Ads 720 x 90

Sekolah Bukan Tempat Mencetak, Tapi Menumbuhkan

Hai, manteman. - jarang saya nyapa di awal tulisan di blog ya. Kayaknya ini lebih asyik, ya. Sebab rasa-rasanya lebih komunikatif dan persuasif. Hehe

Di ruang perpustakaan ini, saya akan menulis tentang sebuah buku yang, bagi saya penting dibaca bagi para pendidik, orang tua sekaligus pengambil kebijakakan.
Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Karya Haidar Bagir
(sebagaimana yang tertera di kaver buku) Haha

Haidar Bagir yang dianggap sebagian orang sebagai antek syiah adalah penulisnya, yakni buku yang berjudul Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia; Meluruskan kembali Falsafah Pendidikan Kita.

Buku setebal 212 halaman ini membicarakan soal realitas dan fakta pendidikan di negara kita tercinta ini; Indonesia. 

Mulai dari kurikulum, sistem pendidikannya, cara mendidiknya, hingga capaian-capaian atau output dari sekolah itu sendiri.

Rasanya tidak mungkin membahas semuanya di sini, yang ingin saya tulis adalah tentang gagasan sederhana namun sangat mendasar tentang pendidikan, yakni Sekolah bukan tempat mencetak, namun untuk menumbuhkan.

Kita sering melihat dan membaca slogan-slogan iklan baliho-baliho di jalan tentang visi-misi pendidikan di sebuah sekolah, misalnya ...

... mencetak siswa mandiri dan berakhlak mulia 
... mencetak generasi muda yang kreatif dan inovatif
... mencetak peserta didik menjadi insan mulia

dan lain sebagainya. 

Mungkin terkesan benar, namun secara bahasa dapat kita tafsirkan bahwa diksi mencetak adalah menyeragamkan. Semua siswa diajari materi yang sama, kurikulum yang sama, buku yang sama, dan semuanya pokoknya sama.

Berbeda adalah gagal dan salah. Begitulah kira-kira. 

Hal yang sepele saja, misalnya seragam. Hehehe. PD gak PD, mau cakep mau jelek, pokoknya bajunya harus warna ini, dan bawahnya harus warna ini.

Ternyata, kita mulai dari kecil memang dididik untuk seragam. Jadi ingat masa-masa sekolah. Hmmm

Dalam membahas hal tersebut, di bab ketiga di buku ini, ia menjelaskan tentang tujuan pendidikan, yakni untuk mengaktualisasikan potensi manusia sehingga benar-benar menjadi manusia sejati.

Ia mengutip pendapatnya Schumacher (bukan atlet F1 lho ya) bahwa pendidikan kita tidak hanya menekankan pada aspek know-how nya tetapi juga mengembangkan potensi know-why nya.

Artinya, tidak hanya aspek kognitif saja yang dikembangkan tetapi juga aspek pemaknaannya, esensinya, spiritualnya sehingga kemampuan yang dimiliki bisa dikembangkan untuk menuju pada kebahagiaan.

Sebab kepintaran tidak selalu membawa kebahagiaan seseorang, apalagi kesuksesan.

Kembali soal mencetak dan menumbuhkan. Ini dua diksi yang sangat berbeda implikasinya. Bahkan jauh berbeda.

Diksi mencetak berarti menganggap bahwa semua siswa adalah sama dan harus dikembangkan secara seragam dalam hal tertentu, sedangkan diksi menumbuhkan, artinya mengafirmasi keberbedaan kemampuan yang dimiliki oleh siswa.

Sehingga kemampuan-kemampuan yang berbeda itu bisa diakomodir dan diarahkan menuju pada tempat yang seharusnya. 

Sebagaimana kita tak akan mengatakan ikan lebih bodoh dari monyet, hanya karena monyet bisa hidup di luar kolam, sedangkan ikan tidak.

Juga kita tidak akan mengatakan buah kelengkeng jauh lebih hebat dari pohon pisang, hanya karena pohon kelengkeng bisa berbuah berkali-kali, sedangkan pohon pisang, sekali berbuah mati.

Lebih lanjut, untuk mengatasi persoalan di atas, ada ungkapan menarik yang ditulis juga di buku ini, yakni;
Pikiran bukanlah bejana untuk diisi, tapi api untuk dinyalakan. - Plutarch 
Tugas guru sebenarnya adalah menyalakan api, bukan mengisi bejana. Sebab guru itu tidak sama dengan murid, baik dari sisi potensi maupun karakternya. Mengisi bejana berarti memaksakan pikiran untuk diikuti, dan ini ternyata bisa membunuh potensi siswa.

Oleh karena itu, sekolah bukan tempat berhasil, melainkan tempat "gagal" (dalam tanda petik) - h. 145


Lagi-lagi kita diingatkan bahwa "Kesalahan terbesar dalam ini ... kesempitan perspektif dalam memandang tujuan pendidikan, yakni bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mempersiapkan orang-orang yang sukses dalam kariernya, dan bukan untuk mencapai kebahagiaan hidup" - h. 146

Saya jadi ingat sistem sekolah Belanda, dengan politik balas budinya ternyata ada unsur terselubung bahwa alumni dari sekolah Belanda nantinya hanya akan menjadi petugas untuk kepentingan Belanda.

Kecurigaan saya, apakah ini diwariskan di era kolonialisme?

Tentunya ini pandangan yang keliru, seharusnya dan pada hakikatnya tujuan mendasar dari pendidikan adalah menjadikan anak cinta dan terampil belajar dan mencari ilmu, lalu mengembangkan kepercayaan diri, keberanian berekspresi dan keterampilan berkomunikasi ...

serta mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan pandangan dan hidup demokratis.

Dalam proses pembentukan hal tersebut, kata Haidar Bagir "Hanya mungkin dicapai jika siswa diberi ruang seluas-luasnya untuk mencoba-coba dan gagal atau keliru..."

Inilah yang dimaksud dengan "tempat gagal" bukan "berhasil" kegagalan siswa di kelas seharusnya tidak direndahkan martabatnya oleh guru, melainkan diberikan pemahaman bahwa gagal adalah biasa.

Banyak hal yang dapat kita cerna di buku ini, sesuai dengan judulnya, buku ini bersifat reflektif, kita diajak penulis untuk memahami kondisi pendidikan kita secara lebih luas dengan mempertimbangkan basis siswa/murid, bukan guru saja.

Terima kasih kepada Habib Haidar Bagir sudah menulis buku ini, saya bersyukur bisa membacanya. Untuk mengenal lebih jauh tentang beliau bisa klik di website beliau lekarhaidar.com

Judul: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan
Cet: ke-2 Oktober 2019
Penyunting: Azam Bahtiar
Qowim Musthofa
penjual buku

Related Posts

Post a Comment

Mau Berlangganan?