Pesan Seorang Pramuria

Fajar menyingsing, sebentar lagi mentari menari menggantikan bulan. Sebagai manusia aku juga butuh istirahat, tidur, dan sejenak melepas penat. Entah mulai saat kapan aku jadi tak pernah tidur malam. Bertahun telah kulewati, hampir tak pernah menyaksikan matahari terbit, karena aku selalu tidur bila sudah fajar berkedip.
Tapi kali ini aku tak ingin tidur, entah juga tak merasakan kantuk. Sebagai manusia, bukan, bukan
manusia sebenarnya. Namun sejenis robot bernyawa, yang tiap malam dituntut untuk bekerja menjadi seorang pramuria di sebuah warung kopi. Disebabkan waktu bukanya pada sore hari sampai dini hari, aku harus memaksa diri agar tak tidur di malam hari.
Aku berangkat kerja pada pukul 17.00 WIB, dan pulangnya pukul 04.00 WIB. Berapa jam? Sepuluh jam. Sepuluh jam aku bekerja dengan upah tak sebanding dengan waktu aku bekerja. Kalau tidak salah, itu sudah melanggar undang-undang buruh. Iya, kan? Kalau mau aku melapor pada pak polisi, akan kulaporkan tentunya. Namun, aku tak sampai hati melihat bosku yang sebenarnya agak sinting, dan banyak cing-cong itu. Nanti bila dia dipenjarakan aku pasti kesepian karena tak ada lagi yang banyak omong selain dia. Terkadang dunia juga butuh orang yang banyak cing-cong sebagai pemeran figuran seperti para mahasiswa orasi yang sering di jalan itu. Tapi ya tidak perlu banyak-banyak, nanti bisa fatal akibatnya.
Sebagai seorang pramuria tentunya banyak pengalaman yang tak kalah menarik dengan para mahasiswa, atau aktifis-aktifis LSM yang sering menawarkan advokasi. Tentunya tidak sama, juga tak akan pernah sama. Mungkin kalau aku ini seorang mahasiswa, aku bisa protes, bahkan demonstrasi dengan para karyawan lain kepada bos. Tapi dikarenakan aku bukan mahasiswa, jadi hanya bisa mengeluh seperti ini.
O, jangan anggap bahwa aku ini orang yang suka berputus asa. Tidak sama sekali. Kalau aku putus asa, mana mungkin aku mau kerja seperti ini, bunuh diri saja malah lebih baik, justru mempermudah dan mempercepat menjalani tanggung jawab kepada Tuhan. Atau aku ini dikira orang yang tak bekerja keras. Lha ini pekerjaan yang sangat keras sekali, tidak banyak orang yang bisa dan kuat melakukan seperti aku ini. Juga mana mungkin mau menjadi seperti aku.
Kalian tentu bertanya, Apakah ini pekerjaan satu-satunya?
Tentu tidak, kata keluarga dan teman-temanku, aku ini pantas menjadi seorang polisi, atau tentara. Karena badanku yang tegap, tinggi, dada lebar dan membusung, kekar, ah pokoknya sangat ideal. Namun, kata orang, bila ingin jadi polisi itu harus dengan uang puluhan juta. Alamakjang... dapat uang dari mana aku ini? Uang jutaan pun melihat saja tidak pernah, apalagi puluhan. Maaf, jika ada yang menjadi polisi atau tentara, atau ayahnya, saudaranya, bahkan pacarnya. Aku hanya sekedar diberi tahu, kemudian memberi tahu, itung-itungannya tidak untuk untung dan rugi, yang aku ucapkan sama dengan apa yang kudapat. Istilah orang jawa Kulak warta adol kondo.
Kukira aku ini orang yang sangat malang nasibnya, bagaimana tidak? Dari awal kelahiranku saja orang tuaku bingung memberi nama aku, sampai sekarang saja namaku banyak sekali. Aku tahu karena cerita dari tetangga-tetanggaku, mungkin karena latar belakang pendidikan yang sangat rendah. Hingga sampai saat ini, namaku yang asli yang mana aku tak tahu. Teman di warung kopi memanggilku Dombek. Teman kecilku menyebut aku Gogon. Para tetanggaku memanggil Karji. Tapi aku cukup bahagia karena sekarang orang tuaku sudah memanggil aku dengan panggilan Karji. Jadi maklum kalau aku ini tidak punya akta kelahiran, KTP, KK, atau bahkan SIM, bagaimana mau buat, wong tanggal lahirku saja aku tak ingat. Tapi nyatanya sampai sekarang aku masih bisa hidup di Indonesia Raya, terlepas itu diakui atau tidak. Toh apa guna KTP, wong aku saja tidak pernah pergi jauh dari rumah, juga apa gunanya SIM, kalau aku tak pernah naik sepeda motor.
Sebenarnya aku ini orang yang tak pernah sekolah. Jadi wajar, kan? Kalau tidak bisa mencari pekerjaan yang lebih layak dari pada jadi seorang pelayan, apalagi jadi polisi, atau tentara, atau mungkin pengajar PNS. Angan yang jauh sekali. Dahulu aku malu karena tidak bisa sekolah, karena sering diejek teman-teman kampung, juga dijauhi karena dianggap sebagai orang yang tak punya sopan santun, karena tentunya dianggap belum pernah diajari apa itu sopan santun. Beeh, kupikir apakah di sekolahan itu diajari cara menilai orang yang buruk karena ia tidak sekolah. Tapi sekarang saja banyak yang berpendidikan tapi moralnya nol. Maaf bila ada yang berpendidikan. Aku hanya memberi pengertian agar kalian tak merendahkanku. Masih untung di sini tidak aku sebutkan beberapa contoh, pasti nanti kalian akan semakin menginjak harga diriku habis-habisan. Salah satu pengalaman sekarat pahit macam rasa empedu yang terjadi padaku ketika aku masih usia remaja dulu, mayoritas orang tua temanku melarang aku berteman dengan anaknya, hanya karena aku tidak pernah mengenyam bangku sekolah, mereka berpikiran bahwa belajar itu ya di sekolahan, tidak di yang lain. Dan tidak akan bisa pintar bila tidak bersekolah. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya anak-anak merekalah yang mengajariku bagaimana merokok, minum-minuman keras, bermain poker, domino, sanggong, dan remi. Kukira di sekolahan diajari macam itu. Dan bodohnya aku dulu ingin sekolah karena selalu kalah main kartu dengan mereka –anak sekolahan.
Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku ini orang yang cerdas sekali, walaupun cerdas dalam lingkup orang miskin dan tak bersekolah. Aku yakin kalian tak ada yang percaya. Karena aku tahu pengertian orang cerdas menurut kalian itu adalah orang yang sekolah. Orang yang cerdas, pintar tapi tak bisa menduduki jabatan aku yakin sama saja seperti orang bodoh, dan dianggap bodoh. Tapi tak jadi soal, akan sedikit kuceritakan mengenai kecerdasanku, dan itu sedikit sebab aku bisa diterima bekerja menjadi pramuria. Padahal teman-temanku yang lain melamar jadi tukang pelayan itu harus memberikan ijazah minimal SMP/sederajat, KTP, dan KK. Tapi aku tidak. Aku juga kadang muak kenapa menjadi pelayan seperti ini harus memakai ijazah SMP. Dalam batinku selalu bertanya, ini di negara Indonesia, di luar negeri sana mungkin harus memakai ijasah strata satu untuk melamar pekerjaan macam aku ini.
Siapa yang tak kenal aku di warung kopi ini? Tentu kenal semua, tak ada pengunjung yang tak kenal denganku. Di samping ahli menjadi pramuria, aku juga ahli dalam bidang berkelahi, ini berkat keseriusanku mendalami kung fu pada usia belasan tahun. Sebab itu pula aku jadi tim keamanan di warung kopi ini. Jadi kalau kalian itu mendalami pendidikan yang berkarakter, maka sial betul nasib kalian. Karena semua orang mempunyai kecerdasan ganda. Akibat keahlianku tersebut aku sering mendapat uang tip dari para pelanggan.
Aku sangat menikmati hidupku ini, walaupun sebenarnya aku bernasib malang, karena menjadi orang miskin. Tapi para ustadz-ustadzah yang sering nampang di TV selepas subuh selalu berkata “syukurilah nikmat Tuhan yang tak terhingga, miskin itu malah simpel, di akhirat nanti malaikat-malaikat tidak banyak oceh bertanya tentang harta” itu yang membuat aku sedikit bangga menjadi orang miskin. Bagaimana tidak bangga? Wong tiap hari yang disebut-sebut di TV kan orang miskin, mulai dari jumlahnya, nasibnya, peruntungannya, dsb. Jadi jangan heran kalau aku ini artis juga. Kupikir digaji berapa ustadz-uztadzah yang selalu memakai baju-baju putih memberikan ceramah. Aku yakin mereka itu bukan orang miskin, makanya seenaknya saja ngomong macam itu. Semoga mereka melakukan juga apa yang mereka katakan.
Sayang sekali, Tuhan memilihkan aku untuk terlahir dalam keadaan miskin. Di Indonesia lagi, penderitaan orang miskin di Indonesia semakin diperparah oleh orang kaya. Nasib tak bisa memilih, beruntung tak bisa juga diraih.
Setelah sekian tahun aku menghadapi malu karena tak sekolah, baru beberapa bulan kemarin aku lega, karena aku bangga menjadi orang yang tak sekolah. Aku yakin, sebagian besar dari kalian yang sekolah adalah orang tuanya kalian berpenghasilan di atas standar orang miskin -kecukupan, karena kategori orang miskin di Indonesia itu tiap bulan tidak lebih berpenghasilan 250.000 rupiah, aku berani menjamin orang tua kalian tidak ada yang semiskin aku ini. Mungkin ada juga orang tua kalian yang sudah terlanjur kaya macam Madit yang sering nampang di sinetron Islam KTP.
Sekolahan itu hanya berhak untuk orang-orang yang kaya, kalaupun ada untuk orang miskin tentunya lebih sedikit. Kukira jelas alasannya, karena orang kaya itu mempunyai tanggung jawab untuk membelanjakan hartanya, makanya disekolahkan agar tak salah sasaran membelanjakan harta. Sedangkan orang miskin tak usah terlalu pintar dalam mengurusi hartanya, karena memang tidak ada harta yang diurusi. Mungkin seperti demikian, sepertinya aku terlalu naif bila berpraduga baik kepadamu.
 Setidaknya ada dua hal yang membuatku bangga menjadi orang yang lepas dari korban ke-binatang-an sekolah. Sekali lagi jangan pernah kalian menganggapku orang yang berwatak keras, sak karepe udele dewe, menghujat sekolahan, dan bermacam sifat buruk. Tapi inilah jalan satu-satunya agar kalian tak menghardikku di mana-mana.
Pertama, pengertian belajar yang terbangun di masyarakat kita, yaitu orang yang sekolah. Orang tidak bisa dikatakan belajar bila tak pernah mengenyam bangku sekolahan. Padahal kupikir itu pengertian yang picik. Aku termasuk orang yang tak bisa menjamin anak sekolahan masa depannya akan cerah dan gemilang. Banyak contoh dari tetangga dan temanku yang tak sanggup aku ceritakan di sini, kalau sekolah tidak bisa menjamin orang akan mempunyai masa depan yang cerah. Satu saja cukup mungkin, Bill Gates –pencipta microsoft. Dia lah salah seorang yang drop out dari sekolahnya karena sekolah tidak berperan penting dalam menentukan kesuksesan. Kukira sekolah hanya mempersuram masa depan dan membodohkan orang.
Kedua, sekolah ibarat penjara yang memenjarakan orang oleh sistem pendidikan yang diselenggarakan melalui sekolah fomal. Bagaimana tidak, sekarang itu di penjara banyak diisi oleh para bandit tulen yang mayotitas sekolahnya sampai sarjana, koruptor, makelar kasus, wakil rakyat, dll. Kaum muda yang tadinya mempunyai kreatifitas dan kritis, disekolahkan. Lalu di sekolah mereka diajari jampi-jampi, dibius kesadarannya, dilatih membuat proposal yang dananya bisa dikorupsi, dsb.[1] Mereka pikir bahwa sekolah, universitas, dan gelar akademis adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh untuk mengubah nasib mereka. Dalam faktanya mereka yang telah memperoleh sertifikat akademis itu harus antri dalam barisan pengangguran. Berani taruhan, kalau kalian itu sekubu dengan pemikiran kerdil mereka, dan pastinya juga memandangku hina, karena tak pernah makan bangku sekolahan.
Sekali lagi aku tegaskan bahwa aku ini bukan orang yang kecewa karena tidak bisa bersekolah seperti kalian itu, aku hanya memperkuat apa yang aku lakukan sampai saat ini, agar manusia macam aku ini tidak kalian injak-injak martabatnya, aku yakin kalian juga pasti sudah tahu tentang belajar memanusiakan manusia. Aku juga yakin kalau aku dan kalian itu sama, sama-sama menjadi manusia, -meskipun beda nasib, bersekolah, dan tidak bersekolah. Kalau kalian ngakunya orang yang berpendidikan –sekolah, jangan biarkan orang yang tak bisa dan tak mau sekolah macam aku tambah merajalela memenuhi bangsa ini.
Irama musik Avenged Seved Fold berjudul seize the day keluar dari telepon genggamku, pertanda ada panggilan masuk, kulihat daftar namanya “Bigboss beo” waspadalah!. hati-hati! sebentar lagi pecah telingaku.
Kutekan tombol hijau. “Assala...”
“Karji, kemana kamu? Masuk kerja, sekarang sudah jam empat sore lebih, gajimu akan dipotong bila terus begini, contoh si Tarno itu, yang masuknya tepat waktu... bla... bla... bla... bla...”
Aku lempar suara itu di atas balai bambu, aku bergegas memenuhi kewajibanku sebagai robot bernyawa. Genap 24 jam aku tak tidur. Entah besok mungkin jadi 48 jam. Ini susahnya jadi robot bernyawa. Wajar sajalah, orang berpendidikan -sekolahan kayak kalian saja, nantinya tidak menjamin punya masa depan hidup cerah dan damai, apalagi aku.
                                                                                                                                                                        Jogja, Maret 2011


[1] Dikutip dari pernyataan Sirsaeba Alafsana, buku Emoh Sekolah penulis Dr. Ainurrofiq Dawam. sekaligus yang menginspirasi dalam pembuatan cerpen tersebut.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pesan Seorang Pramuria"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.