Masih Sama

















Masih sama, langit kadang mendung menggelapkan cahaya, menguntit arakan awan, menuruni bersama angin lalu luruh bersama debu menjadi tanah. Rindu telah jatuh sampai luluh seperti hujan. Pikiran-pikiran saling beradu, berlarian menuju garis finish yang tak pernah ada, sebagaimana angka tigabelas dalam arloji.

Napas tergesa menderu-deru tanpa pernah meminta istirahat, Sebab cinta akan selalu selamat oleh dirinya sendiri dari goda dan dosa, hingga berbunga menjadi doa. Kita. Tak pernah mau berhenti mengarungi kemungkinan kegelapan di masa yang akan datang, jauh sesudah hari ini, kita hanya bisa berangan dan berprasangka kemudian berprasangka lagi. Ternyata, hidup tak selalu sebagaimana yang diharapkan semua orang. Sedang tuhan tetap ada, bahkan memeluk di tiap huruf-huruf kecil ini.

Namun, cinta akan membenarkan sekaligus membenahi segalanya -meski salah dan sedih selalu datang berulang, hingga masing-masing di balik pintu tak ada apapun selain bunga-bunga yang kita rangkai di hari yang telah lama terlewati, ia tak pernah busuk dikepung kemunafikan dan kedengkian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.