Mengapa bapak-bapak kurang terlibat dalam kegiatan sekolah anaknya?
![]() |
| Yahya makan soto Bantul (dok. pribadi 2026) |
Hari ini saya pergi menemani Yahya untuk pergi out bound (saya yakin banyak yang nggak tahu kalau padanan kata out bound dalam Bahasa Indonesia adalah mancakrida). Kita sebut mancakrida saja, ya alih-alih out bound. Kegiatan itu diinisiasi oleh wali murid kelasnya Yahya, namanya Bu Dista.
Ketika sampai di lokasi, benar dugaan saya bahwa mayoritas yang datang adalah para ibu-ibu. Bapak-bapak hanya berempat saja. Padahal ini adalah hari Minggu. Saya kira di mana-mana persoalannya sama, peran ayah memang kurang dalam keterlibatan kegiatan sekolah. Mungkin karena hal ini, banyak sekolah yang kemudian membuat gerakan ayah mengambil rapor.
Saya jadi bingung, mau bahas soal peran ayah yang kurang atau soal kegiatan ini, ya?
Setelah beberapa menit merenung, saya putuskan dengan membahas peran ayah saja. Saya ganti judulnya Mengapa bapak-bapak kurang terlibat dalam kegiatan sekolah anaknya? (awalnya judul tulisan ini adalah Ramah Tamah dengan Guru dan Wali Siswa) Tapi sebelum membahas soal pentingnya peran orang tua terutama ayah, saya lanjutkan sedikit tentang apa yang terjadi di sana.
Setelah Bu Dista memberikan sambutan panjang tentang gambaran umum perkembangan sekaligus motivasi untuk orang tua dan anak-anaknya, dilanjutkan kesan-kesan dari para orang tua. Semua orang tua menghabiskan jatah untuk berterima kasih dan mohon maaf, tak terkecuali saya. Tak sedikit ketika para ibu memberikan kesannya, mereka tak kuat menahan haru dan menangis.
Berpindah ke pembahasan tentang keterlibatan pengasuh (ayah) dalam mengurus anak, kita harus menyepakati dulu bahwa pendidikan bisa berhasil secara optimal ketika peran guru dan orang tua bersinergi. Jadi, kita tidak bisa melempar tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah atau guru lalu tanpa instrospeksi diri tentang bagaimana pola asuh yang diciptakan di dalam keluarga.
Jangan sampai kebutuhan anak untuk dihargai, ditemani, dianggap dan bahkan disayangi justru ia dapatkan di sekolah, sedangkan di rumah ia tidak mendapatkannya.
Minggu-minggu ini saya sedang membaca bukunya dr. Jiemi Ardian yang berjudul Pulih dari Trauma Berkenalan dengan Trauma Processing Therapy. Di dalam buku itu terdapat subbab yang berjudul Trauma tak kasat mata. Ia menuliskan begini:
Trauma bukan hanya tentang hal buruk yang terjadi padamu, melainkan juga tentang hal baik yang seharusnya ada tapi tidak pernah terjadi padamu. (hlm. 59)
Ketika sampai membaca di halaman itu, pikiran saya baru sadar bahwa trauma bukan hanya tentang kekerasan fisik dan emosional, yang oleh dr. Jiemi disebut sebagai trauma kasat mata. Trauma juga bisa terjadi secara tak kasat mata yang secara sederhana dengan mengatakan bahwa kebutuhan untuk dihargai dan diperhatikan yang tidak didapatkan di dalam keluarga.
Sepertinya kalau sudah selesai baca buku ini, bisa saya tulis ulasannya.
Jadi, jawaban dari judul tulisan ini sebenarnya bukan diawali dengan karena atau sebab. Judul itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan renungan yang sebenarnya ingin mengatakan bahwa seharusnya bapak-bapak terlibat dalam kegiatan sekolah anaknya. Sebab bisa jadi, kealpaan seorang ayah bisa mengakibatkan pengalaman buruk masa kecil (adverse childhood experience).
Masih menurut dr. Jiemi, pengalaman buruk masa kecil meripakah peristiwa traumatis yang terjadi selama bertahun-tahun pembentukan diri seseorang, sejak lahir hingga usia 18 tahun, dan dapat berdampak besar pada kesejahteraan fisik, mental dan emosional. Tentu semua orang tua tidak ingin mengalami anaknya seperti itu, namun bisa jadi kita menjadi penyebabnya tanpa kita sadari.
Tradisi kita terlampau susah untuk diubah bahwa pola pikir bekerja adalah bapak dan mendidik anak adalah ibu. Kedua hal itu tidak cukup dilihat dari sudut pandang jenis kelamin, melainkan juga dengan kesadaran bahwa bekerja dan mendidik anak adalah sama pentingnya dan bisa dikerjakan oleh bapak maupun ibu.
Seorang bapak yang sudah bekerja bukan berarti tidak wajib lagi mengurus anak dan pekerjaan domestik, sebaliknya seorang ibu yang sibuk dengan pekerjaan domestik di rumah bukan berarti kurang berharga dan tidak wajib bekerja. Semua harus didasarkan pada asas kerja sama dan saling menopang satu dengan yang lainnya.
Hal ini juga sekaligus menjadi pengingat bagi saya bahwa memperhatikan anak tidak hanya sekadar memberinya makan dan uang jajan, tetapi juga mencukupi kebutuhan dasarnya sebagai makhluk sosial yang berhak untuk disayangi dan dihargai. Terutama di dalam rumah terlebih dulu, sebelum ia mendapatkannya di luar rumah.
Sabtu kemarin, setelah pulang dari memberikan analisis bisnis teman saya, pukul 11.00 saya mengantar imunisasi Yasa (anak ketiga kami) ke klinik Cita Sehat yang berlokasi di Pleret, Bantul. Petugas hanya ada satu pelayanan administrasi sekaligus yang menyuntik. Ketika hendak menyuntik saya iseng tanya, alih-alih diam. "BCG kepanjangannya apa ya, Bu?" Katanya dia lupa singkatan dari apa, namun yang pasti adalah untuk TBC. Awalnya saya membatin bahwa kok petugas tidak tahu hal-hal sesederhana ini, sih? Tapi buru-buru saya tepis asumsi itu sebab sering kali saya juga demikian, hal sederhana tapi lupa karena tidak mendalaminya. Saya tinggal sematkan kata itu di mesin pencari dan keluarlah informasi bahwa BCG adalah singkatan dari Bacillus Calmette Guerin. Selesai masalahnya daripada bersuuzan, ya kan?

Post a Comment