Beberapa Kutipan Gus Baha Yang Pernah Saya Catat


Gus Baha, begitu sapaan akrabnya. Kali pertama saya ikut ngaji di Bedukan Wonokromo Bantul pada tahun 2008, pada saat itu musala masih kecil dan terkesan biasa saja, yang hadir kira-kira baru ada 50-an jemaah. Waktu itu masih ada yang ngrekam pake recorder kaset, saya menyebutnya dulu walkman. Handphone juga sudah ada, tapi hanya beberapa.

Ngaji tafsir yang saya ikuti dulu masih juz 6 surat Almaidah. Untuk ngaji sore masih sistem acak, semaunya Gus Baha, kadang Ihya, kadang Bukhari, kadang Muslim, kadang I'anah, kadang juga hikam. Untuk ngaji pagi di hari selasa khusus ngaji Hikam, karena permintaan dari salah satu guru saya, KH. Ashim Nawawi Bantul (hafidahullah ta'ala)

Saya masih awal-awal masuk kuliah pada saat itu, sedang gandrung-gandrungnya membaca filsafat, novel-novel kiri, puisi, dan tentunya dengan embel-embel kritis.

Sebenarnya saya diajak teman saya sekelas pada saat itu, katanya "Kowe bakal ngerti sudut pandang yang luas tentang Alquran"

Kebetulan saya ambil prodi Tafsir Hadis di kampus, jadi bagi saya ini akan menjadi kajian yang menarik dan tentunya memperluas wawasan tentang seluk-beluk Alquran.

Saya sekarang masih ikut ngaji, meskipun tidak serajin dulu. Berikut adalah beberapa kutipan Gus Baha yang pernah saya catat.

Pertama "Ojo ngelek-ngelek agomone wong liyo, mengko sing keno Gusti Allah, dudu kowe" - Jangan menjelek-jelekkan agamanya orang lain, nanti yang mereka ejek adalah Allah, bukan kita. Ini adalah kutipan Gus Baha ketika mengaji tafsir jalalain di surat al-an'am 108.
Wa la tasubbulladzina yad'una min dunillah fayasubbullah adwan bighari ilm...
Kira-kira begini penjelasan Gus Baha. Jika kita mengejek Tuhan/agama orang lain, maka sebenarnya agama orang lain atau tuhannya orang yang kita ejek itu akan membalas mengejek, dan yang kena ejekan itu sebenarnya bukan kita, tapi Allah.

Jadi, tidak mengejek agama orang lain sebenarnya kita sedang menjaga nama baik Allah sebagai Tuhan yang kita sembah.

Ketika ikut ngaji, saya langsung maktratap. Sederhananya logika seperti ini, dan berdasarkan Alquran sekaligus pemahaman yang mendalam. Berkali-kali saya membaca ayat itu, tapi pemaknaannya tidak pernah sampai sebagaimana yang dijelaskan oleh Gus Baha.

Beberapa hari yang lalu sudah viral ngaji Gus Baha "Tidak mengejek agama orang lain itu termasuk mencintai agama Islam"

Kedua. Kata Gus Baha "Ojo wani-wani karo anak, marai kuwalat" - Jangan nglunjak sama anak, nanti bisa celaka.

Kutipan Gus Baha ini saya catat di tahun 2016, saya lupa ketika membahas tema apa, namun yang jelas ketika ngaji Nashaihul Ibad.

Saya pernah menuliskan khusus untuk kutipan tersebt di blog ini dengan judul Cara Gus Baha Mendidik Anak. Bagi yang belum membaca silahkan dibaca terlebih dahulu.

Saya hanya menambahi bahwa anak adalah cerminan diri kita sendiri, kalau kita sering memarahi anak karena hal-hal sepel, sebenarnya kita sedang menyakiti diri sendiri. Anak adalah titipan dari Allah, karena harus dijaga dan dididik dengan baik.

Jangan sampai, anak mengidolakan orang temannya dan merasa malu punya orang tua seperti kita. Kira-kira demikian yang ingin diajarkan oleh Gus Baha tentang mendidik anak. Buatlah anak merasa bangga kepada kita sebagai orang tuanya, bukan sebaliknya.

Ketiga. Kata Gus Baha "Kalimat tauhid itu kalimat kebenaran universal, tidak ada yang boleh memonopolinya"

Sebenarnya, ini adalah kritik Gus Baha tentang klaim-klaim kebenaran yang dilalukan oleh orang Islam yang secara sepihak paling benar, hingga kalimat Tauhid pun dimonopoli dan, sekaligus digunakan sebagai legitimasi keberannya.

Kalimat La ilaha illa Allah, kata Gus Baha. Meskipun diucapkan oleh pezina, pencuri, tukang maksiat, bahkan orang gila sekalipun, ia adalah kalimat kebenaran. Bahkan, lanjut Gus Baha orang yang sudah mengucapkan itu, darahnya menjadi haram untuk dibunuh dan disakiti.

Keempat, "Ilmu Harus Berani diadu dan dikonsensuskan" Kutipan Gus Baha ini juga bagian dari kritik kepada orang-orang yang suka mengklaim ilmunya sendiri paling benar dan tidak berani diajak adu argumen. Fatalnya orang-orang seperti demikian itu biasanya ilmunya belum matang, masih belajar dan terburu-buru berdakwah.

Ciri khas ilmu itu ya harus berani konsensus (ijma'), jangan sembunyi-sembunyi, karena kebenaran yang hakiki harus dikabarkan. Begitu penjelasan Gus Baha terkait hal tersebut.

Fenomena-fenomen hijrah yang mendadak di media sosial, sepertinya menjadi anomali keberislaman kita, bahwa hijrah itu diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah daripada batiniahnya.

Kelima. "Jika para biduan dan artis-artis itu punya fans-fans berat, maka saya sebagai orang alim juga boleh demikian" inilah kekhasan dari Gus Baha, berani terang-terangan sebagai orang alim, karena kematangan ilmu dan spiritualnya.

Bagi yang sudah sering ikut ngaji Gus Baha, pasti tahu bahwa sebenarnya Gus Baha tidak begitu ingin dan suka menjadi terkenal dan tampil di publik sebagai dai atau tokoh berpengaruh.

Namun, karena zaman dan keadaan sudah seperti sekarang ini, orang-orang yang tampil di televisi dan media sosial sebagai dai yang tergesa-gesa ingin terkenal, maka Gus Baha sebagai orang alim harus turun gunung untuk menyeimbangkan tatanan isu-isu agama secara ilmiah.

Kutipan kelima ini sebenarnya dari Gus Adib, salah satu anak guru saya di pesantren An Nur Ngrukem.

Demikianlah beberapa kutipan dari Gus Baha yang pernah saya catat, sebenarnya tidak hanya ini, semoga di lain kesempatan bisa menuliskannya kembali. Saya bangga pernah mengaji dan bertemu dengan Gus Baha, semoga saya diakui sebagai santrinya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.