Hermeneutika?


Tampak sekilas, hermeneutika adalah sesuatu hal yang horor, ilmiah, menakutkan, dan “bid’ah” apalagi bahasanya sudah mengindikasi kebarat-baratan. Hermeneutika hanya sebuah istilah, dan apabila diistilahkan dengan bahasa Arab, bisa disebut dengan
Fahmu At Ta’wil/Fiqhu At Ta’wil (Pemahaman dalam takwil). Jadi tidak perlu sentimentil dulu, sebelum mengetahuinya. Sama saja sebenarnya, di barat menggunakan istilah Hermeneutika, kalau di timur menggunakan istilah Fahmu At Ta’wil/Fiqhu At Ta’wil.
Dewasa ini wacana hermeneutika sedang menjadi diskursus yang sangat kontemporer untuk diperbincangkan, berikut dengan kontradiksi yang melawan teori tersebut, hanya karena teori tersebut lahir di barat (eropa); Plato, Augustine, Heidegger, Gadamer, dan Husserl.
Al Qur’an selalu membutuhkan sarana untuk bisa berdialog dengan seluruh umat muslim di dunia ini secara universal, karena Al Qur’an tidak bisa serta-merta dikonsumsi tanpa adanya penalaran yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan saat ini. Hal ini bukan maksud untuk mendiskreditkan tafsir klasik, namun lebih pada pembaharuan tafsir, karena tidak semuanya tafsir klasik bisa diaplikasikan di era sekarang.
Sebelumnya, adalah definisi tentang hermeutika. Hermeneutika dalam arti sempit (sebagai seorang muslim) yaitu ilmu tentang metode-metode penafsiran, dan yang menjadi subyek matternya adalah Al Qur’an dan Hadist, banyak para pemikir muslim yang menentangnya secara keseluruhan, ada yang menerima secara keseluruhan, dan ada yang menerima sebagian sekaligus menolak sebagian.
Menurut Jean Grondin hermeneutika adalah suatu disiplin ilmu yang bersangkut-paut dengan motif-motif dan maksud-maksud yang dengan mudah bisa diketahui melalui kata-kata yang ada secara eksplisit. Dengan ini, jelaslah bahwa seseorang tidak bisa meremehkan “konteks” jika ia ingin memperoleh kebenaran dari apa yang terkatakan.
Al Qur’an adalah kebenaran yang absolut, tidak ada sedikitpun kesalahan dalam Al Qur’an, bahkan satu huruf pun tidak ada kesalahan dalam peletakannya. Maha tidak mungkin Tuhan. Bila kita mengaku orang Islam tentu sangat percaya bahwa Al Qur’an itu datang dari Tuhan sebagai representasi petunjuk kepada umat manusia seluruh dunia.
Al Qur’an yang selalu shalihun likulli zaman wa makan tentunya bisa menjawab segala problematika sosial masyarakat yang juga selalu berkembang dinamis. Sedangkan sekarang ini banyak yang berpendapat bahwa beberapa ayat Al Qur’an yang sudah tidak mempunyai relevansi terhadap kehidupan saat ini. Hal itu disebabkan –mungkin metodologi yang digunakan sarat akan tendensi dan subyektifitas yang berlebihan. Padahal kondisi sosiologis, antropologis, dan aspek historis sangat mempengaruhi produk tafsir.
                Dengan pengertian di atas dapat kita ambil simpulan bahwa hermeneutika adalah sama halnya dengan metode penafsiran, hanya saja dikemas dalam kemasan yang berbeda –hermeneutika. Sedangkan yang selama ini kita kaji, misalnya; Ulumu Al Qur’an, al ‘am, khash, naskh-mansukh, dsb. Hakikatnya sama yaitu sama-sama agar memperoleh tafsir dari Al Qur’an.
                Beberapa pemikir kontemporer yang menggunakan teori hermeneutika Al Qur’an dan hadist adalah Fazlur Rahman dari Pakistan  (lahir 21 September 1919) dengan Teory double movement, Amina Wadud dari Amerika, Nasr Hamid Abu Zayd (lahir 10 Juni 1943) dari Mesir, Muhammad Abid Al Jabiri dari Maroko tenggara (lahir 27 Desember 1953), Muhammad Syahrur dari Damaskus (lahir 11 April 1939) dan dari Indonesia sendiri misalnya; Nurcholis Madjid, dan Syuhudi Ismail.
                Tidak selamanya yang kita anggap baik selalu baik, dan begitu sebaliknya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hermeneutika?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.