Cukup dengan Percaya

oleh; Keeina Nay
Gerbong kereta siang ini lumayan lengang, beberapa kursi terlihat kosong tidak ada yang menduduki, maklum bukan hari libur. Penjual-penjual yang biasanya saling bersahut sahutan menjajakan jualannya juga tak seramai biasanya. Ternyata, banyak sedikitnya penumpang juga mempengaruhi semangat mereka berjualan.
Aku Beruntung, siang ini kau bersedia menemani perjalanan keretaku menuju Yogya, membuat perjalanan kali ini terasa menyenangkan. Kau banyak bercerita dan aku menjadi pendengar yang setia, “selalu membahagiakan saat mendengar dan melihat wajah kau bercerita”, batinku dan kata itu tidak akan aku ucapkan langsung padamu, bisa-bisa kau GE-ER. Hehe. Ingat, kita bahkan lebih sering menjahili satu sama lain dibanding saling memuji kan ?.

“Mbak…tau ga bedanya koran ini dengan mas yang duduk di samping mbak?” tiba-tiba seorang pemuda bertanya kepadaku. Senyumnya menyeringai, menggoda. Tampak di tangannya ada beberapa Koran dan tabloid, yang sepertinya belum ada yang terjual.
Aku tersenyum bingung, bergantian menatap kau dan pemuda penjual Koran itu, kau malah senyum senyum sambil bermain hape setelah berkata pelan padaku “jawab saja..dia hanya menggodamu, mungkin kau tampak seperti gadis yang lagi jatuh cinta padaku saat kau mendengar dan menatapku bercerita tadi”. Tawa dan nada jahilmu membuat tanganku reflek meraih botol Pocari dan memukulkannya ke lenganmu, pelan.
“ayolah mb, dijawab…” pemuda itu menggerutu, tak sabar.
“hemm..apa ya ??? mungkin sama sama ga lakunya, bang” aku tertawa tertahan, puas dengan jawabanku. Kau mendelik ke arahku, mengkal.
“alah mb ini, itu kan kesamaannya, yang aku tanyakan perbedaanya mb, perbedaan mas itu sama Koran yang saya jual ini?”. Gantian tawamu yang meledak mendengar komentar penjual Koran itu, meredamkan tawaku. Kau menjulurkan lidah, mengejekku.
“eh…perbedaannya yak??? Maklum bang, sudah siang, panas pula, jadi pikirannya tidak konsen,he..he” aku beralasan. “kalau perbedaanya, aku ga tau bang, coba abang tanyakan sama orangnya langsung”
“hu..hu…mbaknya ga seru…” ucapnya kecewa, “aku bocorin jawabannya ajalah, mba terlalu lama sih” lanjutnya.
aku tertawa “ maaflah bang, aku benar benar tidak tau, aku hanya tau persamaanya saja..”.
“begini lho mb….” Nada Ucapannya menggantung, sengaja benar agar aku penasaran. Dari raut wajahmu sepertinya kau juga tertarik untuk mendengar jawaban pemuda penjual Koran itu.
“perbedaanya Koran ini dengan mas itu, kalau tulisan di Koran ini untuk khalayak umum atau biar dibaca orang banyak. Sedangkan tulisan mas yang duduk di samping mb itu, Cuma untuk mb seorang, he..he”
Aku tertawa ,mendengar gombalan penjual Koran itu dan kau tersenyum simpul, kembali cuek bermain hape, seolah jawaban itu tak ada artinya.
“sekarang, mb beli Koran saya ya???? Satu aja ga apa apa kok mb…”
Eh…ujung-ujungnya penjual Koran itu Cuma ingin menawarkan korannya. Aku mengkal dibuatnya.
“sebentar lah, Bang. Emang abang tau dari mana kalau tulisan mas ini Cuma untuk saya???”
“hemmm..mb, kalau ga percaya. Coba mb tanyakan langsung sama masnya?. Ayolah mb, Koran saya dibeli satu, ya?” pemuda penjual Koran itu kembali menawarkan korannya, misi pertama sebelum ia memberi tebakan tadi. malah nadanya kali ini terdengar memaksa.
Aku merengut, jengkel “ya udah bang. huh..orang cuek kaya’ gini mana mau menjawab pertanyaan gitu”. Ucapku menggerutu sambil mengambil tas, mencari dompet “beli yang Jawa Pos ya, bang”
“sini, bang. Biar Saya aja yang bayar. Mbak ini memang orangnya ga percayaan. Dia harus belajar memercayai dulu untuk bisa paham kalimat abang” ucapmu santai sambil mencibir ke arahku. Aku mendelik galak, mengalihkan mataku dari tas. dompet yang kucari belum ketemu juga.
“makasih ya, mas…” pemuda penjual Koran itu tersenyum lebar. “tuh..mb, dengerin apa yang mas itu bilang. Mb harus belajar percaya dulu” gayanya sudah ikut-ikutan kau, mencibir ke arahku. Aku tersenyum, kaku.
“mari mb, mari mas. Terima kasih. Saya mau ke gerbong lain. Senang bisa ngobrol sama mb juga masnya” pamitnya. Kau berdiri, menjabat tangannya dan berbasa basi sebentar.
“emang benar apa yang dikata abang tadi” aku bertanya, setelah kau kembali duduk di sampingku. Angin dari jendela kereta di sampingku menemani pembicaraan kita.
“perkataan yang mana ???” kau malah bertanya balik, menjebak.
“eh…ya yang tadi..” jawabku canggung
Kau tersenyum simpul, menggoda “emang perkataannya bagaimana???”
“uh…ya udahlah ga jadi” aku berbalik, mengalihkan pandangku ke jendela. Menatap hamparan sawah.
“seperti yang kukatakan tadi. Kau hanya perlu percaya agar kau mengerti perkataan abang tadi benar atau tidak” ucapmu pelan, hampir seperti berbisik. Aku tak bergeming, tetap menatap sawah. Petani petani sedang bersiap-siap untuk panen.
“percuma kan jika aku menjawab tetapi kau tidak mempercayainya juga”.
Kau menyandarkan badanmu di kursi kereta. Mendongakan kepala, menatap ke langit-langit gerbong kereta dan selanjutnya memilih untuk memejamkan mata sambil menyelondorkan kakimu di kursi depan kita yang kosong. Penumpangnya sudah sejak tadi meninggalkan kursinya. Bersiap turun.
Kadang kita memilih memejamkan mata saat kata tak bisa mewakili apa yang ada dalam diri kita.
Itu, ucapmu padaku pada hari esoknya saat kita bertemu dan aku hanya membalas lewat hati.
Aku hanya takut kecewa, bukan tidak mempercayainya.
Jadi, Mungkin memang lebih baik seperti ini. Menilai dan merasakannya sendiri, meski tak tau, entah itu benar atau salah.
Kereta masih melanjutkan perjalanan, mengantar penumpang ke tujuannya masing-masing dan kita masih duduk di salah satu gerbong kereta, diantara kata-kata yang menguatkan dan membahagiakan kita.

12 Januari 2013

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cukup dengan Percaya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.