EWRX7nXzSEi74YquoxxXqz848nPnhEfExVXrFUfM
Bookmark

Cerita setelah 7 bulan berlari

Sudah lama sekali saya tidak menulis di Medium. Hampir satu tahun sejak selesai menulis 100 hari. Ah, rasanya kok selalu membangga-banggakan 100 hari itu, ya? Tapi, tak masalah… Sebenarnya saya kangen menulis. Dan, bismillah saya mau mulai lagi.

Untuk mengawalinya, saya ingin bercerita tentang, lari.

Oktober tanggal 27 tahun 2025 adalah hari pertama saya mulai “belajar” berlari. Artinya, ketika menerbitkan tulisan ini, setidaknya sudah 7 bulan saya berlari. Rasanya? Sungguh menyakitkan tapi menggembirakan.

Saya tidak punya riwayat olah raga rutin sejak kecil, mungkin hanya main-main sepak bola, itu pun “hanya” menjadi penjaga gawang. Saya petik kata hanya, karena dulu posisi itu memang dipakai untuk anak-anak yang kurang cakap menggiring dan menendang bola, saya salah satunya.

Basket, Voli, bulu tangkis atau olah raga apa saja rasanya juga tidak bisa. Saya jadi melabeli diri sendiri bahwa saya tidak bisa melakukan olah raga, apapun. Narasi itu tumbuh hingga saya dewasa. Alhasil, saya menjadi tidak pernah rutin melakukan olah raga.

Hingga suatu saat, paparan konten tentang pentingnya kesehatan mulai membanjiri lini masa Youtube. Saya banyak menonton konten tentang kesehatan dan pentingnya olah raga. Saya mengaitkan dengan pengetahuan saya tentang evolusi manusia yang intinya makin ke sini, manusia makin jarang bergerak, berbeda dengan nenek moyang kita dulu. Padahal, postur tegap yang dimiliki oleh manusia adalah proses evolusi jutaan tahun yang membuat manusia bisa bertahan hingga saat ini.

Saya terlalu jauh bercerita.

Intinya adalah, menurut saya, jika tidak bergerak sebagaimana seharusnya, kerja elektrikal tubuh akan makin melemah, dan saya tidak mau itu terjadi. Apalagi, pekerjaan saya terlalu banyak dihabiskan dalam keadaan duduk.

Kenapa memilih berlari?

Jawaban singkatnya adalah karena berlari tidak butuh banyak persiapan, setidaknya tinggal memakai sepatu lalu turun ke jalan. Itu saja. Saya tidak perlu mengajak teman, menyewa lapangan atau kolam renang, beli peralatan, perlengkapan dan lain-lain.

Sepertinya saya lebih nyaman sendiri dan tidak terlalu banyak koordinasi. Setelah saya pikir-pikir, sepertinya benar juga. Sebab kerjaan saya sehari-hari dituntut koordinasi dan komunikasi dengan yang lain dan rasanya capek sekali, ketika saya berlari, rasanya sungguh bebas dan tidak ada tekanan. Ini menyenangkan sekali bagi saya.

Pertama kali berlari, saya hanya kuat 200 meter dilanjutkan jalan, dan itu sudah membuat saya ngos-ngosan, apalagi saya masih menjadi perokok. Namun berkat latihan seminggu tiga kali, saya berhasil berlari nonstop selama 35 menit sejauh 4 km. Jika dibandingkan, tentu itu bukan pace yang mengagumkan, tapi bagi saya itu adalah capaian luar biasa, dan berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa saya bisa berolah raga, lebih spesifik yaitu berlari.

Dengan capaian itu, saya menyadari satu hal, bahwa kepercayaan diri saya berkembang dengan cukup baik.

Setelah 7 bulan berlari, kadang saya ingin ikut perlombaan (race), namun sepertinya itu bukan tujuan saya, niat saya berlari hanya untuk kebugaran dan menjaga kesehatan. Setidaknya untuk saat ini.

Terbit pertama kali di medium pada 1 Juni 2026

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Post a Comment