Sesirip Surat Ikan Mas untuk Tania

Assalamu ‘alaik, Tania. Semoga kau selalu bahagia dengan apa yang kau lakukan hingga saat ini. Mungkin kau heran atas kedatangan sesirip suratku ini. Kenapa juga harus dengan sirip, dan beberapa rentetan pertanyaan yang pasti ingin kau lontarkan.
Sungguh apabila aku nanti bisa berevolusi menjadi ikan yang mempunyai kaki, dan bernapas dengan paru-paru, dan bisa bertahan beberapa waktu tanpa air, lalu diberi kekuatan untuk melangkah ke sana-sini. Aku akan menemukanmu dalam langit-langit yang selalu kau ceritakan denganku. Betapa aku sangat ingin keluar dari kolam raksasa ini untukmu.
Entah sejak kapan kau mulai tak pernah datang ke kolamku, aku tak ingat betul, kau hanya tiba-tiba tak lagi merindukanku, tak lagi percaya
padaku untuk bercerita tentang ibumu yang cerewetnya ngga’ ketulungan, ayahmu yang pendiam sarat kebijaksanaan selalu memberi petuah-petuah bekal hidup, dan adik-adikmu yang manjanya melebihi bawang merah, atau ke-stres-an sebab tugas-tugas keseharianmu.
Kau tahu, Tania? Bahwa satu demi satu sisikku ini rontok dimakan bakteri bila kau tak datang-datang. Dan sekarang hanya tinggal beberapa sisik saja untuk melindungiku, kesakitanku kali ini sungguh luar biasa hebatnya. Dan satu dari siripku ini sengaja kutuliskan untukmu. Aku tak jadi masalah bila berenang dengan satu sirip saja, meskipun  agak lamban tak bisa lagi berenang zig-zag mengakibatkan aku kalah cepat dengan sekawananku dalam memakan pelet setiap pagi dan sore, lalu tubuhku akan menjadi kurus ibarat huruf alif yang sering kau lalui pada bacaan lafadz Alhamdulillah.
Aku sadari betul keadaanku yang lemah seperti ini, tapi justru karena kelemahanku ini aku dijadikan menjadi seekor ikan emas, bila aku kuat, punya kaki, jemari, juga bisa bernapas tanpa air, tentu aku sudah menjadi buaya atau malah menjadi manusia. Tuhan selalu memberi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan manusia, itu yang aku tahu, sekaligus aku percayai. Bila aku dijadikan sebagai manusia, mungkin aku ini tidak bisa hidup selayaknya, karena tak mampu menanggung beban berat. Meskipun, betapa aku ingin reinkarnasi menjadi seorang manusia, agar bisa memegang tanganmu, entah kapan.
Bukannya aku menyesal menjadi seekor ikan mas, aku hanya ingin reinkarnasi, dilahirkan kembali menjadi seorang manusia utuh,  entah itu di abad 50-an atau nanti lebih lama lagi. Mungkin kau juga pastinya sudah tiada lagi di dunia ini. Dan aku tak tahu kau akan dilahirkan kembali dalam bentuk apa.
Kau tahu, Tania? Bagaimana caraku tidur di kolam raksasa itu? Apa kau rasa aku ini tak punya rasa dan butuh tidur? Sedang aku ini bukanlah malaikat yang tak bisa dan tak butuh tidur. Pasti kau tak tahu, juga tak pernah memikirkan aku sebegitu rinci.
Aku tahu persis tentang kau, juga tentang kelebihan dan kelemahanmu itu, Kau tak bertanya bagaimana aku bisa tahu? Hm... Kau paling tak kuat menahan rasa rindu, juga sendu. Kau juga takut dengan sahabatku kecoa. Kau tak menanyakan.
“Kenapa kamu bisa tahu tentangku?”
Karena kecoa itu adalah sahabatku yang kusuruh sesekali melihatmu saat kau tak ada di kolam raksasa ini. Kau pasti tak percaya tentang ceritaku ini? Karena keperbedaan hidup antara ikan dan kecoa. Jangan salah, makhluk-makhluk selain manusia ternyata lebih canggih komunikasinya. Meskipun aku di air, dan ia di darat, kami tetap bisa berbicara tanpa bantuan elektronik macam handphone, notebook, dsb. Di dunia ini tidak ada manusia yang tahu bahasa kami, selain Nabi Sulaiman. Sedangkan kami lebih tahu bahasa, dan kehendak manusia kepada kami.
Aku juga tahu seberapa banyak kecoa yang coba kau bunuh di kamarmu itu. Kau tahu? Bahwa sebenarnya mereka itu tak pernah mati, karena setiap kecoa yang mati dan tubuhnya tidak hancur, sekawanannya akan membawa merawat mereka sampai hidup kembali dengan cara menjilati tubuhnya yang terluka sebab hantaman sandal, sepatu, dan sapu. Kuharap rahasiaku tentang kehidupan setelah kematian kecoa ini tidak menjadikanmu menghancurkannya.
“Kenapa harus ada binatang yang bernama kecoa?” katamu kepada teman-temanmu.
Maaf, Tania. Hanya kecoa yang punya kecepatan berjalan cepat, dan penglihatan yang tajam, juga susah mati. Kau pasti memberi alternatif, “Kenapa tidak cicak saja?” aku tidak mau bila nanti diburu oleh ibumu dan kucing yang ada di rumahmu, aku tahu ibumu paling jijik dengan cicak, dan kucingmu paling rakus memangsanya. Untung aku tidak terlahir menjadi cicak. Atau “Kenapa tidak kucing saja sekalian?” kucing adalah hewan paling pemalas yang menyebabkan anjing tak pernah suka dengannya, dan susah serius berkomunikasi dengan hewan lain, terutama dengan sejenis aku.
*
Tania, sungguh aku sangat membutuhkan balasan dari suratku ini, sejenak memberi tahuku kenapa kau lama tak muncul di sini. Apakah kau di sana sudah mempunyai akuarium raksasa yang bisa menampung aneka ikan? Yang bisa setiap saat kau pandangi di sudut kamar, atau di beranda rumah.
Aku berjanji, Tania. Aku akan terus mengirimkan surat sampai siripku habis, walaupun hanya dua sirip. Bahkan ekor pun akan aku korbankan demi surat ini.
            Terima kasih telah menyempatkan membaca suratku ini, meskipun berbau amis, tapi aku yakin di surga nanti, sirip ini akan menjadi wewangian dan hiasan di setiap relung sudut ruangan bersama buah Khuldi dan hilir sungai arak.
            Semoga kau selalu pada jalan dan lindungan Tuhan, Amin.
            Wa assalam ‘alaik.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Sesirip Surat Ikan Mas untuk Tania"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru dari qowim.net secara gratis! Masukkan emailmu.