Model Penelitian Kalam

A.    Latar Belakang Masalah
Ilmu kalam atau teologi Islam termasuk salah satu studi islam yang sangat dikenal baik oleh kalangan akademis. Sebab ilmu kalam itulah yang mendasari segala pokok pemikiran yang ada di dunia Islam yag kemudian menjadi menjadi produk pemikiran yang banyak mewarnai kemajuan zaman.
Secara historis, konflik pemikiran di dalam Islam memang sudah ada sejak zaman para sahabat Nabi yang secara mendasar bermula pada perbedaan secara politis, sehingga melahirkan sekte-sekte seperti Khawarij, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dsb. Berbagai penelitian mengenai hal itu pun marak dan penafsiran teks-teks agama pun banyak berbicara tentang konflik tersebut, sehingga menjadi sumbangan yang besar secara historis bahwa perpecahan di dalam Islam pernah menjadi topik yang dominan.
Sampai saat ini, sekte-sekte tersebut masih berkembang di berbagai belahan dunia dan mengalami berbagai perkembangan pemikiran yang masing-masing regional
juga mengalami perbedaan, seperti Iran, Arab Saudi, dan negara-negara Eropa, semuanya memiliki karakteristik tersendiri. Tidak terkecuali pula Indonesia yang merupakan negara mayoritas Islam, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa teologi yang berkembang di Indonesia juga ada semacam benang merah yang bisa ditarik dari awal munculnya perpecahan di dalam Islam.
Teologi Islam yang diajarkan di Indonesia pada umumnya adalah dalam bentuk ilmu tauhid. Ilmu tauhid ini pada umumnya dikenal dengan ilmu tauhid ala aliran Asy’ariyah sehingga timbul kesan bahwa sekte di dalam islam hanyalah teologi dari bentuk Asy’ariyah.
Asumsi sementara demikianlah yang telah diungkapkan oleh Harun Nasution di dalam bukunya Teologi Islam sekaligus yang melatarbelakanginya dalam penyusunan buku tersebut. Harun Nasution merupakan seorang pemikir Islam Indonesia yang telah memberikan tawaran kepada masyarakat, khususnya para akademisi untuk melihat lebih jauh secara historis bahwa adanya perpecahan di dalam dunia Islam. Ia memberikan deskripsi di dalam bukunya dengan tujuan untuk membuka wawasan pembaca agar umat Islam tidak hanya mengenal Islam dari sudut pandang fiqh dan hukum-hukum positif.[1]
Apabila Islam dipandang dengan cara sempit, yakni hanya melulu pada persoalan halal-haram, baik-buru, boleh-tidak boleh, maka yang terjadi adalah klaim-klaim yang hanya berdasar pada satu paradigma saja. Ini yang akan memperlambat kemajuan pemikiran di dalam dunia Islam sendiri.
Hal demikianlah yang mendasari Harun Nasution melakukan riset tentang ilmu kalam, yang kemudian pada kesempatan kali ini pemakalah akan mencoba untuk mereview jejak-jejak yang dilakukan oleh Harun Nasution di dalam melakukan riset dalam bidang kalam ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana model penelitian kalam yang digunakan Harun Nasutio di dalam buku Teologi Islam?.
2.      Apa kritik terhadap Harun Nasution di dalam buku Teologi Islam?.
C.    Telaah Pustaka
Di dalam model penelitian kalam ini terdapat banyak buku-buku yang menelitinya, namun penulis hanya menyebutkan satu saja.
Buku Teologi Islam karya Ahmad Hanafi yang diterbitkan kali pertama pada tahun 1962. Buku ini sangat representatif untuk melihat sejarah dan perkembangan ilmu kalam mulai dari kemunculannya, aliran-alirannya dan juga pokok-pokok yang melingkupi persoalan-persoalan di dalamnya. Ahmad Hanafi melakukan pendekatan historis dan komparatif, di sisi lain ia juga memberikan deskripsi tentang perdebatan-perdebatan yang terjadi di masing-masing golongan yang saling bertentangan.[2]
Meskipun ada kesamaan objek material dengan yang dilakukan oleh Harun Nasution, ada karakteristik yang membedakan hasil penelitian Harun Nasution dengan Ahmad Hanafi. Yaitu, Ahmad Hanafi tidak melihat perkembangan-perkembangan pengikut yang ada di dalam sekte-sekte di dalam Islam. Oleh sebab itulah, penulis lebih tertarik untuk meneliti Harun Nasution.
D.    Metodologi Penelitian
Ada beberapa metode yang penulis lakukan untuk mengkaji penelitian kalam ini, yakni berkaitan dengan sumber data, jenis penelitian dan pendekatan.
1.      Sumber data
a)      Sumber data primer
Sumber data primer ini merupakan sumber yang penulis gunakan untuk mengkaji penelitian ini, yaitu buku karya Harun Nasution berjudul Teologi Islam, aliran-aliran sejarah dan perbandingan.
b)      Sumber data sekunder
Sumber data sekunder ini merupakan sumber yang berupa buku, jurnal, artikel dan sejenisnya yang ada korelasinya dengan sumber data primer.
2.      Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Research) degan mengumpulkan data dan meneliti dari buku-buku kepustakaan dan karya-karya dalam bentuk lainnya.
3.      Metode Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu dengan membuat pencandraan mengenai fakta-fakta yang sesuai dengan data kemudian membuat kesimpulan yang tidak bisa terlepas dari fata-fakta yang ada.[3]
E.     Pembahasan
1.      Riwayat Hidup Harun Nasution
Harun Nasution (Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara tahun 1919, wafat di Jakarta tanggal 18 September 1998) adalah seorang filosof muslim Indonesia. Masa muda Harun bersekolah di HIS (Hollandshce Indlandsche School) dan lulus pada tahun 1934. Pada tahun 1937 lulus dari Moderne Islamietiesche Kweekschool, ia melanjutkan pendidikan aliyah Universitas al-Azhar pada tahun 1940, dan pada tahun 1952 meraih gelar sarjana muda di American University of Cairo.
Karir Harun Nasution menjadi pegawai Departemen luar negeri RI di Brussels dan Kairo pada tahun 1953-1960. Dia meraih gelar doktor di Universitas McGill di Kanada pada tahun 1968. Pada tahun 1973 menjabat sebagai rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang memuji aliran Mu’tazilah (Rasionalis), yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam ceramahnya, Harun Nasution selalu menekankan agar kaum Muslim Indonsia berpikir secara rasional. Ia juga dikenal sebagai pemikir yang terbuka. Ketika ramai dibicarakan tentang hubungan antar agama pada tahun 1975, ia dikenal sebagai tokoh yang berpikiran luwes lalu mengusulkan pembentukan wadah musyawarah agar antar agama yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling curiga.
Di samping dikenal sebagai pengajar, ia juga dikenal sebagai penulis, ia menulis artikel di berbagai jurnal Islam. Beberapa buku yang pernah ditulis Harun Nasution adalah: Akal dan Wahyu dalam Islam (1981), Filsafat Agama (1973), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran (1995), Sejarah pemikiran dan gerakan (1975), Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Teologi Islam (1972).[4]
2.      Model Penelitian Kalam ala Harun Nasution
Secara global, Harun Nasution di dalam bukunya Teologi Islam membagi menjadi dua bab. Pertama, menjelaskan tentang aliran-aliran dan sejarah munculnya ilmu kalam. Pada bab pertama ini, memakai metode deskriptif-historis, yaitu mengungkap secara empiris fakta historis tentang kronologi perpecahan Islam sehingga membentuk berbagai kelompok-kelompok tertentu yang saling bertentangan. Jadi, Harun Nasution tidak meninggalkan referensi-referensi dari para peneliti terdahulu, seperti karya al-Syahrastani, al-Juwaini, al-Maturidi, dsb.
Di samping itu, Harun Nasution juga memberikan penjelasan tentang perkembangan-perkembangan di dalam sekte-sekte seperti Khawarij, Asy’ariyah, Mu’tazilah, dsb. Sampai di era akhir abad 20, ini sangat membantu pembaca di dalam mengidentifikasi suatu gejala-gejala keislaman di tengah terjadi. Pada pembahasan ini juga dibahas secara mendetail dalam perpecahan-perpecahan yang ada di tiap golongan.
Dalam teologi Khawarij misalnya, mengalami perpecahan dan perkembangan pemikiran yang berawal dari term kafir menjadi musyrik, Taqiyah, adanya dosa besar dan kecil, dan status kehambaan yang melakukannya. Itulah yang kemudian menimbulkan adanya Kahwarij al-Najdat, al-Azariqah, al-Sufriyah, al-Ajaridah, dsb. Ini dijelaskan dengan sistematis oleh Harun Nasution.[5]
Kedua, menganalisis dan membandingkan (analysis-comparative) antara aliran satu dengan yang lainnya di dalam membahas suatu persoalan teologis. Pada bab ini Harun Nasution lebih banyak menelisik lebih jauh dengan mengemukakan ayat-ayat di dalam al-Qur’an maupun hadits yang berkaitan sekaligus dijadikan argumen (hujjah) bagi sekte-sekte tertentu untuk melegitimasi pendapat mereka.
Hal ini sengaja dilakukan oleh Harun Nasution untuk memberikan deskripsi secara jelas kepada pembaca agar mengetahui secara mendasar, sebab dan bagaimana masing-masing aliran dalam menyikapi suatu persoalan teologis. Misalnya kelompok Mu’tazilah dan Asy’ariya ketika memperdebatkan persoalan peran akal dan wahyu .
Harun Nasution mengungkapkan pendapat Mu’tazilah bahwa pengetahuan tentang Tuhan, kebaikan dan keburukan, bisa diperoleh manusia dengan menggunakan akalnya jadi yang mendominasi pemikiran adalah akal manusia, bukan wahyu. Berbeda dengan Asy’ariyah yang cenderung mengedepankan wahyu dari pada akalny. Menurut Asy’ariyah akal bisa mengetahui Tuhan, tetapi yang bisa mewajibkan orang untuk mengetahui Tuhan adalah wahyu, bukan akal.
Harun Nasution tidak hanya mendeskripsikan dari beberapa data yang diperolehnya, bahwa Mu’tazilah memberikan peran lebih besar atas akal dari pada wahyu, sedangkan Asy’ariyah memberikan peran otoritas lebih besar wahyu dari pada akal.[6]
Namun pada beberapa deskripsi di dalam bab dua yang disajikan oleh Harun Nasution, ia terkesan seolah menyudutkan paradigma kaum Asy’ariyah dengan menggunakan bahasa-bahasa yang terkesan sinis. Ia mengungkapkan pertentangan-pertentangan pendapat yang terdapat di dalam teori Asy’ariyah.[7]
3.      Kritik atas Harun Nasution di dalam Buku Teologi Islam
Dari produk yang disajikan oleh Harun Nasution di dalam bukunya Teologi Islam, terdapat beberapa tanggapan bagi penulis yang perlu diutarakan pada sub bab ini, antara lain:
1.      Sebagai sumbangan intelektual, karya Harun Nasution sangat representatif untuk dijadikan sumber kajian dan bahan kajian bagi kalangan akademis di Indonesia terutama, faktanya hingga saat ini, meskipun karya Harun Nasution ini relatif sudah lama, namun masih saja dijadikan sebagai referensi di dalam bangku-bangku pendidikan perguruan tinggi islam di Indonesia. Ini membuktikan bahwa peran karya Harun Nasution masih sangat mewarnai di dalam perkembangan dunia akademik di Indonesia.
2.      Di dalam buku Teologi Islam, tidak ada pembahasan secara mendetail tentang aliran Syiah, berikut dengan sejarah dan perkembangan pemikirannya secara teologis. Mungkin, menurut Harun Nasution, Syi’ah tidak termasuk di dalam bidang kajian teolog. Ia juga lebih berkonsentrasi pada aliran Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Ahlu Sunnah wal jama’ah, ini terlihat jelas di bab kedua. Perdebatan-perdebatan di dalam kedua golongan tersebut secara mayoritas dikupas oleh Harun Nasution dengan jelas dan gamblang, meskipun terkesan Mu’tazilah sentris, dan ada beberapa adagium-adagium dengan bahasa yang menyudutkan pengikut Asy’ariyah. Namun pada akhirnya, pada bagian kesimpulan, Harun Nasution membebaskan para pembaca untuk memilih aliran yang sesuai dengan pemahamannya terhadap Islam.
F.     Kesimpulan dan Penutup
Dari penjelasan di atas yang singkat, penulis menemukan kesimpulan yakni:
1.      Metode penelitian kalam yang dilakukan oleh Harun Nasution merupakan penelitian kepustakaan dan menggunakan metode deskriptif, dengan pendekatan historis, serta menggunakan analisis doktrin dan juga analisis perbandingan.
2.      Adapun kritik yang terdapat di dalam buku Harun Nasution adalah. pertama, sebagai sumbangan data para akademisi yang ingin mengetahui aliran-aliran teologi dan pemikiran di dalam Islam. Kedua, tidak adanya pembahasan di dalam buku tersebut tentang aliran Syi’ah, mungkin menurut Harun Nasution, Syi’ah tidak termasuk dalam bidang kajian teologis. Ia juga lebih memberikan penekanan terhadap golongan Mu’tazilah, al-Maturidiyah, dan Asy’ariyah.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, tentunya banyak sekali kekurangan yang sangat membutuhkan pembenahan, sebab itulah kritik dan saran sangat penulis butuhkan untuk mencapai perbaikan. Wallahu a’alam bi shawab.
Daftar Pustaka
Hanafi, Ahmad, Teologi Islam Ilmu Kalam. Jakarta: Bulan Bintang, 2010. Cet. 13
Ensiklopedi Bebas, Emmanuel Engelhart, dkk. Versi beta 0.9 diunduh pada Mei 2012
Nasution, Harun, Teologi Islam aliran-aliran sejarah analisa perbandingan. Jakarta: UI-Press. 2012
Soetriono, dkk. Filsafat ilmu dan metodologi penelitian. Yogyakarta: Andi. 2007


[1] Harun Nasution, Teologi Islam, aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI-Press, 2012), hlm. ix-xiii
[2] Ahmad Hanafi, Teologi Islam Ilmu Kalam, (Jakarta: Bulan Bintang, 2010), cet. 13
[3] Soetrisno, dkk. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Andi, 2007), hlm. 164-165
[4] Dikutip dan dirangkum dari aplikasi kiwix (Ensiklopedi Bebas), karya Emmanuel Engelhart, dkk. Versi beta 0.9 diunduh pada Mei 2012
[5] Harun Nasution, Teologi Islam......, hlm. 13-23.
[6] Harun Nasution, Teologi Islam....., hlm. 81-95
[7] Harun Nasution, Teologi Islam....., hlm. 87, lihat juga hlm. 109-113

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Model Penelitian Kalam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.