Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ads.header2

Sulit Diajak Salim

Tentang salim. Saya sering merasakan maktratap dan krenyes-krenyes hatiku, jika Yahya tidak mau disuruh salim kepada orang tua yang ditemuinya, lalu sebagian orang tua itu bilang “woo cah riwil, cah ngeyel, cah yaknnah” Rasanya kalau anak diejek seperti itu tetap punya rasa tidak enak di hati.

Saya, sebagai orang tua yang tak sempurna, tentu mencari-cari sebab kenapa Yahya sulit diajak salim dengan orang yang tak akrab dengannya. Ketika saya tanya kepada Yahya, dia menjawab “Yahya takut” atau “Yahya malu”

Saya tentu ragu, apakah Yahya benar-benar tahu artinya takut dan malu? Mungkin tahu, tapi kurang tepat.

Di usianya yang 3,5 tahun, saya mencoba cari-cari anak seusianya di lingkungan saya, sambil mengingat-ingat apakah ada anak seusianya yang sulit diajak salim? Ada, tapi tidak banyak. Kebanyakan dari mereka mudah diajak salim. 

Takut dan malu, kemungkinan karena Yahya tidak banyak bergaul dengan anak seusianya. Sehari-hari dia banyak di pesantren ketemu dengan orang dewasa, mungkin hanya ada dua yang sering mengajaknya bermain; Amad dan Amir (putra Guru saya).

Kesimpulan sementara seperti itu, membuat istri saya berinisiatif agar Yahya di-PAUD-kan, agar bisa belajar dengan anak-anak sebayanya secara komunal. Ia akan belajar berani hingga berkonflik, dengan itu ia akan belajar bagaimana cara menyelesaikannya. Mungkin terdengar muluk-muluk, ya?

Saya belum bersepakat, sebab kalau pagi saya masih bisa momong, lalu siangnya gantian istri. Pikir saya, menghabiskan waktu dengan anak di masa-masa ini akan cepat berlalu. Tiba-tiba saya kok ingat Kahlil Gibran di puisinya “Anakmu bukanlah milikmu, ia adalah zaman” lebih kurang begitu.

Ada kiat untuk membuat anak jadi berani dan tidak malu?

Tulisan ini sebenarnya sudah saya unggah di facebook, lalu ada teman yang menyarankan untuk diajari salim ketika saya atau ibunya pergi dari rumah. Saya tidak selalu melakukannya, sih. Tapi lebih sering iyanya daripada tidaknya. Apalagi ketika selesai salat jamaah, Yahya pasti salim dengan saya dan ibunya. 

Tapi, kalau dipikir-pikir, mem-PAUD-kan Yahya itu sepertinya harus dipertimbangkan. 

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An-Nur Yogyakarta Fakultas Ushuluddin Prodi Ilmu Hadis

Post a Comment for "Sulit Diajak Salim"