Akhlak, Moral dan Etika



Oleh: Qowim Musthofa[1]
Abstract

Kehidupan manusia selalu dipenuhi dengan perilaku yang beragam, disebabkan perbedaan geografis, kultur, bahasa, bahkan agama. Oleh sebab itu perilaku manusia pun tidak pernah terlepas dari pengaruh perbedaan tersebut. Termasuk hal yang paling fundamental adalah persoalan tindakan baik/buruk. Hampir semua komunitas manusia mempunyai pengertian yang subjektif, lalu membicarakan hal tersebut sehingga memunculkan istilah-istilah yang berbeda seperti akhlak, moral dan etika. Dalam tradisi Islam disebut akhlak, tradisi Barat disebut moral, sedangkan tradisi filsafat disebut etika. Perbedaan term itu pun akan mempengaruhi landasan secara epistemologis dari ketiga term tersebut.

Kata kunci; akhlak, moral, dan etika.

Prolog
Manusia merupakan satu dari sekian ekosistem yang tak terbatas di muka bumi ini, segala hal-ihwal yang berkaitan dengan manusia dan kemanusiaan menjadi sebuah misteri yang selalu segar untuk didiskusikan, dikaji sekaligus dikritisi, terutama segala perilaku yang berkaitan dengan manusia itu sendiri. Tidak lebay apabila jarang sekali –untuk tidak mengatakan tidak ada– terdapat keilmuan yang secara teoritis maupun praktis bisa diterapkan oleh satu komunitas tertentu, atau satu ketetapan ide secara universal yang disepakati dan berlaku bagi semua manusia.
Oleh sebab itu filosof sekaligus sastrawan Rusia yang bernama Dostoevsky (1821-1881) pernah mengatakan “Manusia adalah misteri. Ia perlu dipecahkan, dan jika itu kau lakukan sepanjang hayat, jangan katakan kau kehilangan waktu, aku menekuni misteri itu, karena ingin menjadi manusia.” Kutipan itu menandakan bahwa betapa rumitnya sistem kemanusiaan dan manusia itu sendiri, baik dilihat dari perkembangannya secara fisik, psikologis, perkembangan intelektual manusia, bahkan tindakan dan perilaku manusia itu sendiri. Mungkin selama manusia hidup di dunia ini, selama itu pula terdapat perkembangan-perkembangan yang terjadi, dan pengetahuan manusia hari ini belum bisa dianggap final-anti kritik.
Kerumitan manusia dalam hal ini, salah satunya adalah tentang tindakan dan perilaku manusia yang dilihat dari sudut pandang baik-buruk. Kebaikan dan keburukan pun mengalami kompleksitas permasalahan tersendiri, bahwa apa landasan epistemologis yang digunakan untuk menilai sebuah kebaikan dan keburukan?, hal itulah yang nantinya mempengaruhi bagaimana sistem akhlak jika dalam agama Islam, atau moral dan etika, apa pengertian khusus dari term-term tersebut? Di mana letak perbedaan dan apa sih yang menjadi landasan epistemologi untuk menilai akhlak tersebut?. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang setidaknya akan dibahas –meskipun tidak secara tuntas dan terperinci– dalam catatan berikut ini.
Pengertian dan Perbedaan Akhlak, Moral dan Etika
Ketiga term tersebut, secara sederhana merepresentasikan arti dari sebuah tindakan, perilaku, kebiasaan dan tabiat yang dilakukan oleh manusia, terlepas dari baik atau buruk . Meskipun demikian, tentu ada perbedaan arti dari ketiga term tersebut, disebabkan masing-masing dari term tersebut berasal dari bahasa yang berbeda. Berikut adalah beberapa penjelasan tentang akhlak, moral dan etika.
Pertama, akhlak. Secara bahasa, akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-Khuluq (bisa dibaca al-Khulqu) yang mempunyai arti agama (ad-Din), kebiasaan (ath-Thab’u), dan perangai (as-Sajiyyah), menurut Ibn Mandhur dalam kamus Lisanu al-‘Arab, Akhlak merupakan bentuk hakiki dari dalam jiwa manusia secara batin (shuratu al-insan al-bathinah), dari bentuk batin tersebut dapat mempengaruhi kondisi lahiriyah seseorang, baik itu dinilai sebagai kebaikan maupun keburukan, artinya akhlak di sini masih netral tidak hanya khusus digunakan pada kebaikan, tetapi juga keburukan.[2] Oleh sebab itulah di dalam al-Qur’an terdapat istilah nafsu al-Muthmainnah dan nafsu al-Lawwamah atau akhlak mahmudah dan akhlak mdzmumah. Lebih lanjut, karena akhlak merupakan sebuah kebiasaan yang terdapat dari dalam jiwa manusia, akhlak sarat akan terpengaruhi oleh ide-ide agama, budaya, dan aturan-aturan yang diberlaku di suatu tempat, baik bersifat temporer maupun permanen.
Selain itu, menurut Ibn Miskawaih, akhlak merupakan sebuah tindakan berasal dari dalam jiwa manusia yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa adanya proses berpikir dan memilih (hal li an-nafs da’iyatun laha ila af’aliha min ghairi fikrin wa la ruwiyyatin.)[3] seperti marah dan tertawa, kita tidak perlu berpikir terlebih dahulu untuk marah atau tertawa, keduanya secara tiba-tiba dan mengalir begitu saja. Pandangan seperti demikian mungkin terkesan bersifat naluriah manusia yang dibentuk oleh kondisi tertentu. Hal ini juga dijelaskan oleh al-Ghazali bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam di dalam jiwa (haiatun fi an-nafs) manusia yang menimbulkan berbagai macam perbuatan secara sederhana dan mudah, tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran.[4]
Kedua, Moral. Istilah moral secara bahasa diambil dari kata “mores” yang berarti kebiasaan, dalam kamus bahasa Indonesia kata moral diartikan sebagai ajaran perbuatan baik/buruk.[5] Sedangkan secara terminologi, menurut Aristotle, Moral adalah hasil dari tindakan yang sudah menjadi sebuah kebiasaan (moral virtue comes about as a result of habit), sebab itulah moral juga merupakan hasil tindakan dari kebiasaan secara alamiah yang berulang (continuous).[6] Lebih spesifik lagi, menurut Abuddin Nata Moral merupakan sebuah istilah yang dijadikan sebagai penentuan batas-batas baik dan buruk dalam ruang lingkup masyarakat tertentu.[7]
Sampai di sini, antara akhlak dan moral terdapat kesamaan yang saling berkaitan, terutama sama-sama membahas tentang tindakan manusia secara alamiah tanpa dibuat-buat dan muncul dari sebuah kebiasaan (habit). Secara sederhana, kebiasaan makan di meja atau lesehan, masyarakat Jawa masih erat dengan budaya makan lesehan dan tanpa memakai sendok (baca; muluk), sedangkan di negara-negara Eropa, makan seperti demikian bisa disebut sebagai tindakan yang tidak bermoral, karena kebiasaan mereka makan di meja menggunakan sendok, garpu, bahkan pisau. Demikian penilaian tindakan disebut sebagai bermoral atau amoral sarat akan latar belakang lingkungan dan tradisi yang mempengaruhi.
Ketiga, etika. Etika merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang bagaimana sebaiknya kita hidup, bagaimana sebuah tindakan bisa disebut benar dan salah, atau baik dan buruk.[8] Menurut Abuddin Nata, etika merupakan ilmu yang membahas tentang perilaku manusia untuk menentukan sekaligus menilai baik/buruknya tindakan, yang bersumber dari pikiran dan logika sekaligus mempertimbangkan aspek keilmuan yang lain seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi, dsb. Dengan demikian etika bersifat humanitis antroposentris[9] yang berdasar pada pemikiran manusia sekaligus diarahkan kepada manusia.[10] Menurut Peter Singer, etika sama sekali tidak bersinggungan dengan agama, baik secara partikular maupun general, hal ini disebabkan karena etika merupakan fenomena alamiah yang secara natural dialami oleh semua manusia secara universal.[11]
Dari penjelasan di atas, menurut saya akhlak, moral, dan etika mempunyai kesamaan, yakni sama-sama membahas tentang perilaku manusia, sedangkan perbedaannya terletak pada penilaian (judgment) yang digunakan masing-masing istilah tersebut. Akhlak dan moral menggunakan dan dipengaruhi oleh lingkungan, tradisi, bahkan nilai-nilai suatu agama. Lebih khusus lagi, bahwa terminologi akhlak sering digunakan dalam tradisi agama Islam, sedangkan moral digunakan dalam tradisi di luar tradisi Islam. Dengan kata lain, akhlak dan moral adalah sama-sama produk yang bahan-bahannya hasil dari olahan tradisi, lingkungan, dan nilai-nilai agama. Misalnya, di dunia Barat trend free sex sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi, bahkan dilegalkan oleh Undang-undang negara, di wilayah timur seperti Jepang juga sudah dilegalkan, namun di negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim dan tidak berideologi sekular, tindakan tersebut masih disebut sebagai tindakan yang tidak baik, bahkan dalam perspektif agama Islam salah satu dosa besar.
Jika demikian, lantas bagaimana metode untuk mengetahui kebaikan dan keburukan, kenapa terdapat perbedaan dalam menilai kebaikan dan keburukan, dari mana datangnya pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan?. Nah, inilah garapan etika. Etika membicarakan tentang hal-hal yang bersifat demikian, lebih jauh lagi menelisik tentang alasan-alasan kenapa dianggap baik-buruk oleh akhlak maupun moral.  
Landasan Epistemologis Akhlak, Moral dan Etika.
Epistemologi, atau secara sederhana bisa diartikan sebagai sumber pengetahuan, informasi, bahkan kebenaran. Dalam konteks akhlak, moral dan etika, kata epistemologi dapat diartikan sebagai sumber pengetahuan manusia untuk menilai bagaimana sebuah perilaku bisa disebut sebagai perilaku berakhlak, bermoral, dan beretika.
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwa akhlak dibentuk oleh tatanan masyarakat, komunitas, dan tradisi tertentu, begitu pula dengan moral yang sarat akan pengaruh dari ide-ide umum suatu masyarakat tertentu. Namun, akhlak lebih khusus digunakan dalam perspektif agama Islam, jadi segala hal yang diinformasikan oleh al-Qur’an dan hadits adalah sebuah tuntunan bagi manusia menuju akhlak yang baik. Sedangkan moral, yang menjadi sumber informasi dan pengetahuan tentang baik-buruk lebih kurang sama, yakni menggunakan tolok ukur norma-norma yang tumbuh berkembang dan berlangsung di masyarakat, yang sarat dipengaruhi oleh tradisi dan agama.
Selanjutnya, akhlak dan ilmu akhlak harus dibedakan, bahwa akhlak adalah tindakannya, sedangkan untuk menilai tindakan itu disebut sebagai ilmu akhlak. Begitu pula dengan moral dan etika, bahwa moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem yang ada tentang moral tersebut. Dengan demikian, etika lebih bersifat pemikiran secara filosofis dan berada dalam tataran konsep yang bersumber dari rasionalitas logika manusia.[12]  
Kesimpulan
Dari penjabaran singkat di atas, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa di antara akhlak, moral, dan etika mempunyai karakteristik tersendiri di dalam penggunaannya, akhlak lebih sering digunakan dalam tradisi agama islam dan dipengaruhi oleh landasan teks agama seperti al-Qur’an dan hadits. Moral lebih sering digunakan untuk menilai perilaku manusia dengan menggunakan tolok ukur tradisi, norma-norma yang tumbuh berkembang di masyarakat tertentu. Sedangkan etika merupakan kajian filosofis untuk mengkaji moralitas dan akhlak tersebut, yang bebas-lepas dari kerangkeng agama, tradisi, serta norma-norma. Oleh sebab itu , landasan epistemologi yang digunakan adalah rasionalitas serta logika dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek bidang keilmuan.
Daftar Pustaka
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013   

Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, juz III, Beirut: Dar al-Fikr, tth.

Hoetomo, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Mitra Pelajar, 2005

Ibn Mandhur, Lisan al-‘Arab, Kairo, tth

Ibn Miskawaih, Tahzhibu al-Akhlaq, Beirut: Mansyurat al-Jamal, 2011

Singer, Peter (ed.), Ethics, London: Oxford University, 1994

W.D. Ross. Trans. and Introd. The Nicomachean Ethics of Aristotle, London: Oxford University, 1959


[1] Disampaikan di kelas Tarbiyah-Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu al-Qur’an (STIQ) An-Nur pada Kamis, 15 Oktober 2015 mata kuliah Akhlak Tasawuf.
[2] Ibn Mandhur, Lisan al-‘Arab, (Kairo, tth), h. 1245
[3] Ibn Miskawaih, Tahzhibu al-Akhlaq, (Beirut: Mansyurat al-Jamal, 2011), h. 265
[4] Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, juz III, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), h. 56
[5] Hoetomo, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Mitra Pelajar, 2005), h. 342
[6] The Nicomachean Ethics of Aristotle, trans. and Introd. W.D. Ross (London: Oxford University, 1959), hlm. 28. Lihat juga Peter Singer (ed.), Ethics, (London: Oxford University, 1994), h. 27
[7] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013), h. 78       
[8] Peter Singer (ed.), Ethics…, h. 3
[9] Humanities antroposentris bisa diartikan sebuah nilai kemanusiaan yang berpusat pada standar perilaku manusia itu sendiri, mulai dari karakteristik, metodologi, dan logika yang dipakai oleh manusia yang bersifat lokal, temporal, bahkan universal.
[10] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf..., h. 76-77
[11] Peter Singer (ed.), Ethics…, h. 5
[12] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf..., h. 78-79

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Akhlak, Moral dan Etika"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.