Membaca Bukunya Mas Puthut EA




Hari Sabtu, 31 Maret 2018 paket buku karya Puthut EA (selanjutnya Masput) diantarkan teman saya ke tempat saya. Langsung saya buka, agak kecewa sedikit sebenarnya, buku setipis-tipis itu didapatkan dengan merogoh kocek saya sebesar 200 ribu. Ingataseee, aku kan yo bakul buku.

Bungkus langsung saya buka dan saya baca seharian pukul 9 pagi hingga 5 sore, ndilalah hari itu selow banget. pertama saya baca Taek, lalu Sebuah Kitab yang Tak Suci dan terakhir Para Bajingan yang Menyenangkan.

Sebelum melanjutkan, tiga buku tersebut adalah paket khusus di usianya tepat 41 tahun. Ia sengaja menjual 3 buku paket tersebut berjumlah 41 sesuai usinya dan ongkirnya ditanggung oleh Masput sendiri pengiriman seluruh Indonesia.

Hanek ming Sleman Bantul wae ra tekan pitungewu mas mas. Hasil dari penjualan buku konon akan disumbangkan di lembaga sekolah apa gitu, entah di mana.

Taek merupakan kumpulan status fesbuk rentang 2014-2015 atau berapa entah saya males buka-buka lagi. Lha males juga ada fotonya Amin Rais sedang mbribik mbak-mbak dan Pak Prabowo Putout (kalo Vladimir Putin) sambil dicium Mbak-mbak cantik.

Buku kedua, kumcer Sebuah Kitab yang Tak Suci adalah bukunya Masput yang pertama kali terbit, dan Para Bajingan yang Menyenangkan merupakan sebuah novel hidupnya sendiri dengan sahabat-sahabatnya ketika menjadi mahasiswa UGM.

Bagi saya, buku pertama dan kedua tidak ada yang istimewa kecuali kaver yang tebal pada judul Taek, seedangkan Sebuah Kita yang Tak Suci saya tak rampung membacanya hanya 4 cerpen saja yang saya baca dan perasaan saya nggak ada yang ngeh. Tapi, novel Para Bajingan yang Menyenangkan sangat-sangat membuat saya betul-betul… tulisan ini akan membicarakan Novel tersebut.

Sebentar sebentar… saya sendiri merasa kaku untuk menanggapinya… Mulai dari mana?.

Awalnya saya tahu Masput hanya mendengar namanya ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, satu satu teman kelas saya sangat suka dengan Masput, terutama cerpen-cerpennya, katanya humoris dan menyenangkan. 

Selain itu saya tak tahu tentang Masput dan tidak membaca satupun cerpennya, padahal pada saat itu saya masih suka-sukanya baca cerpen, seperti Agus Noor, Gus tf Sakai, Danarto, dan Seno Gumira. Namun sedikitpun tak punya greget untuk membaca karya Masput.

Mungkin belum dapat hidayah. Hidayah lebih memilih teman saya, dan saya baru-baru ini aja. Lebih tepatnya ketika adanya situs mojok.co yang isinya sangat nggiyapleki. Ndilalah Masput adalah kepala sukunya. 

Oke, njujug novel.

Saya salut dengan kejujuran dan keterbukaan Masput dalam menuliskan novel tersebut, ia seolah sedang menelanjangi dirinya sendiri dengan menceritakan masa mudanya yang penuh dengan jalan berbeda: berjudi dan mabuk-mabukan.

Terkadang saya masih sangsi, ini yang diceritakan benar atau nggak sih. Ingatase, melihat Masput yang sekarang sudah begitu bersinar wajahnya kaya sunlight.

Cerita ini berbeda dengan novel-novel seperti Laskar Pelangi, 5 centimeter, apalagi Negeri Lima Menara. Sama sekali berbeda. Ceritanya Masput ini sungguh-sungguh menjerit…
Hampir, nyaris tidak ada satu halaman pun yang tidak membuat saya tertawa terpingkal-pingkal sendiri hingga keluar air mata. Kecuali, satu hal…
Ketika salah satu sahabatnya paling karib dan ia sayangi telah meninggal akibat kecelakaan. Entah, mungkin sejak kejadian itu ia berhenti berjudi, atau memang karena tempat-tempat judi di Jogja sudah ditutup. Dan almarhum itulah yang menginspirasi bahkan mempengaruhi pemikiran atau minimal cara menjalani hidup bagi Masput.

Bahkan, saking intimnya persahabatan itu, Masput ndak bisa menyebut namanya. Ia hanya menggunakan kata almarhum. Dan ia yakin meski dengan perbuatan yang demikian, Entah di mana tempatnya, katanya, Masput yakin bahwa Almarhum sedang tertawa dengan Tuhan.

Masput memang bukan orang pertama yang menemukan jalan yang sebenar-benarnya jalan fitrah hati nurani: hidup mempunyai keluarga dengan cara yang diridhai oleh Tuhan. Atau mungkin, ia hanya ingin menghabiskan masa mudanya dengan cara seperti itu dan berhenti kelak di kemudian hari[?].

Namun kalimat terakhir tersebut sepertinya sembrono dan ndisiki kersone pengeran. Sebab “Muda foya-foya, tua kaya-raya, dan mati masuk surga” merupakan hal yang tak bisa dibenarkan dengan teori akidah apapun, meskipun pada akhirnya bisa ditepis mengatakan “Kalau Tuhan sudah berkehendak, kowe arep ngopo?.”

Jawabannya “Hanek ngerti, nek pas mabuk-mabukan opo judi njuk kowe mati piye?. Sangit po sahid?.”

“Masio ngono, nek Pengeran ngersakke deknen mlebu sorga, Hapiye?.” Disanggah.

“Hanek kabeh persoalan jawabane sak-karep-karepe pengeran, Gunane nabi opo? Njuk kok pengeran ndadak kangelan ngedunke kitab suci kui maksute opo, Cuk?.”

Di balik semua hal tersebut, saya begitu iri dengan lingkaran persahabatan Masput. Bukan iri dengan pengalaman yang begitu menegangkan, namun iri dengan persahabatan mereka yang sudah konthel: konco kenthel. Tidak semua orang lho punya konthel. Kebanyakan malah konyil alias konco ny(l)ilit..

Pesan moral. Sebenarnya risih dengan istilah pesan moral, dikit-dikit harus ada pesan moralnya. Tapi kenapa ya, kok saya ingin sekali membahasnya. Bagi saya Tuhan membimbing hambanya itu tidak hanya dengan satu atau dua jalan saja: ikut pengajian (yutub, moloni ig para ustat) dan kembali ke masjid.

Tuhan itu selow kok, ia punya ribuan hingga jutaan jalan untuk menyelamatkan hambanya dari keburukan-keburukan dan jalan-jalan yang tak diridhainya. Misalnya dengan membaca novel ini.

Walau bagaimanapun, jalan Masput dan sahabatnya itu tidak bisa ditiru dengan mengatakan “Wah enak ini, habiskan dulu nakalnya di waktu muda, nanti pas sudah berkeluarga kita tobat.” Sekali lagi ini hal coba-coba yang sembrono.

Guru saya pernah mengatakan “Jika Tuhan sudah berkehendak untuk menyelamatkan hambanya, maka sehina apapun atau sebesar apapun dosa hamba tersebut, Tuhan tetap saja ingin menerimanya.”

Jadi, jangan berprasangka buruk apalagi memvonis orang lain sebagai lalim, fasiq, hingga masuk neraka. Sebab kita ndak tahu, barangkali orang yang kita vonis tersebut, kelak di kemudian hari, kualitas keimanannya, ketakwaannya, dan kerelaannya kepada Allah jauh berlipat-lipat kualitasnya daripada kita.

Dan, jika kita sudah baik atau berusaha menjadi baik, misalnya, ini cuma misalnya belum pernah mabuk-mabukan, harus segera disukuri. 
Alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya tidak dengan menjerumuskan saya terlebih dahulu ke tempat-tempat kemaksiatan.
Nabi juga kan, yang pernah dawuh bahwa “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik, maka ia akan diberi bekal di dalam ilmu-ilmu agama” tapi ilmu agama yang tidak menyebarkan kebencian lho ya.

Jika kita sudah merasa baik, maka disukuri saja bahwa itu murni pemberian Allah, dan kita tak perlu menghabiskan banyak tenaga hanya untuk menilai keburukan-keburukan orang lain, sebab kita tidak tahu akhir dari kehidupan satu dengan yan lainnya, bahkan kita sendiri.

Kesombongan (narsis, merasa lebih baik) itu muncul karena ia merasa bahwa kebaikan yang ia lakukan adalah murni dari dirinya sendiri, bukan dari Tuhan yang maha Indah dan bijaksana.

Kalau saya baru bisa bijaksini.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.