Ingin Mati di Atas Api

Segala yang hidup tentu akan mati, segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya. Tiada yang tahu bagaimana akhir dari hidup, seorang baik pun tak menjamin akan mati dalam keadaan baik, begitu pula orang seburuk apa pun tidak bisa ada yang berhak mengecam matinya buruk jua. Namun, tiap doa yang kurangkai, aku ingin mati di atas api.

Kematian adalah ujung dari kehidupan yang abadi. Bila orang suci punya sejarah, maka pendosa yang dosanya melebihi Gajah Abrahah yang ingin merobohkan Ka’bah seperti aku ini mempunyai kesempatan di masa depan. Meski hanya menunggu beberapa tik-tok jam.

Aku, seekor ikan mas yang tahu bahwa setelah kematianku adalah debu yang bisa berhembus kemana saja angin menebar. Namun aku ingin berarti di akhir menuju debu. Aku tahu, bahwa surga hanya dicipta untuk makhluk yang sempurna, yaitu macam kau, Tania.

Sering kali aku bermimpi, bahwa tiada orang yang mau memakan dagingku yang sudah kuyu, lemas seperti tak bertumpu, sisik habis dimakan bakteri, sirip keropos oleh rentan air keruh. Manusia melihatku saja mungkin sudah jijik, apalagi kau, sudah lama kau tak melihatku, barang kali kau akan lupa dan tak mengenaliku lagi.

Warna emas milikku, kini berubah kecoklat-hitaman kusam legam. Persis kecoa yang kinclong bisa buat berkaca. Hanya coklatnya saja yang sama, tapi tidak kinclongnya. Kecoa sudah tak pernah kusuruh lagi untuk melihatmu di sana, karena sudah tahu, kini sudah kau miliki ikan arwana di akuarium raksasa yang dibelikan ayahmu, jadi bila nanti ada kecoa yang kau temui di manapun, itu bukan suruhanku. Sungguh!.

Aku sering berkhayal, suatu hari juraganku nanti mengambil aku dari kolam ini, lalu dihantam aku dengan segodam palu di atas meja kayu, lalu dibumbui aku dengan bawang merah dan putih, garam dan apa saja. Hingga aku disajikan di atas meja makan keluarga mereka. Tuntas sudah tugasku jadi ikan mas. Mungkin!

Sesekali aku juga berkhayal bahwa yang memakan dagingku ini adalah kau, Tania. Namun, sepertinya tidak mungkin, juga terlalu jauh anganku ini.

Sengaja suratku ini tidak kukirimkan untuk kau. Namun tak tahu juga ini untuk siapa. Biar sajalah. Aku tak butuh macam belas kasih. Aku hanya butuh api. Ya, api untuk membakarku di atasnya. Agar aku tak sia-sia di sini, di kolam ini.

Ini hari Kamisku, hari juraganku mengambil ikan sejenis aku. Dan berharap aku terkena di jaringnya, setelah melihatku nanti, semoga juraganku tidak mengembalikan aku di kolam ini. Aku harus tetap mati di atas api, bukan di kolam ini.

Bantul, 29 Juni 2011

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ingin Mati di Atas Api"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.