Membaca Mark Manson Rasanya Seperti Mau Pipis di Celana


Setiap buku mempunyai kesan tersendiri, selalu berbeda dan unik. Sama seperti kita bertemu orang lain. Ada buku-buku yang membuat kita jatuh cinta, ada buku yang membuat kita kecewa, ada pula buku yang hanya kita baca judulnya, tanpa menyentuhnya apalagi hingga membukanya.

Saya tipe orang yang tak tertarik dengan buku-buku motivasi seperti cara hidup bahagia, jurus sukses dalam bisnis, apalagi jurus cepat kaya. Tidak. Buku-buku tentang motivasi bagi saya termasuk buku yang hanya saya baca judulnya, tanpa menyentuhnya apalagi hingga membacanya.

Namun, pandangan saya berbeda ketika melihat judul "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" yang diterjemahkan dari The Subtle Art of Not Giving a Fuck.

Hal ini bermula karena saya adalah penjual buku sejak Februari 2017. Di salah satu grup bakul buku yang saya ikuti, buku tersebut laku keras, setiap ada yang ngepost, satu hari bisa ludes 20 eksemplar. Pokoknya laris.

Saya punya grup namanya Keluarga Yabuku, khusus untuk para pelanggan saya. Di sana ada beberapa pelanggan yang menanyakan bukunya Mark Manson itu. Walhasil, saya tergoda untuk membeli. Saya beli dua eks, sengaja bukan untuk saya jual lagi, tapi saya baca sendiri. Satu lagi saya berikan untuk putri kiai saya, lewat istri saya.

Di halaman pertama setelah saya buka, baddalaaa ... sejak Februari hingga September 2018 buku tersebut dicetak oleh Gramedia sembilan kali, bayangkan sembilan kali.

Saya tidak tahu persis berapa eksemplar sekali naik cetak, tapi jika dilihat dari penerbit Gramedia, tentu bisa lebih 10.000 eksemplar/cetak. Saya mau gugling untuk validasi data sudah malas sekali. Intinya banyak lah.

Kira-kira saya selesai membaca dalam waktu lebih kurang satu pekan. Cukup lama untuk ukuran jumlah halaman yang hanya sekitar 250-an halaman itu.

Setelah saya selesai membacanya, ada beberapa hal yang harus saya tulis di sini.

Pertama, Mark merupakan seorang blogger yang tekun menulis konten-konten kreatifnya. Ia mendesain blognya sendiri dan mandiri. Artinya, ia berangkat dari nol dan tekun. Satu hal yang sulit dilakukan di dunia ini; istikamah.

Ia pernah menantang dirinya sendiri untuk menyelesaikan 50 judul buku non-fiksi dalam waktu 1 bulan. Dan ia berhasil.

(Saya lupa, 50 judul atau 80 judul, atau kurang dari 50 judul. Maaf ingatan fotografi saya lemah. Hahaha.)

Ia pernah mengalami kesulitan yang luar biasa, numpang di kos-kosan temannya rela hanya tidur di atas sofa, tukang mabok dan tentunya seks bebas. Wajar lah. Namanya juga di Amerika.

Kedua, sebagian besar isi bukunya adalah menjelaskan tentang bagaimana cara untuk hidup dan bersikap biasa saja tentang hal-hal yang tidak bisa kita lakukan. Ini bagus menurut saya.

Sering kali kita terobsesi dengan kesuksesan orang lain, sehingga kita memacu diri kita untuk seperti dia. Standar hidup yang baik selalu disandarkan kepada orang lain, padahal kita tidak seperti mereka, dan tidak akan pernah seperti mereka.

Ini akan mengakibatkan mentalitas dan kepribadian kita menjadi orang yang rendah diri, tidak percaya diri hingga merasa bahwa kegagalan adalah hal yang harus kita jauhi. Padahal, justru dengan kegagalan itulah sering kali kita mendapatkan pelajaran yang beraharga.

Mark memberikan cerita tentang kisah mantan gitaris metallica yang sudah mendirikan band ternama dan besar yakni Megadeath.

Ketiga, saya membaca Mark seolah sedang ditampar-tampar tapi bingung karena tak bisa membalas. Betapa Mark bisa memberikan narasi yang luar biasa tentang keterbatasan manusia. Menyadari keterbatasan kita bukan berarti tidak percaya diri, justru sebaliknya kita menjadi mempunyai spirit yang lain untuk menyatakan kepada dunia "Jika orang lain bisa seperti itu dan sukses, maka saya tidak harus seperti itu tapi bisa sukses. Saya bukan orang lain, saya adalah saya."

Kesadaran demikian harus dimiliki oleh setiap orang sebab, setiap orang terlahir dengan berbeda, bahkan bayi kembar pun, pasti ada keberbedaan, baik dari hal yang kecil hingga hal-hal yang besar. Jika sudah berbeda kenapa kita harus susah-susah menyamakan kesuksesan kita diukur dengan kesuksesan orang lain.[?]

Keempat, Mark adalah orang yang bisa jujur dan menertawakan dirinya sendiri di hadapan orang lain. Dan dengan itulah ia bisa memberikan pemahaman kepada para pembacanya. Ia juga orang yang percaya diri terhadap apa yang sudah ia alami. Padahal, kehidupan Mark ini kalau kita lihat dari sudut pandang teologis, katakanlah Islam. Maka kita akan mengerti bahwa kehidupan Mark sangatlah penuh dosa-dosa. Hehe.

Hal yang paling membuat saya terpingkal-pingkal ketika membaca buku ini adalah ketika ia ingin menciptakan pahlawan, tentu bukan super hero sebagai penyelamat setiap bencana dan kejahatan. Melainkan super hero yang ia sebut sebagai "Panda Nyinyir"

Panda Nyinyir ini bertugas untuk mengatakan kepada orang-orang tentang kebenaran-kebenaran yang pedas terkait mereka sendiri sekaligus tak mau mereka dengarkan. Misalkan ia datang ke depan pintu rumah kita dan mengatakan bahwa anak atau istri kita ternyata tidak pernah menginginkan kita panjang umur, dan sejenisnya.

Fungsinya apa, agar semata-mata kita tahu diri bahwa kita ini tidak sempurna dan tidak pernah sempurna. Jika kita tahu kita sendiri tidak sempurna maka untuk apa mengejar kesempurnaan yang tidak akan pernah menjadi milik kita[?]

Kenapa demikian?. Sebab kesempurnaan adalah milik Tuhan dan sekaligus milik Andra and the back bond. Sempurnaaaaa ...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.