Model Penelitian Kalam

Table of Contents

Apakah Anda pernah merasakan apa yang saya rasakan ketika membaca buku teks keagamaan yang kaku? Rasanya pikiran dipaksa berbaris tertib, sementara jiwa kita dibiarkan kelaparan. Di dunia kampus atau pesantren, kita sering sekali mendengar istilah ilmu kalam atau teologi Islam. Namun, entah kenapa, setiap kali tema ini diangkat di ruang diskusi akademis, suasananya mendadak berubah menjadi serius, tegang, dan dipenuhi aroma saling klaim kebenaran.

Secara historis, benturan pemikiran dalam Islam sebenarnya sudah ada sejak zaman para sahabat Nabi. Awalnya bermula dari urusan politis, lalu menggelinding menjadi bola salju teologis yang melahirkan sekte-sekte besar seperti Khawarij, Mu’tazilah, hingga Asy’ariyah. Di Indonesia sendiri, corak teologi yang diajarkan di madrasah atau surau pada umumnya condong ke aliran Asy’ariyah, sehingga timbul kesan bahwa berislam yang benar ya hanya lewat jalur tersebut.

Asumsi sempit inilah yang dulu coba didobrak oleh Prof. Dr. Harun Nasution lewat karyanya yang legendaris, Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan. Kali ini, sembari menyeruput kopi hitam, saya ingin mengajak Anda sekalian untuk mengulas balik (review) bagaimana cara Harun Nasution membedah isi kepala para teolog Muslim terdahulu.

Menolak Kerdil dalam Memahami Islam

Sebelum masuk ke ranah metodologi, ada baiknya kita pahami dulu gelisah yang dirasakan Harun Nasution. Jika Islam dipandang dengan cara yang sempit—hanya melulu berkutat pada persoalan halal-haram, baik-buruk, atau boleh-tidak boleh—maka yang terjadi adalah lahirnya umat yang hobi menghakimi. Pikiran menjadi beku, dan kemajuan peradaban akan berjalan merayap seperti siput.

Sebagai pembanding objek material, kita mengenal buku Teologi Islam (Ilmu Kalam) karya Ahmad Hanafi yang terbit perdana tahun 1962. Ahmad Hanafi menggunakan pendekatan sejarah dan komparatif yang apik. Namun, yang membedakan racikan Harun Nasution adalah keberaniannya melihat peta sosiologis pengikut sekte tersebut hingga akhir abad ke-20. Karakteristik "Mu'tazilah-sentris" atau pembelaan terhadap rasionalitas beragama inilah yang membuat saya selalu tertarik sowan kembali ke lembar-lembar buku Harun Nasution.

Metode Meneliti "Isi Kepala" Para Teolog

Untuk menguliti isi buku teologi ini, saya memetakan langkah pembacaan ke dalam struktur sederhana yang biasa kita temui saat menyusun draf Subjek dan Objek Penelitian ilmiah, di antaranya:

  • Sumber Data: Data primer mutlak diambil dari buku Teologi Islam karya Harun Nasution (cetakan UI-Press), disandingkan dengan draf sekunder berupa jurnal akademik yang relevan.
  • Jenis Kajian: Menggunakan studi kepustakaan (Library Research) dengan pendekatan deskriptif-komparatif.
  • Alur Analisis: Fakta-fakta sejarah perpecahan sekte dicandra secara empiris, lalu ditarik benang merah kesimpulannya tanpa melupakan data kontekstual yang ada.

Mengenal Harun Nasution: Sang Pembela Akal

Harun Nasution (Lahir di Pematangsiantar, 1919 – Wafat di Jakarta, 1998) bukan sekadar akademisi menara gading; beliau adalah filosof Muslim Indonesia yang tangguh. Lahir dari tradisi sekolah modern (Moderne Islamietiesche Kweekschool), beliau melanglang buana mencari ilmu ke Universitas al-Azhar Kairo, American University of Cairo, hingga meraih gelar doktor di Universitas McGill, Kanada pada tahun 1968. Saat menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1973), beliau melakukan perombakan kurikulum besar-besaran.

Harun dikenal sebagai tokoh yang getol menghidupkan kembali pemikiran Mu'tazilah (Rasionalis). Dalam setiap ceramah dan tulisan di berbagai jurnal, beliau selalu menegaskan: *“Hambok kaum Muslim Indonesia itu berpikir rasional, jangan dikit-dikit baper atau pasrah tanpa usaha.”* Berkat keluwesan berpikirnya pula, pada tahun 1975 beliau memelopori wadah musyawarah antar-agama demi mengikis rasa saling curiga di tanah air.

Anatomi Buku Teologi Islam

Secara global, Harun Nasution membagi buku tipis yang padat ini ke dalam dua bagian besar yang saling mengunci:

Bab I: Aliran-Aliran dan Kronologi Sejarah

Pada bagian ini, Harun menggunakan pisau analisis deskriptif-historis. Beliau tidak asal omong, melainkan merujuk langsung pada karya-karya klasik primer seperti tulisan al-Syahrastani, al-Juwaini, hingga al-Maturidi. Kita diajak melihat bagaimana kaum Khawarij yang semula bergerak karena urusan politik arbitrase (tahkim), pelan-pelan bergeser membuat definisi ekstrem tentang term kafir, konsep dosa besar, hingga doktrin Taqiyah.

Bab II: Analisis Perbandingan (Comparative Analysis)

Di sinilah keseruan yang sesungguhnya terjadi. Harun menyandingkan ayat Al-Qur'an dan hadis yang dijadikan tameng legitimasi (hujjah) oleh masing-masing sekte ketika memperdebatkan masalah pelik, seperti hubungan **Akal dan Wahyu**. Mu'tazilah berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan serta baik-buruk bisa dicapai oleh akal secara mandiri. Sebaliknya, aliran Asy'ariyah menegaskan bahwa meski akal bisa mengetahui keberadaan Tuhan, namun kewajiban mutlak untuk patuh hanya bisa digerakkan oleh datangnya wahyu.

Catatan Kritis: Ketika Peneliti Kehilangan "Kenetralan"

Sebagai pembaca yang mencoba jernih, hati saya sempat merasa maktratap pada beberapa lembar di bab kedua. Harun Nasution yang sejatinya bertindak sebagai peneliti, terkadang terkesan kurang adil. Beliau tampak menggunakan diksi yang agak sinis ketika menguliti paradigma kaum Asy'ariyah, seolah menyudutkan mereka sebagai aliran yang pasif dan tradisionalis. Sebaliknya, narasi untuk kaum Mu'tazilah dikemas begitu romantis dan progresif.

Selain itu, buku ini absen dalam membahas sekte Syi'ah secara mendetail dari sudut pandang teologis. Tampaknya, Harun Nasution memang sengaja membatasi ruang lingkup kajiannya hanya pada dialektika internal teologi pemikiran Sunni-Rasionalis yang berkembang di lingkaran sosiologis Indonesia.

Kesimpulan

Meskipun ditulis puluhan tahun silam, buku Teologi Islam karya Harun Nasution terbukti masih kokoh dijadikan rujukan utama di berbagai Perguruan Tinggi Islam hingga tahun 2026 ini. Buku ini sukses membuka mata kita bahwa sejarah Islam itu kaya, luas, dan tidak tunggal. Mengetahui sejarah perbedaan ini mengajarkan kita untuk tidak ikut campur urusan Allah dengan hamba-Nya, sebuah nasehat bijak yang juga sering digaungkan oleh Imam Ghazali di dalam kitab Bidayatul Hidayah.

Bagi kawan-kawan mahasiswa atau akademisi yang ingin mengutip ulasan ini untuk keperluan karya ilmiah, pastikan Anda paham mengenai Cara Menulis Daftar Pustaka Jurnal Online agar tidak terjebak masalah plagiasi. Semoga catatan pendek ini bermanfaat, Wallahu a’lam bi shawab.


Daftar Pustaka

Hanafi, Ahmad. Teologi Islam Ilmu Kalam. Jakarta: Bulan Bintang, 2010. Cet. 13.
Nasution, Harun. Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan. Jakarta: UI-Press, 2012.
Soetriono, dkk. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi, 2007.

Qowim Musthofa
Qowim Musthofa Blogger yang tinggal di Bantul. Mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta. Terima kasih telah berkunjung. Korespondensi melalui surel: janurmusthofa@gmail.com

Post a Comment