Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teologi Asy'ariyah; Sejarah dan Ciri-ciri Ajarannya

teologi asyariyah

QOWIM.NET - Asyariyah adalah nama kabilah di kawasan Basrah Iraq. Dari kabilah ini muncul beberapa orang tokoh terkemuka yang turut memengaruhi dan mewarnai sejarah peradaban umat Islam, salah satunya adalah imam dalam pemikiran akidah, yaitu Abu Hasan al-Asyari.

Meski demikian, nama Al-Asy’ariyah tidak diambil dari nama kabilah tersebut, melain dari ulama terkemuka Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan di kota Bashrah (Irak) pada tahun 206H/873M. 

Pada awalnya Abu Hasan ini berguru ke pada tokoh Mu’tazilah waktu itu yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Kebetulan Al-Jubbai ini adalah mertuanya sendiri.

Bertahun-tahun ia menekuni paham Mu'tazilah hingga ia merasa ragu terhadap paham yang ia anut tersebut. Kemudian dalam beberapa waktu, ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadis. 

Hal ini, disebabkan pada masa-masa tersebut banyak para ahli hadis yang sedang melakukan kodifikasi. Di samping itu, pemikiran fikih juga menjadi perhatian yang besar oleh umat Islam pada saat itu. Kedua ilmu tersebut, yakni fikih dan hadis tidak bisa dipisahkan, sebab yang menjadi ahli fikih biasanya adalah ahli hadis.

Puncaknya, ketika ia berumur 40 tahun, ia uzlah dan tafakkur di rumahnya selama 15 hari untuk memikirkan hal tersebut, mulai dari mengumpulkan dalil hingga menarjihnya lalu dilihat dari sisi pemikiran-pemikiran Mu'tazilah pada saat itu. 

Kemudian, pada hari Jum’at dia naik mimbar di masjid Bashrah dan secara resmi dan menyatakan  keluar dari Mu’tazilah

“Wahai masyarakat, barang siapa mengenalku, sungguh dia telah mengenalku, barang siapa yang tidak mengenalku, maka aku akan mengenalkan diri sendiri. Aku adalah fulan bin fulan, dahulu aku berpendapat bahwa Alquran adalah makhluk, dan Allah  tidak melihat dengan mata, maka perbuatan–perbuatan jelek itu aku sendiri yang yang membuatnya. Aku bertaubat, bertaubat dan mencabut paham-paham Mu’tazillah dan keluar darinya."

Al-Asy’ari menulis tidak kurang dari 90 kitab dalam berbagai lapangan yang bisa dibaca oleh orang banyak. dia menolak pendapat golongan Jahamiyah dan golongan Murji’ah. 

Akan tetapi fokus kegiatan Al-Asy’ari adalah ditujukan pada orang-orang Mu’tazilah seperti Ali Al-Jubai, Abul Hudzail dan lain-lain. Contoh perdebatan antara Imam Al-asy’ari dengan Abu Ali Al-Jubai:

Abu HasanAl-Asy’ari membuka dialog tentang nasib dan takdir.

Bagaimana menurut pendapatmu tentang tiga orang yang meninggal dalam keadaan berlainan, mukmin, kafir dan anak kecil. 

Al-Jubai: Orang Mukmin adalah Ahli Surga, orang kafir masuk neraka dan anak kecil selamat dari neraka.

Al-Asy’ari: Apabila anak kecil itu ingin meningkat masuk surga, artinya sesudah meninggalnya dalam keadaan masih kecil, apakah itu mungkin? 

Al-Jubai: Tidak mungkin bahkan dikatakan kepadanya bahwa surga itu dapat dicapai dengan taat kepada Allah, sedangkan Engkau (anak kecil) belum beramal seperti itu. 

Al-Asy’ari: Seandainya anak itu menjawab memang aku tidak taat. seandainya aku dihidupkan sampai dewasa, tentu aku beramal taat seperti amalnya orang mukmin. 

Allah menjawab: Aku mengetahui bahwa seandainya engkau sampai umur dewasa, niscaya engkau bermaksiat dan engkau disiksa. Karena itu Aku menjaga kebaikanmu. Aku mematikan mu sebelum engkau mencapai umur dewasa. 

Al-Asy’ari: Seandainya si kafir itu bertanya: "Engkau telah mengetahui keadaanku sebagaimana juga mengetahui keadaannya, mengapa engkau tidak menjaga kemashlahatanku sepertinya?" 

Maka Al-Jubai diam saja, tidak meneruskan jawabannya. Dari perdebatan tersebut menambah keyakinan Abu Hasan untuk memantapkan bahwa pemahaman Mu'tazilah dalam hal takdir tidak bisa diterima secara logis.

Penyebab keluarnya Al-Asy’ari dari aliran Mu’tazilah

  1. Pengakuan Al-Asy’ari telah bertemu Rasulullah saw., sebanyak 3 kali. yakni pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 bulan Ramadhan. Dalam mimpinya itu Rasulullah saw., memperingatkannya agar meninggalkan paham Mu’tazillah. 
  2. Al-Asy’ari merasa tidak puas terhadap konsepsi aliran Mu’tazilah dalam soal–soal perdebatan yang telah ditulis di atas. 

Karena kalau seandainya Al-Asy’ari tidak meninggalkan aliran Mu’tazillah maka akan terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin yang bisa melemahkan mereka. 

Al-Asy’ari sebagai orang yang pernah menganut paham Mu’tazillah, tidak dapat menjauhkan diri dari pemakaian akal dan argumentasi pikiran. ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa akal pikiran dalam agama atau membahas soal-soal yang tidak pernah disinggung oleh Rasulullah merupakan suatu kesalahan.

Dalam hal ini ia juga mengingkari orang yang berlebihan menghargai akal pikiran, karena tidak mengakui sifat-sifat Tuhan. 

Ciri-ciri Akidah Asy’ariyah 

Jika diliihat dari segi pemikiran teologis, mazhab Asyariyah mempunyai ciri-ciri pemikiran seperti berikut:
  1. Berpikir sesuai dengan Undang-Undang alam (sunnatullah). Seperti sebab-akibat. Manusia bisa menjadi sebab atas akibat yang terjadi dan tanpa luput dari qadha serta qadarnya Allah ta'ala.
  2. Iman adalah membenarkan dengan hati, amal perbuatan adalah kewajiban untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia dan mereka tidak mengkafirkan orang yang berdosa besar. 
  3. Kehadiran Tuhan dalam konsep Asy’ariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya. 
  4. Al-Quran adalah kalamnya Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad. Bukan makhluk yang diciptakan oleh Allah.

Pandangan Asy’ariyah tentang wahyu dan kedudukannya tercermin dalam pendapat Abu Hasan al-Asy’ari mengenai Alquran sebagai berikut: 

“Hendaknya kita membedakan antara kalamullah yang berdiri dengan dzat-Nya yang berarti qadim, dengan wujud Al Quran yang ada di antara kita dewasa ini, yang diturunkan kepada Muhammad dalam waktu tertentu. 
Perkataan-Nya adalah satu yaitu larangan, perintah, berita, dan istikhbar, serta janji dan ancaman. Semuanya termasuk dalam kategori perkataan-Nya, bukannya kembali pada jumlah atau susunan kalimatnya. 
Adapun lafadz yang diturunkan-Nya kepada nabi dan rasul-Nya adalah melalui media lafadz (bahasa Arab) yang menunjukkan kalam yang azali. Sedangkan dalil yang dibuat adalah muhdits dan yang dilandasi adalah qadim dan azali. 
Jadi perbedaan antara bacaan dan yang dibaca sama saja dengan sebutan yang disebut, bacaannya adalah muhdits sementara yang disebut adalah qadim”

Dari beberapa penjelasan sekelumit terkait teologi Asyariyah di atas, dapat disimpulkan bahwa teologi Asyariyah merupakan pemahaman tentang teologi yang disebabkan kegelisahan pemikiran dari mu'tazilah. Seolah menyempurnakan keganjilan-keganjilan yang terjadi pada Mu'tazilah lalu disempurnakan oleh Asyariyah. 

Sumber Bacaan

Teologi Islam Sejarah Aliran-aliran, Harun Nasution
Teologi Islam, Ahmad Amin
Islam, Fazlurrahman
Maqalat Islamiyyin, Abu Hasan Al-Asyari
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An Nur Yogyakarta dan Pengedar Buku di Elbustane Bookstore

Posting Komentar untuk "Teologi Asy'ariyah; Sejarah dan Ciri-ciri Ajarannya"

Berlangganan via Email