Ads 720 x 90

Tidak Memukul Anak

Saya pernah membaca sebuah kutipan entah di buku atau artikel saya lupa, lebih kurang begini
"Percayalah, ketika anak sedang marah, bahkan memukul bapak atau ibunya, bukan berarti ia sedang menantangmu, ia hanya belum bisa mengontrol emosi yang ia rasakan"
Setiap orang tua, termasuk saya dan istri tentu pernah atau bahkan seringkali merasa marah dan gregeten kepada anak. Entah dia yang rewel, marah, nangis sampai kejer dan lainnya. Biasanya, kalau saya sedang naik emosinya, saya gendong Yahya lalu saya berikan kepada ibunya "Aku lagi emosi"

Lalu saya tinggal di depan, minum kopi, merokok sambil mantengin jualan buku di loka pasar. Hahaha.

Tapi ampuh lho. Saya cuma khawatir aja, nanti kalau Yahya tantrum, saya juga emosional, nanti korbannya adalah anak saya sendiri; Yahya. Padahal kan, memukul anak adalah memukul diri sendiri, memarahi anak adalah memarahi diri sendiri.

Melakukan semua itu, karena saya pernah berjanji kepada diri sendiri, dan ini saya ucapkan di depan istri.
"Saya tidak akan memukul anak" 
Apapun alasannya? Iya, apapun. Semoga bisa saya laksanakan.

Mengapa?

Di dalam kitab Kasyifatus Saja, syarah Safinatun Naja yang ditulis oleh Syaikh Nawawi Banten, ketika mengomentari hadis:
"Perintahkan anakmu melaksanakan shalat ketika umur 10 tahun, jika tidak mau maka pukul saja"
Hadis di atas, oleh Syaikh  Nawawi Banten diartikan ketika memukul harus memakai sesuatu yang tidak menyakitkan, misalnya selembar kain tipis dan kecil. Dalam pikiran saya, jika demikian berarti kata memukul itu bermakna kiasan (majaz), jangan sampai emosional dengan kemarahan.

Lalu, apakah bisa kita memukul tanpa emosi? Saya kok yakin tidak bisa. Hahaha.

Ada sebuah kisah, Sayyidina Ali di dalam sebuah perang, ada seorang musuh yang sudah terkapar dan hendak dibunuh oleh Sayyidina Ali, ketika hendak mengayunkan pedangnya tiba-tiba ia diludahi dan mengenai wajahnya.

Sayyidina Ali berhenti dan tidak jadi menyabetkan pedangnya. Lalu orang yang sedang terkapar itu bertanya kepada Sayyidina Ali.

"Kenapa engkau tidak jadi membunuhku?"

"Sebelum engkau meludahiku, aku berperang atas nama Allah, ketika engkau meludahiku, aku takut hatiku terkotori oleh emosi dan amarah yang meluap, sehingga aku membunuhmu karena engkau menjatuhkan kehormatanku, aku takut membunuhmu bukan karena Allah lagi" jawab Sayyidina Ali.

Niat adalah kuncinya, perang atas nama Allah adalah hidup mulia dan syahid matinya, namun perang karena selain Allah adalah hina hidupnya, dan sangit matinya.

Mendidik anak juga demikian. Memukul itu biasanya emosional, setan pinter menggoda niat. Untuk amannya, saya tidak akan memukul anak, karena saya tidak bisa mengontrol emosi saya. Saya takut saja, memukul anak bukan karena melaksanakan perintah Allah, tapi karena anak tidak menuruti kemauan saya.

Lagi pula... Ada seorang teman yang menceritakan kedua anaknya kepada saya. Ia punya kesimpulan yang masuk akal.
Anak kalau dibesarkan dengan kekerasan, sering dimarahi dan dipukuli itu akan tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, kalau dididik dengan lembut, maka ia akan tumbuh pemberani, cerdas dan tanggung jawab.
Teman saya ini punya anak dua, pertama sering dimarahi ketika masih kecil, bahkan dipukuli, eh tertanya sekarang sudah 5/6 tahun ia tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan biasa menyalahkan teman-temannya, padahal ia sendiri yang melakukan kesalaha.

Sedangkan, anak yang kedua, kini umurnya kira-kira 2 tahun, kata teman saya, ia cerdas dan mudah menangkap sesuatu.

Alasan yang diberikan juga masuk akal. Ia mengatakan bahwa anak yang tumbuh dengan kekerasan itu biasanya takut melakukan sesuatu karena nanti dia takut salah dan dimarahi, otomatis ia akan menjadi pribadi yang minder, selain itu karena dia menghindari kemarahan orang tua, ia berani berbohong ketika dia melakukan kesalahan.

Ia akan membentuk kesimpulan "Kalau salah dimarahi dan dipukul, lebih baik aku tidak salah dan biarkan teman-temanku saja yang salah"

Begitu kira-kira.

Sebenarnya, kuncinya adalah di dalam diri kita sendiri. Bukan di luar diri kita.

Akhir-akhir ini Yahya sering rewel karena keinginannya tidak saya pahami, istri juga tidak memahami. Apalagi, ia sudah ngerti Yucub. Hadeh...

Ditambah, usia Yahya yang sudah 17 bulan, belum juga bicara. Padahal, pada umumnya di usia segitu sudah mulai belajar menyambung dua sampai tiga kata.

Soal ini, akan saya ceritakan lain kali deh. Hehehe.

Terima kasih...


Qowim Musthofa
penjual buku

Related Posts

Post a Comment

Mau Berlangganan?