Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Burung Ciblek dan Kasih Sayang yang Tak Mudah Remek

Tadi pagi saya jalan-jalan sama Yahya. Seperti biasa muterin komplek warga sini. Pukul 05.30 jalanan masih sepi, motor dan sepeda masih belum berseliweran.

Saat jalan-jalan pagi begini, biasanya saya ngoceh aja mengenalkan Yahya jenis-jenis tanaman, hewan dan tentunya bangunan-bangunan yang terlihat oleh mata.

Yahya suka menirukan setiap saya mengenalkan kata-kata baru. Meskipun sebenarnya diulang-ulang, ya seharusnya seperti itu konsep belajar: mau mengulang-ulang.

Di tengah perjalan, saya mendengar bunyi cit-cit. Setelah dicari-cari sumber suaranya ternyata di bawah pohon mangga pinggir jalan yang kami lewati. Yahya penasaran. Itu apa. 

Ternyata bayi burung ciblek, ia sendirian di bawah pohon itu. Mungkin jatuh dari sarangnya. 

Tanpa pikir panjang, kubawa pulang sama Yahya. Di perjalanan ia sambil melihat-lihat apa yang sedang saya bawa. Ia masih penasaran.

Sesampainya di kontrakan, saya letakkan di keranjang kucing, karena saya tak punya kandang burung. Pikirku, nanti saya pinjem ke temen terdekat yang punya sangkar burung.

Setelah pinjam sangkar, yang sebenarnya itu untuk burung jenis lovebird. Tak apalah yang penting sangkar. Pikirku. Tancap gas saya beli pakan dan ulat hongkong tak berani beli banyak cukup seribu ripis saja.

Ketika pinjem sangkar, teman saya bilang namanya muwo (mencoba berpisah dengan induknya) dan katanya, setiap burung itu kalau muwo di hari jumat. Pas juga, sekarang hari sabtu, artinya kemaren jumat ia mencoba belajar untuk terbang dan pisah dengan teman-temannya. Disapih kalau istilah hewan menyusui. Hehe.

Terlepas itu mitos atau fakta, saya belum menelusurinya lebih jauh. Saya percaya aja deh. Hehe. 

Bayi ciblek catcit terus dari tadi, mungkin mencari induknya. Saya coba untuk memberinya makan, ia bergeming. Ya sudah. Saya pasrah saja. 

Sangkar burung saya gantung di teras sambil saya buka pintunya. Kali aja induknya juga sedang mencarinya. Saya sediakan air, ulat hongkong dan makanan secukupnya.
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1avkgqLVfKPUnsoRMPQvRSRIgeh8rv9kW

Tak lama kemudian, ada dua burung ciblek yang menghampirinya sambil membawa makanan di mulutnya. Ia berhasil masuk dan sejurus kemudian memberikan makanan itu kepada bayi ciblek tersebut.Saya hanya bisa melihatnya dari jendela dalam ruang tamu. Yahya senang melihatnya. Saya ambil gawai dan berhasil menjepretnya.

Lama saya memerhatikannya bersama Yahya, sedikit demi sedikit ulat hongkong yang saya sediakan tinggal beberapa saja. 

Sebenarnya saya tidak tahu, itu dua ciblek dewasa adalah orang tuanya atau bukan. Kukira iya. Tapi pastinya belum tahu. Saya juga bilang sama Yahya kalau itu adalah bapak dan ibunya bayi ciblek. Hehe

Istilah muwo disapih itu saya mulai ragu. Kemungkinan besar ciblek itu jatuh dari sarangnya bukan karena ingin pergi belajar mandiri, tapi karena kecelakaan.

Saya tak ada niat untuk memeliharanya, jika bayi ciblek itu sudah bisa terbang, kukira akan pergi juga. Semoga dalam waktu dekat ia sudah bisa terbang.

***

Mungkin ini cara Tuhan bekerja memberikan pelajaran penting untuk saya. Tentang kasih sayang dan kekompakan antara suami dan istri dalam menyayangi anak.

Anak tak cukup kasih sayang salah satu orang tuanya, selagi masih hidup. Orang tua harus bekerja sama, saling membantu dalam merawat dan menjaga anak.

Tuhan seolah mengatakan “Nyoh deloken dewe, manuk wae kerja sama, mosok kowe kalah karo manuk sing ra nduwe akal?”

Sambil menelanjangi diri sendiri, saya merasa malu.

Meskipun anaknya sudah dipungut manusia, ia tetap berusaha mencari anaknya, bahkan membawakannya makanan.

Tak hanya itu, yang mencari dan mendatangi bukan hanya betina atau jantannya. Tapi berdua. Mereka saling membawa makanan untuk anaknya. Mereka tak putus asa. 

Saya merasa bersalah karena sudah mengambilnya, niat saya cuma menolong bukan mengambil. Tapi justru malah menjadikan mereka kerepotan. Maaf ya burung ciblek kecil.

Terima kasih pelajaran untuk hari ini. Kulihat ia sedang tidur di sangkar pintu. Mungkin menunggu induknya kembali.
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An Nur Yogyakarta dan Pengedar Buku di Elbustane Bookstore

Posting Komentar untuk "Burung Ciblek dan Kasih Sayang yang Tak Mudah Remek"

Berlangganan via Email