuh untuk diruwat. Masih menurut Ahmad Musonnif, ruwatan itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi sekaligus berharap kebaikan dalam jenjang kehidupan selanjutnya bagi anak.
Saya jadi berasumsi, bahwa karena pandangan tentang dunia adalah penderitaan adalah pemikiran dalam tradisi Hindu, oleh sebab itu pemikiran tersebut terwariskan sehingga ketika Islam datang tidak untuk menghapus tradisi tersebut, melainkan membuat akulturasi sekaligus asimilasi supaya bisa terintegrasi dengan nilai-nilai Islam.
Apapun itu, sepertinya semua manusia dengan tradisinya memiliki cara masing-masing untuk menenangkan diri, apalagi kalau itu sudah menjadi tradisi, orang menjadi otomatis "takut" jika tidak melaksanakannya.
Saya lebih memilih untuk berhusnuzan saja bahwa anak-anak tidak bergantung pada sejauh mana orang tuanya melakukan upacara ruwatan, melainkan sejauh mana orang tua menemani tumbuh-kembangnya hingga mereka menjadi manusia yang baik di kemudian hari. Dan itu adalah berat, tapi bukan berarti tidak bisa diupayakan.
Duh, ini awalnya mau bahas soal penyebutan jumlah anak dalam tradisi jawa malah sampai pada tradisi jawa. Tapi, kayaknya ini bisa dikembangkan lebih serius.
Kamis kemarin saya mengajar dua kelas, pertama kelas Praktik Syarah Hadis, dan yang kedua kelas Ilmu Rasm al-Qur'an. Keduanya berjalan dengan baik dan lancar. Selesai mengajar, saya meladeni mahasiswa untuk konsultasi judul skripsi sebagai Dosen Pembimbing Akademik (DPA). Judul yang diangkat terlalu umum dan belum memenuhi untuk dilanjutkan menjadi penelitian. Saya menyarankan untuk mencari gap penelitian terlebih dulu agar lebih mudah dalam memberikan saran di pertemuan selanjutnya.

Post a Comment