Meminta Maaf kepada Anak: Orang tua bisa saja salah, dan minta maaf adalah hal lumrah
![]() |
| Ahmad Zaki Yahya |
Tentu saja saya sebal, juga geram.
Awalnya saya mengira adalah istri, karena memang biasanya dia suka bakar-bakar potongan kertas yang berisi ayat-ayat al-Qur’an, khawatir tidak bisa ngrumat, lebih baik dibakar. Tapi saat itu yang saya tanya bukan istri, tapi Yahya – anak sulung saya.
“Yahya tahu nggak yang main bakar-bakar di teras dekat rak sepatu siapa?” Dia dalam keadaan duduk dan saya berdiri.
“Yahya, maaf.”
“Tahu nggak kalau kena sepatunya bapak?”
“Tahu”
“Kenapa nggak bilang?”
“Lupa, maaf.” Dia sampai bilang maaf dua kali dan saya masih tidak respons kata maaf itu.
Duh nulis ini masih dalam keadaan menyesal.
Lalu saya ngomong banyak sekali yang intinya marah-marah. Saya melihatnya menangis tanpa suara, hanya air mata yang mengalir.
“Besok lagi hati-hati jangan sampai merusak barang,” saya menutupnya dengan nada masih marah. Dia tentu makin sedih, padahal dia sedang mendaras hafalannya.
Seperti biasa, tiap setelah marah-marah saya pasti menyesal, dan bodohnya memang kenapa itu terulang padahal tahu akhirnya akan menyesal?
Tak lama kemudian saya menghampirinya yang pipinya masih basah karena air mata.
“Yahya, Bapak minta maaf tadi sudah marah-marah.” Stop, saya berhenti bicara, kalau saya lanjutkan nanti jadi kemana-mana. Intinya saya sudah mengungkapkan maaf dan menyesal.
Seperti biasa, jawabnya cuma “ya” saya mengerti karena memang dia sensitif, kalau sedang tidak baik suasana hatinya, ia hanya bicara seperlunya.
“Yahya mau ditemenin apa sendiri saja?”
Dia menjawab mau sendiri. Sebenarnya saya tak tega meninggalkannya dalam keadaan nangis, tapi saya mencoba untuk memahami dan menghormati keinginannya.
Alhamdulillah setelah itu sudah kembali seperti biasa.
Selang dua hari saya masih kepikiran kejadian sepatu gosong itu, karena terasa masih ada yang kurang atau belum selesai. Ketika mapan tidur saya baru sadar bahwa ada satu hal yang luput dari saya, yaitu mengapresiasi kejujuran Yahya.
Ia sudah berani berkata jujur tentang sepatu gosong.
Jujur adalah salah satu nilai yang sering saya utamakan di keluarga ini. Saya selalu berhati-hati agar tidak bohong, meskipun hal-hal yang sepertinya dianggap normal untuk berbohong. Saya pernah menceritakan tentang metode menyapih anak dengan bertahap, alih-alih mengolesi puting dengan lipstik atau ditutup plester luka (saya tidak tahu istilahnya apa ya? hansaplas dan semacamnya itu lo) lalu berpura-pura sakit agar anak tidak mau menetek lagi.
Cara menyapih anak metode WWL (weaning wiht love)
Jika jujur adalah nilai yang saya pakai, kenapa justru tidak mengapresiasi kejujuran anak? begitu pikiran saya. Karena hal itu, ketika malam sebelum tidur, saya memanggilnya dan kami ngobrol.
Saya mengulas kembali kejadian dua hari yang lalu dan ia manggut-manggut saja tanda setuju. “Ada satu hal penting yang Bapak lupa belum bilang ke Yahya.”
“Makasih, ya. Yahya sudah jujur. Bapak bangga. Seharusnya bapak dengerin Yahya dulu dan tidak langsung marah,” saya duduk di sampingnya. Wajahnya tersenyum malu.
“Di rumah ini, kejujuran Yahya itu jauh lebih berharga buat Bapak daripada sepatu yang rusak. Besok-besok, kalau ada masalah atau ada barang yang rusak lagi, jangan takut cerita sama Bapak, ya? Bapak janji akan dengerin dulu.” Saya menutupnya dengan bersalaman. Dia tidak banyak bicara, cuma ya, ya dan iya sambil tersenyum.
Terus terang setelah permintaan maaf yang kedua itu rasanya jauh lebih baik dan plong. Mungkin ini kejadian sepele, tapi ternyata saya belajar banyak hal, mulai dari tidak mengedepankan gengsi dan ego meminta maaf kepada anak, mengajarkan kejujuran secara praktis dan meyakinkan Yahya.
Bahwa rumah adalah tempat berlindung paling aman, bukan pengadilan yang menakutkan.
Terbit pertama kali di medium.com https://medium.com/@qowim/meminta-maaf-kepada-anak-7ba68d6ced00
