Menjadi Tempat Sampah

Barangkali sekarang kita sulit mencari kejujuran, sekalipun kita temukan terkadang kita sulit menerima kebenaran, sekalipun kita menerimanya terkadang tidak selapang-lapangnya hingga kita melaksanakannya.


Hidup kita penuh dengan kemunafikan, pekerjaan yang memperbudak pikiran dan tenaga kita, kesibukan yang melulu syahwat perut dan kelamin, pengetahuan yang hanya menunjang untuk menutupi kebodohan kita yang sesungguhnya, bahkan agama pun sering dijadikan transaksional tentang balasan kenikmatan surga dan bidadari.

Meskipun demikian, bukan berarti hidup kita tidak berarti atau bahkan sama sekali tidak berguna bagi orang lain.

Hal-hal remeh dan kecil, yang selama ini tidak pernah terbersitpun di kepalaku yakni tentang keberadaan tempat sampah, sebagai tempat sampah ia tidak pernah menolak segala sampah yang dijejalkan ke dalamnya, bahkan ketika penuh sekalipun sampah-sampah itu terpaksa dikumpulkan di sekitarnya.

Aku tidak sedang berceramah atau berkhotbah.

Tidak ada buruknya menjadi tempat sampah, tempat bagi segala keluh kesah bahkan ejekan yang diperuntukkan untuk kita, baik patut atau tidaknya ejekan itu. Toh sampah tidak selamanya berada di tempat sampah, semua kembali ke tempat pembuangan akhir, kan?. lagi pula tidak semua sampah tidak bisa didaur ulang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Menjadi Tempat Sampah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.