Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lapar

Hari ini kami berbuka seperti biasanya, seadanya: tumis kangkung, tahu goreng dan sambal. Tentu segelas kopi sudah disediakan oleh Barista saya tercinta; istri. 


Saya makan lebih dulu, sebab istri sedang menidurkan Yahya. Tumben. Mungkin karena siangnya Yahya tidak tidur, padahal biasanya dia tidur bareng, sama dengan jam tidurnya Istri.

Siang ia main sama saya, sampai sore setelah ashar. Setelah jamaah, saya pergi ke toko dan packing buku, hari ini orderan terakhir. Besok sudah tutup order.

Biasanya, kalau Yahya siangnya tidak tidur, malam bisa tidur panjang dia. Sampai subuh baru bangun.

Namun tidak untuk hari ini. Setelah salat isya dan akan melanjutkan tarawih ternyata ia bangun. Biasanya memang kami salat setelah Yahya tidur; sekitar jam 8 malam.

Sudahlah. Selesai. 

Tak jadi tarawih sebab Yahya ngajak main.

Pukul 9 malam ibunya sudah tepar. Kegiatan dan tugas domestik memang bikin capek. Rentetan kegiatan yang sungguh melelahkan. 

Tapi jika bahagia? Aktivitas apa sih yang bikin susah? Alih-alih stress. Hehe. 

Saya main sama Yahya mulai dari tebak gambar di flashcard, mobil-mobilan hingga mengusun puzzle sederhana. Sudah pukul 22.00 ia belum juga diserang kantuk. 

Ia tertarik main stik eskrim dari kayu tipis-tipis. Kami main menyusun stik itu beraneka pola. Mulai dari susun ke atas, samping hingga buat segi empat yang disusun seperti rumah jangkrik. 

Saya jadi ingat masa kecil, cari jangkrik di sawah lalu meletakkannya di wadah itu, saya gantung di kamar. Kalau ngerik (istilah kalau jangkrik bersuara) saya seneng sekali. Meski berisik tetap saja saya tidur. Hahaha

Hampir satu jam kami main stik itu. Di tengah-tengah main, saya mendengar bunyi perutnya Yahya krucuk-krucuk. 

“Ya Allah, Nak. Awakmu luwe ya?” Seketika saya mengatakannya. 

“Yuk maem yuk” Ajak saya. 

Dia bilang mam mam mam. “Gorengke ndog nggeh?” Kataku. 

“Ndot ndot ndot” Kata Yahya kalau mengatakan ndog alias telur. 

Saya ambil nasi, lalu goreng telur di teflon andalan kami karena memang satu-satunya teflon yang kami miliki. Haha

Dengan lahap Yahya menghabiskannya; tentu saya menyuapinya. Yahya memang suka telor dan kecap. Anak ngirit. Wkwkwk

Setelah selesai makan, minum air putih, cuci tangan. Dan tanpa saya suruh, dia menuju kamar dan tidur bersama ibunya.

Ternyataaaaaaa. Yang bikin dia ngancil (istilah tidak bisa tidur malam selain insomnia) adalah lapar. Haahaha. 

“Tau gitu langsung bapak kasih maem aja dari tadi, Leeee”

Pukul 23.00 dia sudah terbang ke alam mimpi, saya kadang bertanya sama dia “Semalam mimpi apa, Le?” 

Terkadang saya juga ingin tahu isi kepala Yahya biar paham apa yang diinginkannya, sebab kata-katanya masih belum jelas. Kadang kami kebingungan menerjemahkannya. 

Semoga jadi anak salih ya, Nak. Sebab kalau kamu salih, kamu akan didoakan oleh seluruh umat Islam di dunia ini. 

Sebagaimana doa ketika tahiyyat “Assalamualaina wa ala ibadillahis salihin”
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An Nur Yogyakarta dan Pengedar Buku di Elbustane Bookstore

Posting Komentar untuk "Lapar"

Berlangganan via Email