Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ciri-ciri dan Fungsi Ragam Baku Bahasa Indonesia

Pada tulisan sebelumnya telah disinggung tentang ragam bahasa Indonesia yang ternyata bisa dipengaruhi oleh dialek daerah asal, tingkat pendidikan, dan sekaligus wawasan tentang bahasa Indonesia. 
Fungsi ragam baku bahasa Indonesia

Nah, tulisan ini merupakan lanjutan dari pembahasan tersebut, yakni tentang apa sih ciri-ciri dan fungsi dari ragam baku bahasa Indonesia?

Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar

Ada kalimat yang sering kita dengar "Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar" Nah, baik dan benar itu maksudnya bagaimana? 

Sederhananya adalah, baik sesuai dengan lawan bicara, baik dari sisi kondisi maupun cara penggunaan kalimatnya. Misalnya, kita tidak mungkin ketika membeli sesuatu di toko milik tetangga dengan mengatakan:

"Permisi, Dapatkah saya membeli satu bungkus sabun cuci yang harganya lima ribu rupiah?" 

Jika demikian, mungkin kita dianggap alien yang baru turun dari planet lain. Hahaha... Ya, karena kita menggunakan bahasa Indonesia dalam kondisi yang kurang tepat. 

Kita tak perlu memakai bahasa yang resmi sesuai dengan struktur SPOK ketika kita berkomunikasi dengan orang lain yang tidak mempunyai spektrum yang sama. 

Sebaliknya, ketika sedang rapat organisasi, pemerintahan dan kondisi resmi-resmi yang lain, kita tidak mungkin memakai bahasa lisan sehari-hari, sebab dalam keadaan rapat semua anggota mempunyai sisi psikologis yang resmi, jadi tidak bisa seenaknya saja kita menggunakan bahasa. 

Itulah yang disebut sebagai berbahasa indonesia dengan baik.

Lalu yang benar yang bagaimana? 

Sederhana saja. Berbahasa Indonesia yang benar adalah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah dan ketentuan yang berlaku, sesuai dengan PUEBI. 

Nah, pada intinya. Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah mengetahui keadaan dan pemakaiannya sesuai dengan kaidah yang sudah ditentukan. Inilah yang disebut sebagai bahasa Indonesia baku. 

Bisa disederhanakan dengan menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah adalah bahasa Indonesia baku. Sedangkan menggunakan bahasa Indonesia meskipun tidak baku, jika hal itu dilakukan pada kondisi yang tidak formal, maka baik-baik saja. 

Kembali pada inti dari berbahasa, adalah saling memahamkan antara satu dengan yang lainnya.

Ciri-Ciri Ragam Baku 

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penting sekali untuk melanjutkan pembahasan tentang ciri-ciri ragam baku bahasa Indonesia. 

Ragam Baku Digunakan Secara Resmi

Pertama adalah ragam baku yang digunakan pada keadaan resmi saja, seperti surat-menyurat dinas, perundang-perundangan, karangan ilmiah, laporan penelitian, ceramah ilmiah, pidato kenegaraan, dan lain sebagainya. 

Ragam baku ini tidak dipengaruhi oleh dialek atau logat bahasa tertentu. Misalnya orang Jawa ketika mengujarkan kata-kata tertentu harus menhindari ucapan/logat kejawaannya.

Kata Bantul tidak diucapkan dengan mbantul, Bandung tidak diucapkan dengan mBandung, dan lain-lain. Tanpa adanya huruf m yang biasanya melekat pada kata-kata tersebut.

Sesuai dengan Kaidah PUEBI

Baik secara tulisan maupun lisan, ragam baku harus menyesuaikan kaidah PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan). Memang terkesan menyulitkan karena sedikit-sedikit kita akan membuka kaidah-kaidah Bahasa Indonesia setiap kali merasa bingung tentang penulisan atau pengucapan. 

Namun itulah yang harus dilakukan jika kita ingin menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia. Kini sudah banyak aplikasi-aplikasi yang bisa diakses Android maupun IOS tentang PUEBI dan beberapa kaidah-kaidah Bahasa Indonesia. 

Bisa juga diakses versi website di https://kbbi.web.id

Memenuhi Fungsi Gramatika Bahasa Indonesia

Gramatika Bahasa Indonesia hanya terbentuk sekurang-kurangnya adalah unsur subjek dan predikat, dan paling banyak terdapat unsur Subjek-predikat-objek-keterangan. Namun semua itu bisa dikembangkan selama pengembangan tersebut tidak membuat pola baru dalam suatu kalimat. 

Tidak ada kalimat di dalam kalimat. Misanya:

Segelas kopi di atas meja yang ayahku membuatnya untukku telah aku minum. 

Itu adalah contoh kalimat yang di dalamnya terdapat kalimat. Seharusnya cukup ditulis Segelas kopi di atas meja yang dibuatkan oleh ayah, telah aku minum.

Susunan kalimat di atas adalah:
Subjek: Segelas kopi di atas meja yang dibuatkan oleh ayah
Predikat: Telah aku minum.

Fungsi Ragam Baku

Setelah mengetahui tentang ciri-ciri ragam baku, maka kini berlanjut pada fungsi ragam baku dari Bahasa Indonesia. Pengetahuan tentang fusngsi ragam baku ini sangat penting dikarenakan ketika kita menggunakan bahasa pada kondisi resmi dan tulisan-tulisan yang berbasis akademik, maka diwajibkan kepada kita untuk memakai bahasa Indonesia secara baku.

Terdapat empat fungsi dari ragam baku sebagai berikut

Fungsi Pemersatu

Menggunakan bahasa Indoesia secara baku dapat mempersatukan penutur/penulisnya menjadi satu masyarakat bahasa sekaligus dapat meningkatkan proses identifikasi dengan mudah.

Misalnya ketika kita berada di luar daerah dengan bahasa yang tidak kita tahu arti dan maksudnya, sering kali kita merasa asing bahkan bingung karena harus bicara apa. Namun, ketika salah satu di antara masyarakat daerah tersebut paham dan mengerti bahasa Indonesia, maka kita merasa senang bahkan merasa akrab untuk berbicara dengan pengguna Bahasa Indonesia tersebut.

Inilah yang disebut sebagai fungsi ragam baku sebagai pemersatu. 

Fungsi Pemberi Kekhasan

Fungsi ragam bahasa Indonesia yang kedua adalah sebagai pemberi ciri khas dari bahasa yagn lain. Meskipun bahasa Indonesia berakar dari bahasa melayu, namun bahasa Indonesia baku mempunyai ciri khasnya sendiri sehingga bisa dibedakan dengan jelas antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Misalnya kata baharu diserap menjadi baru, ketika mendapat imbuhan pe-an menjadi pembaruan bukan pembaharuan. 

Fenomena yang sering terjadi di masyarakat, terutama generasi milenial sering kali ditemukan menggunakan bahasa-bahasa campur antara Indonesia dan Inggris, membuat fungsi ragam baku menjadi agak kacau. 

Hal ini disebabkan oleh penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah baku, meskipun ini tidak fatal, namun lambat laun akan mengakibatkan penurunan penggunaan bahasa Indonesia secara signifikan.

Fungsi Pembawa Kewibawaan

Fungsi yang ketiga adalah membawa kewibawaan. Jelas pengaruhnya antara pengguna Bahasa Indonesia yang baku pada acara-acara resmi terutama yang protokoler. 

Orang yang memakai bahasa Indonesia baku akan memberikan kesan prestise dan wibawa kepada lawan bicaranya pada keadaan tertentu. Sedangkan orang yang tidak mahir memakai bahasa Indonesia baku akan memberi kesan kepada lawan bicaranya menjadi kurang baik. 

Misalnya, ketika kita mendengar pidato orang yang bagus serta bisa mempengaruhi pendengar, namun ketika kita mendengar kata-kata yang tidak baku diucapkan, maka seketika itu merasa kurang berkesan. 

Misalnya mengucapkan merubah yang seharusnya mengubah. Hakekat yang seharusnya hakikat, dan lain-lain. 

Kesalahan itu mungkin sepele dan tidak disengaja, namun ketika itu digunakan pada acara-acara resmi, secara tidak langsung akan menurunkan kewibawaan secara tidak sengaja pula. 

Fungsi Sebagai Kerangka Acuan

Terakhir adalah sebagai kerangka acuan dalam berbicara dan menulis. Kerangka acuan misalnya dalam keadaan berpidato, isi dari pidato itulah yang menjadi kerangka acuan orang bisa memahami isinya. 

Lebih dari itu, misalnya sebagai teks undang-undang. Segala tafsir yang bisa dihasilkan selalu berdasar pada teks yang berbunyai di pasal dan ayat tersebut.

Menggunakan bahasa Indonesia yang baku pada keadaan-keadaan tersebut sangatlah penting untuk menyamakan pemahaman agar meminimalisir kesalahpahaman. Meskipun sulit dihindari secara sepenuhnya. 

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An Nur Yogyakarta dan Pengedar Buku di Elbustane Bookstore

Posting Komentar untuk "Ciri-ciri dan Fungsi Ragam Baku Bahasa Indonesia"

Berlangganan via Email