Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kritik Tauhid Ala Wahabi (Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma Wa Shifat)

QOWIM.NET - Abad 19 menjadi abad bersejarah bagi Islam, kekuasaan Turki Ottoman yang membentang luas semakin terkikis akibat pemberontakan, ketidakstabilan ekonomi dan politik, hingga Turki Usmani "terjebak" dalam perang dunia pertama. 

Masjid Makkah
Sumber Gambar PIXABAY

Rusia ingin menguasai selat Ottoman sebab lebih dari seperempat bisnis dan militernya melewati selat tersebut, lalu Jerman datang untuk memberikan bantuan kepada Turki Ottoman demi mempertahankan selat tersebut. Turki otomatis menjadi blok Jerman. 

Jika ingin membaca lebih lanjut tentang keterlibatan Turki silakan dibaca artikel Masuknya Ottoman ke dalam Perang Dunia I.

Wahabi Menguasai Hijaz

Keterlibatan yang sangat menyita perhatian dan banyak mengeluarkan uang itu, agaknya membuat Turki abai dengan situasi di Makkah. Gerakan pemberontakan mengatasnamakan "pemurnian Islam" marak di sana dengan cita-cita menghapus bid'ah, khurafat hingga penghancuran situs-situs Islam. 

Abdullah bin Wahhab yang bekerja sama dengan Abdul Aziz untuk menguasai Hijaz dan memberantas bid'ah-bid'ah yang menurut mereka sudah menjadi wabah di Hijaz pada saat itu. 

Keberhasilan mereka menguasai Hijaz dilanjutkan dengan menyebarkan paham-paham yang disebut sebagai Wahhabi karena dinisbatkan kepada Abdullah bin Wahhab.

Wahhabi ini lalu beranak-pinak yang mengatasnamakan Salafi, salafi-jihadi, hingga jama'ah islamiyyah. Semua hal tersebut sebagian besar mengikuti paham Wahhabi dengan sedikit perbedaan-perbedaan yang tidak begitu signifikan. 

Dari sekian ajaran Wahabi yang sangat bertentangan dengan nash alquran maupun hadis, titik toloknya berada pada konsep Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah Asma Wa Shifat. 

Dari Mana Datangnya Pembagian Tauhid Itu? 

Hasan Asegaf menyebutkan bahwa tiga konsep tauhid Wahabi ini berasal dari gagasan Ibnu Abil Izzi dalam kitab Syarah Aqidah Tahawiyyah

"Tauhid mengandung 3 unsur, pertama tentang sifat Allah, kedua tauhid rububiyyah yang menjelaskan bahwa Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, ketiga tauhid uluhiyyah bahwa Allah satu-satunya dzat yang berhak untuk disembah" 

Ibnu Al-Buraikan dalam kitab Manhaj Syaikhil Islam Ibni Taimiyah menjelaskan bahwa yang mencetuskan konsep tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa shifat adalah Ibnu Taimiyah

Jika dilihat dari masa hidupnya dari dua tokoh tersebut, Ibnu Taimiyah lebih dulu yang lahir tahun 1263 sedangkan Ibnu Abil Izz lahir pada kisaran 1334. 

Untuk mengkritisi pandangan konsep tauhid di atas, diperlukan mengetahui terlebih dulu tentang definisi secara utuh dari konsep tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma Wa shifat. 

Kritik Tauhid Rububiyyah

Kata Rububiyyah adalah musytaq (diambil) dari kata Rabb yang berarti Tuhan. Meskipun rabb ini mempunyai arti yang sangat luas lebih dari sekedar Tuhan. Dalam hal ini merujuk pada QS. al-Baqarah; 22

"Hai Manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa"

yang dimaksud dengan Tauhid rububiyyah berdasarkan ayat di atas adalah mengesakan dan menauhidkan Allah dengan semua perbuatannya, artinya Allah melakukkan semua aktivitasnya secara sendiri dan independen, mulai dari memberi rizki, menciptakan, menghidupkan dan mematikan makhluk. 

Dalam pandangan Wahabi tauhid semacam ini berlaku untuk orang kafir dan muslim. Orang kafir musyrik mengakui tauhid rububiyyah ini karena mereka mengakui keesaan Allah sebagai satu-satunya pencipta.

Salafi mendasarkan argumennya pada QS. Zukhruf 48

"... Jika kamu bertanya kepada mereka "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab Allah" 

Argumentasi semacam ini adalah batil sebab tidak boleh menyebut orang kafir sebagai orang yang bertauhid walaupun disebut setengah tauhid misalnya dalam ayat lain surat Zumar; 3

"Dan orang yang mengambil pelindung selain Allah mengatakan 'Kami tidak menyembah mereka (berhala-berhala) melainkan supaya berhala itu mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'"

Inti dari pemahaman tauhid rububiyyah ini adalah bahwa setiap orang itu bisa jadi bertauhid; mengesakan Allah, namun cara mengesakan Allah itu diiringin dengan menyembah selain Allah.

Menggabungkan antara tauhid dan musyrik tidak bisa dibenarkan dalam syariat islam, sebab tidak ada istilah setengah beriman dan setengah kufur. Misalnya mereka menyembelih hewan, thawaf ka'bah namun yang dituju adalah berhala-berhala itu, bukan Allah. 

Hal ini kemudian dikritik oleh al-Quran "Darah dan daging yang kalian sembelih itu tidak akan bisa sampai kepadaku, namun ketakwaanmu lah yang bisa sampai kepada Allah"

Kritik Tauhid Uluhiyyah

Tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyyah, hal ini berbeda dengan tauhid Rububiyyah. Banyak beberapa definisi tentang uluhiyyah, salah satu yang paling sederhana dan bisa dipahami dengan mudah adalah "mengesakan Allah dalam ibadah"

Ini adalah tauhid yang diperintahakan oleh Allah yaitu menyembah allah tanpa menyekutukannya. Menurut Wahabi ini berbeda dengan Rububiyyah. dengan pengertian bahwa seorang muslim secara otomatis melakukan tauhid rububiyyah dan uluhiyyah, sedangkan orang kafir bisa jadi hanya tauhid rububiyyah, namun tidak secara uluhiyyah. 

Hal ini tampak membingungkan sebagaimana yang sudah disinggung di atas. 

Berdasar pada pengertian ini, Abdul Wahab memberikan penegasan khusus bahwa berdoa dengan cara tawasul adalah melanggar tauhid uluhiyyah sebab membuat perantara antara manusia dan Tuhannya. Padahal sesunggugnya tidak ada perantara antara allah dan manusia. Keterangan ini juga dijelaskan oleh Khalid bin Abdullah dalam kitab Syarah Kasyfus Syubuhat (dedengkot dari Wahabi)

Definisi tauhid yang semacam ini dipakai oleh Wahabi untuk membid'ahkan bahkan mengkafirkan orang yang sudah jelas keislamannya. Mereka menolak tawasul, istighasah, hingga ziarah kubur. Padahal, secara jelas kita tidak diperbolehkan, bahkan haram hukumnya  mengkafirkan seorang muslim.

Jika, seandainya dalil-dalil tawasul dan amalan yang lain itu lemah dan dianggap sebagai dosa, tidak akan bisa menghapus status keislaman orang lain. Ini seandainya saja. 

Inilah yang menjadi kritik dari tauhid uluhiyyah yang dijadikan wahabi sebagai alat untuk mengkafirkan sesama umat islam. 

Kritik Tauhid Asma Wa Shifat

Tauhid asma wa shifat mempunyai arti bahwa sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam al-Qur'an dan hadis harus dimaknai apa adanya, tidak diperbolehkan adanya ta'wil apalagi tashawwur (pendeskripsian) dan secara majazi (kiasan).

Misalnya Ibnu Utsaimin menjelaskan dalam kitab Syarah Tsalatsah Ushulu tentang QS al-maidah; 64 ".... namun kedua tangan Allah terbuka yang memberikan nafkah kepada siapa saja yang dikehendaki..." 

Kata yadahu mabsuthatan diartikan oleh Ibnu Utsaimin sebagai hal yang harus dipahami bahwa Allah mempunyai tangan. Namun tidak diperkenankan untuk membayangkan dan mengilustrasikan bagaimana wujud tangan allah. 

Hal ini berbeda dengan pandangan ahlussunnah yang mempunyai pendapat bahwa ta'wil harus dilakukan untuk menanzihkan Allah dari serupa makhluk. Kata "tangan" dalam alquran harus dipahami dengan kekuasaan Allah. 

Kesimpulan

Ketiga tauhid yang dibagi-bagi oleh Wahabi merupakan kebid'ahan sebab di dalam Alquran dan hadis tidak ditemukan dalil secara pasti (qath'i) tentang hal tersebut. Dengan demikian kita harus menghindari sekaligus mewaspadai adanya pemahaman-pemahaman seperti demikian. Apalagi di buku-buku sekolah baik kemenag maupun umum hampir dipastikan memberikan materi pembagian tauhid seperti demikian. 

(Tulisan ini dirangkum dari buku berjudul Ahlussunnah Wal Jamaah karya A. Fatih Syuhud Pengasuh Pondok Pesantren al-Khoirot Malang, hlm. 337 - 389)

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen swasta yang suka ngeblog

2 comments for "Kritik Tauhid Ala Wahabi (Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma Wa Shifat)"

  1. saya dulu pas MTs pak ada materi tauhid Rububiyah dan uluhiyyah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah memmagn sudah mewabah ini jadi kurikulum, kemenag tidak selektif untuk buku2 LKS di sekolahan

      Delete