Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sepucuk Surat Untukku, 15 Tahun Yang Lalu

Jika pada suatu hari, saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan saya sendiri pada usia saya yang masih 15 tahun, saya akan mengajaknya duduk di sini, memandangi matanya, berbicara pelan, dan bercerita tentang hal-hal yang harus diwaspadai kelak 15 tahun yang akan datang.

Terkesan konyol, tapi saya butuh itu, saya ingin bertemu dengan diri saya sendiri ketika saya masih di usia 15 tahun.
Sumber Gambar Pixabay
Untukmu, Qowim di usia 15 tahun.

Kini kamu sudah lulus MTs. Usia-usia puber yang dilalui oleh banyak orang. Kenakalan-kenakalan yang kamu lakukan ketika di sekolah, di rumah, di kampung dan di mana-mana. 

Kamu merokok, bolos sekolah untuk main PS, pamit ngaji tapi main PS, malam-malam secara diam-diam kamu keluar dari rumah lewat jendela kamar demi untuk bisa ngobrol bersama teman-temanmu sambil merokok. 

Kamu pernah sok jadi jagoan hingga dikeroyok banyak orang, kamu pernah dihantam batu hingga kepalamu bocor dijahit hingga 5 jahitan.

Yang sudah terjadi biar saja terjadi. Biar... Terkadang, untuk berbuat baik kita perlu tahu apa itu perbuatan buruk. Dan untuk tahu, ada kalanya dialami sendiri.

Sebentar lagi kamu akan pergi jauh dari rumah, kamu pergi untuk mencari ilmu; di pondok pesantren. Bukan untuk pelarian ingin bebas dari kekangan orang tua yang menurutmu keterlaluan. Aku tahu, sebenarnya kamu hanya lari dari rumah, kamu ingin jauh dari rumah.

Beberapa bulan ke depan, jika kamu sudah sampai di pesantren. Mungkin kamu tidak sedih ditinggal oleh orang tua, justru kamu sangat senang, tidak ada pengawasan ketat dari orang tua. Namun, ingat bahwa itu tidak selamanya.

Suatu hari kamu akan merindukan orang tua, adik-adikmu bahkan teman-temanmu.

Tapi tenang saja. Rindu itu sering kali menipu, katanya rindu, tapi baru bertemu sebentar saja sudah ingin pergi lagi.

Pendidikan yang kamu alami ketika di rumah, dipastikan akan jauh berbeda. Di rumah kamu sangat kompetitif untuk meraih peringkat-peringkat terbaik. Di pesantren, kamu akan merasa bahwa peringkat adalah nomor sekian, bahkan tidak terlalu penting.

Apapun itu, tentang kekuranganmu, kenakalanmu, ketidakpatuhanmu, dan semua sifat buruk yang kamu miliki, adalah dirimu sendiri. Ia ada di dalam diri semua manusia, kamu harus bisa menerimanya, mengenalinya hingga suatu hari kamu akan tahu, bahwa keburukan tidak bisa dihilangkan, tapi dijadikan teman, untuk berubah menjadi lebih baik.
Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An Nur Yogyakarta dan Pengedar Buku di Elbustane Bookstore

Posting Komentar untuk "Sepucuk Surat Untukku, 15 Tahun Yang Lalu"

Berlangganan via Email