Jangan Marah Bila Aku Menyintaimu

Sebuah cerita sebuah puisi...

    Gerimis kali ini mengantarkanku untuk pergi ke tempat yang sering kita datangi, yakni ruang imajinasi kata-kata yang kemudian menjadi kalimat, seolah hanya kita yang mempunyai kata-kata itu dan sering kali kita tak mengerti atau lupa akan makna kenyataan, kita sering terhanyut di lautan bayang, terbang di sisi angin, menerobos ragu dan kepastian. Saat-saat seperti itu kita menjadi raja dan ratu sejagad alam kata-kata.
    Jarum-jarum air masih menyentuh dedaunan, dahan-dahan bernyanyi riang, dan sesekali pohon bambu di seberang jalan meringkik tertiup angin menari mengikuti irama hujan.Dan sore ini mentari masih bersinar terang. Saat-saat seperti ini orang-orang di kampung sini menyebutnya dengan hujan wewe.
    Kita masih duduk di bawah pohon kata-kata, gerimis kata-kata, dan kita bernyanyi dengan nyanyian kata-kata. kata-kata kita telah bersatu di alam kata-kata, ia hidup di antara aku dan kamu, terkadang menjadi pemisah antara aku dan kamu. Kita hampir tidak pernah bersama, namun kata-kata kita telah hidup dan menjelma seperti kita di ruang kata-kata kita. Saat-saat seperti itu aku jadi sering melamun dan duduk mendeku.
    “Karena kata adalah teman menyampaikan rasa yang enggan berucap / mengobati luka hati yang tersakiti.” Katamu sambil menyentuh dedaunan yang setengah basah oleh gerimis kata-kata dan pelan-pelan mengajakku tersadar yang saat itu aku sedang bosan dengan dunia kata-kata. “Aku tak ingin menipu diri dengan kata / aku hanya ingin diam / hingga dapat kutangkap tepat / pada pasir waktu yang kian mengerutu.” Kataku tergesa seolah dikejar waktu.
    Kamu masih sibuk memainkan dedauan itu, lalu tiba-tiba kamu meloncat menarik rantingnya kemudian kamu lari menjauh sambil terkekeh menertawakanku. Saat itu terjadilah hujan lokal yang kamu ciptakan untuk menjahiliku, dan ranting pohon itu terkekeh mengikuti irama tawamu, kendati begitu, aku senang dengan cara bercandamu. Saat itu rambutku berubah layaknya mahkota yang dihiasi manik-manik air.
    Kamu bilang “aku ingin kau percaya / kalau kata adalah penawar segala rasa.” seraya menjerit ke arahku, menikmati dan menari dengan gerimis sore. Ingin aku menyusulmu yang menjauhiku, tapi sebenarnya aku sangat rapuh saat terkena air hujan. “Baiklah! lebih baik kita lanjutkan saja kata-kata kita / agar ia abadi di sajak kita / yang semoga tiada akhirnya / karena kita adalah peramu kata / yang akan membuat kita abadi selamanya” aku setengah menjerit ke arahmu dengan kedua telapak tangan membentuk seperti cerobong mini.
    Kita masih bicara diiringi nada gerimis, dan angin yang menggetarkan dedaunan di sekeliling kita, mentari masih hangat dan terang. Saat-saat seperti ini orang-orang di kampung sini menyebutnya dengan hujan wewe.
    “Aku belajar pada ibu / yang tak pernah bohong pada bumbu” kataku sambil tersenyum mengetuk-ngetuk dahan pohon yang belum terlalu basah oleh gerimis. “Aku belajar tenang dari abah / yang senantiasa tegar meski susah” kamu berucap sambil berlari cepat menuju tempatmu semula, di bawah pohon tempatku berlindung dari hujan wewe.
    “Ah, kapan dan di mana aku menemukan sosok layaknya ibu?” kuteruskan kalimatku. Lalu “Hem... sepertimu pula / aku bertanya dalam gerah / kapan dan di mana ku temukan sosok layaknya abah?” katamu sambil membenarkan letak jilbab birumu yang dihiasi manik-manik gerimis, sama seperti rambutku.
    “Kenapa lelaki sulit, bahkan tidak bisa bertahan dengan satu cinta?” sorot matamu menelisik jauh dalam cakrawala penglihatanku, tajam menukik menyergap segala rasa berani sekaligus ketakutanku. Saat kamu sampai pada kata “lelaki” aku menemukan kemarahan tercipta diruang benakmu. Pertanyaanmu membuatku gemetar sekaligus hawa dingin menyergap seluruh kenyataanku. Pertanyaan retorikmu seketika merobohkan seluruh kenyataanku, lalu aku terdiam lama dan tergugu tak berani melihatmu. “aku terlalu liar tuk dimiliki” besitku dalam hati.
    Aku menarik ranting pohon itu dan berlari darimu menghadang jarum gerimis sama seperti apa yang kamu lakukan kepadaku tadi. Aku menari dan bernyanyi diiringi dengan nada gerimis. Kukira dengan cara itu bisa memecahkan keheningan dan kamu pun akan terkekeh asyik, sama seperti aku tadi. Namun ternyata kamu lebih jauh lagi terhanyut dalam sejuta tanya. “kenapa lelaki sulit, bahkan tidak bisa bertahan dengan satu cinta?” tiba-tiba kamu terduduk bersandarkan dahan pohon yang setengah basah oleh gerimis.
    Kurasa kamu pun tahu bila aku menyintaimu, karena kamu sudah berhasil melatih jiwa dengan catatan kita. Aku hanya ingin belajar seperti ibu yang tak pernah bohong pada bumbu.
    “Kamu bohong!!!” katamu dengan menggerutu dan berdiri lalu merengkuh beberapa daun yang basah oleh jarum hujan lalu meremasnya. “Adanya kebohongan itu karena tidak percaya.” Seraya aku berlari kecil menghampirimu yang sepertinya sedang kacau. “Jadi kata kuncinya bukan bohong atau jujur, tapi kepercayaan.” aku mengambil remukan dedaunan yang ada di tanganmu. Kamu diam saja dan mengambil beberapa daun lagi dan meremasnya lagi.
    Entah, ketika kamu bilang aku pembohong. Aku merasa sia-sia dengan kata-kataku. Namun, ah bukankah kamu pernah bilang tidak pernah ada yang sia-sia? Dan aku akan menjadi lebih sadar, bahwa sesuatu harus berjalan seperti sifat dasar yang dimiliki sesuatu itu. Karena itu cinta tak pandang siapa. “Cukup!” katamu. Bukankah tidak ada salah menyintai seseorang?
    “Aku tak ingin berhenti menulis catatan untukmu / sebelum terungkap semua tabir kenyataan / yang selalu menjadi misteri.” Kataku sambil memainkan jemariku dan kamu masih sibuk meremas-remas dedaunan yang entah sudah berapa kali kamu melakukannya.
    “Mbel!” kamu berjalan cepat menuju arah pulang, pulang dari dunia kata-kata.
    “Mbel? Hei... apa artinya mbel?” aku teriak kepadamu, namun kamu terlampau tak peduli dan hilang ditelan sinar mentari senja serta gerimis yang orang-orang di kampung sini menyebutnya dengan hujan wewe.
 
April 2012

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jangan Marah Bila Aku Menyintaimu "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.