Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Menjadi Tempat Sampah

Barangkali sekarang kita sulit mencari kejujuran, sekalipun kita temukan terkadang kita sulit menerima kebenaran, sekalipun kita menerimanya terkadang tidak selapang-lapangnya hingga kita melaksanakannya.


Hidup kita penuh dengan kemunafikan, pekerjaan yang memperbudak pikiran dan tenaga kita, kesibukan yang melulu syahwat perut dan kelamin, pengetahuan yang hanya menunjang untuk menutupi kebodohan kita yang sesungguhnya, bahkan agama pun sering dijadikan transaksional tentang balasan kenikmatan surga dan bidadari.

Meskipun demikian, bukan berarti hidup kita tidak berarti atau bahkan sama sekali tidak berguna bagi orang lain.

Hal-hal remeh dan kecil, yang selama ini tidak pernah terbersitpun di kepalaku yakni tentang keberadaan tempat sampah, sebagai tempat sampah ia tidak pernah menolak segala sampah yang dijejalkan ke dalamnya, bahkan ketika penuh sekalipun sampah-sampah itu terpaksa dikumpulkan di sekitarnya.

Aku tidak sedang berceramah atau berkhotbah.

Tidak ada buruknya menjadi tempat sampah, tempat bagi segala keluh kesah bahkan ejekan yang diperuntukkan untuk kita, baik patut atau tidaknya ejekan itu. Toh sampah tidak selamanya berada di tempat sampah, semua kembali ke tempat pembuangan akhir, kan?. lagi pula tidak semua sampah tidak bisa didaur ulang.

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Dosen IIQ An Nur Yogyakarta dan Pengedar Buku di Elbustane Bookstore

Posting Komentar untuk "Menjadi Tempat Sampah"

Berlangganan via Email