Kita Selalu Bersepakat Tentang Uang, Bukan Kemanusiaan

Yuval Noah Harari, seorang ilmuan kebangsaan Yahudi yang katanya juga seorang gay, yang menulis Sapiens Riwayat Singkat Umat Manusia, di sebuah presentasinya yang saya tonton di yutub menjelaskan tentang kenapa kita manusia itu berbeda dengan hewan lainnya. Di mana letak perbedaannya?

Di antaranya adalah manusia mempunyai nilai-nilai yang bisa disepakati oleh ribuan, jutaan bahkan milyaran penduduk di muka bumi ini, oleh sebab kesepakatan-kesepakatan itulah, manusia bisa bekerja sama satu dengan yang lainnya, bisa atas nama agama, negara, bangsa dan lainnya. Tak terkecuali adalah uang.

Kita tahu, uang itu hanyalah selembar kertas yang memanipulasi cara berpikir kita tentang nilai. Kita bisa menukarkan kertas tersebut dengan mie ayam, gorengan di angkringan, indomie bahkan, bahkan sebagai mahar perkawinan.

Siapa yang memutuskan bahwa selembar kertas tersebut mempunyai nilai yang setara dengan barang-barang yang kita miliki?

Agaknya, diri kita juga demikian. Jasad dan fisik kita adalah sesuatu yang sebenarnya tidak bernilai apa-apa kecuali untuk menopang jiwa kita, oleh karena itu ketika jasad kita remuk dimakan tanah, jiwa dan pikiran kita masih bersemayam entah di mana, mungkin menjelma menjadi kenangan di teman-teman kita, saudara, anak, istri dan seterusnya.

Tentu kita pernah menemukan selembar uang yang sudah lecek, bahkan terdapat bekas robekan lalu dilem dengan sulasi. Meskipun saya enggan menerimanya, tapi kalau sudah terlanjur di tangan, apa rela kita buang begitu saja?

Tentu tidak. Kalau kita enggan membelanjakannya, tentu kita lebih sepakat untuk mensedekahkannya, di masjid misalnya, atau sebagai persediaan kalau ada pengamen dan orang yang meminta-minta.

Itu perilaku yang jamak saya temukan, bahkan saya sendiri.

Saya pernah nonton di yutub ada motivator dengan kalimat-kalimat yang menggugah khas nada-nada motivator mengambil selembar dolar di depan penonton, tiba-tiba ia merobek uang tersebut menjadi dua, diremas sampai lecek lalu diinjak-injak. Kemudian beranjak bertanya kepada penonton sambil memegang uang tersebut.

Apa ini? sambil berteriak. Ya tentu penonton menjawab itu adalah uang.

"Ini uang satu dolar yang sudah saya robek, remas-remas lalu saya injak-injak, tapi kalian masih menyebutnya uang?" Katanya.

"Kalian tahu kalau ini uang 1 dolar yang sudah rusak tapi kalian tetap menganggap ini uang, sedangkan kita itu lebih baik dan bernilai daripada selembar kertas ini."

Penonton bersorai seperti diberi amunisi semangat untuk hidup tidak berputus asa.

Kita memang tidak sama dengan uang, atau tidak sebanding jika dibanding-bandingkan. Namun pola pikir kita terhadap uang dan diri kita sendiri atau orang lain itu tidak sama. Di situ letak persoalannya.

Saya termasuk orang yang tidak mudah melupakan kesalahan, meskipun sudah memaafkan bahkan memakluminya. Pandangan ini mengakibatkan pola pikir saya kepada orang yang bersalah seperti setitik nila rusak susu sebelangga.

Namun, pikiran-pikiran tersebut sering bisa saya tepis dengan mamakai pola pikir uang yang bernilai sama meskipun lecek dan kucel.

Agaknya kita memang selalu berpikir demikian, tidak ada orang yang sia-sia hidupnya ketika ia tahu bahwa ia mempunyai status yang sama di sisi pencipta, yakni sebagai manusia.

Kita selalu bersepakat tentang nilai-nilai uang yang terbilang, tapi kita sering lupa bahwa manusia lebih berharga dari selembar kertas yang disebut sebagai uang.

yang fana adalah manusia, uang abadi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kita Selalu Bersepakat Tentang Uang, Bukan Kemanusiaan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.