Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teladan Abdullah bin Mubarak tentang Menuntut Ilmu

QOWIM.NET - Muhammad bin Mubarak salah satu ulama yang, apabila namanya disebut maka turunlah rahmat dari Allah, kata guru saya Gus Rumaizijat, beliau dari gurunya KH. Solahudin Munsif yang ternyata bersumber dari kitab karya Said Ramadhan al-Buthi yang berjudul Syakhshiyyat Istauqafatni, guru saya menerjemahkan "Orang-orang yang mencengangkanku" atau bisa diartikan pribadi-pribadi yang membuatku kagum.

Pentingnya ilmu daripada harta dan tahta
Pixabay
Bagi yang berminat membacanya bisa unggah melalui tautan di bawah
Di dalam kitab Ihya' terdapat kutipan dari Ibnu Mubarak yang menjadi awal dari beberapa cerita yang diungkap oleh guru saya.
عجبت لمن لم يطلب العلم كيف تدعوه نفسه الى مكرمة؟
Saya heran kepada orang yang tidak mencari ilmu, bagaimana caranya dia bisa memperoleh kemuliaan?
Kata Guru saya, Ibn Mubarak wafat di tahun kisaran 118 H, ia adalah salah satu murid dari Sufyan Ats-Tsauri dan Imam Malik. Wikipedia juga menyebutkan demikian, bahkan ia termasuk juga murid dari Hisyam bin Urwah dan al-Auza'i. 

Awal mulanya ia adalah pemain kecapi, setiap hari ia habiskan waktunya untuk bermain alat musik itu, ditambah lagi ia suka mabuk.

Namun, seketika ia bertaubat dan berhenti melakukan hal-hal tersebut ketika suatu hari ia terbangun dari tidurnya lalu ingin bermain kecapi lagi, tiba-tiba terdengar suara dari dahan ranting pohon yang ingin ia jadikan sebagai alat memetik kecapi;
الم يأن للذين امنوا ان تخشع قلوبهم لذكرالله ... الحديد 16
Apakah belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka sembari mengingat Allah dan terhadap kebenaran yang telah turun? Jangan sampai mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan kitab suci sebelumnya hingga berlalu saja waktu dan kemudian hati mereka menjadi keras. Mayoritas dari mereka adalah orang-orang fasik. (QS. al-Hadid: 16)
Kejadian tersebut ketika ia berusia 20 tahun, kemudian ia banting setir meninggalkan dunia lalu belajar ke ulama-ulama besar pada saat itu di Marwa.

Selain terkenal menjadi ulama yang disegani pada masanya, Abdullah ibn Mubarak juga terkenal sebagai orang yang wira'i, saudagar kaya raya, dan berjihad di jalan Allah.

Ia melakukan perjalan intelektual hingga ke Yaman, Mesir, Syiria, Bahrain hingga Kufah. Perniagaan yang ia lakukan juga sampai ke daerah-daerah tersebut. 

Konon, kealiman dan kesuksesan Abdullah ibn Mubarak tidak terlepas dari orang tuanya. Ayahnya bernama Mubarak, kata guru saya adalah seorang yang wira'i pula.

Guru saya menceritakan tentang Mubarak yang wirai ketika ia masih menjadi budak. Ia adalah seorang budak yang ditugasi oleh tuannya menjaga kebun buah delima. Suatu hari tuannya meminta Mubarak untuk mengambilkan buah yang rasanya kecut. 

Lalu Mubarak memetik buah delima yang dijaga itu lalu memberikannya kepada tuannya "Ini, Tuan buahnya," kata Mubarak.

"Saya minta yang kecut, ini buah manis, ambilkan lagi," pinta tuannya. 

Lalu Muhammad ibn Mubarak mengambil buah delima lagi, dan rasanya ternyata manis. Kemudian tuannya menyuruhnya lagi untuk mengambilkan buah yang kecut. 

Kejadian tersebut hingga tiga kali Mubarak bolak-balik untuk mengambilkan buah yang kecut, hasilnya tetap saja ternyata buahnya manis. 

"Kau ini sudah bertahun-tahun menjaga kebun buah ini, kenapa kau belum bisa membedakan antara buah manis dan kecut?" kata Tuannya merasa heran.

"Tuanku, selama ini kau hanya menyuruhku untuk menjaga kebun ini, dan belum pernah engkau mengizinkan aku untuk menikmati buah ini, jadi saya sama sekali tidak pernah memakan buah yang ada di kebun ini," Kata Mubarak.

Tuannya merasa heran ada orang yang sejujur Mubarak, sehingga ia mengatakan kepada istrinya bahwa anak perempuannya tidak akan menikah kecuali dengan Mubarak. 

Kehati-hatian (wira'i) Mubarak ini kemudian mengalir pada karakter Abdullah bin Mubarak, pernah suatu hari ketika ia menimba ilmu di Kufah, ia meminjam pena salah satu temannya, ketika sampai di Marwa ia lupa bahwa penanya masih dibawa. 

Seketika itu ia kembali ke Kufah hanya untuk mengembalikan pena saja. Padahal jarak Marwa ke Kufah sangat jauh sekali, apalagi hanya untuk sekedar mengembalikan pena.

Subhanallah... 

Kembali pada kutipan dari kalimat Abdullah bin Mubarak di atas, bahwa kemuliaan hanya bisa didapat melalui ilmu, mengapa bukan harta dan tahta? 

Jawaban sederhananya adalah karena untuk memperoleh harta dan tahta, orang harus mempunyai ilmu terlebih dahulu. Jika ada orang yang mempunyai harta dan tahta tanpa ilmu, misalnya warisan dari orang tua, maka yang terjadi adalah ia akan mudah terjerumus pada harta dan tahta yang ia miliki. 

Ada kutipan menarik yang tadi saya temukan ketika ngaji dengan Guru saya; kitab syarah Hikam oleh Syaikh Abbadi 
واذا اردت العز بالاسباب خذلتك واسلمتك احوج ما تكون اليها وكنت في غاية الذل  والهوان
Ketika engkau menginginkan kemuliaan dengan 'asbab' maka engkau akan dibiarkan dan ditundukkan oleh asbab itu,  Lalu engkau akan menjadi orang yang paling butuh terhadap asbab tersebut sehingga engkau terjerumus pada kehinaan.
Asbab menjadi terminologi yang sering disebut di dalam dunia tasawuf, yang artinya adalah suatu perantara yang dianggap menjadi faktor penentu mencapai tujuan. Sederhananya, asbab adalah dunia dan hal-hal yang melingkupinya.

Kutipan di atas sangat berkaitan dengan kalimat dari Ibnu Mubarak, bahwa sesungguhnya di dalam kemuliaan itu tidak bisa didapat kecuali tanpa ilmu, sebab jika kita mencari kemuliaan dengan harta atau tahta niscaya kita akan menjadi budak dari harta dan tahta tersebut. 

Jika kita menjadi budak ilmu, maka dipastikan kita akan menjadi mulia. Sebagaimana kisah Nabi Sulaiman ketika diminta memilih antara ilmu dan harta/tahta, Nabi Sulaiman memilih ilmu, sehingga tahta dan harta mengikutinya.

Banyak ilmuan/ulama yang tidak mementingkan harta dan tahta, sebab bagi dirinya cukup dengan ilmu yang telah Allah titipkan kepadanya. 

Kisah Nabi Adam juga demikian, alasan paling logis mengapa Setan dan Malaikat diminta untuk menghormati Nabi Adam (sujud) adalah karena Nabi Adam diberikan ilmu oleh Allah, sedangkan Malaikat dan setan tidak. (wa allama adama al-asma kullaha...)

Terakhir, saya menemukan kutipan Ibnu Mubarak di laman wikipedia tentang urutan menuntut ilmu
Awal dari sebuah ilmu adalah niat, memperhatikan, memahami, mengamalkan, menjaga, kemudian menyebarluaskan - Abdullah bin Mubarak
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An Nur Yogyakarta dan Pengedar Buku di Elbustane Bookstore

Posting Komentar untuk "Teladan Abdullah bin Mubarak tentang Menuntut Ilmu"

Berlangganan via Email