Cak Rusdi dan Aleppo



CAK RUSDI. Saya begitu awam untuk melihat dan mengikuti seluk-beluk dunia wartawan, namun saya menemukan jawaban kegelisahan tentang berita di berbagai media, kalau tidak salah ingat bahwa “kebenaran bukan monopoli wartawan” (tapi sekarang kayaknya diganti menjadi karena jurnalistik bukan monopoli wartawan) sejak saat membaca slogan tersebut di blog rusdimathari.com saya mulai mengikuti tulisan-tulisannya, mulai di fesbuk, mojok.co dan blognya itu. 

Lalu yang paling mutakhir ini, lebih tepatnya dimutakhirkan dengan persalinan anak kandung Cak Rusdi dengan bantuan rumah bersalin EA books yang diberi nama Aleppo. Semoga ia berumur panjang.

Entah, saya lebih tertarik dengan analogi Pram tentang sebuah karya, bahwa ketika karya yang telah diterbitkan ibarat seorang anak, kita tak tahu berapa lama ia akan dibaca, mungkin abadi dan mungkin hanya hidup beberapa bulan setelah ia lahir.

Aleppo merupakan kumpulan tulisan-tulisan cak rusdi di beranda fesbuknya. Saya benar-benar menikmati cara ia menulis, menuangkan ide, dan bercerita tentang hal-hal yang penting, sampai hal-hal yang paling tidak penting bagi saya, seperti roti matahari, cepirit, dan cilok. Entah dengan alasan apa beberapa tema tersebut dimasukkan, paling tidak, terdapat alasan yang saya tidak tahu kenapa itu begitu penting untuk dimasukkan.

Sudah setahun ini, mungkin lebih saya mengikuti tulisan-tulisan cak rusdi, di Aleppo hampir semua tulisan sudah saya baca di status-status fesbuknya, bagi saya tulisan cak rusdi enak dinikmati kapan saja, termasuk menjelang tidur dan di kamar mandi untuk menunggu tuntasnya eek. Tulisan yang relatif nyaman untuk kalangan yang masih suka berkhalwat dengan gajet dari pada buku.

“Juallah kepintaran lalu belilah ketakjuban!” begitu kata Rumi. Saya selalu merasakan ketakjuban ketika melihat para penulis yang secara kontinyu menuliskan apapun yang menurut mereka penting untuk ditulis, mengingat aktifitas menulis ternyata tidak semudah yang didengungkan oleh para motivator-motivator. 

Sebagaimana cak Rusdi yang telah mengutip pendapat Putu Wijaya bahwa aktifitas menulis merupakan peristiwa khusyuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, menulis menjadi sebuah peristiwa yang menegangkan, tapi indah dan sakral. Selalu menjadi sebuah pengembaraan baru yang membuat tertantang sehingga tak ada saat untuk tidak menyala. (hlm. 171).

Kalau menurut kang Iqbal yang muhammadiyah itu sih menulis seperti mengalami cinta terlarang, mudah dimulai namun sulit untuk diakhiri.

Tulisan-tulisan cak rusdi sangat bergairah tapi tak tergesa, ia intens, sabar, dan penuh kejutan, ia benar-benar berhasil bersetubuh dengan bahasa yang baik tanpa dibuat-buat. Misalnya, dalam judul Agama, Gereja, dan Situbondo. Meskipun ia sedang bercerita tentang tragedi yang sangat heroik, ia menuliskan seperti tidak sedang terjadi apa-apa, ia mengalir saja bercerita. Ia seperti sedang melawak tapi tak tertawa, sedih tapi tak menangis, bahagia tapi tak norak.

Kebanyakan tulisan, termasuk saya, terpengaruh oleh hal-hal dramatis yang seharusnya diletakkan di balik pintu masing-masing hati para penulis, bahwa menulis tidak hanya untuk menuangkan gagasan, melainkan menawarkan diri untuk pasrah kepada pembaca.

Samean tahu, Cak. Saking saya ingin merasakan apa yang samean rasakan ketika baca buku, sekarang saya mulai melubangi halaman buku untuk menandai membaca sampai di situ. Eh, tattonya sekarang masih gak, Cak?.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.