Pergumulan Tiga Jaringan Intelektual dalam Islam

Table of Contents

"Act locally, and think globally." Bertindaklah sesuai dengan kearifan tradisi lokal, tapi tetap berpikirlah dengan standar etika global. Ungkapan dari Prof. Dr. Amin Abdullah itu rasanya jumbuh sekali di telinga kita. Tapi kalau kita melongok realitas hari ini, ungkapan itu sering kali cuma mentok jadi slogan hiasan bibir. Di media sosial atau televisi, kita disuguhi tontonan konflik keagamaan yang tak kunjung adem—mulai dari tragedi kemanusiaan Syi’ah di Sampang hingga benturan Ahmadiyah di Cikeusik. Ada yang salah dengan cara pandang beragama masyarakat kita yang mendadak jadi sumbu pendek.

Daftar Isi

Mengapa ketika pelbagai golongan keagamaan ini duduk melingkar dalam satu meja dialog, masing-masing masih egois menonjolkan kepentingan kelompoknya sendiri? Mengapa kita begitu gampang melupakan kemaslahatan bersama untuk hidup berdampingan secara sportif? Tulisan ini tidak bermaksud menggurui, melainkan sekadar rangkuman dan refleksi pribadi saya setelah membaca artikel mendalam Amin Abdullah mengenai pentingnya mempertautkan tiga poros keilmuan Islam demi peradaban global.

Pendidikan: Gerbang Utama Pembongkar Sekat Pemikiran

Mendamaikan ketegangan batin umat tidak bisa diselesaikan hanya dengan seminar satu-dua jam. Amin Abdullah menawarkan jalur evolusi yang paling logis: **Pendidikan**. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah alat utama untuk mencerahkan peradaban. Kita butuh meramu kembali silabus, kurikulum, pendekatan, hingga filosofi pendidikan Islam agar peserta didik dilatih berpikir jernih, santun, etis, serta logis.

Tentu ini bukan perkara gampang membalik telapak tangan. Model kependidikan di Indonesia punya karakteristik unik. Di satu sisi, perguruan tinggi sibuk mengejar pembaruan modern (wa al-akhdzu bi jadidi al-aslah). Di sisi lain, dunia pesantren tradisional kita begitu teguh merawat dan melestarikan khazanah kitab kuning klasik (al-muhafadhah ‘ala qadim as-shalih). Untuk menjembatani jarak yang terbentang kentara ini, kita perlu memahami bagaiamana kesadaran beragama manusia berkembang dalam lintasan sejarah.

Mengeja Makna Sejarah Lewat Empat Fase Studi Agama

Amin Abdullah memetakan perkembangan studi dan perilaku beragama manusia ke dalam empat babakan fase historis yang sangat presisi:

1. Fase Lokal (Prehistorical Period)

Di masa purba, seluruh ekspresi keagamaan, adat, dan norma bersifat lokal. Identitas ini aman-aman saja sampai suatu ketika mereka bertemu dengan kelompok asing dari wilayah lain yang punya ritus berbeda. Di sinilah muncul keraguan (doubt) dan perasaan terancam punah (threat of extinction). Orang purba menyelesaikan kecurigaan ini dengan cara anarkis: menyerang dan menundukkan yang berbeda. Sifat purba inilah yang anehnya masih dipraktikkan oleh pelaku kekerasan atas nama agama di era modern.

2. Fase Kanonikal (Canonical / Propositional)

Sejarah bergeser ketika agama-agama besar dunia lahir. Budaya tutur (lisan) bermutasi menjadi budaya tulisan. Aturan, norma, dan wahyu mulai dibukukan secara rapi menjadi kitab suci yang mapan. Umat manusia mulai dipandu oleh teks tertulis yang terstruktur.

3. Fase Kritis (Critical Period)

Lahir pada abad ke-16 dan ke-17 di Eropa, ditandai oleh fajar pencerahan (enlightenment). Goncangan sains terhadap otoritas gereja memaksa para pemeluk agama memikirkan kembali asumsi dasar iman yang selama ini dianggap final. Di fase ini pula, tradisi mempelajari agama orang lain secara ilmiah, objektif, dan komparatif mulai tumbuh di bangku akademik guna mengusir rasa curiga sosial.

4. Fase Global

Di era global, batas-batasan teritorial runtuh. Tradisi lokal keberagamaan dituntut untuk luwes beradaptasi saat berpindah tempat. Dalam kacamata hukum Islam, fase global ini sebenarnya sudah diantisipasi secara cerdas oleh para ulama ahli ushul fikih lewat kaidah-kaidah yang bersifat universal, seperti adagium al-masyaqqatu tajlibu at-taysir (kesulitan menarik kemudahan) atau adl-dlaruratu tubihu al-mahdhurat (kondisi darurat membolehkan hal yang dilarang).

Pergumulan Tiga Kluster Intelektual Islam

Untuk menghasilkan bangunan pemikiran Islam yang utuh dan tidak timpang, Amin Abdullah mengunci tiga kluster keilmuan yang harus berdialog secara setara:

Kluster Keilmuan Karakteristik & Pendekatan Ruang Lingkup Kajian
‘Ulum ad-Din Doktriner, filologis, normatif-tekstual, parsial. Fikih, Syariah, Ilmu Kalam, Tasawuf klasik.
Al-Fikr al-Islami Sistematis, struktural, konseptual-akademis. Filsafat Islam, hasil pemikiran tokoh, sosio-keagamaan.
Dirasat al-Islamiyah Kritis, komparatif, interdisipliner (ilmu sosial-humaniora). Studi Islam kontemporer, penelitian lapangan, analisis empiris.

Penyakit kronis akut akademik kita hari ini adalah kecenderungan berjalan sendiri-sendiri secara parsial. Ada orang yang fanatik belajar tauhid tapi benci filsafat, atau asyik belajar fikih sampai mentok tanpa mau menyentuh kelembutan tasawuf. Padahal, hubungan antara ‘Ulum ad-Din, Al-Fikr al-Islami, dan Dirasat al-Islamiyah tidak boleh bersifat hierarkis (merasa ada yang paling tinggi), melainkan harus bersifat dialogis-negosiatif atau terintegrasi secara utuh.

Model perkawinan keilmuan inilah yang semestinya kita kembangkan. Kita dituntut untuk melakukan proses "penerjemahan kembali" (*translation*) atas konsep lama yang kaku agar relevan dalam menjawab tantangan zaman kontemporer, sama persis dengan pentingnya memahami batasan metodologis ketika mengurai sekat antara Objek dan Subjek Penelitian dalam riset kampus.

Takhtim

Pada akhirnya, memadukan ketiga kluster intelektual di atas adalah ikhtiar kita bersama untuk mengembalikan muruah Islam sebagai agama yang ramah, bukan pemarah. Menolak berpikiran sempit adalah kunci awal agar umat ini tidak linglung di tengah arus peradaban global.

Bagi pembaca akademis yang ingin mengutip draf ulasan pemikiran ini untuk kebutuhan rujukan ilmiah, silakan langsung menyalin polanya secara otomatis dengan mengikuti panduan Cara Menulis Daftar Pustaka Jurnal Online agar tulisan Anda aman dari jeratan plagiasi. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment